
Aku masih memakai make up..
"Masih lama kah Yank?" tanya Angga di depan pintu kamar ku.
"5 menit lagi sayang." jawab ku sambil memakai eye liner.
"Sayang, kamu itu udah bilang 5 menit lagi udah ada 6x loh." jawab Angga kesal. Aku terkekeh mendengar jawaban Angga.
"Bentar sayang. Ini tinggal masang lipstik." jawab ku mengambil lipstik warna cerry.
"Udah ah yank, gak usah lipstik lipstikan deh. Bibir kamu udah seksi gitu. Aku gak mau ya nanti ada yang naksir kamu." kata Angga menggoda ku. Aku hanya tertawa melihat bayi besar ku ini.
Jam 9 acara di mulai. Semua para tamu undangan sudah datang semua. Seperti nya beliau orang penting disini, sehingga tamu yang hadir begitulah banyak.
Kami peserta magang membantu menyambut para tamu undangan yang datang.
Aku dan Angga memakai baju batik berwarna cokelat. Aku memakai dres selutut, dan Angga kemeja lengan pendek. Motif kami sama, karena kami memang sudah membeli baju ini saat aku pulang ke rumah saat itu. Angga begitu tampan. Aku memandangi pacar ku itu dengan seksama.
"Aku ganteng ya." tanya nya membuyarkan lamunan ku.
"Pacar siapa dulu dong." bisik ku.
"Eh, Nggi gue rasa ini waktu yang tepat deh." bisik Edwin. Aku mengamati situasi yang memang saat ini sedang sibuk. Tampak semua orang berbincang satu sama lain. Aku kemudian menghilang dari acara ini bersama Angga.
Aku cepat-cepat menemui Bu Parti di warung nya. Aku mencari sosok nya.
"Bu, tolong ceritakan semua nya pada ku." aku memohon dengan tulus.
Bu Parti masih terdiam.
"Bu, apa ini ada hubungannya dengan Pak Ali dan Mas Galuh?" tanya ku. Bu Parti lalu mengajakku ke dalam. Aku meminta Angga untuk menunggu di luar.
"Iya. Ini ada hubungannya dengan mereka. Gadis itu namanya Lidia. Dia anak yatim piatu, dan hanya hidup berdua dengan kakak nya. Mereka selama ini hidup dibesarkan di panti asuhan. Setelah mengetahui adik nya hilang, Maya kakak dari Lidia mulai mencari keberadaan Lidia di sini. Tapi pihak sini tidak ada yang mengetahui. Sampai akhir nya tidak ada lagi kabar tentang mereka. Kemudian rumor itu hilang dengan sendiri nya. Tapi, kami semua belum tahu pasti siapa yang menyebabkan ini semua." cerita Bu Parti.
Maya. Aku memgingat sesuatu. Lalu aku mengambil ponsel ku, dan memperlihat kan sebuah foto pemilik email atas nama Maya08. Bu Parti memperhatikan secara seksama.
"Iya non. Benar. Ini mbak Maya." kata Bu Parti. Aku terbelalak.
__ADS_1
"Terimakasih info nya ya Bu. Aku permisi dulu." pamit ku. Lalu aku dan Angga kembali ke acara yang masih berlangsung.
"Gimana?"tanya Edwin sambil berbisik. Kami berlima kini sudah berkumpul.
"Positif." jawab ku. Semua tidak percaya.
"Dan asal kalian tahu. Orang yang gue kirimin email itu adalah Maya. Kakak nya Lidia yang hilang setahun lalu." jelas ku.
"Berarti, bisa jadi lu sekarang dalam bahaya Nggi." kata Andre mengingatkan ku. Angga menggenggam jemari ku.
"Itu yang gue takutin. Kita harus segera mencari bukti nya." kata ku.
"Tapi gimana?" tanya Toni.
"Itulah yang harus kita fikirkan." jawab ku.
"Memang pihak kampus tidak ada yang tahu keberadaan Lidia?" tanya Edwin.
"Lu kan tau, kalau mereka berdua anak yatim piatu yang dibesarkan dalam lingkungan panti asuhan. Akan sulit mencari keberadaan mereka berdua." jawab Toni.
"Iya juga sih." jawab Andre.
Kami membaur ke acara tersebut. Agar tidak ada yang curiga. Tampak Pak Iwan sedari tadi memperhatikan ku. Aku pun kemudian menghilang dari pandangannya. Setelah acara selesai, kami kembali ke rumah.
Kami mengadakan rapat lagi di kamar Edwin setelah memastikan teman-teman Angga sedang istirahat di mess nya.
"Terus, kita harus mulai dari mana?" tanya Angga. Kami semua mulai berfikir keras.
"Gimana kalau Mas Galuh?" usul ku.
"Yank, jangan bilang kamu mau deketin dia? Itu bahaya." cegah Angga.
"Mau gimana lagi yank? Kalau kita gak mendekatkan diri, maka kita gak dapat apa-apa. Lagian, Mas Galuh gak akan nyakitin aku." kata ku.
"Tapi Nggi...." cegah Toni.
"Aku akan melakukannya dengan cepat. Aku akan cari informasi sebanyak-banyak nya." ucap ku. Sahabat ku, terutama pacar ku tidak setuju. Tapi mau gimana lagi. Kami haris membuat pilihan. Aku kembali ke kamar ku. Dan Angga masih mengekori ku hendak protes.
__ADS_1
"Yank, jangan ah. Itu bahaya. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa." kata Angga penuh khawatir.
"Sayang." aku mengambil kedua tangannya.
"Percaya deh sama aku. Kamu gak usah cemburu. Aku akan lakuin dengan cepat." kata ku meyakinkan Angga.
"Ini bukan masalah cemburu sayang. Aku yakin, kalau hatimu cuma untuk aku. Tapi kita tidak tahu bahaya apa yang sedang menunggu kita." kata Angga sambil memegang kedua pipiku. Dia sangat mengkhawatirkan ku.
Aku menatap mata Angga. Agak lama. Kupegang tangan Angga yang masih memegang pipi ku. Lalu..... Cup.. Aku mengecup pipi nya.
"Udah ya. Gak usah khawatir lagi." kata ku. Angga masih mematung. Lalu aku hendak keluar kamar ku. Tapi Angga menarik tangan ku, hingga aku ada di pelukannya sekarang. Lalu dia mencium bibir ku.
"Kamu yang menggoda ku. Jangan salahkan aku, jika aku memintanya lagi." kata Angga masih menatap ku. Lalu aku kembali mencium bibir nya, sekarang kami saling berciuman agak lama.
"Lalu jangan salahkan aku, jika bibir ini menjadi candu buat ku sekarang." bisik ku sambil membelai bibir Angga.
"Kamu ya, sekarang ini nakal sama aku." godanya.
"Eh, emang bener tau." jawab ku jujur. Lalu Angga mendorong tubuh ku ke tembok.
"Jangan terus bicara. Daripada aku lupa diri." kata Angga.
"Emang mau ngapain?" goda ku lagi.
"Sayaaaang, apa kamu bener mau menguji ku sekarang?" katanya semakin mendekatkan wajah nya. Aku hanya geleng-geleng kepala sambil tertawa. Lalu Angga memelukku.
"Jangan menguji ku lagi ya. Aku takut tidak bisa menahannya." kata nya sambil membelai rambut ku penuh sayang.
*
*
*
*
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.
__ADS_1