
Bab 50
Termakan api cemburu
Senyuman ini tiada lagi mekar, hati ini terbakar api cemburu. Kenapa kak Rian tidak memikirkan perasaanku sedikit saja. Bahkan mereka berdua seolah tidak menganggap keberadaanku. Aku harus bagaimana? Aku tidak sanggup melihat suamiku sedang merangkul wanita lain.
"Mutiara, suruh bibi bersihkan kamar! Biarkan Cantika malam ini tidur disini," ujar kak Andika yang tidak melihat mimik wajah sedih dari rona wajah ini.
Aku tidak menyahuti perkataan kak Rian, aku lebih memilih mengikuti keinginannya hingga aku berjalan ke arah kamar bibi.
"Bik, tolong siapkan kamar satu," titahku yang mulai pergi.
Aku tidak berniat untuk kembali ke arah mereka yang tidak memperdulikan betapa sakitnya hati ini.
Aku kembali masuk ke kamar, dan mencoba memejamkan mata ini. Bagaimanapun aku mencoba menutup mata, tapi bayangan tentang mereka berdua masih melekat di ingatan ini.
Argh, apa yang harus aku lakukan? Kenapa kak Rian belum juga pulang ke kamar? Melihat jam sudah mendekati pagi dan kak Rian belum juga kembali. Membuatku memilih melihat kak Rian.
Aku mencari ke ruang tengah dan tidak juga kudapati keberadaannya, membuat pikiran ini terlintas sesuatu yang bodoh. Apa kak Rian tidur di kamar Cantika? Untuk meyakinkan hati aku memilih mulai berjalan ke arah kamar Cantika. Dan kudapati hanya Cantika yang tidur di ranjang itu.
Kemana kamu Kak? Apa kamu di ruangan kerjamu? Tanyaku lagi pada diri ini, hingga ku memilih melihat kak Rian ke ruang kerjanya. Tidak ada, dimana kamu kak? Aku kembali lagi bertanya pada hati yang tidak juga menemukan kak Rian.
Apa dia pergi keluar? Argh ah. Aku sebaiknya kembali ke kamar.
Klekkk
Aku melihat kak Rian yang sedang tertidur di atas ranjang itu. Semenjak kapan kak Rian tertidur disitu. Aku yakin aku tidak salah, tadi! Argh, kamu kenapa Mutiara? Mungkin aku terlalu letih atau hati ini yang terlalu berlebihan.
"Maafkan aku kak Rian," bisikku di telinganya hingga aku memberikan kecupan kecil padanya yang tengah tertidur lelap.
Aku melingkarkan tangan ini di badannya, membiarkan tubuh ini memeluk erat tubuhnya, hingga aku merasakan aura nafas yang begitu dekat denganku. Dengan manja tangan ini memegang bibirnya yang terlihat merah merona.
"Sudah Mutiara, aku ngantuk," lirihnya yang menangkap tangan ini dan membalikkan badannya.
Kenapa dia mengacuhkanku lagi? Argh aku mungkin berlebihan. Badanku dan badannya saling memunggungi, tapi tetap saja mata ini sulit terpejam. Aku ingin sekali kak Rian memelukku tidur.
Badanku terasa resah yang merasakan kedinginan, maklum saja di luar tengah hujan. Aku menarik selimut itu, hingga kak Evan membalikkan badannya dan memelukku.
Aku tersenyum menatapnya yang memeluk seperti yang kuinginkan.
"Kak," panggilku ke arah kak Rian.
"Aku takut petir," lirihku waktu itu.
__ADS_1
Sekilas bayangan lalu antara aku dan kak Sam terbayang di ingatan ini. Membuatku merindukannya. Sama halnya saat hujan tengah turun begitu lebat, kak Rian datang memelukku dan menenangkanku.
Kamu masih ingat juga kak, jika aku takut akan hujan. Lirihku dalam hati yang mulai memejamkan mata ini.
*******
Pov Rian dan Cantika
"Kamu sudah bangun Rian, dimana Mutiara?" tanya Cantika yang melihat kedatangan Rian ke ruang maka itu.
"Mutiara masih tidur, aku tidak enak mengganggunya, apa kabar kamu sayang pagi ini? Kamu jangan nekat dong, kita kan bisa bertemu diluar."
"Tapi aku ingin dekat denganmu selalu sayang!"
"Tapi ini berbahaya untuk rumah tanggaku, kamu pulang yah! Aku akan menemui lebih sering lagi kok," ujar Evan yang menegang tangan Cantika itu.
"Tapi apa yang kita lakukan tadi malam sangat seru sayang, apa kita bisa melakukannya lagi di kamar itu. Kenapa aku merasa nyaman tinggal di kamar itu yah?" Balas Cantika.
"Yang, apa kamu ingin rumah tanggaku hancur dengan Mutiara?"
"Kan aku bisa menggantikannya!"
"Ku cukup jadi selingkuhanku saja," balas Rian yang mendengar suara langkah kaki Darul yang datang bersama Mutiara.
"Selamat pagi Mutiara, maaf aku langsung makan aja tanpa permisi," ujar Cantika yang berbasa-basi ke arahku.
"Tidak apa Cantika, Kak Rian, maafkan aku! Aku telat bangun Kak."
"Tidak apa-apa sayang, aku melihat kamu sangat letih, hingga aku memutuskan untuk tidak mengganggu tidurmu," balas kak Rian yang menarik kursi yang disebelahnya untukku.
"Sini duduk sayang," titahnya lagi dan mengambil Darul duduk bersamanya.
"Anak Papa mau makan apa?"
"Mau roti," balas Darul.
"Sini sayang duduk, biar papa melanjutkan makannya," panggilku yang mengambil darul itu dari pangkuan kak Rian.
Tidak ada yang berbeda, aku aja yang berlebihan. Aku tersenyum melihat kak Andika yang memanjakan Darul, sekilas bayangan dan pikiran buruk yang selalu menghantui benak ini menghilang. Melihat perhatian kak Rian yang masih tetap sama. Jadi apa yang aku takutkan.
"Papa berangkat kerja dulu ya sayang, Cantika aku tinggal," ujar kak Rian yang tampak biasa terhadap Cantika.
Kak Rian meninggalkan kecupan kecilnya di kening ini di hadapan Cantika.
__ADS_1
Iya kan, aku saja yang berlebihan. Kak Rian tidak mungkin menghianatiku. "Ayo kak Cantika," ujarku yang melihat wajah masam di wajah kak Cantika.
"Kak, apa Kakak sedang ada masalah dengan kak Sam, maafkan Mutiara Kak, bukannya maksud ingin ikut campur. Mutiara siap kok menjadi pendengar Kakak."
"Oh iya, makasih," balas kak Cantika dengan gaya acuhnya, hingga aku melihat kak Cantika kembali masuk ke dalam kamarnya itu.
Melihat sifatnya yang kembali seperti semula membuat hati ini bertanya, kenapa tadi sifatnya lembut dan kini berubah acuh? Apa aku perlu bertanya terhadap kak Sam? Apa kak Sam masih ada dirumahnya? Argh, apa yang terjadi? Perasaan ini kembali tidak tenang dengan situasi yang tengah aku hadapi.
Aku berada dalam kebimbangan di teras itu. "Ada apa Mama? Yok kawani Darul main mainan Mama," panggil Darul yang membuatku membatalkan niatku.
Aku menemani Darul bermain bola bersama sang bibi, hingga tiada terasa hari semakin siang. Aku kembali ke kamar dan membersihkan diri.
"Mama ayo kita makan," ajak Darul yang membuatku memilih mengikuti kemauannya.
Aku melihat kak Cantika yang sudah terlebih dahulu duduk di ruang makan itu, dia tidak melihatku bahkan menyapaku.
"Bibik! Ambilkan minum!" Pekik kak Cantika yang membuatku dan Darul terdiam melihat kak Cantika yang memanggil sang bibi.
"Ini Non," ucap bibi dengan begitu takut ke arah Cantika.
"Kamu lelet bangat sih kerjanya, Mutiara! Orang seperti ini pantas diberhentikan, harus dipanggil baru datang. Aku ingin kamu memecatnya," ujarnya dengan nada marah.
"Jangan non, maafkan Bibi," lirih bibi dengan nada menangis.
"Kamu apaan sih Kak, sudah Bibi! Bibi kembali kebelakang, Mutiara tidak akan memecat Bibi kok. Maafkan Mutiara yah Bi."
"Makasih Non," balas sang bibi dengan wajah yang cukup bahagia.
Beda halnya dengan kak Cantika yang menampakkan wajah marahnya ke arahku.
Byurrr
Kak Cantika menyiram air minum itu ke wajahku.
"Kak, apa salahku?"
"Salahmu, karena kamu selalu menjadi penghalang," balas kak Cantika yang memilih pergi dan meninggalkan aku di ruang makan itu.
"Mama tidak apa?"
"Tidak sayang," balasku terhadap Darul yang mengepalkan tangannya berbentuk tinju. "Mama tidak apa-apa sayang," aku mencoba menenangkan Darul yang tengah terbawa emosi.
"Darul sayang dengan Mama," ujarnya lagi yang menghapus air mata yang terlanjur jatuh di pipi ini.
__ADS_1