Cinta Demi Balas Budi

Cinta Demi Balas Budi
Aroma perselingkuhan


__ADS_3

Bab 46


Aroma perselingkuhan


Aku merasakan sesuatu perubahan yang terjadi terhadap Rian, membuatku memutuskan untuk menemuinya ke perusahaannya itu, tidak biasanya dia memilih tidur di kantor. Apa terjadi sesuatu, segala pertanyaan mampir dalam pikiran ini yang melihat sifat Rian akhir-akhir ini yang tidak memperhatikanku.


"Apa sudah siap Pak? Mari kita berangkat sekarang!" Titahku kepada pak supir yang sudah menungguku sedari tadi.


Aku tidak bisa lagi biar diam diri di rumah, aku harus menemui dan melihat kak Rian sekali-kali ke perusahaannya itu. Agar perasaan ini sedikit tenang.


"Sudah sampai Non," titah pak Amir supir pribadi yang selalu membawaku kemanapun aku mau.


"Baik Pak, tunggu sini sebentar," lirihku yang mulai masuk ke dalam perusahaan itu.


"Selamat pagi Buk, Pagi Buk!!" sahut beberapa karyawan yang melihat kedatanganku.


"Nyonya Mutiara," panggil asisten pribadi kak Rian yang datang menghampiriku.


"Apa kak Rian ada?" tanyaku tanpa basa-basi ke arahnya yang berlari menghampiriku.


"Seharusnya sih sudah datang, tapi kenapa pak Rian beberapa hari ini tidak masuk kantor yah? Apa pak Rian baik-baik saja Buk?"


"Apa? Dia tidak pernah seharipun libur, dia selalu pergi dari rumah! Apa dia tidak menuju kantor?" tanyaku dengan ekspresi wajah kaget, tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Bagaimana bisa asistennya berkata jika kak Rian, tidak ada di kantor, bukankah kak Rian bilang padaku. Untuk malam ini tidur di kantor? Dan bagaimana dengan hari kemarin? Tidak seharipun dia pernah libur.


"Apa maksudmu?" Masih tanyaku yang ragu.


"Maaf Buk, aku lupa jika pak Rian selalu datang, maaf Buk aku salah. Dan sekarang pak Rian sedang berada di luar," balasnya dengan suara sedikit aneh, seolah dia mencoba menutupi sesuatu. Aku melihat tatapannya yang seakan canggung, dan dia seolah menahan keringat dingin. Apa dia tengah berbohong padaku.


"Dimana kak Rian sekarang?"


"Di- dia, dia ada …." ujarnya yang sulit untuk berkata.


Dari caranya itu aku bisa menduga jika dia tengah berbohong denganku, dan menutupi kebohongan kak Rian terhadapku.


"Kamu ikut aku sekarang keruangan kak Rian!"


"Baik Buk," balasnya yang mulai mengikutiku ke ruang kerja kak Rian.


Aku duduk terlebih dahulu di sofa itu, dan mempersilahkannya duduk. Dia duduk tepat di hadapanku dengan wajah seakan pucat, dia tiada henti menundukkan kepalanya ke arah bawah.


"Apa ada yang ingin kamu katakan denganku?"


"Haaa?" tanyanya balik ke arahku.


"Iyah, aku pikir kamu sedang menutupi sesuatu, katakanlah! Apa yang kamu ketahui tentang kak Rian?"


"Maaf Buk," balasnya yang ketakutan.


"Kamu tidak boleh menutupi kebohongan seseorang, jadi katakanlah apa yang kamu ketahui! Kenapa kamu berkata jika kak Rian tadi tidak masuk kantor dalam seminggu ini? Dan berkata jika kak Rian sudah seharusnya di kantor. Bisakah kamu jelaskan itu?"

__ADS_1


"Maaf Buk, aku tadi terlepas! Aku mohon jangan sampai pak Rian marah dan memecatku Buk! Aku butuh pekerjaan ini, dan tolong lupakan tentang perkataanku tadi. Aku mohon Buk," masih lirihnya yang memasang wajah memelas ke arahku.


Hingga aku merasa iba melihat dia yang seolah ketakutan akan kak Rian yang akan marah. "Baiklah, aku ingin kamu menghubunginya dan tanyakan dia dimana?"


"Tapi Buk!"


"Aku tidak akan memberitahu kak Rian, jika aku mendapat informasi ini dari kamu Pak," balasku terhadapnya, hingga dia menyetujui keinginanku.


Dia hendak berdiri dariku. "Kamu mau kemana? Aku ingin kamu menghubunginya di hadapanku!" Titahku yang membuat dia duduk kembali dan mulai melakukan panggilan telepon terhadap kak Rian.


"Tinggikan volume suaranya, agar aku dengar," masih ucapku yang melihatnya bertingkah canggung.


Tut Tut Tut ….


Bunyi nada sambung telepon itu, kak Rian sepertinya tidak ingin menjawab panggilan darinya, hingga aku memutuskan menghubungi kak Rian dengan menggunakan telepon selulerku.


"Kamu boleh pergi keluar Pak," titahku yang masih menunggu panggilanku di jawab oleh kak Rian.


"Baik Buk," balasnya yang pergi berlalu meninggalkanku sendiri di ruang kerja kak Rian itu.


"Hallo Kak Rian, kamu dimana Kak? Mutiara sekarang sedang berada di perusahaan Kakak, tepatnya di ruang kerjamu Kak," ujarku yang mencoba melakukan panggilan itu lewat Video call.


Kak Rian tidak menjawab pertanyaanku, bahkan dia memilih mengakhiri panggilan itu tanpa membalas ucapanku sedikitpun.


Arghh jika begini, itu tandanya kamu sudah membohongiku Kak. Apa yang dikatakan kak Sam itu benar? Jika kamu menghianatiku. Ha ha ha haaa … Aku hanya bisa menangis di dalam ruangan itu. Aku tidak percaya jika kak Rian telah membohongiku.


Perasaanku tengah hancur, aku berjalan ke arah luar, tidak peduli berapa pasang mata yang menatapku yang tengah sedih. Hingga aku sampai ke lantai bawah.


Aku menoleh ke arah suara yang memanggil ku, lalu berlari dan memeluknya begitu erat. "Apa yang terjadi Mutiara, kenapa kamu menangis?" ujarnya yang menatap dan menghapus air mata yang terlanjur jatuh.


"Ha ha ha ha aaaa …." Tangisku semakin pecah, terhadapnya yang bertanya tentang apa yang kurasakan.


Bagaimana aku bisa menceritakannya, tentang apa yang aku rasakan kini, ini sungguh pedih. Aku tidak percaya jika kak Rian tengah membohongiku.


"Ayo Mutiara, ikut aku," ucapnya yang membawanya keluar, hingga aku mengikutinya ke dalam mobilnya itu.


"Ceritakan apa yang kami rasakan, kenapa kamu menangis, Mutiara?"


"Ha ha haaaa … Kak, apa yang kamu katakan benar, jika kak Rian membohongiku!" jawabku yang menyandarkan kepala ini di dadanya.


"Ceritakan Mutiara, apa yang dilakukan Rian? Aku tidak bisa terima jika dia menyakitimu."


"Argh ahhh ha ha haaa …."


"Sudah Mutiara, jangan menangis! Tangisanmu tidak akan menyelesaikan masalahmu, ceritakan Rian kenapa?"


Aku memperbaiki cara duduk dan mengangkat kepala ini yang bersandar di dada kak Sam. Mulai menatap dia yang tengah menghapus air mata ini.


"Kak Rian membohongi Mutiara Kak, kak Rian bilang malam ini akan tidur di perusahaan, tapi apa Kak? Bahkan seminggu ini dia tidak pernah masuk kerja Kak. Dia selalu pergi lebih awal dan pulang larut malam Kak! Jika Mutiara tanya, kak Rian selalu menjawab pekerjaan kantornya tengah banyak Kak. Apa salah Mutiara Kak? Kenapa kak Rian membohongi Mutiara Kak?" ujarku yang kembali menangis di pelukan kak Sam.

__ADS_1


Kak Sam mengelus rambut ini dengan tangannya yang begitu mulus, masih sama seperti dulu, selalu ada untukku. Kak Sam selalu menjadi tempat yang paling nyaman untuk bersandar. Dia selalu mampu menenangkanku yang tengah sedih.


"Mulai lagi deh, Kakak kan sudah bilang! Kalau almarhum kakak mu Andre akan marah dengan kakak, jika melihatmu menangis seperti ini Mutia," ujar kak Sam yang menghapus air mataku dan mencubit hidung ini dengan kedua jarinya.


"Kak Sam, Mutiara tengah sedih! Wajar Mutiara menangis Kak," balasku yang mengambil tangannya yang mencubit hidung ini.


"Tapi gak mesti menangis sayang," ujarnya yang membuatku menatap ke arah kak Sam. Sayang, baru pertama kali ini kak Sam memanggilku dengan sebutan sayang. Apa dia juga mencintaiku, dan dia hanya membohongi perasaannya?


"Jangan berpikir sesuatu deh," balas kak Sam yang mengusap wajahku dengan tangannya itu.


"Arrgghhh, apaan sih Kak? Mutiara tidak berpikiran sesuatu kok! Hanya senang saja dengan panggilan baru kak Sam, yang berkata sayang terhadap Mutiara!"


"Kakak memang menyayangimu Mutiara! Kalau bukan karena Kakak sayang denganmu, tidak mungkin Kakak menjagamu selama ini Mutiara!"


"Tapi, ta- tapi Kak, bukan rasa sayang itu yang Mutiara inginkan, Kak!"


"Sudah Mutiara, aku ini Kakakmu," balas kak Sam yang kembali menyandarkan kepala ini di dadanya.


Aku begitu nyaman di berada di pelukannya, membuatku tidak ingin bangkit darinya. Dengan waktu yang ku punya, aku bermanja-manja di dada kak Sam.


"Sudah Mutiara, kamu harus menemui Rian," ujar kak Sam yang ingin aku bangkit dari pelukannya.


Tidak berselang lama, Rian menghubungiku. Aku tidak ingin menjawab panggilannya itu. Hingga aku memilih mengacuhkannya. Tapi, kak Sam mengangkat panggilan itu, dan berbicara terhadap Rian.


"Hallo Rian, aku ingin bertemu!" ujar kak Sam lewat panggilan telepon itu.


"Kenapa kamu yang menjawabnya? Apa dia yang memintamu untuk menemuinya? Arghh," balas kak Rian yang seakan kesal terhadap kak Sam.


"Dimana kamu sekarang?"


"Berikan telepon itu ke Mutiara," balas kak Rian dengan nada suara yang meninggi, membuatku menjawab panggilan telepon itu.


"Kamu dimana Kak Rian," ujarku yang menjawab panggilan dari kak Rian itu.


"Aku tidak tahu jika kamu semurahan itu Mutiara!"


"Apa maksudmu Kak, berkata seperti itu?"


"Sudah, kita bahas nanti. Aku ingin kamu pulang segera! Karena mama sedang ada di sini, ingat Mutiara! Mama tidak boleh tahu jika diantara kita sedang terjadi sesuatu! Apapun masalah kita. Aku tidak ingin Mama sedih dan tahu. Apa kamu dengar Mutiara?"


"Baik Kak," balasku yang mengakhiri panggilan itu.


"Kak Sam, Mutiara harus pergi, terima kasih Kak," ujarku yang mulai membuka pintu mobil itu.


"Apa kamu tidak ingin Kakak temani Mutiara?"


"Tidak perlu Kak, Mutiara bisa sendiri," balasku yang mulai turun dari mobil kak Sam. "Oh iya Kak Sam, terima kasih sudah membuat Mutiara nyaman di pelukan Kakak."


"Itu tugasku sebagai Kakakmu Mutiara."

__ADS_1


"Tapi aku ingin lebih kak, dari seorang kakak angkat! Aku ingin kamu yang menjadi pendamping hidupku Kak," batinku yang mulai pergi dari sebelah mobil kak Sam itu, hingga aku berjalan ke arah mobilku.


__ADS_2