
"Sayang." kata Angga menciumi tangan ku. Aku tersenyum melihat Angga. Perlahan aku membuka alat bantu pernafasan yang ada di hidung ku. Angga membantu ku.
"Jangan gerak dulu. Biar aku panggilkan dokter dulu." kata Angga pelan sambil membelai rambut ku. Aku menatap mata kekasih ku ini. Lalu aku manarik baju nya, dan aku mencium bibir yang sangat ku rindukan itu. Kami berciuman cukup lama.
"Aku kangen." kata ku sambil menangis.
"Sssttt." kata Angga menaruh telunjuk nya di bibir ku.
"Aku juga sangat merindukan mu. Percayalah. Tapi, sekarang biar aku panggilkan dokter dulu ya." kata Angga berbisik yang rupanya tidak ingin membuat kaget orang-orang yang sudah lelah karena mengkhawatirkan kondisi ku ini.
Aku mengangguk. Lalu Angga keluar dari ruangan ini. Ku lihat jam di dinding menunjukkan pukul 1:20 dinihari. Tak lama Dokter jaga datang untuk melihat kondisi ku.
Tampak Angga sedang membangunkan dengan perlahan orang-orang tang ada di ruangan ini.
"Sayang." Mama ku menangis dan menciumi ku. Tampak sahabat ku juga ikut menangis melihat keadaan ku.
"Bagaimana kondisi nya Dok?" tanya Papa ku.
"Alkhamdulillah. Mbak Anggi sudah sadar. Untuk perkembangan selanjutnya, maka kita akan lihat hasil observasi nya. Nanti saya akan kabari lagi ya."kata Dokter itu lalu berpamitan keluar ruangan.
Yoga terus saja menggenggam tangan ku.
__ADS_1
"Mama jangan nangis. Aku gak apa-apa kok." kata ku dengan suara sedikit serak. Mama menciumi ku.
"Selamat ya Nggi, udah kembali lagi sama kita." kata Edwin.
"Emang, berapa hari aku kayak gini?" tanya ku heran.
"Udah 1 minggu kamu koma." jawab Toni.
"Koma? 1 minggu? Maya mana Ma?" tanya ku beruntun.
"Maya ada di lain ruangan. Dia harus mendapatkan perawatan intensif untuk menghilangkan rasa trauma dia sayang." jawab Mama. Aku lega mendengar Maya masih dalam keadaan sehat.
"Jadi gini. Saat kamu jatuh dari tangga, kami berhasil membekuk Pak Ali yang akan menyakiti Maya. Setelah itu, kami langsung membawa kalian ke Rumah Sakit kota menggunakan mobil polisi." jawab Angga.
"Beruntung, polisi juga ada saat kami menghubungi nya. Jadi para polisi menangkap mereka deh." terang Toni.
"Terus? Galuh dan Pak Iwan?" tanya ku penasaran.
"Mereka masih hidup. Tenang saja. Mereka hanya mengalami luka-luka. Agak berat sih. Dan sudah dipastikan mereka bertiga akan dihukum seberat-berat nya." lanjut Andre.
"Dan, perkebunan ini akan ditutup selamanya oleh pihak kepolisian. Jadi tidak akan ada lagi acara magang di sini. Selain itu, polisi juga berhasil menemukan di mana Lidia dikubur kan. Ya, walaupun yang ditemukan sudah berupa tulang belulang.." jelas Edwin.
__ADS_1
"Kamu tahu gak yank? Rani sama Mina ditemukan ada di sebuak kamar tidak sadarkan diri. Menurut polusi sih mereka kena obat bius. Ternyata mereka bertiga sudah menjual nya ke seseorang. Kasian Rani dan Mina harus kehilangan keperawanannya." cerita Angga.
Aku sungguh tidak percaya bisa selamat dari insiden ini. Terlebih, aku masih bisa menjaga kesucian ku, walaupun harus nyawa taruhannya.
Dan aku tidak menyangka, justru nasib buruk harus menimpa Rani dan Mina. Entah bagaimana mereka saat ini.
"Ma, aku ingin setelah ini Maya tinggal dengan kita. Kasihan dia sudah tidak punya keluarga lagi." kata ku dan diikuti anggukan tanda setuju oleh keluarga ku.
*
*
*
*
*
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa
like dan komen ya.
__ADS_1