
Bab 54
Penyiksaan tak manusiawi
"Mutiara," panggil Deni yang tiba-tiba terbangun, dia menoleh ke arahku yang hendak berjalan ke arah pintu. Aku berdiri di tengah kebimbangan tidak berani menatapnya, hingga aku memutuskan memilih berlari dan menguncinya di kamar itu.
"Argh ah! Mutiara, buka!" Pekiknya yang tidak ku hiraukan, aku memilih berlari dan bersembunyi.
Aku ingin kabur malam itu juga dari rumah Deni, tapi melihat penjagaan yang ketat membuatku tidak memiliki celah untuk kabur. Terlebih dia meletak cctv di setiap sudut ruangannya.
Aku harus kemana? Pikirku yang melayang, rasa takut akan kemerahan Deni terhadapku. Apa aku bersembunyi di kamar kak Tika? Setidaknya kak Tika akan melindungiku dari kasarnya sifat Deni.
Setelah bertanya pada hati dan pikiran ini, aku mulai melangkah masuk ke kamar kak Tika, aku menatapnya yang tengah tertidur membuatku merebahkan badan ini di sebelahnya.
Kulingkarkan tanganku di pinggangnya, hingga kak Tika terbangun dan menoleh ke arahku.
"Kak, ma … maaf Kak, Mutiara …." ujar ku tak sampai melihat kak Tika menutup mulut ini dengan jari telunjuknya.
"Sudah malam, mari tidur," balasnya yang membiarkanku memeluknya. Mungkin dengan ini aku akan aman. Tapi aku ingin menghubungi kak Sam.
Aku memastikan kak Tika tertidur, lalu mengirim pesan singkat ke ponsel kak Sam.
"Kak ini Mutiara, Tolong Mutiara Kak, Mutiara kini tengah berada di rumah …." ujarku yang belum sempat mengirim pesan singkat itu terhadap kak Sam, karena Deni tiba-tiba datang menerobos masuk. Dia melihat aku yang sedang memegang ponsel itu, membuatku dengan cepat menyembunyikannya di belakang badan ini.
"Berikan padaku Mutiara," pintanya yang masih lembut, melihat kak Tika yang sedang tertidur.
"Tapi Deni, aku mohon jangan," balasku yang berusaha untuk tidak memberikan telepon genggamku ke arahnya.
__ADS_1
Aku memegang erat telepon genggam ini, berusaha agar Deni tidak mengambilnya. Tapi, Deni membungkukkan badannya ke arahku yang tengah duduk di sudut kamar itu. Mataku sudah menampakkan nanar ketakutan. Saat hembusan nafasnya terasa di wajah ini.
"Aku mohon, jangan Deni! Aku …." ucapku tidak sampai karena Deni merampas telepon seluler itu dengan paksa dari belakang badan ini. "Deni! Berikan ponselku!" Pekikku dengan keras membuat kak Tika terbangun dan menjerit-jerit.
"Tidak!! Sam, Sam tolong aku!" Pekik kak Tika yang duduk di atas ranjangnya. Matanya mulai berlinang dan mulutnya mengeluarkan suara tertawa, pandangannya kosong. Dia tampak kembali pada Tika yang stres akibat cinta yang tidak di balas oleh kak Sam.
"Argh ah Mutiara!" ujar Deni yang marah melihat kakaknya kembali hilang kesadaran.
Deni menarik kasar rambut ini, aku ingin menepisnya tapi genggaman tangannya menarik rambut ini sangat kuat. Membuatku hanya bisa menangis.
"Maafkan aku Deni, aku janji akan membantu kak Tika lagi," ujarku yang memohon dengan rintihan air mata yang jatuh di pipi ini, menahan sakit akibat perlakuan kasarnya.
"Itu memang tugasmu," balasnya yang menarik rambutku ke hadapan kak Tika. "Kamu harus buat kakakku seperti tadi," ujarnya lagi yang melepaskan tangannya dari rambut ini.
"Ingat, kak Tika harus sembuh! Jika tidak kamu akan menyesal," ancamnya yang memilih pergi meninggalkan aku dan kak Tika di dalam kamarnya.
Kak Tika tetap tertawa memanggil nama kak Sam, bahkan dia memanggil Deni dengan panggilan Sam. Begitu juga dengan aku, semua orang yang datang di hadapannya mendapat panggilan dengan nama Sam.
Sebegitu cintanya kamu dengan kak Sam kak, aku harus bisa mempertemukan dengan kak Sam. Aku yakin kak Sam tidak akan menolak keinginanku yang mendekatkanmu dengannya kak. Tapi gimana caranya yah? Hpku sudah kembali di sita oleh Deni. Apa ada kemungkinan aku bisa keluar dari rumah ini? Aku tidak mau menghabiskan hidupku disini! Apalagi aku sangat merindukan anakku. Kak Sam tolong Mutiara.
Aku menangis memanggil nama kak Sam, berharap kak Sam akan datang menyelamatkanku dari sekapan Deni.
Pov Sam
"Mutiara!" Pekik Sam yang terjaga dari tidurnya.
"Ada apa Sam?" tanya Cantika yang mendengar suara pekik Sam.
__ADS_1
"Aku bermimpi buruk tentang Mutiara! Aku harus mencarinya, aku tidak mau terjadi sesuatu untuknya," ujar Sam yang memilih beranjak dari ranjang itu.
Sam hendak keluar dan mencari keberadaan Mutiara, membuat mimik wajah kesal di raut muka Cantika.
"Sam jika kamu tetap pergi mencari Mutiara dan meninggalkanku disini! Aku pastikan kamu akan menyesal Sam," ancam Cantika yang tidak dihiraukan oleh Sam.
Sam mengganti pakaian tidurnya dengan baju kaos oblong sebelum dia melangkah pergi menuju arah pintu luar.
"Sam, aku istrimu Sam! Kamu mau meninggalkan aku demi wanita itu Sam!" Masih pekik Cantika yang melihat Sam memilih masuk ke dalam mobilnya.
"Sam, kamu akan menyesal Sam! Argh ah ah!!" Pekik Cantika dengan marah melihat Sam yang pergi tengah malam demi mencari keberadaan Mutiara.
"Kamu akan menyesal Sam," masih ujar Cantika yang masuk kedalam mobilnya menuju rumah orang tua Sam.
Sam masih mengitari malam yang hening dengan sinaran sang bintang, yang menemani langkahnya mencari keberadaan Mutiara.
Sam tidak peduli akan malam yang semakin larut, pikirannya tidak tenang sebelum menemukan keberadaan Mutiara itu. Hampir tiga jam sudah Sam membiarkan tubuhnya diselimuti angin malam yang begitu dingin. Kicauan jangkrik dan suara gemuruh yang sepertinya akan dihiasi hujan. Tidak luntur juga harapan Sam untuk menemukan keberadaan Mutiara.
"Dimana kamu Mutiara? Aku rindu," ujar Sam yang terlihat sedih di dalam mobilnya itu.
Sam tengah merintih sedih di dalam mobilnya yang diparkirkan di pinggir jalan lintas yang tidak banyak lalu Lalang kendaraan lagi.
Tok tok tok
Seseorang menggedor kaca jendela mobil Sam, membuat Sam sedikit cemas melihat jumlah mereka yang cukup banyak.
"Turun, turun!"
__ADS_1