
saera beranjak masuk ke kamarnya . dia langsung merebahkan kasar dirinya ke kasur, Saera menatap langit langit kamar dengan perkataan Aska yang masih terngiang di telinga nya.
" apa yang harus aku jawab besok ? " sambil mem bolak balikkan badannya dengan raut wajahnya yang bingung
"apa aku harus menerimanya, lagipula dia sudah menyelamatkan hidupku . tapi masak iya aku harus membalasnya dengan menikahinya " " lagi pula kami tidak saling kenal. bagaimana dia mengajak ku menikah secepat itu" saera mengerang penuh frustasi
waktu pun terus berlalu, Saera mencoba menutup matanya berharap alam mimpi segera menyambutnya tapi nihil Saera hanya memejamkan matanya tapi tidak dengan pemikiran nya dia masih saja kepikiran jawaban apa yang akan diberikan pada pemuda yang telah menyelamatkan kehidupannya besok pagi.
****
Saera dan Aska telah duduk bersama di meja makan untuk menyantap sarapan paginya
Hening
Saera tidak berani berbicara sepatah katapun bahkan Saera enggan menatap nya. Saera sibuk sendiri dengan pemikirannya .
" nanti siang anak buah ku akan menjemputmu " kata Aska yang membuat Saera terkejut dari lamunannya.
" kita akan ke butik untuk menyiapkan baju pernikahan" lanjutnya.
saera tertegun mendengar kalimat menyiapkan baju pernikahan.
__ADS_1
apa apaan ini, aku bahkan belum memberi jawaban bahwa aku akan setuju. pe maksa sekali lelaki ini, bukankah semalam dia meminta ku untuk berfikir. lalu untuk apa memberi ku waktu jika kamu akan hanya akan setuju dengan keputusan mu.
"khemmmm" Aska memicingkan mata nya ke arah Saera karena tidak mendapati jawaban atas pernyataannya dan malah asik melamun sendiri.
" ehhh. iya baik tuan nanti saya akan bersiap siap " jawab Saera spontan karena dia terkejut sekaligus takut dengan tatapan Aska.
" baiklah, kalau begitu aku pergi " Aska berlalu meninggalkan Saera.
sungguh bukan itu jawaban yang ingin di jawab Saera, tapi entahlah jawaban itu sontak keluar dengan sendirinya dari bibir saera, ingin menarik kembali pun rasanya percuma karena pasti sang tuan muda tidak akan setuju.
" baiklah. ikuti saja alurnya mungkin ini jalan kebaikan yang dikirim tuhan untukku " ucap saera menyemangati dirinya sendiri dengan senyum tulus yang terpancar di wajah nya sambil terus melanjutkan sarapan pagi nya .
***
semilir angin serta deru ombak menambah indah suasana pernikahan dua insan tersebut.
dari dalam mobil pengantin dan iringannya keluarlah sang pengantin menuju altar pernikahan di pesisir pantai. cukup sederhana gaun yang di pakai Saera hanya dress putih menjuntai sampai tanah dengan lengan panjang namun sedikit terbuka di bagian pundaknya. Rambutnya dibiarkan tergerai dan diselipkan mahkota bunga di atasnya membuat penampilan Saera sangat anggun walaupun sederhana. Sementara di sana sang pangeran telah menunggu dengan tuksedo berwarna senada yang membuat semua mata iri pada dua sejoli itu.
saera tersenyum bahagia layaknya gadis yang benar benar menunggu hari berbahagia nya. ya Saera iklhas menerima pernikahan ini tanpa ada paksaan. dia meyakinkan dirinya mungkin inilah akhir dari enderitaannya.
acara pun berlangsung sangat khidmat. banyak tamu yang memberi selamat dan tersenyum bahagia atas bersatunya dua sejoli itu.
__ADS_1
"cium. cium cium " sorak tamu undangan yang hadir sambil bertepuk tepuk tangan setelah acara pemasangan cincin tanda kepemilikan di jari manis masing masing.
sontak saera terkejut mendengar kalimat tersebut lalu memandang Aska dengan gugup. Aska pun memandang Saera dan
Cup.
kecupan lembut mendarat di bibir saera
hanya sesaat, seperti ketagihan rasanya Aska ingin lagi ******* bibir gadis itu dan
Cup.
Cup
merekapun ber pagutan untuk waktu yang cukup lama hingga Saera tidak dibiarkan untuk menghirup oksigen, tentu saja kejadian itu membuat para tamu bertepuk tangan sangat meriah dan turut bahagia atas pernikahan ini.
saera menghirup udara sebanyak banyak nya setelah Aska melepas pagutan bibirnya, jantungnya seakan berhenti
" relaksss. apa ini pertama kali bagimu " goda Aska yang masih memandang Saera dengan senyuman.
saera tidak menjawab muka nya memerah lantaran malu ,benar saja itu memang pertama kalinya dia berciuman. mengingat
__ADS_1
kehidupannya yang kacau mana ada waktu buat dia berpacaran.
lalu satu persatu tamu menghampiri mereka dan memberi selamat.