
Bab 41
Ini tidak boleh terjadi
Mutiara yang terbawa perasaan hanya pasrah dengan gerakan tangan Sam yang menjarah di sekujur badannya itu. Dengan nikmat Sam melahap lembut bibir Mutiara dimana sang pemilik juga merelakan Sam menikmati tiap inci bibir lembut Mutiara.
Kali ini giliran tangan Sam yang bermain ke daerah gunung kembar milik Mutiara.
Mutiara hendak menepis tangan Sam, tapi Sam menahan kedua tangan Mutiara.
Sam sangat terbawa suasana, hingga dia mulai melepaskan penutup badannya itu. "Kak," panggil Mutiara yang mencoba menyadarkan Sam. "Kak, jangan," masih ucap Mutiara yang melihat Sam hendak melepaskan penutup badan Mutiara. Melihat wajah dan mata Mutiara yang seakan menampakkan raut wajah takut, hingga Sam memilih menghentikan aktivitas bercintanya yang hampir saja iya lepas.
Sam lari dari badan Mutiara. "Argh, maafkan aku Mutiara, ini tidak boleh terjadi," lirih Sam yang tersadar dan kembali mengenakan pakaiannya itu.
"Kamu pergilah Mutiara, aku ingin keluar, oh ya soal tadi. Aku minta kamu melupakannya dan anggap tidak pernah terjadi apa-apa. Maafkan aku Mutiara," masih ucap Sam yang tidak sanggup menatap wajah Mutiara, sehingga Sam memilih masuk ke dalam kamarnya.
Aku menatap kak Sam yang tidak berani menatap ke arahku, hampir saja dia melepaskannya. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika tadi aku tidak tersadar? Tapi kenapa aku terbawa suasana dan ingin merasakannya. Argh Mutiara kamu mulai lagi kan? Kamu harus sadar jika kamu memiliki Rian, seseorang yang harus kamu jaga dan sayangi.
Aku kembali menuju rumah, dan bayangan akan kejadian tadi tidak bisa hilang di benak ini. Aku mencoba untuk tidak memikirkannya dan bagaimanapun aku mencobanya tetap saja aku masih merasakan lembutnya tangan kak Sam yang menjarah di badan ini dan kecupan bibirnya yang terasa berbeda dengan yang Rian berikan.
Aku memilih membasahi badan ini di bawah pancuran shower itu, menenangkan hati yang tidak henti berdetak kencang dan pikiran yang tidak mau lari dari bayangan wajah kak Sam.
Klekk
"Mutiara, Mutiara!" Panggil Rian dari dalam kamar itu.
__ADS_1
"Aku tengah mandi Rian," balasku dari dalam kamar mandi itu.
"Ya sudah mandilah dulu!"
"Aneh, biasanya jika mendengar aku sedang mandi apa lagi harinya masih sore seperti ini, dia pasti akan datang dan mengganggu. Kenapa akhir-akhir ini dia tampak berbeda yah? Apa yang dikatakan kak Sam itu benar. Jika dia tengah selingkuh. Argh itu tidak boleh terjadi.
Aku keluar dari dalam kamar mandi itu, dengan mengangkat handukku agak ke atas, hingga pahaku yang mulus terlihat dan menggoda. Aku sengaja melakukan ini ingin melihatnya, apa dia akan mendekat atau dia sudah mendapatkan kepuasannya di luar.
Kenapa dia hanya diam saja dan lebih memilih memantau telepon selulernya itu, apa itu benar? Aku harus melakukan apa yah, agar dia mau melirik? Oh iya aku ingat.
"Auw, argh ahh … Rian tolong," ujarku yang berakting ketakutan di hadapannya itu, hingga dia berjalan ke arahku.
"Ada apa Mutiara?"
"Ada kecoa, aku takut," balasku yang meloncat ke arahnya, hingga handuk ini terbuka di hadapannya.
Wkwkkkk
Dia memilih memilih mengabaikanku, aku tidak percaya akan ini, apakah kak Rian benar-benar selingkuh? Aku tidak akan memaafkanmu kak Rian andai hal itu terjadi.
Pikiran ini yang tadinya tertuju ke arah Sam, mendadak berpaling memikirkan sifat Rian yang berubah ke arahku, aku tidak percaya jika dia akan bersikap dingin ke arahku.
"Kamu kenapa Mutiara menatapku seperti itu, apa ada yang salah?"
Aku menggelengkan kepalaku ke arahnya, apa aku bilang terus terang yah? Jika dia sudah satu bulan lebih tidak menyentuhku dan mengacuhkanku, dimana dia terbiasa memintaku melepaskan hasratnya setiap saat kapanpun dia minta. Tapi kenapa kali ini berbeda? Argh, aku wanita memiliki harga diri, tidak mungkin bagiku meminta dan menggodanya.
__ADS_1
"Kamu kenapa sayang," masih ujarnya yang menempelkan kecupan kecil di pipi ini, dan tangannya yang mulai memegang paha ini. Apa dia akan melakukannya? Argh, aku nya saja yang terlalu berlebihan, aku melempar senyum ke arah Rian yang sepertinya akan membiarkannya lepas malam ini. Hingga aku menyiapkan diri sebaik mungkin, aku sudah rindu melakukan surga dunia yang seperti mereka katakan.
Benar saja, Rian mulai menempelkan bibirnya di bibir ini, hingga aku memejamkan mata menikmati setiap kecupan manis yang diberikannya itu.
Ditambah tangannya yang mulai menjarah di gunung kembar milikku. Aku terbawa suasana akan permainan yang akan dia ciptakan.
Dering dering ….
Bunyi telepon selulernya yang berdering
"Tunggu sebentar yah sayang," ujarnya yang berdiri dari sebelahku.
Jangan tanya akan kekecewaanku kali ini, dia membuat rasa ini menaik dan ingin melepaskannya. Tapi, dia pergi ke arah luar dengan membawa telepon genggam yang tadi berdering.
Aku kembali membenarkan baju ini dan mencoba menyusulnya. "Baik aku akan datang segera, kamu tunggu disitu," ujarnya yang terdengar jelas ditelinga ini.
"Kak Rian," panggilku ke arahnya.
Kak Rian mengacak rambut ini. "Aku harus pergi Mutiara, kamu jangan menungguku! Oh iya besok mama akan datang membawa anak kita. Agar kamu tidak lagi kesepian jika aku tinggalkan," ujarnya yang memilih masuk ke dalam mobilnya.
Kenapa kak Rian tidak memakai supir, tidak biasanya? Argh, kenapa dia membiarkan aku menahannya lagi sih!! Aku berdecak kesal ke arah kak Rian yang pergi meninggalkanku. Ingin rasanya aku berlari ke arah kak Sam lalu menangis di pelukannya.
"Apa kamu berkhianat kak Rian?" Melihat cara Rian membuat hati ini bertanya, bagaimana jika itu benar dan dia akan meninggalkanku. Aku harap itu jangan terjadi dan Kali ini lagi-lagi aku harus menahannya sendiri.
"Aku tidak boleh berpikiran sesuatu yang buruk, hanya akan membuat hatiku sedih. Apa tidak sebaiknya aku memejamkan mata ini saja," pikirku yang kembali melelapkan mata ini.
__ADS_1
Walau seakan sulit membiarkan rasa yang sedang memuncak kembali seperti sedia kala.