Cinta Demi Balas Budi

Cinta Demi Balas Budi
Tangisan Mutiara


__ADS_3

Bab 38


Mutiara kenapa menangis?


"Cantika, tolong ambilkan berkas ku yang di atas meja itu! Aku ingin melihatnya apa masih ada data yang belum ditandatangani! Cantika, Cantika!!" Pekik Sam yang tidak di hiraukan oleh Cantika.


Cantika tengah sibuk mengirim chat untuk seseorang, dia terlihat bahagia membaca setiap pesan yang masuk ke dalam telepon selulernya itu.


Sam geram melihat tingkah Cantika yang memilih bermain hp di waktu jam kerja.


Brukhh


Sam memukul keras meja kerja Cantika itu. "Apa yang kamu lakukan sih Sam? Jantungku bisa copot akibat ulahmu yang membuatku kaget."


"Panggil aku Pak! Karena aku bosmu di kantor Cantika! Bukan suamimu, jika dirumah kamu boleh memanggilku dengan namaku Cantika, putri Cantika."


Cantika melempar tatapan ketidaksenangan ke arah Sam. "Apa yang kamu lakukan dengan bermain hp di jam kerja? Berikan aku ponselmu itu!!"


"Tidak, aku tidak mau," balas Cantika yang menyembunyikan ponselnya di belakang badannya itu.


"Sini Cantika," masih ujar Sam mengambil paksa telepon genggam itu, hingga beberapa karyawan menatap ke arah sepasang suami istri itu. "Lepaskan Sam," pinta Cantika.

__ADS_1


"Berikan!" Bentak Sam yang hampir berhasil meraih telepon seluler milik Cantika itu.


"Ada apa ini Sam? Apa kamu lupa posisi kalian sedang berada dimana? Semua mata mengarah ke arah kalian, apa kalian tidak memiliki muka lagi?"


Melihat kedatangan papi Sam membuat Cantika berlari ke belakang badan sang papi. "Papi, Sam memarahi Cantika Papi, hanya karena Cantika membalas chat dari klien. Yang menyetujui kontrak yang kita ajukan kemarin Papi."


"Apa kamu berhasil mengambilnya dari Rian Cantika?" tanya sang papi.


"Hmmm, walau dia meminta keuntungannya bagi dua Papi," balas Cantika yang membuat papi Sam tersenyum.


"Tidak apa Cantika! Kamu memang hebat, Papi bangga padamu Cantika! Tidak seperti suamimu, yang tidak bisa berbuat apa-apa?"


"Papi!" Sam marah mendengar pernyataan papinya itu yang membanggakan Cantika, bukankah Cantika beberapa hari ini tidak serius bekerja. Bahkan aku ingin meminta papi untuk memecatnya menjadi sekretaris ku. Tapi sepertinya keinginanku itu tidak akan terwujud, melihat Cantika yang pintar mengambil hati kedua orangtuaku. Bahkan papi dan mami percaya. Jika anak yang ada dalam kandungan Cantika itu adalah anakku. Mungkin sekarang aku belum bisa membuktikannya Cantika, tapi aku harap suatu saat aku akan membongkar semua kelakuanmu itu. batin Sam dalam hatinya yang melihat Cantika begitu bahagia karena mendapat dukungan dari papi Sam itu.


"Kamu kemana kak Rian? Sudah beberapa hari ini kamu pulang larut malam, apa begitu banyak pekerjaan yang harus kamu kerjakan Kak?" ujar Mutiara yang menunggu kedatangan Rian di teras rumahnya itu.


Sesekali Mutiara berdiri di pinggir jalan, berharap jika mobil yang lewat kali ini adalah mobil Rian. Tapi harapan itu sia-sia, sudah satu jam lebih Mutiara berdiri di depan pagar itu. Tetap saja orang yang ditunggu belum kunjung datang, hingga rasa lelah muncul di hati Mutiara.


Sam yang melihat Mutiara berdiri dan hampir masuk kedalam pagar rumahnya itu, membuat Sam menghentikan laju mobilnya dan menyapa Mutiara yang terlihat kusut. "Apa Rian belum datang juga Mutiara? Aku melihatmu sedari tadi resah menunggu Rian! Apa terjadi sesuatu diantara kalian?"


"Eh Kak Sam, nggak Kak. Mutiara hanya sedang menunggu mamang bakso yang sering kita beli dulu. Apa kini gak jualan lagi yah Kak?" ujar Mutiara yang berbohong dan menyimpan kesedihannya, Mutiara tidak ingin jika Sam nantinya marah terhadap Rian. Jika mengetahui beberapa hari ini Rian sering pulang larut malam. Bahkan Rian tidak ingin mengangkat panggilannya.

__ADS_1


"Mutiara, Kakak tahu kamu berbohong! Bukannya kamu tahu jika mamang bakso tempat kita sering beli itu sudah lama meninggal!"


"Oh iya, Mutiara lupa Kak! Mutiara masuk ke dalam dulu Kak," balas Mutiara yang membalikkan badannya.


"Lepaskan Mutiara Kak," ujar Mutiara yang melihat tangannya ditahan oleh Sam.


"Pertanyaan Kakak belum kamu Jawab, apa terjadi sesuatu diantara kalian?"


"Bukan urusan Kakak, lepaskan tanganku Kak!"


"Jawab dulu pertanyaan Kakak."


"Ok, tapi tolong jawab juga pertanyaan Mutiara Kak, Mutiara ingin tahu."


"Apa yang ingin kamu ketahui Mutiara?"


"Apa Kakak juga mencintai Mutiara?"


"Argh, ah! Apa yang kamu katakan sih Mutiara? Kamu adikku Mutiara! Aku sudah berjanji dengan almarhum kakak mu untuk menjaga dan menyayangimu selalu Mutiara!" ucap Sam dengan mata yang berbinar, ingin rasanya hati Sam mengungkapkan perasaannya itu, tapi Sam tidak sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya. Terlebih Sam harus sadar jika dia dan Mutiara tidak akan bisa bersama. " Jawab pertanyaan Kakak, apa terjadi sesuatu denganmu dan Rian? Aku akan marah jika dia menyakitimu Mutiara!"


"Tapi Kakak lah yg menyakiti Mutiara, Kak! Mutiara cinta dan sayang dengan Kakak. Sudah lama Mutiara menyimpan perasaan ini Kak, aku rasa Kakak tahu. Hanya saja Kakak tidak ingin membalas cinta Mutiara. Ingin rasanya Mutiara menyusul kak Andre Kak, karena Mutiara tidak bahagia di dunia ini Kak. Bahkan Mutiara tidak bisa hidup dengan orang yang Mutiara cintai Kak."

__ADS_1


"Kakak pergi dulu Mutiara! Jaga dirimu baik-baik, jika terjadi sesuatu. Kamu harus segera mengabari Kakak," lirih Sam yang berusaha membendung air matanya, mendengar kejujuran hati Mutiara itu.


Sam meninggalkan Mutiara yang tengah menangis itu. "Jika kamu bertanya tentang perasaanku Mutiara, tentu aku sangat mencintai dan menyayangimu. Hanya saja. Percuma Muti! Aku mengatakan isi hatiku, hanya akan membuatmu dan aku merasa tersakiti. Kita sudah memiliki jalan kita masing-masing, bukankah lebih baik kita menjalani itu saja," batin Sam dalam hatinya dia merintih sedih, ditemani curahan air mata yang iya tahan sedari tadi.


__ADS_2