Cinta Dan Obsesi

Cinta Dan Obsesi
BAB 26


__ADS_3

"Jadi apa yang kalian temukan?" tanyaku.


"Jadi kami menemukan beberapa hal. Kalau aku menemukan ini." kata Angga sambil memperlihat kan foto Mas Galuh dan Lidia. Semua otomatis terbelalak. Berarti selama ini Mas Galuh sudah kenal dengan Lidia.


"Kalau aku sih gak penting kayak nya deh." kata Andre.


"Apaan Ndut?" kata Toni. Andre menyerahkan beberapa foto pada ku dari ponsel nya. Aku mengamati satu persatu foto itu.


"Yank, ini kan Maya. Kakak nya Lidia." kata ku pada Angga.


"Kalian tahu gak? Itu foto dikirim 2 bulan yang lalu ke ponsel nya Pak Ali. Mungkin itu ponsel rahasia nya kali, kok disembunyiin rapat-rapat di balik lemari pakaiannya." kata Andre.


"Seriusan?" tanya Edwin.


"Iya. Tapi gue gak tahu itu nomer siapa. Cuma ada nomer nya doang. Tapi udah gue catat sih nomer pengirim nya." kata Andre.


"Pinter banget lu Ndut." puji ku sambil menepuk nepuk pundak nya.


"Gue rasa Maya ini masih hidup deh. Tapi kok kayak mayat hidup gitu ya?" kata Angga mengamati. Bima dan Edo juga ikut mengamati.


"Itu sih dalam pengaruh obat." Bima mulai buka suara. Kami lalu menatap Bima.


"Iya. Dulu temen kakak gue ada yang kayak gitu. Dikasih obat bius terus sama pacar nya, dijadiin budak **** sama dia. Eh, bro lu inget kan cerita Kakak gue." kata Bima ke Angga. Angga rupanya mulai mengingat kejadian temen kakak nya Bima.


"Oh iya. Bisa jadi sih." lanjut Angga. Aku gak percaya dengan semua ini. Kok bisa-bisa nya ada orang jahat seperti itu. Aku gak tega lihat keadaan Maya yang tidak karuan. Wajah pucat pasi, baju minim seperti itu. Kita harus segera menemukan Maya.


*****


Sudah genap 1 bulan, kami melaksanakan magang ini. Kami sudah sepakat, bahwa tiap sebulan sekali kita akan pulang. Edwin, Andre, dan Toni sudah pulang hari Sabtu kemarin. Sedangkan aku masih besok, akan diantar Angga. Malam Minggu ini Bima dan Edo menemani Angga tidur di rumah ku.


"Eh, Nggi. Gue minta antar dong." ucap Mina ke aku. Aku sedang menyiram bunga ku. Aku gak nyangka sama sekali jika dia sekarang minta pertolongan ku.


"Emang kemana?" tanya ku.


"Ke gudang penyimpanan pupuk. Ponsel gue ketinggalan disana soal nya." jawab Mina.


"Aku bilang Angga dulu ya." kata ku.


"Gak usah. Gue udah bilang sama Bima. Nih kontak motor nya Bima." kata Mina sambil melempar kan kontak ke arah ku.


Kebetulan, Bima, Angga, dan Edo sedang ada di rumah Pak Ali untuk meminta tandatangan kegiatan. Lalu aku mengantarkan Mina ke gudang pupuk, padahal mendung sudah sangat gelap. Aku menyapa Bu Parti yang kebetulan sedang menyapu warung nya.


"Lu bisa cepetan gak sih? Keburu hujan nih!" omel Mina. Nih orang ya gak tau diuntung sekali. Aku memacu gas ku agar cepat sampai di gudang.


Sesampai nya di gudang, aku merasakan seseorang mendekap hidung ku hingga akhir nya semua keadaan sangat lah gelap.


"Rasain lu, gue kerjain!" kata Mina ber tos ria dengan Jenny dan Rani saat sudah tiba di mess. Rani tertawa sangat keras.


"Biarin lah. Emang enak bikin masalah sama kita?" kata nya.


"Eh, kalian lihat Anggi gak?" tanya Angga panik.


"Tauuu. Emang kita emaknya?" jawab Mina. Angga memukul keras pintu itu.

__ADS_1


"Lu apain motor gue, kok kotor gitu?" tanya Bima.


"Abis gue pake beli makanan di warung. Kenapa?" jawab Mina sewot.


Angga terus berusaha menghubungi Anggi. Namun tidak juga aktif. Padahal hujan rintik-rintik sudah jatuh.


"Kemana sih kamu yank." gumam Angga sambil memainkan ponsel nya daritadi. Angga lalu mengambil kontak motor nya. Ia harus mencari Anggi sekarang.


*****


Perlahan, ku buka mataku. Dimana ini? Kok gelap. Aku merasakan pusing di kepalaku. Aku mencoba mengingat hal apa yang bisa membuat ku seperti ini. Aku mulai dilanda ketakutan. Aku mencoba menghidupkan ponsel ku. Aku nyalakan dan menghidupkan senter di ponsel ku.


Aku mengarahkan cahaya ke segala arah. Aku melihat bar sinyal di ponsel ku yang ternyata tidak ada sinyal satu pun disini.


"Tolong." teriakku yang seakan percuma tidak akan yang bisa mendengar teriakan ku ini. Aku mencoba mencari pintu keluar. Saat ku temukan pintu nya ternyata terkunci.


Sesaat, lampu kemudian menyala. Aku mencari kemana arah lampu menyala. Tubuh ku lalu bergetar hebat saat mendapati Pak Iwan ada disana. Aku menangis.


"Rasanya, saya harus mengucap kan terimakasih sama Mina." ucap nya. Ternyata, ini rencana Mina dan Pak Iwan. Pak Iwan selangkah demi selangkah maju mendekati ku. Aku memundurkan langkah ku, hingga akhirnya tidak ada ruang lagi untukku memundurkan langkah ku ini. Kini Pak Iwan sudah ada di hadapan ku.


"Mau apa kamu!" bentakku.


"Hanya memperingat kan mu. Jangan ikut campur urusan ku." ancam nya.


"Kalau tidak, aku akan merenggut kesucian mu dihadapan kekasih mu itu." lanjut nya. Aku semakin takut saat dia memegang dagu ku.


"Lepas!" bentakku sambil memukul mukul tangannya.


"Ini peringatan terakhir buat mu! Ingat itu!" kata Pak Iwan lalu membuang wajah ku dengan kasar. Aku tersungkur ke lantai. Lalu Pak Iwan jongkok di depanku.


"Sayang sekali. Sesungguh nya aku ingin sekali memikmati tubuh kamu ini. Uuhhh, dada mu, bibirmu, bokong mu sangat menggairahkan." Pak Ali mengatakan hal itu. Ini sudah pelecehan namanya. Aku hanya terdiam. Lalu Pak Ali keluar dan mengunci pintu nya kembali.


Aku nangis sejadinya. Lalu ku usap air mata ku. Sayup-sayup terdengar suara motor semakin mendekat. Aku lalu berdiri dan berlari mendekat ke arah jendela. Angga. Lalu motor itu berhenti di gudang ini.


"Sayaaang." Angga memanggil ku. Lalu aku pukul-pukul jendela dan ku arahkan cahaya dari senter ponsel ku ke arah nya. Lalu ia berlari ke arah ku. Angga lalu membuka pintu.


Aku langsung menghambur ke pelukannya.


"Maaf. Maafkan aku." ucap Angga mencium pucuk kepala ku. Aku hanya bisa menangis. Hujan masih turun sangat deras. Aku masih membenamkan wajah ku di dada Angga. Setelah aku rasa cukup tenang, aku lalu menatap mata Angga. Aku menangis lagi. Lalu Angga menghapus air mataku yang jatuh.


"Aku takut." isak ku.


"Sudah ada aku di sini." ucap Angga membawa ku ke pelukannya lagi.


"Kamu tahu dari mana aku disini?" tanya ku.


"Tadi Bu Parti bilang sama aku, kalau dia melihat mu bersama Mina. Lalu aku mengancam Mina jika dia tidak memberitahu di mana keberadaan mu. Lalu Mina ngasih tahu dan memberiku kunci nya." jawab Angga mengelus rambut ku. Aku mengelap air dari hidung ku.


"Tadi ada Pak Iwan yank." aku bicara sambil nangis. Aku menceritakannya dari awal, sampai kata-kata nya yang meleceh kan ku.


Angga memukul tembok di belakang nya.


"Kurang ajar tuh orang. Kita harus melaporkannya." kata Angga marah.

__ADS_1


"Percuma yank. Kamu lupa dia bilang apa tadi. Tugas kita sekarang, harus mencari buktinya." kata ku.


"Aku ingin dia membusuk di penjara." sungut ku kesal. Dalam keadaan hujan, kami nekat menembus gelap nya malam dan deras nya hujan. Setelah melewati itu semua, akhir nya kami sampai di rumah dengan hujan masih turun.


"Ini yang terakhir kalinya lu lakuin ke gue! Kalau nggak, gue akan laporin lu ke pihak kampus, dan lu bakalan di DO dari kampus!" ancam ku ke Mina yang tengah duduk-duduk di ranjang kamar nya.


"Gak takut tuh." dia mengejekku.


"Kenapa lu lakuin ini? Lu cemburu Angga lebih milih gue ketimbang lu?" hina ku.


"Iya. Gue benci lu." kata Mina.


"Oh jadi itu alasannya. Ok." kata ku lalu menarik tangan Angga agar mendekat ke arah ku. Lalu, aku mencium bibir Angga dalam-dalam tepat di hadapan Mina, Jenny, dan Rani. Meraka langsung terbelalak dengan apa yang aku lakukan sekarang. Angga tak melewatkan kesempatan ini. Dia memberikan ciuman terbaik nya.


"Gimana? Sudah puas kalian sekarang? Atau kalian mau lihat yang lebih lagi?" kata ku marah. Aku mendekat ke arah Mina.


"Apapun yang lu lakuin, lu gak akan pernah bisa ngedapetin Angga. Ingat itu." bisikku ke Mina, lalu aku menggandeng Angga agar keluar dari tempat ini.


Aku sudah selesai mandi, lalu aku mengganti pakaian ku. Angga lalu masuk ke dalam kamar ku. Sedangkan Bima dan Edo masih asyik bermain PS. Aku lalu duduk di samping Angga.


"Makasih ya tadi." ucap Angga. Aku mengernyitkan dahi ku.


"Makasih buat apa?" tanya ku heran.


"Buat ciumannya." jawab Angga nakal.


"Ihhh.. Bukannya kamu menikmati juga? Gak usah sok jadi korban deh." goda ku.


"Aku memang korbannya kan Yank. Kan kamu duluan yang nyium aku." kata Angga mengelus rambut basah ku.


"Kamu tuh menggairah kan tau saat rambut nya basah gini." goda Angga.


"Jangan mulai deh yank." ucapku memukul pelan pipi nya.


"Kamu jangan takut ya, jika besok berhadapan dengan Pak iwan. Lawan saja." kata Angga. Aku mengangguk.


"Tapi aku sebal sama kata-kata nya tadi yang bilang ingin menikmati mu. Jangan harap deh, karena setelah nikah nanti tugas mu cuma satu. Melayaniku di ranjang." ucap Angga semakin ngawur. Aku hanya terkekeh mendengar celotehannya.


"Aku sayang kamu, Angga. Jangan tinggalin aku ya." ucap ku tulus. Angga menatap ku.


"Mana mungkin aku sanggup meninggalkan mu sayang." ucap nya lembut. Aku menatap bibir Angga. Entah kenapa, sekarang bibir itu menjadi candu buat ku. Seolah mengerti hasrat ku, Angga lalu mencium bibir ku secara perlahan. Nafas kami sudah memburu. Lalu dia menghentikan nya dan memelukku.


"Aku akan menjadikanmu milikku seutuh nya." ucap Angga. Lalu aku pun tidur, dan Angga tidur di ruang tamu bersama Bima dan Edo.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.


__ADS_2