
Bab 29
Apa yang kamu lakukan
"Apa kamu sudah selesai Mutiara?" tanya Rian ke arahku yang sudah tidak sabar melihat rumah lamaku. Rumah dimana aku tumbuh besar dan mengenal kak Sam.
Aku mengambil tangan Rian yang sudah rapi dan siap untuk pergi, kugandeng tangannya menuju ke arah mobil. Aku benar-benar tidak sabar ingin melihatnya segera. Walau rumah itu tidak lagi bisa aku miliki.
"Aku akan tetap berusaha Mutiara agar bisa memiliki rumah itu lagi," lirihnya yang melihatku begitu bersemangat. Aku membalas senyum ke arah Rian, hingga dia membalas senyumanku dengan mencoba meyakiniku lagi.
Sesampainya di depan rumah lamaku itu, betapa sedihnya hatiku melihat sebuah mobil penghancur Excavator (Bego) sudah siap di depan terasku. Sehingga aku berlari ke arah depannya. Aku merentangkan kedua tangan ini di depan mesin yang sudah menyala dan hendak berjalan. "Stop!" Pekikku dengan keras di depan alat penghancur itu.
"Awas Mutiara," ujar Rian yang melihat keberanianku.
Aku tidak peduli, tatapanku tajam ke arah sopir alat berat tersebut. Sehingga beberapa orang mencoba menyuruhku lari dari depan alat berat itu.
Rian berlari ke arahku. "Awas Mutiara," ujarnya yang mencoba menarik tangan ini, tetap saja aku tidak menghiraukannya. Aku menepis tangan Rian yang mencoba melerai ku dari depan alat berat yang hendak menghancurkan rumah peninggalan almarhum papa.
"Tidak kkk … aku mohon jangan hancurkan," tangisku yang berurai air mata.
Aku sangat sedih melihat rumah yang baru aku tinggalkan empat tahun lamanya, dan kini seseorang ingin menghancurkannya.
"Awas Mutiara," masih pinta Rian.
Sementara wajah mereka menatapku dengan marah, karena aku telah mengganggu pekerjaan mereka.
"Awas Nona, kami hanya menjalankan perintah pak Sam," ujarnya yang membuatku semakin sedih.
Kenapa kak Sam begitu tega denganku, apa salahku, kenapa dia begitu membenciku? Sehingga dia ingin menghancurkan rumahku. Bukankah dia tahu rumah ini sangat berarti bagiku.
"Kamu jahat kak Sam," pekikku dengan keras, aku berdecak kesal mengingat kak Sam yang begitu tega padaku.
"Aku akan menghubungi Sam," ujar Rian terhadap mereka. Rian mulai melakukan panggilannya terhadap Sam. Menghubungi kak Sam dengan melakukan panggilan video call.
"Ada apa Rian? Aku tengah kerja," jawab kak Sam begitu acuh terhadap panggilan Rian.
"Coba lihat, apa ini rencanamu," balas Rian yang menunjukkan ke arah Mutiara yang masih protes di depan alat berat itu.
"Mutia! Apa yang terjadi?" tanya Sam yang tidak percaya dengan apa yang dilihat.
Mutiara sedang menangis di depan rumah lamanya, membuat Sam sangat kuatir dan sedih.
__ADS_1
"Aku akan segera kesana," ujar Sam yang mengakhiri panggilan singkat itu.
"Tapi kami tidak punya waktu untuk menunggu lagi, kami harus segera menghancurkannya. Tolong jangan persulit pekerjaan kami," ujar pekerja itu yang mulai emosi.
Salah satu dari mereka ingin menarik tangan ini dari hadapan alat berat itu. "Jika ada yang berani menyentuhnya, maka kalian aku bunuh," ancam Rian terhadap mereka yang seolah tidak merasa takut.
Mereka melempar tawa ke arah Rian, mencemooh Rian yang hanya sendiri, sedang mereka berlima dan memiliki badan berotot yang kekar. Tidak sebanding dengan tubuh Rian yang seperti model.
"Ha ha ha … dia menggertak kita ha ha," lirih salah satu dari mereka yang tetap mencoba menarik Mutiara.
"Awas, jangan … aku tidak mau," lirih Mutiara yang memberontak. Sementara Rian menunjukkan raut wajah marah dan hendak berjalan ke arah pria itu.
Hiya ….
Hampir saja pukulan Rian sampai terhadap pria yang hendak menyentuh Mutiara. Karena mendengar suara mobil Sam yang datang.
"Kak Sam," panggil Mutiara dan membuat semuanya menatap ke arah Sam yang turun dari mobilnya itu.
Sam menarik tangan Mutiara dari arah depan alat berat itu. "Kak, Mutiara tidak mau! Jangan hancurkan rumah Mutiara, Kak," lirih Mutiara protes.
Mutiara menggigit tangan Sam, dan kembali berlari ke depan mobil alat berat itu. "Tidak ada yang boleh menghancurkan rumah almarhum papa!" Pekik Mutiara yang membuat mata Sam berbinar.
"Sam, tolong pakai hatimu! Jangan hancurkan rumah Mutiara, aku akan membayar rumah ini berapapun nilainya. Asal kembalikan kepada Mutiara rumah ini Sam," lirih Rian dengan nada sayu.
Rian tidak sanggup melihat Mutiara yang begitu sedih. "Aku tidak butuh duitmu! Dan berapapun kamu tawarkan nilainya, aku tidak akan menjualnya," balas Sam yang berjalan ke arah mereka yang membawa alat berat itu.
"Siapa yang telah menyuruh kalian menghancurkan rumah ini?" tanya Sam ke arah mereka dengan begitu marah.
"Papi Anda Pak," balas salah satu dari mereka.
"Papi," lirih Sam tidak percaya.
Sam melempar senyum simpul pada dirinya sendiri, mengenang papinya yang begitu tega terhadapnya. "Pulanglah, bawa semua ini dari hadapanku," titah Sam terhadap mereka semuanya.
"Tapi, Pak!" Lirih orang itu yang protes ke arah Sam.
"Apa kamu tidak mendengarku?" tanya Sam ulang.
Salah satu dari mereka menghubungi papi Sam, sehingga terlihat oleh Sam. "Papi, kita perlu bicara! Suruh mereka semua pergi dari sini, sebelum Sam menghancurkannya," ancam Sam terhadap sang papi.
"Ayo," ajak salah satu mereka memberikan isyarat tangan ke arah yang lain, hingga mereka memilih pergi dari rumah lama Mutiara dengan membawa semua peralatan mereka.
__ADS_1
"Sam," panggil Rian yang ingin membujuk Sam lagi. Tapi Sam tidak menoleh ke arah Rian yang sedang memanggilnya, bahkan Sam juga tidak menoleh ke Mutiara itu.
"Kak Sam!!" Pekik Mutiara yang melihat Sam masuk ke dalam mobilnya.
Mutiara berlari ke arah Sam yang hendak masuk ke dalam mobil itu. "Kak," panggil Mutiara dengan tangisannya.
Mutiara menahan pintu mobil Sam, memandang Sam dengan uraian air mata. Tapi tetap saja Sam tidak menghiraukan Mutiara yang sedang berdiri di sebelahnya.
Sam menepis tangan Mutiara dari pintu mobilnya, dan memilih masuk ke dalam mobil itu. "Kak Sam!!" Pekik Mutiara semakin kencang, melihat Sam yang menyalakan mesin mobilnya.
"Aku mau bicara Kak, buka pintunya Kak!" Masih dengan tangisan Mutiara menggedor-gedor pintu mobil itu.
"Sudah Mutiara," ujar Rian yang mencoba menarik Mutiara dari samping mobil Sam.
"Tidak … Kak Sam! Apa salahku Kak!! Kenapa Kakak begitu membenciku," ujar Mutiara yang berlari ke arah depan mobil Sam yang mulai pergi itu.
Pakkkk
Badan Mutiara tertepis oleh mobil Sam yang hendak memutar arah, Mutiara tiba-tiba berlari ke arah mobil Sam. Membuat Sam tanpa sengaja menabrak tubuh kecil Mutiara.
"Kak,"
Badan Mutiara mengenai badan mobil Sam, sehingga Mutiara terluka dan mengeluarkan beberapa cairan pekat merah berbau amis dari sekujur badan Mutiara. Membuat Mutiara pingsan dan tertidur di atas aspal itu.
"Mutiara!" Pekik Rian seolah tidak percaya melihat Mutiara yang jatuh pingsan dan terluka.
Begitu juga dengan Sam, dia berlari dari dalam mobilnya. Melihat wanita yang dia sayangi terluka akibat ke egoisan nya.
"Maafkan aku Mutiara!!" Pekik Sam yang ingin mengangangkat tubuh Mutiara.
Rian mendorong tubuh Sam dari Mutiara. "Apa kamu sudah puas Sam?" tanya Rian yang sangat marah ke arah Sam yang juga terpukul melihat adik angkatnya itu terluka.
"Maafkan aku Rian," lirih Sam menyesali perbuatannya.
"Aku minta kamu jangan pernah menemui Mutiara lagi," ancam Rian yang mengangkat tubuh Mutiara ke dalam mobilnya.
"Rian," panggil Sam yang melihat tubuh Mutiara sudah terletak di dalam mobil Rian.
Rian mendorong badan Sam dari sebelah mobilnya. "Urusan kita belum selesai Sam," ancam Rian yang mulai melajukan kendaraannya ke arah rumah sakit itu.
"Mutiara!!" Pekik Sam pecah melihat Mutiara yang sudah dibawa oleh Rian. "Maafkan aku Mutiara, maaf," tangis Sam menyesali perbuatannya.
__ADS_1