
"Aaaaaa." aku teriak karena kaget. Maya pun juga berteriak. Dan dor. Aku menarik pelatuk senjata api yang ku pegang tadi. Ternyata tembakan ku tadi mengenai lengan sebelah kanan Galuh. Dia lalu terduduk dan bersandar di tembok. Dia diam tak bergerak. Darah segar mengalir dari lengannya.
Aku tidak percaya. Maya pun hanya diam tak bersuara. Dengan diterangi senter yang dipegang Maya, aku mencoba mencari kunci cadangan yang selalu Galuh taruh disaku celananya.
Dengan takut dan gemetar, aku perlahan merogoh saku celananya. Aku menata nafas, dan masih melihat ke arah wajah Galuh dengan mata nya yang masih terpejam.
Namun, saat tangan ku sudah berhasil mengambil kunci itu, tangan Galuh mencengkeram tangan ku. Secara reflek aku menembakkan lagi senjata api ku mengenai kaki nya.
Galuh berteriak kesakitan. Kami sudah tidak peduli dengan keadaan Galuh saat ini. Lalu aku dan Maya menaiki tangga untuk membuka pintu dengan kunci yang ku temukan.
Lega rasanya bisa keluar dari tempat itu. Tak lupa, aku mengunci kembali pintu itu. Tampak, pintu keluar sudah di depan mata. Tinggal menaiki beberapa anak tangga saja.
Maya berlari dan aku mengikutinya. Namun, saat Maya akan membuka handle pintu nya, kami terkejut saat Pak Ali ada di depan kami. Lalu Pak Ali mendorong Maya sehingga tubuh Maya mengenai tubuh ku. Maya masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dengan berpegangan pada kayu pinggiran tangga.
Sedangkan aku, aku jatuh ke belakang dan kepala ku terbentur cukup keras di lantai. Ku lihat Maya berteriak. Mata ku seakan tidak bisa rerbuka. Dan perlahan semua tampak gelap.
*****
__ADS_1
Aku berlari kesana kemari di sebuah taman. Taman yang begitu luas dengan hamparan berbagai macam bunga bermekaran nan harum. Banyak kupu-kupu menari mengitari bunga mawar di depan ku. Dari jauh, aku melihat sosok Angga. Dia tampak sedih. Aku menghampiri nya. Namun sayang, kami terhalang oleh sungai yang lebar.
"Sayang." panggil ku setengah berteriak. Namun Angga tidak menjawab ku. Aku heran dengan sikap Angga hari ini.
"Sayang? Kamu marah sama aku?" tanyaku. Namun Angga hanya diam.
"Kamu kenapa? Kamu gak kangen sama aku?" tanya ku lagi. Angga mengulurkan tangannya.
"Kalau kamu kangen aku, kemari lah." ucap Angga.
"Kemarilah. Jika kamu tidak mau, maka kamu akan kehilangan aku." ucap Angga sambil menangis. Aku iba melihat orang yang ku cintai menangis. Dengan perlahan, aku melewati jembatan kayu yang sudah lapuk. Salah melangkah, aku akan jatuh ke sungai dan pasti akan terhanyut.
"Jangan takut. Ada aku. Ayo." teriak Angga. Dengan langkah pasti, aku berjalan menyusuri jembatan itu. Dan sampailah aku tepat di hadapan Angga.
"Aku sangat merindukan mu." ucap Angga lalu mencium bibir ku.
Aku membuka mata. Melihat dengan seksama ruangan yang ku tempati saat ini. Aku mengedarkan pandangan ku ke segala arah. Ada ketiga sahabat ku sedang tertidur di sebuah sofa dengan masih terduduk. Mama, Papa, dan juga Yoga sedang tertidur lelap di sofa sebelah ranjang ku.
__ADS_1
Lalu aku melihat ke arah tangan kiri ku yang serasa berat. Aku tahu pasti rambut siapa ini. Perlahan aku melepaskan tangan kiri ku yang sedari entah kapan Angga menggenggam nya. Lalu aku mengelus rambut kekasih ku itu.
Perlahan kepala itu bergerak. Wajah ganteng yang sangat ku rindukan itu tersenyum senang melihat ku.
"Sayang." kata Angga menciumi tangan ku.
*
*
*
*
*
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa, like dan komen ya.
__ADS_1