
Bab 1 2
Setelah mengurung Mutiara di dalam kamar yang dihuni Sam, membiarkan Mutiara sendiri dalam kamar itu. Walau desah suara Mutiara menahan sakit, terdengar di telinga Sam yang masih berdiri di depan pintu kamar itu.
Sam memutuskan untuk melelapkan dirinya malam ini di kamar Rian, karena Rian yang berjalan ke luar mencari pelampiasan hasratnya.
Arsel benar-benar gila, membuat Rian dan Mutiara menahan rasa sakit, akibat obat perangsang yang dimasukkan ke dalam minuman keduanya.
Membuat rintih kesakitan bagi Mutiara yang tidak bisa melepaskannya. "Kamu pasti kuat Mutiara," ujar Sam yang mulai melelapkan matanya.
****
"Sam, Sam … bangunlah,"
Rian yang kembali ke kamarnya di pagi buta, melihat arah Sam yang masih tertidur lelap itu. Membuat Rian membangunkan Sam yang sedang tertidur lelap itu.
"Apa kamu baru datang?" lirih Sam yang baru membuka matanya.
"Uhm … dimana Mutiara?" tanya Rian.
"Dia ada di kamarku," balas Sam.
Sam mulai duduk dan beranjak ke arah kamar mandi, mengingat hari ini hari pertamanya kerja. Di kantor Rian dan sebagai seorang CEO kedisiplinan itu penting.
Setelah menyelesaikan aktivitas mandinya, Sam yang sudah rapi mulai berjalan ke arah kamar. Tempat dimana dia mengunci Mutiara.
"Bagaimana keadaanmu? Apa kamu sudah membaik?" Rasa kuatir timbul di hati Sam, melihat arah Mutiara yang masih lesu dan pucat. Seolah Mutiara tidak bisa terlelap malam ini, karena menahan rintih rasa sakit akibat efek obat itu.
" Iya Kak" Mutiara seolah menyembunyikan rasa kesakitannya, walau masih terdengar, lirih nafasnya yang merasa kesakitan.
"Apa kamu masih merasa sakit Mutiara?" tanya Sam ulang, Sam belum pernah merasakan apa yang dirasakan Mutiara, sehingga sulit bagi Sam memahami akan apa yang tengah dirasakan Mutiara.
Sam masih melihat Mutiara yang merasakan kedinginan, sehingga Sam mendekat ke arah Mutiara. "Apa kamu kuat Mutiara?" tanya Sam yang bingung cara mengobati Mutiara.
"Uhm, aku baik-baik saja Kak," balas Mutiara yang tidak ingin Sam, merasakan cemas terhadap Mutiara.
" Pergilah ke kamar! Mandi dan bersihkan dirimu, pagi ini Kakak akan memulai bekerja. Kakak harap kamu baik-baik saja dirumah Mutiara! Jika terjadi sesuatu kabari Kakak secepatnya," ujar Sam terhadap Mutiara.
"Baik Kak," lirih Mutiara yang mulai keluar menuju arah kamarnya.
"Aku harap kamu tetap kuat Muti! Jangan sampai kamu memberikannya terhadap Rian, setelah semuanya selesai aku akan memintamu kembali dengannya dan kita akan hidup bahagia," batin Sam dalam hatinya melihat arah Mutiara yang mulai keluar, menuju kamar Rian.
Di dalam kamar yang Sam tempati, sekilas dia terbayang akan sosok wanita yang melahirkannya. " Aku rindu denganmu Mami! Apa kamu masih marah denganku," batin Sam dalam hatinya itu.
Sam mencoba mengambil henpon yang diletak di meja, dan mencoba menghubungi Ando sahabatnya yang kini menjadi suami dari mantan kekasihnya.
Tut Tut Tut ….
Bunyi sambungan telepon Sam terhadap Ando, sehingga pemilik telepon mengangkat panggilan dari Sam.
"Halo" balas Ando dengan nada lesu, menjawab panggilan dari Sam, tanpa menoleh ke layar utama tidak melihat siapa si pemanggil telepon itu. Ando dengan suara yang parau, belum begitu sadar.
"Siapa sih Sayang? Pagi-pagi sudah mengganggu, aku masih ingin sayang, kita lanjutkan yok," suara Cantika bermanja terhadap Ando, tanpa sengaja didengar oleh Sam.
__ADS_1
Membuat Sam seolah terdiam, mendengar suara Cantika yang bermanja mesra dengan Ando.
"Argh aku senang sayang jika akhirnya aku bisa memilikimu! Dan sah menjadi istrimu, aku bosan selama ini jadi wanita simpanan mu, berpura-pura di depan Sam. Setidaknya aku senang jika cowok yang sok suci itu tidak jadi suamiku! Mana ada wanita yang tidak menginginkan belaian. Argh," ujar Cantika lagi, yang tidak sengaja didengar oleh Sam karena Ando terlanjur meletakkan hp nya di atas mejanya.
Ando lupa jika dia belum mematikan sambungan teleponnya, dan tidak melihat si penelpon. Seakan rasanya dada ini terpukul. Sam mendengar beberapa bunyi ******* dari Cantika yang timbul akibat perpaduan Ando.
"Aish, argh … aku salah menilaimu Cantika! Aku pikir kamu wanita yang baik yang tepat untukku, ternyata kamu tidak tulus mencintaiku. Kamu hanya menjadikanku sebagai mainanmu, simpananmu. Agar perbuatanmu di luar tidak aku ketahui. Argh ah …." teriak Sam seakan kesal dan memilih mengakhiri panggilan itu.
Sam tidak pernah percaya kalau wanita yang sangat dia cintai, adalah sosok wanita liar. Dan mengkhianati Sam dengan sahabatnya sendiri. "Argh ah …." dada Sam sesak mengingat akan apa yang terjadi terhadapnya.
Cantika wanita cantik, berpendidikan dan baik, seolah tidak percaya Sam mencoba mengumpulkan ingatannya tentang sosok wanita. Yang pernah menemani harinya selama lima tahun.
"Aku akan membalas semua perbuatanmu Cantika, dan aku baru sadar jika kamu mungkin tidak tepat untukku, dan karena itu Tuhan mengirimkan Mutiara untukku, "
Sam berdecak kesal dalam hatinya itu, sesekali mengenang betapa kejamnya Cantika terhadap dirinya, selama hubungan Sam dan Cantika. Tidak sekalipun Sam menghianati Cantika.
"Argh ah hhh …."
Pekik Sam menggemparkan kamarnya, dia melempar bantal ke arah pintu itu. Sam lupa akan keberadaan dirinya dia sangat terpukul akan perbuatan Cantika.
" Apa kamu baik-baik saja Sam?"
Rian yang mendengar teriakkan Sam, menghampiri Sam ke arah kamarnya dan melihat Sam, sedang meluapkan emosinya. "Apa terjadi sesuatu Sam?" tanya Rian lagi yang melihat Sam menatap nanar ke arah Sam.
"Aku akan membalaskan dendamku" balas Sam, seakan sudah dipenuhi kebencian, berkata kepada Rian yg mendekati Sam itu.
Rian menatap amarah yang tengah merasuki pikiran Sam, namun Rian tidak ingin Sam marah dan merasa kecewa terhadap Rian.
"Aku akan membantumu! bersiaplah jika kamu jadi seorang pemimpin, kamu harus bisa menghargai waktu dan disiplin dalam bekerja, baru kamu bisa meraih kesuksesanmu," ujar Rian memupuk rasa semangat di hati Sam yang sedang rapuh.
"Hari pertama bekerja di perusahaan milik Rian, sebagai seorang CEO. Mengenali beberapa staf, redaksi, dan semuanya, serta mulai mempelajari tentang struktur perusahaan dan bagaimana cara dalam pengelolaannya. Tidak terlalu sulit dan tidak terlalu mudah untuk mempelajari semuanya, karena saat kuliah aku mengambil jurusan tentang teknik pengelolaan perusahaan. Sedikit ada ilmu yang aku serap. Hingga aku merasa yakin jika aku mampu dalam mengelolanya.
Meeting pertamaku memimpin sebuah perusahaan besar, walau aku hanya ditempatkan di cabang dari perusahaannya induk yang sedang dikelola oleh Rian.
Bisnisnya juga masih bergerak dalam bidang yang sama dengan perusahaan papi, Aku harus serius mempelajarinya, apa lagi setelah aku tahu pesaing bisnis perusahaan Rian yang terberat adalah perusahaan papiku.
Dua bulan sudah aku memimpin, aku mulai melihat kejanggalan jika papi selama ini bermain curang dalam mendapatkan proyeknya.
Hari ini ada pertemuan dengan perusahaan papi, dan aku sebagai pemimpin perusahaan harus ikut dalam meeting tersebut.
"Apa kamu yakin Sam, akan ikut masuk ke dalam? Jika kamu ragu tunggu saja di dalam mobil, biar aku dan yang lainnya turun," ujar Rian yang melihat keraguan di wajah Sam yang hendak turun dari mobilnya itu.
"Tidak aku ingin menemuinya! Karena lambat laun kami akan bertemu juga, mau bagaimanapun di papa ku," balas Sam dengan begitu bersemangat turun dari dalam mobil Rian.
Sam dan Rian mulai masuk ke dalam ruangan, yang sudah ditunggu oleh beberapa pemimpin perusahaan hebat dari segala, daerah, kota hingga bagian luar negeri.
"Sam," panggil sang papi, seolah tidak percaya jika anak semata wayangnya, yang dia cari beberapa bulan ini kini tengah ada di hadapannya.
Membuat sang papi berjalan ke arah Sam, seseorang yang penting bagi papi Sam, sebagai penerus perusahaannya.
"Maaf kami telat" ucap Rian yang di sambut oleh pemimpin lain, Rian dan Sam mulai mengisi kursi kosong.
"Aku permisi dulu, Sam ikut dengan Papi" titah papi Sam yang melihat Sam masih berdiri di samping Rian itu, sehingga Sam dengan terpaksa mengikuti sang papi.
__ADS_1
"Jadi benar semua ini? Papi mendengar jika kamu tinggal dan bekerja dengan mereka, apa kamu tahu siapa mereka? Mereka pesaing bisnis papi dan mereka yang selalu menggagalkan usaha papi dia musuh papi, Sam" sahut papi Sam dengan penuh kecewa terhadap Sam.
"Iya Papi, berkat perusahaan mereka Sam jadi tahu, bagaimana papi menjalankan usaha papi penuh dengan kelicikan, Sam malu Pi." Pekik Sam dengan nada meninggi.
Plakk
Sebuah tamparan mendarat di pipi Sam akibat kemarahan papinya.
"Kamu kini sudah semakin kurang ajar dan mulai melawan terhadap Papi, mari ikut pulang dengan papi" titah papi Sam yang membuat Sam marah dan menolak.
"Ok," ucap papinya yang seperti mempersiapkan sesuatu, sebuah bius yang telah dia letak dalam sapu tangan milik sang papi.
Papinya pura- pura mengeluarkan sapu tangan, dan hendak pergi melangkah saat Sam seakan lengah, papi Sam menutup hidung Sam menggunakan sapu tangan yang sudah ditaburi obat bius itu.
"Bawa dia," perintah papi Sam terhadap bawahannya yang memasukkan Sam kedalam mobilnya.
"Maaf, harus menunggu," sahut papi Sam kembali ke dalam pertemuan itu, dengan nada santai dan kembali masuk dalam pertemuan itu.
"Dimana Sam?" tanya Rian seakan kaget tidak melihat Sam, ikut bersama sang papi, seolah rasa kuatir timbul di hati Rian.
"Oh Sam!! Dia anakku dan aku akan membawanya pulang, terima kasih selama ini sudah melindungi dan menyembunyikan," balas papi Sam yang membuat Rian seakan terdiam atas perkataan papi Sam yang seolah mencemooh Rian.
"Aku sepertinya kehilangan gairah untuk melanjutkan meeting, aku permisi dulu! Terima kasih atas waktunya, dan maaf jika sudah mengecewakan," ujar sang papi Sam seraya kembali ke dalam mobilnya, dengan membawa Sam yang tengah pingsan.
"Mutiara akan sangat marah dan benci denganku, jika dia tahu Sam dibawa oleh papanya," batin Rian dalam hatinya. " Apa yang harus aku katakan terhadap mutiara jika dia bertanya akan Sam," masih lirih Sam berbicara pada dirinya sendiri.
Setelah pertemuan itu, Rian kembali ke rumah dengan perasaan sedih.
"Rian , kak Sam mana?" tanya Mutiara yang melihat Rian baru turun dari dalam mobilnya, tanpa melihat Sam, yang pergi bersamanya berangkat kerja tadi pagi.
"Oh Sam," ucap Rian yang sulit menjelaskannya.
Dia masuk ke dalam mengambil segelas air minum lalu menekuknya, " Sam dia tadi, ah bagaimana aku mengatakannya?" gumam Rian yang kemudian dia berjalan ke dalam kamarnya yang diikuti Mutiara.
"Rian, dimana kak Sam?" Tanya Mutiara yang mulai merasa akan kecemasannya.
"Dia tadi dibawa oleh papanya Muti" ucap Rian seakan takut tapi dia harus mengatakan hal yang sebenarnya,.
"Kenapa bisa? Kenapa kamu tidak membantu kak Sam lepas dari papanya Rian?!" ucap Mutiara yang mulai di hujani air mata.
"Maaf Muti, jika musuh atau preman, polisi, yang membawanya aku masih bisa menolongnya, tapi ini papanya sendiri Muti, orang tua kandungnya. Apa yang bisa aku perbuat, yang ada aku yang akan dapat masalah jika melakukan pemberontakan," ucap Rian dengan mengusap wajahnya yang sedikit kusam itu.
"Maafkan aku Muti, aku sudah melarang Sam agar tidak ikut, tapi dia tetap ngotot maksa mau ikut,"
"Kenapa kak Sam tidak memberontak?"
"Jika dia Sadar pasti dia akan memberontak dan melawan, masalahnya papinya memberikan bius, hingga Sam pingsan dan dibawa ke dalam mobilnya," ucap Rian dengan meletakkan kepalanya di pundaknya.
"Maafkan aku, aku tidak bisa berbuat apa-apa,"
"Kak, Sam …." ucap Mutiara yang masih sedih dan menangis.
Mutiara merasa terpukul setelah mengetahui, papi Sam yang berhasil mendapatkan Sam. Seperti mimpi di siang bolong, hati Mutiara begitu terpukul dan sedih.
__ADS_1
"Maafkan aku Mutiara! Aku tidak bisa melakukan apapun Mutiara,"
Rian menatap iba ke arah Mutiara yang sangat sedih, setelah berpisah oleh Sam.