
"Yank, anterin ke salon dong. Mau potong rambut nih. Udah bosen sama rambut panjang." kata ku saat Angga sedang asik main game.
"Ntar lagi ya kurang bentar. Kamu siap-siap aja dulu gih." kata Angga yang masih fokus ke layar ponsel nya. Jempol nya sibuk mengusap layar ponsel.
Aku lalu bersiap-siap, dan dandan. Saat aku sudah selesai, ternyata Angga masih sibuk dengan ponsel nya. Hhhmmm, tidak ada cara lain! Aku lalu naik ke atas ranjang, ku raih wajah pacar ku yang tampan itu dan ku kecup bibir nya.
"Dah. Yuk anterin aku." kata ku.
"Kamu tuh ya, tahu aja cara bikin aku berhenti main game." kata Angga mencubit hidung ku.
Lalu kami pun berangkat ke sebuah salon. Hari ini aku mau facial dan juga potong rambut menjadi pendek. Aku menunjukkan ke mbak-mbak salon warna rambut yang akan aku warnai. Karena aku gak tahu nama warna nya. Hehehehe.
"Beruntung ya mbak, punya pacar mau nemenin nyalon. Malah ikut nyalon juga." kata mbak itu sambil mengecat rambut ku. Aku tersenyum menoleh ke arah Angga yang sedang di facial.
"Iya mbak." jawab ku singkat. Setelah beberapa jam nyalon, akhir nya kami pun selesai.
"Cantik banget sih. Pacarnya siapa ya." goda Angga mencubit kedua pipi ku. Rambut ku yang pendek membuat ku terlihat tampak lebih muda. Dan warna baru rambut ku semakin menambah kecantikan ku.
"Kamu suka gak yank?" tanya ku bergelayut manja di lengan Angga.
"Suka dong. Kamu sih mau gimanapun tetep cantik kok." jawab Angga.
"Yaudah, makan yuk." ajak Angga. Lalu kami mencari warung untuk makan bersama.
__ADS_1
*****
"Oh ya, besok pesawat nya berangkat jam berapa Nak?" tanya Papa Angga saat makan malam bersama.
"Jam 2 siang Pa." jawab ku.
"Oh ya Pa, segala administrasi ku kan udah selesai ya. Besok aku mau ikut Anggi pulang. Boleh ya." pinta Angga memelas.
"Huuuhhh, kayak perangko aja kak Angga nih." goda Diana. Kami pun tertawa.
"Boleh kok. Tapi nanti waktu nya kuliah kalian pulang ke sini ya. Papa sudah bilang sama orang tua Anggi, dan mereka setuju" jawab Papa. Tuh kan, tanpa aku ngomong ke Mama ku aja mereka sudah tahu.
Tampak wajah kesal mbak Siska. Aku memang membujuk Angga untuk ikut dengan ku pulang. Agar Mbak Siska gak keenakan goda-goda calon suami ku ini.
"Sholat subuh yuk." ajakku. Lalu kami mengambil air wudhu dan sholat berjamaah di kamar Angga. Setelah sholat, aku mencium punggung tangan calon imam ku ini.
"Nanti, kita akan sholat berjamaah seperti ini selamanya." ucap Angga menenang kan hati ku ini.
Setelah sholat, aku lalu ke dapur membantu Mbak Asih memasak. Ada Mama di sana.
"Ehh!! Itu rambut nya basah, habis keramas ya? Habis ngapain?" selidik Mama.
"Ya Ampun Ma..." aku tertawa mepihat ekspresi Mama Gita saat ini. Mbak Asih pun terlihat menahan tawa nya.
__ADS_1
"Mama, aku kan baru bersih dari haid. Jadi aku tadi mandi dulu sebelum sholat subuh. Lalu aku sholat subuh bareng Angga. Sumpah Ma, kita gak pernah ngapa-ngapain." ucap ku setengah tertawa. Mama pun lalu tertawa diikuti tawa dari Mbak Asih.
"Alkhamdulillah. Sejak kenal sama kamu, Angga jadi pribadi yang lebih baik lagi. Terimakasih ya sayang." ujar Mama lalu memelukku. Lalu kami pun melanjut kan acara memasak.
Aku sudah merapikan seluruh pakaian ku dan ku masukkan dalam koper. Sopir yang mengantar kami ke bandara. Pukul 4 sore kami sudah sampai di rumah ku.
"Cantik banget sih anak Mama ini." kata Mama memeluk ku. Angga lalu mencium punggung tangan calon mertuanya. Lalu Mama menyuruh kami untuk istirahat di dalam.
Selama di rumah ku, Angga tidur dengan Yoga. Karena dia gak bisa untuk tidur sendirian. Lagian jika tidur dengan Yoga, mereka ini cocok karena sama-sama suka main game.
Kami pun juga sering berkunjung ke rumah Edwin, Toni, dan Andre. Dan memberitahukan bahwa kami sebentar lagi akan menikah. Rencana nya pernikahan kami akan digelar di kota kelahiran ku ini.
Waktu berjalan begitu cepat nya.
*
*
*
*
*
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.