
Bab 35
Mutiara berkunjung ke rumah lamanya.
"Kamu dari mana Cantika? Bukannya aku menyuruhmu untuk mempersiapkan bahan untuk di presentasi nanti, terus kenapa kamu baru datang?"
Cantika hanya melempar wajah kekesalan ke arah Sam, dan memilih kembali ke meja kerjanya tanpa menjawab ucapan Sam yang bertanya ke arahnya itu.
"Cantika, apa kamu tidak membersihkan telinga mu? Sehingga kamu tidak mendengar ucapanku yang berbicara padamu!"
"Argh," Cantika berdengus ke arah Sam yang marah akan Cantika, yang tidak menjalankan tugasnya sebagai seorang sekretaris.
"Cantika, Cantika!!" Panggil Sam dengan intonasi yang meninggi, membuat beberapa karyawan lain menatap ke arah Cantika dan Sam.
"Kamu ikut aku sekarang," titah Sam lagi yang mulai kesal akan ulah Cantika, yang tidak menghargainya sebagai seorang bos.
Membuat Cantika mengikuti Sam dari belakang menuju ke ruangan Sam itu.
"Cantika, jika kamu bersifat seperti ini terus, aku akan meminta papi untuk menggantikanmu sebagai seorang sekretarisku. Kamu sudah tidak menghargaiku Cantika! Kamu harus sadar jika diperusahaan ini. Kamu tidak lain sebagai karyawanku dan aku sebagai pimpinanmu! Ingat itu Cantika. Aku BOS mu bukan sebagai suamimu jika di kantor! Camkan itu!!"
"Kamu harus ingat juga Sam! Sebagai seorang suami, kamu tidak boleh menyimpan wanita lain di hatimu selain aku istrimu," balas Cantika yang memilih keluar.
"Cantika, Cantika aku belum selesai bicara Cantika!" Pekik Sam yang melihat Cantika yang berjalan hendak keluar. "Argh … Cantika!" Sam berdecak kesal ke arah Cantika.
*****
POV Mutiara
"Aku mendengar dari pak Agus, jika kamu tadi di aniayanya oleh Cantika! Apa itu benar Mutiara?"
"Tidak Kak, oh iya Kak Rian. Apa boleh nanti kita singgah ke rumah lama Mutiara? Mutiara ingin mengambil beberapa barang Mutiara di dalam kamar Mutiara Kak, aku dengar jika di rumah lama Mutiara sudah ada yang huni. Mutiara harap orang itu memberikan izin Mutiara masuk mengambil barang Mutiara Kak!"
"Kita pergi sekarang saja Mutiara, mumpung jamnya masih jam 4:30 menit. Kakak rasa orangnya pasti ada di rumah."
"Serius Kak?"
"Hhmmm," balas Rian menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih Kak," ujar Mutiara sangat bahagia, hingga dia menempelkan kecupan di pipi Rian untuk pertama kalinya.
"Kamu sudah nakal yah sekarang Mutiara!" balas Rian dengan senyum bahagia menatap Mutiara yang ceria. "Jika mau cium lagi bilang dong, agar Kakak menyiapkan diri," tambah Radit yang menggoda Mutiara.
"Aku senang sekali Kak."
"Baiklah Mutiara, ayo kita jalan," Rian menggandeng tangan Mutiara menuju arah mobilnya itu.
Ini kali pertama Rian menatap senyum yang lepas dari wajah Mutiara, dimana selama ini Mutiara menunjukkan kesan rasa keterpaksaan yang menerima Rian. Bahkan untuk berbincang-bincang santai dengan Rian saja Mutiara enggan, pikiran Mutiara seolah hanya tertuju ke arah Sam itu.
"Apa orangnya ada, ini Kak? Kok terlihat sepi yah," ujar Mutiara yang mengintip dari jendela kaca itu, dan menggedor pintu hingga pekerja Sam datang mempersilahkan Mutiara masuk.
__ADS_1
"Tunggu sebentar yah Non, ntar lagi tuan datang," ujar sang pekerja itu dengan menyeduhkan minuman kehadapan Mutiara dan Rian. "Silahkan di minum dulu Non, Tuan," tambah sang perkeja.
"Terima kasih Bik, oh iya Bik! Jika boleh tahu, di rumah ini yang nempatin siapa yah? Terus dia orang mana Bik."
"Oh itu Non, itu Pak …." ujar bibik tidak sampai karena melihat ke arah pemilik rumah yang datang. "Pak, itu dibelakang," tambah sang bibik yang menunjuk ke arah Sam.
"Kak Sam," ujarku yang menatap ke arah kak Sam yang baru datang bersama kak Cantika.
"Sam, Cantika," ujar Rian yang tidak percaya jika pemilik rumah inilah yang menempatinya, tapi kenapa bukankah rumah orang tua Sam jauh lebih besar dari rumah yang sedang ditempati Sam saat ini? Rian menatap rasa tidak percaya ke arah Sam.
"Apa yang membuat kalian datang ke sini? Jika untuk membujukku menjual rumah ini lagi, tentu aku tidak mau! Karena aku nyaman menempati rumah ini," balas Sam dengan angkuh, hingga duduk di hadapan Rian dan Mutiara yang berdiri menatap rasa tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Silahkan duduk," titah Sam yang melihat keduanya seolah mematung.
Sementara wajah Cantika menunjukkan tatapan ketidak senangan ke arah Mutiara yang datang menemui Sam.
"Apa kabar Cantika?" tanya Rian
"Baik," balas Cantika yang mengulurkan tangannya ke arah Rian.
"Oh iya Cantika, terima kasih sudah datang ke rumah dan mendorong Mutiara ke kolam, kamu tidak perlu takut jika Mutiara akan mengambil Sam darimu," ujar Rian yang membuat Mutiara menatap tajam ke arah Rian.
"Kak, kenapa Kakak tahu?" tanya Mutiara yang membuat Sam menatap marah ke arah Cantika.
"Apa kamu lupa sayang, jika di rumah aku pasang cctv yang menghubungkan langsung ke hp ku?"
"Jadi, Argh," Cantika berdecak kesal.
"Apa untungnya kamu bilang? Kamu membuatku gila Sam! Kamu meninggalkanku dulu untuknya," ujar Cantika yang menunjuk ke arah Mutiara.
"Maafkan aku kak Cantika," ujar Mutiara yang mulai sedih.
"Dan sekarang, dia datang Sam! Apa kamu akan meninggalkanku untuk kedua kalinya untuknya Sam? Terlebih sekarang kalian bisa bertemu setiap hari," masih sambung Cantika yang membuat kak Sam seolah bimbang.
"Aku kesini hanya ingin mengambil beberapa peralatanku Kak di dalam kamarku! Apa masih ada Kak, apa aku boleh masuk melihatnya Kak?" tanya Mutiara yang mengalihkan pembicaraan itu.
"Hhmmm … pergilah," balas Sam yang membuat Mutiara berdiri.
"Kak Cantika, Mutiara akan pergi Kak! Mutiara tidak akan mengambil Kak Sam dari Kakak! Kakak tidak usah takut, Mutia hanya ingin mengambil beberapa peralatan Mutiara yang penting Kak dan …."
"Kamu banyak bicara Mutiara! Bukannya Kamu mau mengambil barangmu? Pergilah sebelum aku berubah pikiran," ujar Sam yang memotong ucapan Mutiara.
"Baik Kak," balas Mutiara yang mulai masuk ke dalam, Cantika hendak berdiri dan mengikuti Mutiara.
"Kamu duduk Cantika! Biarkan dia sendiri yang mengambilnya, aku tidak ingin kamu mencari kesempatan lagi untuk melukai Mutiara."
"Sam!!" Pekik Cantika merasa marah ke arah Sam.
"Aku akan membantu Mutiara?" Rian memilih masuk dan membantu Mutiara mengumpulkan segala barang-barang Mutiara.
__ADS_1
"Apa ini juga Mutiara?"
"Hhmmm," Jawab Mutiara seolah sedang mencari sesuatu.
"Apa yang sedang kamu cari Mutiara? Aku akan menanyakannya ke Sam siapa tahu dia melihatnya," ujar Rian yang melihat Sam masuk kedalam kamar Mutiara itu.
"Apa kamu belum sudah Mutiara? Aku mau istirahat, apa kamu tidak bisa mempercepat pencarianmu Mutiara?"
"Sam, apa kamu mengusir kami?" ujar Rian marah ke arah Sam.
"Anggap saja seperti itu, karena aku benci dengan orang yang mengingkari janjinya."
"Argh Sam, kamu masih mengingat itu!"
"Aku beri kamu waktu sepuluh menit Mutiara, setelah habis waktu yang aku berikan. Tolong tinggalkan rumahku ini," ujar Sam yang membuat air mata Mutiara jatuh.
"Baik Kak," balas Mutiara yang menghapus air matanya itu. "Kak, apa Kakak melihat foto kedua orang tua Mutiara Kak?"
"Hhmm," balas Sam yang mengambilkan foto itu lalu menyerahkannya ke arah Mutiara. "Apalagi yang kamu cari Mutiara?"
"Ooh itu Kak," Mutiara memainkan jarinya seolah sulit untuk mengatakannya.
"Apa Mutiara? Cepat katakanlah."
"Buku catatan Mutiara Kak," ujar Mutiara yang seakan takut, jika Sam menemui buku itu dan tahu akan curahan isi hati Mutiara.
"Ooh buku itu, sudah aku buang! Kamu tidak butuh buku itu lagi Mutiara! Karena kamu sudah ada suami sekarang, jadi aku harap lupakan soal buku dan tulisannya," ujar Sam yang mulai menahan bendungan air mata yang akan jatuh.
"Tapi Kak, apa Kakak …."
"Aku harap kalian keluar sekarang, aku rasa apa yang kamu butuhkan sudah cukup Mutiara?"
"Ayo kita pulang Mutiara!" Rian membawa barang-barang Mutiara. "Ayo Mutiara," ujar Rian yang melihat Mutiara masih menatap Sam dengan mata yang mulai memerah.
"Keluar Mutiara!" pekik Sam yang melihat Mutiara tengah memperhatikannya.
"Tapi Kak," ujar Mutiara yang berjalan ke arah samping Sam.
"Apalagi Mutiara?" Pekik Sam yang masih mencoba mengendalikan dirinya agar tidak terlihat sedih di hadapan Mutiara.
"Mutiara ingin mengambil foto itu Kak," ujar Mutiara yang menunjukkan foto antara dia dan Sam.
"Tidak perlu, biarkan itu disitu! Sekarang kamu keluar!" Pekik Sam lebih keras membuat Rian datang dan terlihat marah ke arah Sam yang membentak Mutiara sedari tadi.
"Ayo Mutiara, ada apalagi sih Mutiara," ujar Rian yang menatap Mutiara yang seakan bimbang.
"Itu, tuh … argh ah, Kak … argh," ujar Mutiara yang terpaksa mengikuti Rian.
"Ayo Mutiara," ajak Rian yang membukakan pintu mobil itu untuk Mutiara.
__ADS_1
"Arrggghhhh!!! … MUTIARA!!!" Pekik Rian di dalam kamar Mutiara itu, membuat Mutiara ingin masuk kembali ke dalam melihat Sam.
"Ayo Mutiara," ujar Rian yang memaksa Mutiara masuk ke dalam mobil itu. Sementara suara pekikan Sam yang sedih masih terdengar jelas menggema di telinga ini.