
Aku mengerjapkan kedua mata ku yang masih tampak buram. Kepala ku terasa pusing. Aku masih tidak tahu di mana aku sekarang. Tampaknya sebuab kamar. Namum kamar yang jauh dari kata mewah. Aku masih mengumpulkan sisa tenaga ku. Ku lihat kedua tangan ku masih terikat tali dengan rapat.
Kedua tangan halus menepuk-nepuk pundak ku. Aku menoleh ke arah nya. Ku pandangi dia yang tampak pucat.
"Ma.... Maya..." ucapku masih tidak percaya. Maya mengangguk. Lalu dengan cepat dia membuka tali ku dengan pisau berkarat yang ia pegang. Aku bangun dan mengusap pergelangan tangan ku yang terasa sakit.
"Kamu kok bisa sadar?" tanya ku pelan.
"Iya. Hari ini aku sedang menstruasi. Jadi mereka tidak memberikan ku obat bius lagi. Karena.... mereka tidak bisa memakai ku saat ini." jelas Maya dan menekankan kata "memakai" agar aku dapat memahami apa meksud perkataan nya.
Aku hanya mengangguk.
"Kamu kok tahu aku Maya?" kini giliran Maya yang bertanya penuh tanya.
"Saat itu, aku tidak sengaja mengintip mu lewat celah pintu itu saat mereka sedang..." aku menjawab dengan hati-hati agar tidak melukai perasaan nya. Maya mengangguk dan tersenyum sambil mengelus pundak ku.
__ADS_1
"Kamu, kakak nya Lidia kan?" tanya ku. Maya mengangguk. Lalu dia tertunduk dan mulai terisak.
"Adikku terbunuh malam itu. Mereka membunuh nya dengan sangat keji. Bahkan sebelum membunuh Lidia, mereka memperkosa Lidia terlebih dahulu." Maya menceritakan awal mula adik nya terbunuh. Kini bulir air mata mulai berjatuhan dari mata Maya. Aku memeluk nya.
"Aju sudah mendengar cerita itu. Tapi aku masih belum tahu, siapa sebenarnya pelaku nya." kata ku mengusap air mata Maya.
Maya menatap ku.
"Malam itu, aku mau menjemput Lidia untuk pulang. Namun, aku memergoki Pak Iwan dan Galuh memaksa Lidia untuk masuk ke dalam mobil. Lidia berontak saat itu. Namun, mereka berhasil membawa nya. Lalu aku mengikuti kemana mereka pergi. Dan, sampai akhir nya mereka membawa Lidia ke rumah ini." Maya menceritakan dengan mata yang masih menangis.
"Aku tidak bisa menolong nya, karena Pak Ali memegang kedua tangan ku saat itu. Setelah mereka mengetahui Lidia sudah tewas, mereka lantas membuang jasad Lidia begitu saja di belakang rumah ini. Setelah itu, mereka melampiaskan hasrat mereka kepada ku secara bergiliran. Dan aku menjadi budak mereka hingga sekarang." jelas Maya.
"Ya Allah. Kamu yang sabar ya. Percayalah, aku akan membuat mereka mendekam di penjara." kata ku menenangkan Maya.
"Kamu harus hati-hati. Pasti mereka menjadikan mu target berikut nya. Ini, bawalah pisau ini. Pasti akan berguna untuk mu. Sebentar lagi, mereka pasti akan datang." kata Maya lalu mengikat tangan ku kembali dengan ikatan yang longgar, sehingga memudahkan ku untuk membuka nya.
__ADS_1
Terdengar suara langkah semakin mendekat. Aku pura-pura pingsan, dan Maya kembali pura-pura tertidur.
"Ceklek..."
*
*
*
*
*
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.
__ADS_1