
Hari ini Dokter Rizal mengizinkan ku untuk pulang karena keadaan ku yang semakin membaik. Pak Jono selaku dosen pembimbing ku pun turut khawatir dengan keadaan kami. Beliau pun sering menjenguk kami.
Hari ini, kami ber empat kembali ke perkebunan untuk membereskan semua perlengkapan kami yang ada di mess. Tentu saja kali ini aku didampingi orang tua ku dan Yoga untuk mengemas semua barang-barang ku.
Aku mengingat dengan baik setiap sudut ruangan ini memiliki kenangan tersendiri bagi ku. Susah senang. Canda tawa. Pertengkaran dan keromantisan. Rasa nya baru kemarin aku ada di sini, tapi sekarang harus berakhir dengan buruk.
Ah sudahlah. Aku tidak mau mengingat nya kembali. Lagian hanya ketiga orang itu saja yang kurang ajar. Yang lain tidak kan?
Aku mengajak teman-teman ku untuk berpamitan pada Bu Dian. Bagaimanapun juga, beliau pasti terpukul dengan apa yang terjadi pada Pak Ali.
"Bu, kami pamit pulang. Maafkan jika selama ini kami ada kekurangan." kata Edwin. Bu Dian hanya menangis. Lalu beliau memandang ku, dan kemudian memeluk ku erat.
"Maafkan ibu ya Nak. Ibu sungguh tidak tahu kalau ini akan menimpa mu." ucap Bu Dian. Aku melepas pelukan Bu Dian.
"Sudahlah Bu. Ini bukan salah Ibu." kata ku sambil mengelus lengan Bu Dian. Akhir nya kami berpamitan untuk pulang. Tidak ada Mina maupun Rani. Mereka langsung dibawa pulang oleh kedua orang tua mereka setelah mengetahui apa yang menimpa putri mereka. Tentu saja, orang tua Rani dan Mina membawa kejadian tersebut ke ranah hukum dan menuntut hukuman semaksimal mungkin.
Kami pun berpamitan kepada seluruh staf perkebunan ini beserta kepada para pekerja yang sudah baik kepada kami selama ini. Mereka semua meminta maaf kepada kami atas ketidaknyamanan yang telah terjadi.
"Bu, aku pamit ya. Terimaksih." ucap ku pada Bu Parti. Bu Parti memelukku sambil menangis.
"Aduh non. Ibu sampai takut hal buruk terjadi pada mu." isak nya. Aku hanya tersenyum pada Bu Parti.
"Alkhamdulillah Bu, saya masih diberi keselamatan." ucap ku lalu berpamitan pulang.
Jenny, Bima dan Edo pulang dengan rombongan dari kampus mereka. Sedangkan Angga masih setia mengantar ku pulang bersama kedua orang tuanya.
Kami pulang terlebih dahulu ke rumah ku. Angga dan Yoga membantu ku untuk merapikan semua barang bawaan ku.
Sedangkan Mama ku dan Mama Gita, mama nya Angga sedang memersiapkan makan siang dibantu dengan Kak Maya. Kini Kak Maya menjadi kakakku. Dan para Papa kami sedang ngobrol di ruang tamu. Entah apa yang mereka bicarakan.
__ADS_1
Mengenai Kak Maya, dia setuju untuk diadopsi keluarga ku. Karena memang dia sendiri sudah tidak memiliki keluarga lagi di sini. Keadaannya pun sudah lumayan membaik. Rencana nya setelah ini Kak Maya akan kuliah mengambil jurusan kedokteran. Papa yang menyarankan untuk Kak Maya mengambul jurusan kedokteran.
Di dalam kamar, aku merapikan baju-baju ku dengan dibantu Angga dan Yoga. Sejenak, aku menutup wajah ku karena terlintas bayangan kejadian malam itu.
"Kamu kenapa yank? Pusing?" tanya Angga khawatir. Aku menggeleng, lalu tersenyum.
"Gak, hanya ingat saja." jawab ku dengan mata yang berkaca-berkaca. Angga lalu memelukku dan menepuk halus pundakku. Aku mengusap setetes air mata yang jatuh di pipi ku.
"Sudah. Jangan diingat terus. Ingat aja aku." hibur Angga. Aku lantas tertawa. Ingat kejadian waktu aku diguna-guna.
"Bisa nggak sih mesra-mesra an nya jangan di depan gue." sungut Yoga kesal. Kami lalu melepaskan pelukan kami dan tertawa bersama. Kasihan adikku yang jomblo ini.
"Makan yuk. Udah siap tuh makan siang nya." ajak kak Maya dari balik pintu kamar ku. Lalu kami beranjak keluar bersama untuk makan siang. Sebelum makan siang, kami melakukan sholat dhuhur berjamaah. Duh, jadi pengen cepet-cepet sholat jamaah bareng suami kalau gini deh.
Meja makan kali ini penuh. Ramai. Semua tampak berusaha untuk menghibur ku dan kak Maya. Untuk sejenak aku dapat melupakan kejadian itu.
Setelah makan siang, kami berkumpul bersama di ruang keluarga. Hanya membicarakan hal ringan hingga membicarakan pernikahan ku dengan Angga.
"Baik Pak. Setelah ini mereka kan harus menyelesaikan tugas akhir dulu. Nah habis wisuda kita resmikan saja." kata Pak Reza.
"Iya Bu, saya ini pengen cepat-cepat anak saya ini menikah." goda Mama Gita. Semua tertawa mendengar ucapan Mama Gita.
"Gimana kamu Ngga? Udah siap nikah nya?" goda papa ku.
"Kalau saya sih siap saja Pa, meskipun nikah nya sekarang. Iya gak yank?" ucap Angga. Aku otomatis melotot dan mencubit tangannya.
"Aaawww. Kok dicubit sih." sungut Angga.
"Abis nya kamu, bercanda mulu." kata ku tersipu malu.
__ADS_1
"Siapa yang bercanda sih yank. Serius." kata Angga menggenggam tangan ku.
"Eiittts tangannya." Papa Reza menperingatkan Angga karena sedang memegang tangan ku. Angga lalu melepas tangan kami, dan menggaruk kepala nya sambil cengar cengir.
"Duh, tadi aja peluk-peluk di depan ku." ledek Yoga.
"Yogaaaaaa." aku dan Angga bersamaan berteriak menyebut nama Yoga sehingga membuat ruangan ini tertawa bersama.
Setelah ini, aku akan ikut mengantar Angga dan orang tua nya ke bandara. Aku sedang mengambil ponsel ku yang sedari tadi aku letakkan di meja belajar ku.
Aku tersenyum saat tangan itu memelukku dari belakang.
"Sayang, nanti kalau ada yang liat gimana?" bisikku. Angga semakin mengeratkan pelukannya dan mencium pipi ku.
"Aku bakalan kangen banget sama kamu deh yank." ucap Angga. Aku lalu menoleh ke arah nya. Aku memegang kedua pipi nya
"Sabar ya, nanti pasti kita akan bersama." ucap ku. Lalu kami berciuman cukup lama.
Aku pasti akan sangat merindukan bibir sayang ku ini. Oh LDR.
*
*
*
*
*
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.