
Setelah drama sarapan seperti pengantin baru sungguhan pagi tadi, Aska berangkat menuju kantornya ditemani Yudha yang menjelaskan jadwalnya pagi ini sambil berjalan.
" Tuan siang ini kita akan meeting dengan pak Herry untuk menandatangani perhotelan yang akan di operasi kan Minggu depan, tapi pihak mereka menundanya. Mereka meminta anda untuk menemuinya nanti malam " Tutur Yudha sembari memberikan sebuah dokumen pada Aska.
" nanti malam ?"
" Benar tuan, dia mengundangnya secara pribadi, dia mengadakan jamuan di rumahnya "
" kenapa harus di rumahnya. katakan padanya aku tidak akan datang."
Mereka sudah sampai dalam ruangan Aska langsung saja Aska berkutat dengan komputer yang sudah dinyalakan di depannya.
" kenapa masih berdiri disitu? , kamu tidak akan bekerja " tanya Aska yang heran karena sekretarisnya belum meninggalkan dia.
" Tuan.. anda harus menghadiri jamuan yang di adakan tuan Herry "
" aku tidak akan memenuhi undangan pribadi , kita tidak sedekat itu untuk berkunjung satu sama lain. Hubungan ku hanya sebatas pekerjaan dengannya , katakan padanya jangan bersikap informal dengan ku ".
memandang sekretarisnya dengan tatapan sinis, seolah dia ingin memperjelas bahwa bisnis hanyalah bisnis, dia tidak akan berkunjung secara pribadi dengan klien kliennya.
" Tidak bisa tuan, anda harus datang. Karena beliau tidak akan menandatangani kontrak kerjasamanya kalau anda tidak datang "
Aska terkejut, berani sekali ada yang mengancam nya dengan nilai sebuah kontrak. Tapi mengingat posisi tuan Herry dia harus memikirkannya dua kali untuk membatalkan niatnya itu , karena tuan Herry memiliki pengaruh besar dalam pasar bisnis, bahkan mereka telah memasuki pasar Asia timur seperti Korea dan jepang dan Aska menginginkan kerjasama untuk lebih mudah memasuki pasar tersebut. Tapi kenapa harus berkunjung kerumahnya, bukankah mereka telah membicarakan keuntungan yang akan diperoleh jika keduanya bekerja sama. dan tuan Herry telah menyetujuinya, lalu kenapa sekarang dia mengancam akan membatalkan kerjasama nya jika Aska tidak memenuhi undangannya.
" Baiklah aku akan datang. siapkan hadiah yang mahal untuk istrinya."
" Baik tuan. tapi, " Yudha menghentikan kalimatnya, dia ragu untuk menyampaikannya
__ADS_1
" Apa lagi, apa dia mengajukan syarat lainnya ?" tanya Aska kesal karena Yudha menggantung kalimatnya.
" Tuan Herry meminta anda untuk hadir bersama nona Saera "
" Hah? kamu yakin dia meminta saera untuk ikut bersamaku." Aska tidak percaya kenapa tuan Herry meminta saera untuk ikut serta, bahkan mereka tidak mengenali istrinya itu.
" iya tuan, beliau mengatakan sebenarnya mengadakan jamuan dirumahnya agar bisa bertemu dengan nona Saera "
" Kenapa memangnya, dia tidak ada urusannya dengan bisnis ku. Kenapa mereka ingin menemuinya ."
" saya kurang tahu tuan, apa yang harus saya lakukan dengan nona"
Aska tampak berpikir apakah dia memang harus mengikutsertakan Saera, dia pasti tidak mengerti sama sekali tentang bisnis untuk apa juga dia ikut. Lagipula Aska tidak berniat memperkenalkan Saera pada teman teman bisnisnya secara terang terangan mengingat kondisi pernikahan mereka , apalagi ini adalah mitra bisnis terbesarnya. Tapi mau bagaimana lagi.
" Baiklah aku akan mengajaknya juga nanti malam".
" Baik tuan, kalau begitu saya permisi " Yudha berlalu meninggalkan meja Aska yang hanya di jawab dengan anggukan olehnya.
" dimana dia, berikan telepon ini padanya "
Titah Aska pada pegawai di rumahnya meminta untuk memberikan telepon pada saera
" Hallo" terdengar suara dari seberang sana setelah Aska menunggu sebentar
" Pergilah dengan supir ke butik nanti sore"
"kenapa ? untuk apa aku kesana ?, apa tuan ada di sana ? "
__ADS_1
" Tentu saja untuk membeli baju, memangnya kamu ingin berlibur di sana " Aska kesal lantaran Saera terlalu banyak bertanya.
" Tapi untuk apa membeli baju lagi, ajukan sudah membelinya waktu itu."
Aska semakin kesal karena terus saja di bantah oleh Saera.
" Jangan membantah dan banyak bertanya. Lakukan saja yang ku katakan."
Saera terkejut di seberang sana, meski sudah terbiasa dengan sikap dingin dan arogan Aska, tapi baru kali ini Aska membentaknya sejak pertemuan mereka. Membuat nyali saera ciut untuk membantahnya lagi.
" Baik tuan, saya akan bersiap siap nanti. Tapi tuan.." Saera menggantung kalimatnya
" Apa lagi ?" Aska menekankan kalimatnya.
" baju apa yang harus saya beli "
cihhh. Aska tersenyum sinis
" Katakan pada manager untuk menunjukan koleksi baju untuk makan malam, pilihlah yang bagus. Jangan sampai mempermalukan ku ".
Saera terdiam mendengar kata makan malam, otaknya berfikir apakah Aska akan mengajaknya makan malam seperti pasangan lainnya tentu saja makan malam romantis pikirnya. Saera jadi malu sendiri membayangkannya.
" kenapa diam saja, kau tidak akan menjawab ku "
" eh.. iya, iya baik tuan saya akan memilih gaun terbaik." jawab saera yang tersadar dari lamunan konyolnya.
Tut.tut.tut.
__ADS_1
langsung saja terdengar suara sambungan telepon terputus dari seberang sana tanpa ada aba- aba untuk mengakhiri telepon tersebut membuat Saera mendengus kesal.
****