Cinta Dan Obsesi

Cinta Dan Obsesi
BAB 28


__ADS_3

Hari ini sampai seminggu ke depan tugas kami adalah penyulaman. Yaitu mengganti tanaman yang rusak dengan tanaman yang baru. Kali ini penyulaman yang ada di bedengan. Kami mengecek grafting yang terdahulu, jika ada yang mati atau rusak maka akan diganti.


Tempat nya tidak jauh, jadi kami putuskan untuk berjalan saja.


"Rencana kamu setelah ini apa yank?" tanya ku ke Angga. Sambil bergandengan tangan, kami berjalan menuju bedengan.


"Yang pasti nyelesaiin tugas magang, dan abis itu skripsi, wisuda, trus nikahin kamu." jawab Angga.


"Nikah nikah. Emang kamu gak kerja?" tanya ku.


"Ya kerja lah sayang, perkebunan milik keluarga ku kan gak ada yang ngurus. Kakak ku gak mau, dia lebih milih kerja di bank saja, istri nya juga kerja di bank." jawab Angga.


"Emang kenapa?" tanya Angga kali ini.


"Cuma tanya doang."


"Trus, kamu sendiri apa rencana setelah ini?" Angga balik bertanya.


"Nyelesain tugas akhir, wisuda, pengennya sih kerja." jawab ku.


"Kok kerja? Kan aku sudah bilang, setelah kita nikah kamu gak usah kerja. Biar aku. Tugas kamu hanya 2. Jadi istri yang baik dan..." kata-kata Angga ku potong.


"Melayani kamu di ranjang. Iya aku ingat itu. Pagi-pagi dah mesum." serobot ku sambil manyun ke arah nya.


"Kan iya yank. Cuma itu permintaan ku sama kamu." jawab Angga.


"Kamu tuh ya, yakin banget mau nikahin aku. Ntar lagi kita bakal LDR an kan. Jangan-jangan kamu lupa sama aku." kata ku cemberut.


"Isshh. Omong apaan sih. Janji, walaupun LDR aku gak akan ninggalin kamu. Kita fokus nyelesaiin tugas akhir, biar kita cepat nikah." kata Angga.


"Kalau dihitung-hitung sih kurang 1 tahunan kali yank kalau kita jadi nikah." kata ku berandai-andai.


"Lama banget ya. Hhhuuuhhh, andaikan bisa nikahin kamu sekarang." goda Angga.


"Tuh kan mulai lagi deh." goda ku.


Akhir nya kami sampai di bedengan dan melaksanakan tugas kami masing-masing. Sampai akhir nya kami pulang untuk istirahat.


Setelah makan siang bersama dan sholat berjamaah di masjid, kami semua berkumpul untuk mengerjakan laporan kegiatan masing-masing di laptop kami.


Semua tampak sibuk mengetikkan jari-jemari. Sesekali aku menggoda Angga agar tidak terlalu serius.


Seminggu pun telah berlalu. Aku juga tidak pernah bertemu lagi dengan Pak Iwan. Mas Galuh masih tetap berusaha untuk mendekati ku.


Seperti hari ini.


Malam Minggu ini aku sedang main gitar di teras rumah. Angga dan Edwin keluar untuk membeli pisang goreng di warung Bu Parti. Hanya ada Toni. Sedangkan Andre, Bima, dan Edo mengantar Mina, Rani, dan Jenny jalan-jalan keluar.


Tiba-tiba Mas Galuh datang ke rumah kami. Aku bersikap seperti biasa pada nya.


"Kenapa cuek sih Nggi?" tanya Mas Galuh.


"Gak kok. Biasa saja." jawab ku sambil membenar kan kunci gitar ku.

__ADS_1


"Kamu itu kenapa sih? Kadang manis, kadang cuek. Mau kamu sebenar nya apa?" tanya Mas Galuh.


"Gak mau apa-apa." jawab ku masih mengabaikan nya. Mas Galuh berdiri, lalu mengambil gitar ku, dan menaruh nya di kursi. Dia lalu menarik tubuh ku agar berdiri dan menghadap pada nya.


"Apaan sih Mas." kata ku sambil berusaha melepaskan tangan ku dari cengkeram an Mas Galuh.


"Plis. Jadilah milikku. Aku sangat ingin memiliki mu." paksa Mas Galuh.


Toni yang dari kamar mandi terkejut melihat kami. Lalu Toni berusaha menghubungi Angga dan Edwin.


"Gak bisa Mas." jawab ku.


"Kenapa? Aku ini cinta sama kamu. Dari dulu." kata Mas Galuh memelas.


"Karena aku gak cinta kamu Mas." kata ku sambil mematap mata nya tajam.


"Tapi aku sangat sangat mencintai kamu."


"Oh ya? Apa alasan mu mencintai ku? Apa karena parasku? Apa karena tubuh ku?" tanya ku.


Mas Galuh mulai melepaskan cengkeramannya.


"Aku... Aku tulus sama kamu. Perasaan ku ini tulus." jawab nya


"Oh ya?"


"Percaya sama aku ya." pinta nya sambil memegang ke dua pundakku.


"Kenapa sih, kamu ganggu saja urusan ku dengan Anggi? Coba saja kamu gak ada, pasti Anggi jadi milikku sekarang." kata Mas Galuh emosi.


"Gak usah mimpi deh lu." ejek Angga.


"Eh diam kamu ya." kata Mas Galuh sambil menunjuk ke arah Angga.


"Emang kenyataan nya Mas. Anggi nggak bakalan mau sama kamu." kata Angga lagi.


"Emang kenapa?" tanya Mas Galuh jengkel. Angga lalu menggenggam jemari ku, dan mencium nya.


"Halah, palingan itu juga cuma alasan kamu kan biar aku cemburu?" kata Mas Galuh emosi.


"Oh, jadi kamu minta yang lebih?" kata Angga lalu mencium bibir ku dengan lama.


"Mas, aku dan Anggi sudah resmi pacaran. Jadi tolong jangan ganggu kami lagi ya." kata Angga. Mas Galuh sudah merah padam wajah nya sekarang. Lalu dia langsung pulang tanpa pamitan kepada kami.


Angga merangkul pundakku. Kami tersenyum bersama. Langkah kami terhenti, saat melihat ada sahabat ku menatap kami dengan tatapan yang tidak bisa ku artikan. Aku baru menyadari kalau saat Angga menyium ku tadi, sahabat ku masih berdiri di belakang ku.


Angga langsung menurun kan tangannya dari pundakku.


"Kami gak lihat kok." kata Edwin lalu mengalihkan pandangannya ke segala arah. Aku tertawa dan sembunyi di dada Angga. Angga pun tertawa. Lalu kami masuk ke dalam rumah bersama.


"Eh, gimana? Enak?" goda Edwin pada ku.


"Apaan sih lu Wiwin." sungut ku sok kesal.

__ADS_1


"Dulu, saat gue nyium Riska lu heboh nya minta ampun. Sekarang, hhuuuhhhh." goda Edwin. Aku hanya bisa nyengir sekarang.


Memang dulu saat aku gak sengaja lihat Edwin ciuman sama Riska, aku heboh nya minta ampun. Aku goda Edwin sampai marah-marah. Sekarang, giliran aku yang kena.


*****


Pagi ini agak mendung. Seperti nya akan turun hujan. Aku merasakan hawa yang panas pada tubuh ku.


"Yank, kamu panas gak? Kok aku ngerasa panas ya? Padahal gak keluar keringat." tanya ku pada Angga saat di bedengan.


Angga lalu menempelkan punggung tangannya di dahi ku.


"Kamu sakit yank?" tanya nya khawatir. Aku menggeleng.


"Kita pulang aja ya?" ajak Angga. Aku mengangguk. Selain badanku serasa panas, aku juga merasa lemas. Mungkin benar aku gak enak badan sekarang.


Sesampai nya di rumah, Angga mengantar ku ke kamar untuk istirahat.


"Masih panas?" tanya Angga lagi. Aku mengangguk. Aku mulai mencari kipas dari buku sekarang. Tubuhku merasa masih sangat panas. Angga bingung.


"Apa kamu mau mandi kah?" tawar nya. Aku setuju, lalu pergi ke kamar mandi.


"Gak mau sholat sekalian?" tanya Angga saat aku kelyar dari kamar mandi dan karena kebetulan hampir masuk waktu sholat dhuhur. Aku menggeleng.


"Lagi kedatangan tamu." jawab ku.


"Gimana? Sudah mendingan?" Tanya nya lagi.


"Masih sama yank. Aku kenapa ya?" kata ku resah. Padahal saat ini aku baru mandi, keramas. Tapi masih merasakan panas.


"Kita periksa aja ya ke bidan. Aku takut kamu kenapa-kenapa." ujar Angga. Aku mengangguk.


Setelah menunggu kedatangan sahabat ku, lalu aku diantar ke bidan desa oleh Angga dan Edwin.


"Jadi sakit apa , Bu? Tanya Angga saat bidan selesai memeriksaku.


"Secara medis, mbak Anggi gak sakit. Dia baik-baik saja. Tekanan darah normal." ujar Bu Indah, bidan yang memeriksaku.


Angga semakin bingung. Seakan mengerti kebingungan Angga, lalu Bu Indah mengatakan sesuatu di hadapan kami semua. Dengan suara setengah berbisik.


"Mbak Anggi gak sakit, tapi dia...."


*


*


*


*


*


Terimaksih sudah membaca, jangan luoa like dan komen ya.

__ADS_1


__ADS_2