Cinta Dan Obsesi

Cinta Dan Obsesi
BAB 21


__ADS_3

"Eh yank, itu gak mau pulang emang?" bisik Angga di telinga ku saat melihat Mas Galuh masih duduk di teras rumah kami. Kami baru saja pulang dari masjid.


"Udah ah biarin." jawab ku lalu masuk ke dalam kamar.


"Eh, emang kamu gak mau ganti baju dulu?" tanya ku sama Angga.


"Kamu tunggu di kamar dulu ya. Gak usah keluar. Aku ntar lagi ke sini." kata Angga memperingatkan ku. Aku pun mengangguk.


5 menit kemudian, Angga datang. Aku sedang selonjoran di ruang tamu sambil mengetik laporan di laptop ku. Angga buru-buru ambil bantal di kamar ku dan menaruh nya di samping ku.


"Ngerjain apa?" tanya nya sambil tiduran.


"Ini nyicil buat laporan." jawab ku yang masih menatap layar laptop.


"Oh, ok deh. Aku tungguin ya. Takut dia ke sini dan godain kamu." kata nya sok manja.


"Ih, apaan sih cayang ku ini." kata ku sambil mengacak rambut nya. Terlihat Mas Galuh mengintip dari kaca jendela. Aku masih sibuk menyelesaikan laporan ku hari ini. Masih kurang beberapa paragraf lagi.


"Yank, ngantuk nih." ucap Angga sambil meletakkan ponsel nya di pangkuan ku.


"Bentar ya. Ini tinggal nge save doang kok." jawab ku sambil nge save file ku yang barusan.


"Ini kenapa ponsel nya taruh sini." tanya ku sambil memegang ponsel Angga.


"Udah kamu bawa aja. Kamu tidur gih di kamar. Jangan lupa kunci pintu nya. Jangan keluar. Kalau ada Papa telpon angkat aja." kata Angga dengan suara parau nya sambil mata nya terpejam.


Aku kemudian tidur di kamar ku. Dan tak lupa mengunci pintu kamar ku seperti yang disarankan Angga tadi.


*****


Selama 5 hari ini pekerjaan kami agak berat. Karena masih dalam pemupukan. Hari demi hari, aku sama Angga semakin mengerti satu sama lain. Hal apa yang disukai dan tidak sukai. Kami pun semakin dekat. Dan hal itu yang membuat Mas Galuh menjadi uring-uringan terus. Sifat asli nya baru muncul sekarang.


Mas Galuh sekarang jadi sering manas-manasi akun dengan Rani. Karena hingga saat ini mereka belum tahu tentang hubungan ku dengan Angga.


Mas Galuh masih berusaha mendekati ku, sedangkan selalu ada saja cara dari Angga untuk menciptakan jarak antara aku dan Mas Galuh.


Tentang Pak Iwan, aku sudah menceritakan semua nya pada sahabat ku, kadang Angga juga mendramatisir cerita nya. Mereka bertiga sempat marah kenapa aku gak cerita dari dulu.


Siang hari, setelah kami sholat jamaah di masjid, kami berkumpul di ruang tamu untuk saling bercerita.


"Makanya, Pak Iwan sering tanya tentang lu Nggi. Dia kayak yang naksir gitu sama lu." jujur Andre.


"Oh ya? Emang tanya apaan?" tanya ku.


"Eemmmmm. Maaf ya, kemarin dia tanya. Lu bisa dipake gak?" kata Andre pelan.

__ADS_1


"Trus lu jawab apa?" tanya ku penasaran.


"Gue bilang nih. Kalau dia terus tanya gitu, bakal gue laporin ke Pak Ali." jawab Andre.


"Seriusan tanya gitu?" tanya Angga sedikit marah.


"Iya. Suer." jawab Andre sambil menunjukkan dua jarinya.


"Kurang ajar tuh orang. Trus gimana responnya saat lu bilang gitu?" tanya Angga lagi. Kini ia menggenggam jemari ku, membuat ku merasa tenang.


"Cuma ketawa dia nya. Kayak yang gak takut gitu." Andre bercerita dengan seru.


"Kenapa lu baru cerita sekarang sih Ndut?" tanya Edwin geram.


"Lupa gue nya." jawab Andre tak berdosa.


"Tapi, kenapa dia kok tenang-tenang saja ya? Biasa nya orang kalau dapat ancaman kayak gitu bakalan takut! Tapi dia?" Toni mulai buka suara. Kini dia mulai mencurigai sesuatu.


"Eh, Nggi. Lu udah cek email yang lu kirim ke seseorang yang menulis artikel itu gak?" Toni mengingat kan ku.


"Baru tadi sih aku ngecek. Gak ada balasan tuh." jawab ku.


"Apaan yank? Kok aku gak tahu?" tanya Angga.


"Jadi gini." aku menceritakan semua nya pada Angga dari awal sampai akhir. Hingga mimpi ku, dan nasehat dari Bu Parti dan Bu Asih.


"Boleh tuh." jawab Edwin.


Sore hari nya aku dan Angga ke warung Bu Parti. Dengan alasan untuk makan.


"Eh non cantik. Pesen apa?" tanya nya.


"Biasa ya Bu." jawab ku. Bu Parti sudah paham jika aku bilang seperti itu. Dengan cekatan Bu Parti menyiapkan pesanan ku. Lalu ia memberikan kepada kami. Karena situasi yang mendukung, dan tidak ada orang selain kami maka aku memberanikan diri untuk bertanya.


"Bu, maaf sebelum nya. Boleh saya bertanya?" tanya ku setengah berbisik.


"Apa Non?" kata Bu Parti penasaran. Dia mendekatkan tubuh nya dengan ku.


"Apa Pak Iwan seperti itu ya Bu jika ada mahasisiwi yang magang di sini?" tanya ku. Raut wajah Bu Parti sudah mulai berubah.


"Memang kenapa non?" tanya nya agak sedikit gugup.


"Dia godain saya Bu." jawab ku pelan. Bu Parti menghampiri ku dan membisikkan sesuatu.


"Non harus hati-hati ya. Dia itu memang seperti itu. Kalau sudah jadi target nya, susah untuk lepas." bisik nya, seketika aku dilanda ketakutan.

__ADS_1


"Beneran itu Bu?" aku memastikan sekali lagi.


"Ibu gak pingin terjadi la...." kata-kata Bu Parti terpotong seolah keceplosan. Dia menutup mulut nya.


"Kenapa Bu? Jadi benar tentang rumor yang beredar kalau tahun lalu ada mahasiswi yang hilang? Jawab saya Bu." kata ku memelas. Butuh beberapa menit bagi Bu Parti untuk memantapkan hatinya bercerita.


"Iya non benar."


Deg. Jantung ku langsung berhenti. Aku menghentikan makan ku. Angga langsung menggenggam jemari ku.


"Tapi itu masih belum tahu siapa pelaku nya. Dan kasus ditutup karena tidak ada bukti yang cukup kuat." Bu Parti menghentikan cerita nya karena dia mendapati ada sebuah mobil berhenti di warung nya. Bu Parti memberiku isyarat untuk diam dan memberitahuku dengan mata nya kalau itu adalah Pak Iwan.


Aku langsung berpura-pura sedang makan dengan tenang nya.


"Eh, ada Anggi disini sama kacung nya." canda Pak Iwan. Aku lihat Angga sudah geram. Aku memegang tangannya untuk mencegah Angga agar tidak melakukan hal yang tak diinginkan.


Aku hanya tersenyum. Angga lalu membayar makanan kami, dan menggandeng tangan ku untuk keluar dari sini.


"Gimana Nggi?" tanya Edwin saat dia tahu aku sudah datang. Aku menutup mulutku dan menangis.


"Eh kok nangis sih." kata Andre khawatir.


"Jadi bener. Kalau tahun lalu ada mahasiswi yang hilang. Aku takut sekarang." kata ku nangis sesenggukan.


"Udah, gak usah takut. Kan ada kita yang akan jagain kamu." kata Angga sambil memelukku. Aku semakin menangis. Angga menceritakan semua nya dengan nada pelan dengan masih memelukku dan mengusap pundakku pelan.


"Kurang ajar tuh orang." kata Edwin mengepalkan tangannya.


"Kita laporin aja ke Pak Ali yuk." ajak Toni.


"Jangan." cegah ku. Aku mengusap air mata ku.


"Kita gak punya bukti yang cukup kuat untuk membuktikannya. Lagian kita di sini gak tau kan siapa musuh kita sebenar nya? Jadi, sekarang hanya kita yang tahu masalah ini. Jangan sampai ada orang lain yang mengetahui nya." kata ku. Angga masih setia menenangkan dan menguat kan ku.


"Mulai sekarang, aku akan tidur sini. Ikut jaga kamu. Gak papa, aku tidur di ruang tamu. Demi jaga kamu." kata Angga menggenggam tangan ku dengan kuat.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.


__ADS_2