Cinta Demi Balas Budi

Cinta Demi Balas Budi
Melindungi Sam dan Mutiara


__ADS_3

Bab 6


Melindungi Sam dan Mutiara


"Bagaimana kak?" masih tanya Mutiara yang melihat Sam masih dalam keraguannya, bagaimana bisa mempercayai orang hanya dalam sekejap. Namun jika tidak dicoba, kita tidak akan tahu seseorang itu baik atau tidak.


Pikiran Sam seperti mendua, diikuti atau tidak. " Ah," pikir Sam yang melihat pria bernama Rian sudah di ambang pintu mobilnya.


"Ikut atau tidak? Jika tidak aku pergi!!" ujar Rian dari kejauhan, masih menatap ke ragunan dimata Sam.


"Kak, bagaimana Kak?" tanya Mutiara yang menambah keraguan Sam, yang sedang berdiri menanti jawaban dari kebimbangannya.


"Den jangan lari! papi Den menyuruh kami membawa Den pulang" sahut dua orang pria yang berbadan besar dan berotot, hendak berjalan ke arah Sam. Membuat rasa takut di wajah Sam.


Kekesalan dan kebimbangan tengah menyelimuti pikirannya, menatap ke arah mereka yang tidak jera ingin membawa Sam pulang.


"Sepertinya itu kawan anak buah papi tadi," ucap Sam yang melihat dua pemuda itu, hendak menyeberangi jalan menuju ke arah Sam dan Mutiara.


"Masuklah, aku akan menjamin keselamatanmu," ucap Rian yang masih menunggu di mobilnya itu,


"Tidak ada pilihan, anggap saja kita sedang mencoba keberuntungan," ujar Sam yang dijawab anggukan kepala oleh Mutiara.


Sam dan Mutiara berjalan ke arah mobil Rian, dengan membawa tas yang sedari kemarin mengikuti mereka, beberapa peralatan dan baju yang mereka bawa.


Sementara Rian seolah senang melihat Sam dan Mutiara yang menerima tawarannya.


"Kak sepeda motornya Kak?" tanya Mutiara yang kini sudah ada di dalam mobil Rian.


"Udah tinggal kan saja, aku bisa menggantinya dengan yang baru untukmu," ucap Rian dengan begitu angkuh, membuat Sam dan Mutiara seolah terdiam.


"Aku ragu akan dirimu!" ujar Sam yang melihat Rian begitu peduli dan perhatian terhadap Mutiara.


Rian tersenyum ke arah Sam, lalu Rian mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya, yang dia tunjukkan kepada Mutiara. "Apa ini sebuah foto?" tanya Mutiara yang diambil langsung oleh Sam dari tangan Mutiara.


"Apa hubungannya dengan foto ini?" tanya Sam yang melihat sepasang bocah kecil berusia 4 tahunan di dalam foto itu.


"Apa kamu tidak tahu siapa yang ada di dalam foto itu Mutiara? apa kamu tidak mempunyai foto masa kecilmu?" tanya Rian yang membuat Sam seakan mengerti.


"Apa gadis kecil ini Mutiara" ucap Sam yang memandang tatapan tidak percaya ke arah Rian.


"Uhmm … iya! Apa kamu tidak lihat, sedari kecil Mutiara sudah menarik, mampu membuatku menyimpan semua kenangan masa kecil kami," ucap Rian dengan begitu bahagia bisa bertemu kembali dengan Mutiara.


"Tapi aku tidak yakin jika di foto itu aku" ucap Mutiara menggaruk kepalanya yang tidak gatal, seolah sedang dalam kebingungan.


"Coba deh balikin fotonya" ujar Rian yang langsung dibalikkan oleh Sam.


"Mutiara dan Rian, selamanya, Apa inu?" ujar Sam seakan tidak mengerti atau tidak mau mengerti. " Kenapa kata selamanya ini tidak enak di dengar di telinga" gumam Sam dalam hatinya.


"Apa kamu tidak memiliki foto masa kecilmu? Mamaku dan mamamu selalu memotret momen kita saat kita dari bayi, hingga akhirnya keluargamu memutuskan pindah ke kota, dan ini foto terakhir kita," masih ujar Rian meyakini Mutia.


"Tapi, mamaku semenjak aku SMP sudah meninggal," ucap Mutiara dengan sedih.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Andra kakakmu?" Tanya Rian balik.


"Andra sudah meninggal saat menyelamatkanku, aku berhutang nyawa dengannya" sambar Sam terhadap Rian yang bertanya pada Mutia.


"Pantesan kamu mengorbankan pernikahanmu, yang dirayakan sangat meriah sampai disiarkan langsung melalui stasiun televisi. Apa papimu tidak terlalu norak, berlebihan. Apalagi jika masyarakat tahu akan keadaan sebenarnya. Jika bukan anaknya yang ada di pernikahan itu melainkan sahabatmu yang mendapat keberuntungan dari hasil kamu lari" balas Rian.


"oh iya," ucap Sam seakan tidak senang mendengar perkataan Rian, yang membicarakan keburukan papinya Sam. "kami mau kamu bawa kemana?" tanya Sam lagi.


"Kalian bisa tinggal di villaku sementara, aku akan memberikan kalian perlindungan di sana, hingga tikus pun tidak akan pernah bisa masuk kesana," ucap Rian dengan penuh percaya diri." Oh iya Mutiara, aku penasaran bagaimana dengan papimu?" tanya Rian lagi.


"Kamu sepertinya sangat ingin tahu tentang Mutiara," ucap Sam yang selalu menyambar omongan keduanya.


"Aku bertanya dengan Muti Sam!! Wajar jika aku ingin tahu tentangnya, karena Mutiara sahabat kecilku," pekik Rian dengan suara yang lantang.


" Oh ya!" ujar Sam seakan sedikit cemburu apalagi sedari tadi Rian tidak berhenti memandangi Mutiara dari kaca mobilnya. "Apa dia menyukai Mutiara," batin Sam yang menatap jengkel Rian.


"Papiku juga sudah meninggal Kak, seseorang sepertinya sengaja mencelakakannya, sehingga papi meninggal di tempat Kak" ucap Mutiara yang membuat Mutiara mengeluarkan air mata, teringat akan almarhum papanya, yang sangat menyayanginya, dan kini hidupnya menyedihkan. Selain di tinggal oleh sang kekasih. Mutiara juga di usir oleh mami tirinya. Membuat dia hidup di jalanan bersama Sam sang kakak angkat yang berjanji akan melindungi Mutiara selalu.


"Maaf kan aku Muti" sahut Rian yang menatap Mutiara tengah sedih.


Mutiara menyandarkan kepalanya di dinding jendela mobil Rian, sesekali menghapus air matanya yang jatuh, mengingat nasibnya kini yang amat menyedihkan.


"Apa kamu ingin tahu semua kisah hidup Mutiara agar Mutiara lebih sedih lagi?" tanya Sam seolah marah dan meletakkan kepala Mutiara di dadanya.


"Tidak apa Kak," ujar Mutia terhadap Sam yang menatap kesedihan Mutia.


"Udah Mutiara, kamu tidak perlu menangis, jika pun mereka semua tidak ada dan meninggalkanmu. Apa aku kurang untukmu? Aku selalu memberikan perhatian lebih untukmu sedari dulu hingga kini dan lihatlah. Pernikahan dan kebahagiaanku. Aku korbankan untukmu. Aku tidak ingin melihatmu menangis! Kakakmu Andra akan benci denganku. Jika aku membiarkan adiknya menangis," ucap Sam seraya mengusap perlahan rambut Mutiara, dan memberikan kecupan di kening Mutiara, Sam selalu mampu membuat hati Mutiara tenang sedari dulu.


Jika Mutiara di kasari oleh saudara tiri dan mami tiri Mutiara, maka Sam lah orang yang selalu datang pertama kali melindungi Mutia. memeluk, menenangkan Mutiara, hingga memberikan kecupan sayang di kening Mutiara.


"Walaupun Mutiara nyebelin, cengeng, nyusahin. Tapi jika aku berada di dekat Mutiara seperti saat ini, hati ku sedikit nyaman. Apalagi wajah Mutiara yang sangat lucu dan menggemaskan. Pesona cantik yang dia punya seakan berbeda, dengan pesona cantik yang di miliki wanita lainnya,"gumam Sam yang memandang wajah Mutiara yang masih menyandarkan kepalanya di atas dada Sam, yang membuat tangan Sam juga melingkar di pinggang Mutiara.


"Sudah sampai" ujar Rian seakan tidak senang melihat keduanya tengah, menunjukkan kemesraan di hadapan Rian.


"Wow … apa ini benar villa mu? Kamu sepertinya bukan orang biasa. Apa pekerjaan papimu? Apa papimu sehebat papiku, sampai kamu memiliki villa sama seperti yang aku punya" ucap Sam menyombongkan dirinya.


Mendengar perkataan Sam yang terlalu percaya diri, membuat Rian melempar senyum ke arah Sam yang berbicara tentang kehebatan sang papi. Yang terkenal sebagai pengusaha sukses.


"Cih … papimu hanya seukuran kelingking" balas Rian dengan sombong, mengingat papi Sam belum ada apa-apanya dengan harta yang dimiliki keluarga Rian.


"Oh iya, aku penasaran denganmu," ucap Sam dengan ragu.


"Ayo ikut aku masuk Mutiara," Rian yang menarik tangan Mutiara menuju ke dalam, membuat Sam membulatkan matanya. Seolah marah melihat Rian yang menarik tangan Mutiara masuk kedalam.


"Tapi, Rian! Kak" ucap Mutiara seakan memberontak dan menatap Sam yang mulai menunjukkan sifat ketidaksenangannya.


"Apa yang kamu lakukan menarik tangan kekasihku," ucap Sam spontan, yang membuat Mutiara seakan canggung tidak yakin dengan apa yang barusan Sam bilang. "Bagaimana bisa kak Sam berkata seperti itu, tapi iya sih, kak Sam memang berencana untuk menikahiku. Tepatnya menjadi ayah untuk anak yang di dalam kandunganku ini," batin Mutiara di dalam hatinya yang membuat Rian seketika melepaskan pegangan tangannya terhadap Mutiara.


"Maaf Sam, aku lupa! Aku masih merasa jika Muti ini pacar kecilku seperti mama dan maminya ejek dulu," ucap Rian seketika. "Pasti mama sangat senang jika bertemu dengan Muti, kalian akan aman disini. Aku yang jamin segalanya! Apa yang kalian butuhkan tinggal minta ke pelayan rumah ini," ucap Rian dengan menepuk-nepuk kedua tangannya, membuat seketika para pelayan yang ada di villa nya keluar. Mungkin jika dihitung total nya ada sekitar sepuluh atau dua belas orang dengan para supir dan satpam.


"Apa ini di istana? Atau kamu seorang anak manja yang tidak biasa mandiri? hingga kamu butuh semua ini untuk melayanimu," ucap Sam meledek ke arah Rian.

__ADS_1


"Setidaknya berterima kasihlah denganku, karena aku kamu tidak perlu lari atau berantem dengan para pesuruh papimu, yang masih berkeliaran di jalan. Apa dia lupa ini di daerah mana? Hingga dia banyak menyebar kotoran di pinggir jalan," ucap Rian yang menyinggung papinya Sam.


"Apa kamu bisa menjaga mulutmu? Mau bagaimanapun dia tetap papaku," balas Sam Protes.


"Ah, Sekarang kamu bilang dia papimu! Tapi jika kamu tahu akan pekerjaan kotornya, aku rasa kamu tidak akan mau lagi mengakuinya sebagai papimu," ucap Rian dengan nada menantang dan berdiri di hadapan Sam.


Sam mencoba menarik lengan baju Rian, akibat tidak senang akan perkataan Rian yang menyinggung papinya itu, hingga para anak buah Rian pun hendak mendekat. "Lepas Kak," ucap Mutiara takut melihat tatapan para anak buah Rian yang hendak menarik Sam. " Kak," pekik Mutiara lagi.


Namun Rian membuat gerakan dari tangannya, menandakan stop. Sehingga para anak buah Rian tetap berdiri, menjaga-jaga keduanya takut-takut jika Sam berbuat nekat dan memukul Rian.


"Kak, sudah," ucap Mutiara melerai keduanya, yang masih saling melempar tatapan kebencian.


Sam pun melepaskan tangannya dari lengan baju Rian yang dia tarik tadi. "Ingat jangan sesekali kamu memburuk-buruk kan papiku, mau bagaimanapun dia kejamnya. Dia tetap papa ku" ancam Sam yang di balas senyuman oleh Rian.


"Yok, kita pergi dari sini," ujar Sam yang menarik tangan Mutiara, namun tangan Mutiara yang satunya di tarik oleh Rian.


Mutiara pun melihat ke arah Rian yang diikuti tatapan Sam. "lepaskan tanganmu," titah Sam terhadap Rian.


Rian tidak menggubris Sam, dia menarik tangan Mutiara seolah tidak mengizinkan Mutiara pergi.


"Jangan pergi! Aku minta maaf Sam, jika kamu tetap pergi nyawa Mutiara akan terancam di luar sana, papmu tidak akan membiarkan Mutiara hidup. Karena Mutiara telah membuatnya marah. Aku tahu betul tentang papimu Sam. Jadi tetaplah tinggal disini sampai kapanpun kamu mau," ucap Rian yang kemudian pergi berlalu ke kamarnya.


"Tunjukkan mereka kamar mereka, dan jangan biarkan mereka pergi" perintah Rian dengan lantang, membuat seolah semua anak buah Rian menghadang jalan mereka menutup semua pintu keluar.


"Ah, siapa juga mau pergi, tunjukkan aku dimana kamar kami" ucap Sam seketika yang membuat para pelayan mulai mengantar Sam ke kamarnya masing-masing.


"Ini Den, ini kamar Den dan sebelahnya kamar Non Mutiara," ucap sang pelayan dengan ramah dan membuka pintu kamar untuk mereka.


Sam menatap jika kamar mereka terpisah, membuat Sam seolah ingin protes.


"Lalu dimana kamar si brengsek?" tanya Sam yang tidak takut dengan para anak buah Rian yang sudah mengatai bosnya.


"Oh den Rian, kamarnya di bagian bawah," ucap sang pelayan. "Silahkan masuk Non" ujar sang pelayan itu lagi yang membuat Mutiara masuk ke dalam dengan di ikuti oleh Sam.


"Maaf Den, kamar Den yang di sebelah, den Rian menyuruh kami menyediakan dua kamar Den" Protes sang pelayan yang melihat Sam masuk ke dalam kamar Mutiara.


"Bilang dengannya tidak usah repot-repot aku bisa tidur disini dengan Mutiara, aku takkan membiarkannya sendiri, apalagi aku belum mengenal betul akan tuanmu itu," balas Sam dengan Protes.


"Tapi Den, den rian akan marah jika Den tidak menjalani perintahnya, mari ikut saya Den. Kami akan mengantar Den ke kamar Den," masih sahut pelayan yang membuat Mutiara hanya terdiam melihat Sam tengah Protes dengan sang pelayan. "Walau sebenarnya Mutiara juga takut tinggal sendiri di kamar yang begitu luas ukuran nya, mungkin ukuran kamar ini setara dengan ukuran rumahku yang dulu," batin Mutiara di dalam hatinya,


Sam berjalan ke arah para pelayan dan menarik mereka satu persatu keluar.


"Pergilah dari sini jika tuanmu marah bilang dengannya untuk menemuiku saja, apa niatnya memisahkan kami berdua? aku dan Mutiara juga akan segera menikah jika waktunya sudah baik. Jika aku sudah tidak jadi buronan papiku," ucap Sam kepada para pelayan itu dan menutup rapat pintunya.


"Apa aku tidak salahkan Mutiara? Jika aku harus tidur sekamar lagi denganmu, aku tidak mau lengah dalam mengawasimu, kamu harus selalu dalam pantauan ku.


"Tidak Kak, kamarnya juga sangat luas Kak," ujar Mutiara.


"Umh, Kakak jadi penasaran, siapa sebenarnya dia? dan apa pekerjaanya? sudah Muti Kakak mau istirahat dulu, kunci pintunya. Dan jangan keluar tanpa seizin Kakak! Ingat jika kamu mau keluar Kakak harus tahu, bangun Kakak jika Kakak tertidur dan terjadi seseorang denganmu" ucap Sam yang memilih sofa untuk tempat berbaringnya.


"Kak," ucap Mutiara yang melihat Sam Memilih tidur di sofa itu.

__ADS_1


"Sudah Mutiara, jangan berpikiran yang aneh, Kakak tidak akan melakukan itu, kamu adik Kakak," ucap Sam dengan mulai menutup matanya.


"Ah … apa dia pikir aku seorang wanita yang haus akan kehangatan, hanya karena aku tengah hamil. Apa kak Sam pikir aku ini wanita murahan, maafkan aku kak jika aku kasih tau keadaan sebenarnya mungkin kakak akan marah dan membunuh ayah dari bayi ini. Yang tidak lain musuhmu kak, yang hanya ingin menghancurkanmu kak," ucap Muti dengan meneteskan air matanya itu.


__ADS_2