
Bab 42
Mulai membohongi
Pagi ini telah datang menyapa, aku menatap ke arah depan. Kak Rian belum juga pulang, kemana dia? Pikirku yang bertanya dalam hati ini. Menatap dia yang tak kunjung pulang. Tidak biasanya dia pulang hingga larut pagi, apa terjadi sesuatu?
Aku menunggunya dengan keresahan di depan rumah, hingga aku melihat mobil kak Sam yang lewat. Dan dia sedang menatap ke arahku.
Aku memalingkan pandanganku darinya, hingga kulihat mobilnya sudah pergi berlalu.
"Itu dia mobil kak Rian, kenapa dia baru datang? Aku berjalan ke arahnya yang baru saja turun dari mobil itu.
"Maafkan aku Mutiara, aku tertidur di kantor," ujarnya yang belum sempat aku bertanya ke arahnya.
"Baiklah Kak, apa Kakak sudah sarapan? Mari ikut aku Kak."
"Aku mau langsung mandi saja Mutiara, aku takut kesiangan ke kantor! Hari ini aku ada pertemuan penting."
"Tapi Kak, Kakak baru saja pulang dari kantor loh! Masak mau pergi lagi Kak? Istirahat sebentar Kak, aku tidak ingin Kakak sakit karena kelelahan. Mutiara siapkan air panas lagi yah. Terus Kakak harus minum vitamin agar badan Kakak selalu sehat. Sebentar Mutiara siapkan," aku bergerak dari sebelah kak Rian, hingga dia menahan tangan ini.
"Aku sayang denganmu Mutiara," ujarnya yang memelukku begitu erat.
Aku meneteskan air mata hingga jatuh ke tangannya, andai orang yang memeluk dan berkata sayang ini padaku adalah kak Sam, mungkin aku orang yang paling bahagia di muka bumi ini.
"Kamu kenapa Mutiara?" Rian menegakkan wajah ini, lalu menghapus air mata yang sempat jatuh ke tangannya.
Cup
Dia menempelkan bibirnya ke arah kening ini. "Apa aku yang membuatmu menangis Mutiara? Maafkan aku, hari-hari ini aku tidak memiliki waktu untukmu. Aku tidak akan pergi ke kantor hari ini, aku ingin membawamu kemanapun yang kamu minta."
"Kamu serius Kak rian."
"Hmmm," jawabnya dengan menganggukkan kepalanya ke arahku, membuatku menangis terharu ke arahnya.
Aku merebahkan badan ini di pelukannya lagi, dan dia masih setia menyapu rambut ini dengan tangannya yang halus.
"Mari Kak, Mutiara akan menyiapkan air mandi untuk Kakak," ujarku yang menegang mesra tangannya itu menuju arah kamar.
Kak Rian menarik tangan ini, hingga tubuh ini terhempas di atas ranjang itu. Aku melihat dia yang mulai menanggalkan satu persatu pakaiannya ke arahku.
"Kak," ujarku yang mencoba berdiri, tapi kak Rian mendorong tubuh ini lagi ke atas ranjang.
__ADS_1
Aku tersenyum menatapnya, hingga dia mengunci mulut ini dengan bibirnya yang manis, aku menikmati tiap sentuhan lembut bibirnya yang sedang bermain di bibir ini.
Hingga dia hendak menjarah ke leher ini. "Sudah Kak, aku lagi …." ujar ku yang membuatnya menyentuh ketengah ke ************ ini.
"Kok tebal?"
Aku tersenyum ke arahnya yang menatap dia seolah berdecak kesal ke arahku. Dia tidak bisa melepaskan sensasi yang ingin keluar. Kenapa kamu tidak melepaskannya malam tadi. Batinku dalam hati menatap dia yang duduk di ujung kasur itu dengan wajah kekesalannya.
Jangan tanya juga tentang hati ini, tentu saja aku juga sedikit kecewa, dimana aku sangat ingin merasakannya. Tetapi semua terhalang dengan kedatangan langganan tiap bulan. Dan itulah keistimewaan wanita.
"Ayo Kak berdiri, aku akan siapkan air mandimu Kak."
"Tapi Mutia," ujar Rian yang menunjuk ke arah selangkangannya yang sedang berdiri itu. Aku menatapnya dengan menyimpan senyum yang ku coba tahan.
"Ayo Mutiara," ujarnya yang membuatku melotot ke arahnya.
"Ha," aku membuka mulut ini ke arah nya, hingga dia mendorong kepala ini ke arah selangkangannya.
"Ayo lakukan," masih ucapnya yang membuatku ingin sekali menolaknya.
"Kamu lihat apa lagi."
******
"Apa kamu sudah melupakan dia dihatimu Sam? Jika sudah, maka bertanyalah tentang hal apapun yang ingin kamu tanyakan Sam," balas Cantika yang memilih menyibukkan dirinya dengan berkas-berkas yang sudah tersusun di atas mejanya itu.
Sam yang tampak kesal mengambil semua berkas itu, lalu dia menjatuhkannya ke lantai. Membuat Cantika marah dan berdiri di hadapan Sam.
"Apa maksudmu Sam?"
"Seharusnya kamu sadar Cantika, kamu bagaikan kertas yang bertabur di lantai itu, lalu aku datang memungutnya," balas Sam dengan lantang ke hadapan Cantika.
Plakkkk
Cantika sangat marah akan pernyataan Sam itu, membuat Cantika memberikan hadiah tamparan keras ke pipi Sam.
"Arghhh Cantika!!!" Pekik Sam dengan keras membuat beberapa mata menatap ke arah Sam yang tengah ribut dengan Cantika itu.
"Ada apa Sam?" tanya sang papi yang mendengar keributan kecil itu.
Seperti biasa Cantika selalu berlari ke arah papi Sam, dengan drama tangisnya yang seolah sedang mendapat penyiksaan.
__ADS_1
"Papi, Sam membentak Cantika," lirih Cantika dengan nada tangisannya.
Papi Sam berjalan ke arah Sam yang menatap benci ke arah Cantika itu.
Plakkkk
"Papi, apa salah Sam?" tanya Sam seolah tidak percaya jika sang papi lebih mempercayai wanita yang baru beberapa bulan menjadi menantunya.
"Sudah Cantika, kamu jangan menangis lagi. Dan Papi rasa kamu tidak perlu bekerja lagi, kamu cukup menjadi istri yang baik untuk Sam."
"Tapi Papi, Cantika ingin bekerja Papi."
"Papi kagum denganmu Cantika, kamu pekerja keras, dan itu yang membuat Papi bangga memiliki menantu sepertimu. Rajin dan gigih," balas sang papi yang memberikan pujiannya itu.
"Terima kasih Papi," ujar Cantika dengan senyum terindahnya.
"Argh," Sam terlihat semakin kesal menatap ke arah keduanya.
"Kamu mau kemana Sam?"
Sam tidak menghiraukan papinya itu, hingga Sam tetap melangkahkan kakinya menuju ke dalam ruangannya lagi.
Papi Sam yang terlihat kesal menarik bahu Sam, hingga Sam menoleh ke arah papi.
"Kamu mau kemana?"
"Mau tidur Papi? Iya mau melanjutkan kerjaan Sam lah Papi!" balas Sam yang menepis tangan sang papi dari bahunya itu.
"Antar Cantika pulang, Papi tidak ingin calon cucu Papi kenapa-kenapa. Dia harus banyak istirahat," ujar sang papi.
Ingin rasanya hati ini berkata dengan papi, jika itu bukan anak Sam, tapi itu tidak mungkin. Hanya akan membuat malu papi di dalam perusahaan ini.
"Ayo Sam," masih ujar papi.
"Argh Papi, kenapa tidak pulang diantar oleh supir saja Papi."
"Sam!!" Pekik papi kian marah ke arahku.
"Baiklah Papi," balasku yang berjalan ke arah Cantika.
"Ayo, lekaslah! Agar aku bawa kamu ke neraka jahanam. Tempat nenek moyangmu," bisik Sam di telinga Cantika itu.
__ADS_1
"Sam," panggil Cantika dengan nada marah, membuat sang papi keluar dari ruangan Sam dan menatap ke arah Sam itu.
"Ayo sayang," lirih Sam terpaksa menggandeng tangan Cantika di hadapan sang papi.