Cinta Dan Obsesi

Cinta Dan Obsesi
BAB 23


__ADS_3

Hari ini adalah malam Minggu. Aku tiduran di paha Angga. Sambil main ponsel ku, aku melihat-lihat foto sama Angga di galeri ponsel ku.


"Nggi." kata Mas Galuh terpotong. Dia terdiam di tengah pintu saat melihat aku dan Angga.


"Ya Mas." ucap ku lalu bangun.


Mas Galuh lantas masuk, dan duduk di seberang ku.


"Ini ada pesan dari budhe. Besok sore kamu disuruh bantu-bantu di rumah. Karena hari Senin kepala pabrik pengolahan sudah datang." jelas Mas Galuh. Tampak dia menatap Angga tak suka.


"Oh, gitu ya. Ok. Sampaikan ke Bu Dian ya." jawab ku. Mas Galuh hanya mengangguk. Sedangkan Edwin dan Toni sedang seru-seru nya main PS. Si Bima dan Edo juga ikutan nonton. Rame sendiri mereka itu, sampai tidak menghiraukan kedatangan Mas Galuh.


"Kamu gak mau keluar? Mumpung langit udah cerah. Beli bakso kek. Atau apa kek." ajak Mas Galuh. Aku menatap ke arah Angga.


"Emmmm.... maaf ya Mas. Aku gak bis..." kata ku terpotong.


"Gak bisa? Gak bisa kenapa lagi? Karena Angga? Atau karena apa? Kamu sekarang kok menjauh sih dari aku?" cecar Mas Galuh. Angga sudah geram, dia ingin menjawab semua pertanyaan Mas Galuh. Tapi aku menahan tangannya agar tidak mengucapkan sepatah kata pun.


Semua mata menatap ke arah kami. Bahkan mereka mem pause game mereka.


"Bukan, Mas. Hanya saja aku gak mau Rani salah paham. Sebagai sesama perempuan, aku tahu kalau Rani suka sama Mas Galuh. Aku gak mau dia cemburu dan membenci ku Mas." jawab ku.


"Oh gitu. Terus apa kamu paham perasaan ku? Kamu gak adil Nggi." Mas Galuh marah.


"Terus aku harus gimana? Apa iya aku harus menuruti Mas, dan membuat Rani semakin membenciku? Apa itu yang Mas inginkan?" tanya ku lagi. Mas Galuh diam. Semua yang ada di ruangan ini tidak ada yang bersuara sama sekali.


"Aku suka sama kamu Nggi." akhirnya Mas Galuh mengucapkan hal itu. Angga melotot ke arah ku.


"Sebelum nya maaf Mas. Aku hanya menganggap Mas adalah teman baik ku dari dulu. Tolong Mas hargai perasaan ku ini." jawab ku menjelaskan.


"Apa ini semua karena Rani? Apa kamu hanya merasa gak enak hati sama Rani?" Mas Galuh mulai emosi.


"Bukan itu Mas." jawab ku.


"Lalu apa?" tanya nya.


"Aku..."


"Aku apa? Apa kamu cemburu melihat kedekatan ku sama Rani?" bentak nya.


"Mas. Plis. Jangan bentak aku. Sekarang Mas mending pulang, daripada bentak-bentak anak orang." kata ku yang juga emosi.


"Tapi..."


"Pulang kata ku." aku menekan kan sekali lagi kata-kata itu. Mas Galuh akhir nya pulang.


Ternyata Rani dan Mina sudah berdiri di depan pintu rumah.


"Mas Galuh." ucap Rani. Tapi Mas Galuh langsung pergi meninggalkan Rani.


"Maksud lu apaan sih Nggi omong gitu ke Mas Galuh? Jadi marah dia kan ke gue?" Rani memarahi ku. Aku hanya diam. Lalu mereka berdua kembali ke mess mereka.


"Kenapa sih yank, gak bilang saja tentang kita?" tanya Angga sambil membenarkan rambutku yang sedikit acak-acakan.


Mereka kembali bermain PS tanpa menghiraukan kami lagi.


"Kamu lupa? Kita sekarang ini gak tahu siapa musuh kita kan. Aku ingin mengungkap ini. Nanti, akan ada saat nya bagi kita untuk jujur sayang." jawab ku. Angga hanya manggut-manggut mendengar penuturan ku.


*****

__ADS_1


Hari Minggu. Sore hari. Aku datang ke rumah Pak Ali untuk membantu Bu Dian membuat kue. Suasana sekarang jadi aneh saat aku bertemu dengan Mas Galuh. Mas Galuh sendiri ingin mendekatiku, namun aku sendiri ingin menjauh darinya.


Tiba-tiba terdengar suara Edwin dan Angga datang. Alasannya juga ingin membantu Bu Dian. Mas Galuh menatap jengah ke arah Angga. Sedangkan aku sendiri gak mengerti kalau pacar ku ini banyak akal nya.


"Eh Wiwin, lu kenapa kemari?" tanya ku setengah berbisik.


"Tuh, laki lu maksa buat kesini. Khawatir sama lu katanya. Ya sudah gue turutin daripada dia nangis." jawab Edwin.


"Ya sudah, Ibu kan jadi tambah enak kalau banyak yang bantuin." kata Bu Dian. Hari ini kita membantu membuat aneka kue. Ada donat, lemper, brownis, dan pastel.


Saat aku hendak ke kamar mandi, aku tidak sengaja mendengar percakapan antara Pak Ali dan Mas Galuh.


"Gimana Iwan ini. Masak mau bikin ulah." kata Pak Ali.


"Saya juga gak ngerti Pak Dhe. Maksud nya apa." kata Mas Galuh.


"Kalau dia bikin masalah lagi, bakal hancur reputasi perkebunan kita ini. Kamu punya usul tidak agar Iwan gak bikin ulah?" tanya Pak Ali.


"Sudah Pak Dhe. Tapi rasa nya sulit. Dia banyak yang menjaga."


Aku langsung menutup mulut ku tanda gak percaya atas apa yang ku dengar baru saja.


Aku buru-buru menghampiri Angga dan Edwin, lalu menceritakan apa yang baru saja aku dengar dengan bisik-bisik. Dengan informasi ini, kami bisa untuk lebih waspada lagi.


"Kita omongin ini ntar lagi di rumah." bisik Edwin.


Sebelum maghrib, kita berpamitan untuk pulang karena setelah ini kami akan melaksanakan sholat maghrib berjamaah di masjid.


Sepulang dari masjid, kami berlima kumpul di kamar Edwin.


"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?" ungkap Andre.


"Gak nyangka ya, hal sebesar itu disembunyikan." kata Toni.


"Eh, tapi... Banyak sedikit nya Mas Galuh pasti terlibat kan ya?" kata Edwin.


"Kayak nya sih." Angga buka suara.


"Makanya, mulai sekarang kita harus jaga omongan. Karena kita tidak tahu siapa musuh kita sebenar nya." kata ku.


"Bener tuh. Kalau misal memang ada mahasiswi yang hilang, wah berarti ini tindak kriminal. Dan harus diungkap siapa pelaku nya." timpal Toni.


"Baik, besok saat acara berlangsung aku dan Angga akan ke Bu Parti. Karena pasti semua orang kan berkumpul di sana. Tugas kalian menyebar. Jika ada yang tanya aku dan Angga kalian cari alasan apa gitu kek. Terus, langsung telpon aku. Setelah itu, kami akan kembali ke acara sebelum acara selesai. Ok." aku menjelaskan.


"Asiap." jawab mereka kompak.


"Yaudah, mulai sekarang kita akan bersikap seperti biasa nya saja. Dan kamu Yank, gak usah cemburu-cemburu gitu kalau ada Mas Galuh. Kan aku cinta nya sama kamu doang." kata ku membesarkan hati pacar ku yang cemburuan ini.


"Gimana gak cemburu sih yank, kalau dia mau mepet kamu terus. Ih, kamu tuh ya bikin gemes aja." jawab Angga sambil menarik hidung ku.


"Hhhhhmmm. Pacaran terooosss. Yang lain ngontrak ngontrak dah." sindir Toni lalu keluar kamar.


"Ya Allah, aku jadi kangen Riska ku." kata Edwin sok sedih.


"Ih, apaan sih kalian ini." aku memukul Edwin dan Andre dengan bantal.


"Eh Nggi, kenapa gue dipukul juga. Salah gue apa coba." sungut Andre.


"Salah lu? Karena lu gak punya salah. Jadi gue pukul juga." kata ku. Lalu Edwin dan Andre pun kabur. Aku turun dari kasur, lalu tangan ku ditarik Angga dan aku pun jatuh di pangkuan nya.

__ADS_1


"Kenapa lagi sih yank." tanya ku. Angga menatap dalam-dalam mata ku.


"Aku sayang kamu. Aku gak sabar untuk cepet-cepet nikahin kamu." ucap nya sambil menggenggam tangan ku. Aku terharu mendengar itu semua.


"Aku juga sayang sama kamu. Iya, aku akan menunggu mu." ucapku penuh keyakinan.


"Setelah wisuda, aku akan melamar mu." lanjut nya.


"Ih. Gak usah gombal deh." kata ku.


"Seriusan. Mama Papa aku udah rencanain ini." jawab nya.


"Oh Ya?" tanya ku kaget.


"Kalau gak percaya, tanya Mama kamu deh. Dia juga udah tahu kok." kata Angga lagi semakin mengerat kan pelukannya.


"Mama aku udah tahu? Tahu dari mana?" tanya ku heran.


"Aku sendiri juga gak tahu. Rupa nya orang tua kita selangkah di depan kita deh." jawab Angga.


"Ih. Mama ini ya. Ntar lagi aku akan telpon." sungut ku. Angga menampilkan wajah manjanya. Nih anak kalau udah deket aku bawaannya manja mulu.


"Kenapa lagi?" tanya ku lagi.


Dia memonyongkan bibir nya yang merah muda itu, karena dia memang bukan perokok.


"Ih apaan sih." kata ku sambil memukul pipi nya pelan lalu beranjak dari pangkuannya. Namun tangan ku ditarik lagi olehnya, dan aku kembali terduduk di pangkuannya.


"Seandainya ya, kita nikah sekarang udah habis kamu sama aku." canda nya.


"Kamu tuh ya, mesum terus." kata ku.


"Eh, gak papa dong mesum ke calon istri. Daripada mesum ke orang lain?" kata nya. Aku melotot.


"Apa? Mau mesum ke cewek lain?" aku menjewer nya kali ini.


"Gak yank. Gak. Cuma ke kamu doang." jawab nya meringis kesakitan.


"Awas aja." ancam ku.


"Gak akan. Masa iya aku mesum ke cewek lain, sedangkan di pangkuan ku ini sangat menggoda." rayu nya lagi.


"Tuh kan. Mulai deh. Udah ah, yuk kita keluar. Sebelum setan menyerang otak mu lagi." ajakku. Lalu kami keluar bersamaan.


"Eits, pengantin baru, baru keluar nih." ledek Andre.


"Calon pengantin baru." jawab Angga.


"Aamiin." semua mengamini ucapan Angga.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.


__ADS_2