Cinta Dan Obsesi

Cinta Dan Obsesi
BAB 32


__ADS_3

"Ini saat nya." ucap Ni Laksmini. Dia lalu mengucapkan mantra-mantra ghaib nya.


Angga lalu mengarungi waktu, masuk ke dalam mimpi ku. Dia masih mencari keberadaan ku. Dia masih berlari kesana kemari memanggil nama ku. Hingga saat nya, dia sampai di depan rumah kami.


Angga melihat ku keluar dari kamar, memakai piyama dengan muka bantal ku, dan sedikit iler di ujung bibir ku. Ini adalah awal pertemuan kita.


Aku sangat bahagia bisa berjumpa dengan Angga. Angga ada di ujung jalan. Aku melambaikan tangan ku ke arah nya, lalu aku berjalan ingin memeluk nya. Aku sangat merindukannya.


Namun, langkah ku terhenti saat ada anjing hitam sedang menatap ku tajam di sebelah kiri ku. Mulut nya menganga seakan-akan siap untuk menggigit ku. Ku lihat Angga berteriak pada ku. Dia menyuruh ku untuk berlari cepat. Aku berlari sekuat tenaga ku. Aku berlari menuju ke arah Angga.


Hingga disaat yang tepat, Angga menjatuh kan dirinya untuk menangkap anjing itu. Dan Angga pun berhasil menangkap nya. Anjing itu akan menggigit Angga dengan gigi tajamnya. Dengan sekuat tenaga, Angga mengelak dari gigitan anjing itu.


Ni Laksmini dan juga sahabat ku, melihat tubuh kami bergerak kesana kemari dan bercucuran keringat.


Ku lihat, keris yang dipegang Angga jatuh agak jauh dari nya. Angga masih berusaha untuk mengelak dari gigitan anjing. Kuku tajam anjing itu berhasil melukai pipi dari orang yang ku cintai. Lalu, dengan keberanian ku, aku mengambil keris itu, dan menghunuskan keris tersebut tepat di kepala anjing hitam itu.


Angga melempar anjing tersebut dengan keras nya. Anjing itu terkapar. Dan mati. Aku menangis. Kami menangis bersama. Lalu aku berhambur ke pelukan Angga. Aku sangat merindukan pelukan itu.


Angga mencium pucuk kepalaku, dia menangis. Lalu aku menatap nya. Dan mengusap darah yang mengalir dari pipi nya.


"Terimakasih." kata ku. Angga mengangguk.


"Yuk, kita pulang." ajak Angga sambil merangkul ku. Kami berjalan bersama menuju rumah kami. Namun, di tengah jalan kami di hadang sebuah makhluk yang sangat besar. Mata nya menyala merah. Tubuhnya hitam legam.


Entah datang dari mana, Lidia membantu ku dengan kekuatan yang ia miliki. Mereka bertarung dengan kekuatan ghaib. Warna merah menyala, serta dentuman mewarnai keadaan malam ini. Mereka beradu kekuatan. Lalu, Lidia terbang dan berada di atas makhluk itu.


"Lemparkan keris itu" kata Lidia. Lalu aku melemparkan ke arah nya. Dengan cepat, Lidia langsung menghunuskan keris itu di dada makhluk tersebut. Setelah itu, makhluk itu lalu terbakar tak tersisa menjadi abu.


"Cepatlah masuk ke dalam rumah. Itulah jalan mu kembali." kata Lidia. Lalu aku dan Angga berlari masuk ke dalam rumah bersama.


Kami membuka mata bersama. Dan lalu bangun. Aku menangis, lalu memeluk Angga. Sahabat ku juga ikut menangis terharu, dan memeluk kami bersama.

__ADS_1


"Ini belum berakhir. Sebentar lagi ada yang mau datang." ucap Ni Laksmini. Kami menyudahi pelukan bersama kami. Dan menatap Ni Laksmini dengan perasaan takut.


"Jadi ini belum berakhir Ni?" tanya ku takut pada Ni Laksmini.


"Belum. Makhluk yang dikalahkan oleh arwah yang membantumu adalah jin yang telah mengikat jiwa mu, dan yang menyebabkan tubuh mu panas dan penuh hasrat. Tapi, kali ini yang akan datang adalah Ki Joyo, karena dia marah jin kesayangannya kalah." jawab Ni Laksmini.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan Ni?" tanya Angga.


"Tidak ada. Ini adalah petarungan ku dengan kawan lama ku." jawab Ni Laksmini.


Di sisi lain..


"Kurang ajar!!! Makhluk itu bisa mengalahkan peliharaan ku." ucap Ki Joyo marah.


"Makhluk? Makhluk apa Ki?" tanya Mas Galuh. Lalu Ki Joyo menoleh ke arah Mas Galuh.


"Kau tentunya sudah tahu siapa makhluk itu! Sudahlah! Tak usah kebanyakan omong! Aku akan menuntut balas pada kawan lama ku!" ucap Ki Joyo lalu beranjak dari tempat nya.


"Kekuarlah kau Laksmini! Sini, hadapilah aku!" tantang Ki Joyo. Kami semua ketakutan. Entah apa yang akan terjadi pada kami.


"Kalian diam saja di sini." titah Ni Laksmini, lalu dia keluar dari rumah nya.


"Kau rupanya berani ya mengganggu pekerjaan ku!" kata Ki Joyo.


"Sadarlah Joyo! Jangan selalu berbuat seperti itu! Kau mempunyai kekuatan, seharusnya bukan untuk mencelakai orang!" nasehat Ni Laksmini. Kami semua mengintip dari celah dinding bambu di rumah ini.


"Haallaaahhh! Kebanyakan omong kamu! Sekarang, ayo lawan aku!" tantang Ki Joyi.


"Joyo Joyo! Kau ini masih saja sombong. Jangan sampai kau terbunuh dengan kesombongan mu itu!" ucap Ni Laksmini.


Ki Joyo lalu duduk bersila dan menyatukan dua telapak tangannya. Setelah itu keluarlah berbagai macam bentuk makhluk yang sangat menakut kan. Kami semua takut. Kami sungguh ketakutan. Angga memelukku, sedangkan sahabatku juga saling peluk.

__ADS_1


Dentuman keras terdengar dari arah luar. Sinar kemerah-merahan keluar dari ajian Ni Laksmini. Makhluk-makhluk itu lalu menyerang Ni Laksmini yang tengah fokus mengeluarkan jurus. Tapi, setelah itu muncullah makhluk berbentuk ular yang sangat besar dari balik tubuh Ni Laksmini.


Makhluk-makhluk itu saling menyerang. Sedangkan majikan mereka masih duduk bersila dengan mata terpejam. Tampak Ni Laksmini menggerakkan tangannya untuk menyerang Ki Joyo.


Ki Joyo pun jatuh dari duduk nya sambil memegang dada nya. Selain itu, ular jelmaan Ni Laksmini berhasil melilit semua makhluk yang dikeluarkan Ki Joyo.


"Cuuiihh. Rupanya aku salah meremehkan mu selama ini Laksmini!" ucap Ki Joyo, lalu ia berdiri dan mengeluarkan ajian selanjut nya. Keluarlah makhluk berbentuk harimau yang siap untuk menerkam Ni Laksmini.


Ya Tuhan, belumkah ini berakhir? Ini hampir memasuki waktu subuh. Aku masih berdoa dalam hatiku, berniat untuk membantu Ni Laksmini.


Ni Laksmini pun juga mengeluarkan jurus terakhir nya. Entah datang dari mana, lewat lah cahaya putih yang membantu makhluk peliharaan Ni Laksmini. Terbentuklah angin yang sangat besar. Memporak porandakan tempat ini.


Dan angin itu pun yang melahap habis makhluk dari Ki Joyo. Ki joyo jatuh terpental, dan mulutnya mengeluarkan darah segar.


"Taubat lah Joyo!" seru Ni Laksmini. Aku masih melihat ke arah petarungan tersebut.


"Tidak akan! Rasakan ini....." kata Ki Joyo lalu menyerang Ni Laksmini.


"Tunggu....."


*


*


*


*


*


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.

__ADS_1


__ADS_2