
Bab 2
Melarikan diri
"Maafkan aku Kak, sudah merepotkan Kakak! pasti Kakak tengah sedih karena harus meninggalkan pernikahan Kakak demi Mutiara, dan sekarang kita harus kemana Kak dan kita harus apa kak?" Tanyaku yang memandang wajah kak Sam, yang penuh rasa bersalah terhadap kak putri Cantika.
"Ah maafkan aku Cantika pasti kamu sangat membenciku! Bertahun tahun kita melewati hubungan kita hingga akhirnya kita hampir berhasil melanjutkannya ke pelaminan, sekarang kamu sangat sedih" batin Sam dalam hatinya seakan tersadar jika Mutiara, tengah memandangnya yang sedang bergelut dengan pikirannya.
"Kenapa, sekarang kamu sudah menyesali apa yang kamu perbuat? kenapa kamu mesti begini sih Mutiara? Aku harus menjadi ayah untuk benih yang tidak kutanam, kenapa kamu sebodoh itu?" ucap Sam, yang memandang wajah Mutiara.
Lagi-lagi Mutiara kesal mendengar omongan Sam yang menyalahkannya, masih disebelah Sam yang mengemudi mobilnya.
"Udah Kak! jika Kakak menikahi Mutiara karena terpaksa batalkan saja Kak! biarkan Mutiara yang hidupin anak ini sendiri Kak! Mutiara tidak apa memang ini semua salah Mutia, maafkan Mutiara!" sahut Mutia yang membalas tatapan ketidak sukaan terhadap Sam.
"Apa kamu pikir anakmu bisa hidup tanpa seorang ayah? Dia dapat ejekan caci maki dari sahabatnya kelak! Apa kamu mau anakmu tumbuh tanpa seorang ayah?
Kamu tidak memiliki keahlian dalam hidupmu! jika kamu tidak memiliki ide atau apapun tujuan hidup kamu diam saja! aku masih mempunyai cukup duit untuk modal kita kelak membuka usaha, kita harus mencari tempat tinggal dulu, tapi kita tinggal di mana ya? Papi pasti tidak akan diam begitu saja, pasti dia akan mengerahkan semua anak buahnya mencari kita, mau bagaimanapun aku ingin istirahat sebentar. Ayo Mutiara kita turun dulu istirahat di restoran itu," ujar Sam terhadap Mutiara.
Sam dan Mutiara menikmati beberapa makanan yang di pesan dari pelayan restoran, yang menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Di sebuah restoran kecil itu, mereka menikmati suasana yang damai, terhindar dari kejaran anak buah papinya. Tapi sesaat pikiran Mutiara melayang melihat beberapa orang sepertinya mengenal mereka.
"Kak kok perasaan Mutiara ada yang aneh deh dengan pengunjung restoran, kok seperti mereka sedang melihat kita sebagai seorang buronan gitu! Lihat Kak dia menatap dan menghubungi seseorang Kak," ujar Mutiara yang membuat Sam menghentikan aktivitas makannya.
"Ah, aku lupa Mutia! Lihat ini," ujar Sam yang tidak sadar jika namanya kini telah menjadi sorotan berita utama dalam pencarian, di semua internet sudah tersebar. "Papi mengiming-imingi hadiah yang cukup besar jika bisa menemukan kita," ucap Sam yang baru saja mengaktifkan kembali handphone miliknya. "Kita harus pergi cepat Mutiara!" setelah meninggalkan beberapa lembar kertas merah dia dan Mutiara berlari keluar ke arah mobilnya.
Dering ….
bunyi henpon milik Sam berdering, tanpa menunggu lama sang pemilik ponsel mengangkat panggilan dari seberang telepon selulernya.
"Hallo papi, sudah pi … jangan buat Sam, seperti buronan!" ujar Sam pada papinya melalui telepon seluler itu.
Seolah sang papi berhasil mengetahui keberadaan Sam kini, masih dengan perasaan kesal, berbicara dengan nada tinggi lewat panggilan telepon itu.
"Coba lihat ke atasmu Sam," ujar papinya menunjukkan sebuah helikopter yang berada di atas mereka.
__ADS_1
Sam dan Mutiara melihat ke arah atas, sebuah helikopter yang sedang berputar-putar di atas mereka, terdengar bunyi yang nyaring yang ditimbulkan oleh suara helikopter itu. Sehingga banyak pengguna jalan menatap ke arah atas.
Melihat itu dan berdecak kesal, seakan bingung bagaimana cara melarikan diri dari papinya. Yang begitu nekat dan tidak memberikan celah untuk Sam lari.
"Mau lari kemana kamu Sam, menyerahlah itu lebih baik! Papi tidak akan membiarkanmu untuk tenang! Mau diletak dimana wajah papi ini Sam? Jika pernikahan gagal?" ujar sang papi masih lewat sambungan telepon seluler itu.
"Maafkan Sam," jawab Sam mengakhiri panggilan telepon itu.
Sam yang mulai berjalan kearah mobil seketika matanya seakan keluar, memandang sang anak buah papinya yang sedang berada di dekat mobilnya. Perasaan jengkel dan gerah melihat ulah sang anak buah.
"Ahhhh ah ahhh, papi …."
Teriak Sam seolah ingin menyerah, namun Sam tidak mau jika nantinya terjadi sesuatu terhadap Mutiara. Papi bukan orang yang baik, aku harus melindungimu, setidaknya bantu aku Andra, aku akan berjuang menyelamatkan adikmu ini. Batin Sam dalam hatinya, yang mulai berjalan perlahan ke arah mobilnya. Sepertinya anak buah sang papi tidak begitu yakin jika mobil yang didekat mereka merupakan mobil Sam. Membuat Sam dan Mutiara seakan berhasil masuk kedalam mobil.
"Den Sam …."
Panggil sang anak buah yang melihat Sam masuk kedalam mobil, membuat terjadi lagi kejar mengejar antara sang anak buah papi dan Sam.
Pengeras suara pun terdengar dari arah helikopter, yang berada tepat di atas kepala mereka, dengan bunyi mikrofon dari atas helikopter itu.
"Kak udah Kak, menyerahlah Kak," pinta Mutiara yang mulai ketakutan, benar saja jika di depan sedang ada razia mendadak.
"Bagaimana ini kak polisi sudah banyak" ujar Mutiara.
"Kamu diam Muti! Aku tengah berpikir, aku tidak mungkin menyerah begitu saja! Papi tidak akan segan-segan membunuhmu Mutiara! Aku kenal papi dia orang yang kejam" sahut Sam dengan serius sehingga Sam melihat sebuah keramaian pasar malam. Kita masuk ke dalam, setidaknya papi tidak akan bisa menemukan kita dalam keramaian ini" ucap Sam yang mulai berbaur dengan penonton sepertinya sedang ramai pengunjung.
Mutiara tampak protes terhadap Sam, yang memintanya berbaur di dalam keramaian itu, lagi- lagi menatap jengkel ke arah Sam. Setengah jam berjalan-jalan di dalam pasar malam itu. Melihat ke atas, papinya masih saja memantau mereka dari atas.
"Apa papi, belum capek juga mengikuti Sam," Sam berdecak kesal memandang sesekali ke arah atas, menatap sang papi yang masih berada di dalam helikopter.
Sam melihat seorang pedagang yang tengah mengemasi jualannya, dengan mencoba berjalan ke arah sang pedagang.
"Maaf bang, apa abang mau membeli mobilku itu?" tanya Sam berbicara ke arah penjual.
__ADS_1
"Aku tidak ada duit, hari ini saja penjualanku sepi," balas sang pedagang melirik ke arah mobil yang ditunjuk Sam, dari cara tatapannya seolah pedagang itu memang menginginkan mobil Sam. Membuat Sam mencoba merayu pedagang agar bersedia membeli mobilnya itu.
"Abang beli berapa aja deh! asal aku minta tolong selamatkan aku dari yang diatas," ucap Sam menunjukkan sebuah helikopter yang kini berada diatas mereka.
"Apa kamu penjahat? Aku memiliki anak dan istri, aku tidak mau berurusan dengan polisi," Jawab sang pedagang.
"Bukan bang, aku orang baik yang diatas itu papiku, aku lari dari pernikahanku dengan ini," ujar Sam menunjukkan ke arah Mutiara yang berada di sebelahnya.
Mutiara hanya diam melihat Sam yang sedang mencoba membujuk pedagang itu, berharap pedagang itu mau menolong mereka. Dengan wajah Mutiara yang memelas membuat pedang itu seolah bersedia menolong mereka.
"Ooh, aku paham sekarang, lari dari perjodohan," ucap sang pedagang.
"Memang sih bang, tidak enak rasanya di paksa dan dijodohkan seperti aku dulu, aku mau menolongmu tapi sebagai gantinya mobilmu aku bayar dua juta gimana?" Tanya sang pedagang
"Deal bang," Jawab Sam bersemangat dengan mencoba mengelabui sang papi lagi, Sam dan Mutiara mengikuti sang pedagang ke sebuah rumah yang jauh dari tetangga, seakan sangat pas untuk bersembunyi.
"Apa Kakak yakin Kak?" Tanya Mutia yang melihat Sam, kini mengikuti sang pedagang dan pedagang itu membukakan pintu rumahnya terhadap Sam dan Mutia.
"Apa kalian sudah menikah?" Tanya sang pedagang.
"Belum bang nanti aku pasti akan menikahinya," jawab Sam.
"Kalian terlihat serasi, aku akan membantumu dan jika mau aku akan menikahkan kalian," ujar pedagang dengan baik dan ramah.
"Makasih bang," balas Sam seakan bahagia.
"Aku menyesal dulu saat aku tidak memilih dia dan memilih perjodohanku, yang dibuat sang papi dan apa yang terjadi, papaku meninggal dan dia berhasil merebut semua hartaku. Harta yang diberikan papi untukku. Semua dikuras habis hingga hidupku seperti ini! Dia meninggalkanku dengan selingkuhannya" ujar sang pedagang menceritakan masa lalunya yang merupakan putra orang kaya dulunya.
"Maaf bang sudah mengingat kan Abang pada masa lalu Abang dulu," balas Sam
"Pilihanmu ini tidak salah, gadis ini seperti nya bisa membahagiakanmu, aku lihat dari sorotan matanya," lirih sang pedagang meramal antara Mutiara dan Sam.
Sesaat Sam merasa damai berada di rumah pedagang itu, membuat Mutiara sejenak untuk istirahat. Melakukan perjalanan seharian, cukup melelahkan sehingga seseorang memberikan mereka tumpangan untuk beristirahat.
__ADS_1
Sam memandang Mutiara yang tengah membaringkan badannya, melihat Mutiara yang begitu kelelahan. Walau hati Sam seakan tidak tenang melihat gaya pria yang menolong mereka ini menunjukkan gelagat yang mencurigakan.