
Bab 1 0
"Saya terima nikah dan mas kawin Mutiara dengan …."
"Sah?" tanya sang satpam
"Sah," balas para saksi yang ikut hadir menyaksikan pernikahan itu.
"Apa keputusanku ini salah? Membiarkan Mutiara dinikahi Rian! Aku tidak habis pikir kenapa semua ini aku iyakan. Sam, Sam, tapi pilihannya memang tidak ada lagi. Aku tidak mungkin membiarkanmu dalam bahaya Mutiara, bagaimanapun keselamatanmu lebih penting.
Aku memandang Mutiara yang kini duduk bersanding dengan Rian, sahabat kecilnya, setelah apa yang aku buat. Aku meninggalkan seseorang yang sudah lima tahun aku pacari, dan aku meninggalkannya di detik-detik hari pernikahan kami! Harusnya aku bahagia disampingmu Cantika
Sekarang aku malah menjadi wali untuk Mutiara seseorang yang cukup berharga di hatiku. Apa pengorbananku sudah cukup Andra? Dengan apa yang telah engkau korbankan untukku.
Tapi ini bukan tentang apa yang aku korbankan, tapi aku merasa sesuatu yang menusuk dada sedari tadi. Apa aku sudah jatuh cinta dengan adik sahabatku sendiri.
Walau Mutiara juga mengungkapkan isi hatinya terhadapku, maaf Andra adikmu terpaksa aku nikah kan dengan pria lain, tapi aku janji akan menjaga dan menunggu nya.
"Kak Sam," ucap Mutiara yang memanggil Sam, yang tengah duduk sendiri dengan beban perasaan yang tidak bisa diucapkan. Sepertinya Mutiara akan dibawa Rian dan keluarganya pergi ke rumah besarnya. "Ini tidak ada dalam perjanjian," ucap Sam menarik Rian ke belakang.
"Aku tidak tahu Sam! jika papi sudah merencanakan ini. Tapi aku akan memegang janjiku! Aku tidak akan menyentuhnya sama sekali, dan kamu mulai besok bisa langsung menjalankan misimu buat melawan papimu, besok sopirku akan menjemputmu," balas Rian yang sedang ditarik oleh Sam, dan bersandar di tembok itu. Menatap ke arah Sam yang tengah emosi.
"Kamu tidak berniat melakukan sesuatu kan? Aku tidak akan membiarkanmu hidup! Jika secuil pun kamu memegangnya," ancam Sam terhadap Rian.
"Ok, fine, Sam. Kamu mau ikut ke rumahku atau tetap disini?" tanya Rian.
"Aku akan ikut denganmu, aku tidak bisa meyakinimu, bisa saja kamu berbuat sesuatu untuknya," ujar Sam yang masih menatap rasa marah terhadap Rian.
"Baik ini ambil! Ikuti aku dari belakang" sahut Rian memberikan kunci mobilnya.
****
"Mami senang Nak sekarang kamu resmi jadi menantu Mami, pasti mamamu disana juga senang! Kamu tumbuh menjadi wanita yang cantik, Rian sangat beruntung bisa memilikimu," ujar sang mami yang sedang menatap wajah cantik Mutiara.
"Iya Mi," jawab Mutiara yang tidak begitu bergairah, mengingat Sam yang menatap sedih ke arah Mutiara.
__ADS_1
"Mi bagaimana dengan arsel kenapa dia tidak menghadiri pernikahanku Mami? Apa dia kecewa atau sedang merencanakan sesuatu?" tanya Rian terhadap sang mami tentang adik tirinya itu, Rian tidak begitu menyayangi adiknya itu. Tapi mau bagaimanapun Rian harus bersikap dewasa tanpa menunjukkan ketidaksukaannya terhadap sang adik tiri.
"Kenapa kamu membicarakanku di belakang? Ha, apa ini kakak iparku. Atau ipar di atas surat? tanya Arsel adik tiri Rian yang baru saja datang dan menyambar omongan Rian dengan sang mami.
"Ah,aku pikir kamu tengah merencanakan sesuatu!" jawab Rian terhadap sang adik.
Arsel pun berjalan ke arah Mutiara mengulurkan tangannya ke arah Arsel.
"Nama ku arsel, adik kak Rian," ucap arsel dengan ramah berkenalan dengan Mutiara.
"Aku Mutiara," balas Mutiara
"Nama yang cantik, persis seperti orangnya," ujar Arsel lagi.
"Sudah Nak, bawa istrimu istirahat ke kamar," titah sang mami terhadap Rian.
"Kak Sam dimana?" tanyaku pada Rian. Aku tidak melihat kak Sam mengikutiku. "Apa sesuatu terjadi," ujar Mutiara lagi pada Rian, dan seolah matanya sedang berkelana mencari keberadaan Sam yang tidak dia dapati.
"Kakak mu paling tidak sedang berada di kamarnya, itu di ujung sana!" balas Rian terhadap Mutiara yang masih mencemaskan Sam.
"Jika di rumah ini! Kamu harus bersifat seolah kita suami istri yang bahagia, jangan pernah menunjukkan kedekatanmu terhadap Sam! Apalagi di hadapan Arsel, kamu tidak perlu terlalu ramah dengannya. karena dia seseorang yang sangat licik,"
"Setidaknya aku ingin melihat kak Sam" ucap Mutiara yang memilih lari ke arah kamar Sam, kerinduannya terhadap pria yang menyelamatkan hidupnya seolah tidak tertahankan.
"Ah, Mutiara …." Pekik Rian yang melihat wanita yang baru dinikahi, berlari ke arah kamar yang Rian tunjukkan.
Klek
"Kak sam," pekik Mutiara berlari dan memeluk Sam, yang sedang duduk memikirkan Mutiara, dalam kamar barunya yang telah disiapkan oleh Rian.
"Ah, kamu seperti Anak kecil Mutiara! Apa sesuatu mengganggumu? Kenapa kamu berlari ke aku. Ha," ujar Sam sedikit heran melihat Mutiara yang datang dengannya, sedang memeluk sosok Sam.
"Aku rindu Kak," balas Mutiara polos terhadap Sam.
Sam melepaskan tangan Mutiara yang melingkari pinggang Sam, menatap wanita yang dititipkan oleh almarhum sahabatnya padanya.
__ADS_1
"Mutiara, ayo! Jangan sampai seseorang melihatmu dan Sam dekat, itu bisa berbahaya untukku Mutiara," ucap Rian yang sedang berada di ambang pintu, kamar yang ditempati Sam.
Rian menatap Mutiara yang sedang bermanja-manja terhadap Sam, membuat rasa kuatir akan rencana Rian terbongkar.
"Aku ikut Rian dulu Kak!" sahut Mutiara yang menatap sang kakak yang sedang menatapnya seolah sedih, dengan mata Sam yang seakan berbinar. Menatap ke arah pintu yang sedang di tunggu oleh Rian, begitu berat rasa hati Sam membiarkan wanita yang dia cintai itu dekat dengan pria lain.
"Harusnya aku tidak melepaskan Mutiara," batin Sam dalam hatinya sedih, seolah ada rasa takut yang menghantui perasaan Sam. "Aku takut jika kelak kamu lebih memilih Rian daripada aku! Aku tidak ingin itu terjadi Mutiara? Bagaimanapun aku yang harus bertanggung jawab atas bayi yang ada dalam kandunganmu, aku sudah berjanji untuk itu! Tapi mengapa kenyataannya lain."
Sam membuka aplikasi handphone miliknya, dia melihat kabar, jika topik pembicaraan utama di media sosial yang menjadi pusat perhatian jatuh terhadap dirinya.
Seseorang masih di imingi hadiah yang cukup besar jika bisa menemukan Sam, mungkin dengan membiarkan Mutiara dinikahi Rian suatu pilihan yang bagus,
sehingga aku bisa menemukan cara agar bisa melawan papi. Pikir Sam dalam hatinya yang masih membuka salah satu aplikasi di telepon selulernya.
****
"Apa kamu akan tidur disini juga?"
Mutiara melihat Rian yang hendak membaringkan badannya, disebelah Mutiara, seolah rasa ketidaksenangan timbul di hati Mutiara yang masih Menatap Rian.
"Apa kamu keberatan?" Tanya Rian ulang terhadap Mutiara, yang seakan protes terhadap Rian. "Bukankah ini kamarku?" batin Rian dalam hati yang menatap rasa takut di wajah Mutiara.
"Ah, biar aku tidur di sofa saja," Mutiara berdecak kesal, dia hendak berjalan ke arah sofa yang berada dalam kamar Rian itu. "Bagaimana bisa aku tidur di sebelahmu Rian," batin Mutiara yang berdecak kesal dalam hatinya itu.
"Aku tidak akan menyentuhmu Mutiara, kamu bisa pegang omonganku! Aku hanya ingin tidur di ranjangku ini," seolah Rian tidak mau mengalah pada Mutiara, dengan memberikan ranjangnya itu untuk Mutiara.
"Iya tidurlah, biar aku yang tidur di sofa," jawab Mutiara yang mengambil bantal dan selimut dari sebelah Rian. Tapi tiba-tiba tangan Mutiara ditarik oleh rian.
"Tidur lah sini! Biar aku yang tidur di sofa, jika itu yang kamu mau! Apa ini perintah Sam denganmu? Sepertinya kamu sangat berharap untuk dinikahi Sam, aku akan melepaskanmu jika waktunya sudah tepat Mutiara! Kamu tidak usah takut aku masih sahabat kecilmu," ujar Rian yang mulai merebahkan badannya di sofa itu.
"Oh, makasih jika kamu paham! Tapi aku tidak nyaman dengan keadaan seperti ini, aku berharap waktu itu akan segera datang, dan jika boleh aku minta? Boleh tidak nanti anakku, aku bawa bersamaku Rian?" tanya Mutiara.
"Maaf Mutiara, anakmu harus ikut denganku! Aku butuh seseorang untuk menjaga dan meneruskan semuanya, aku butuh itu dari kamu Mutiara!" ujar Rian lagi.
"Tapi ini bukan darah dagingmu?"
__ADS_1
"Aku tidak peduli, setidaknya dengan aku mencintai ibunya! Maka aku akan mencintai anaknya, walau aku sadar kelak kamu pasti akan meninggalkanku. Persis seperti waktu dulu, saat aku mulai menemukan sahabat baru, dan saat itu kamu dan keluargamu pergi," Rian mengenang masa lalunya bersama Mutiara dulu, sosok sahabat kecilnya yang kini menjadi istri. Walau Mutiara belum mencintai Rian, setidaknya misi Rian berhasil untuk menguasai perusahaan sang papi.
"Apa Rian akan melakukan sesuatu terhadap Mutiara?"