
Bab 51
Lempar batu sembunyi tangan
"Papa," panggil Darul yang melihat kedatangan kak Rian,. Mendengar suara mereka membuatku berjalan ke arah kak Rian yang sedang menggendong Darul, tapi langkahku terhenti melihat kak Cantika yang terlebih dahulu berjalan ke arah kak Rian.
"Kamu baru sampai Rian?" tanya kak Cantika ke arah kak Rian.
Kak Cantika mengambil tas yang sedang di pegang kak Rian, membantu kak Rian melepaskan kancing baju tangannya. Melihat arah mereka yang saling bertatap pandang, membuat denyut nadi ini berdebar kencang. Apa yang aku lihat benar-benar membuat hatiku terbakar api cemburu.
Aku memilih membalikkan badan tidak sanggup lagi rasanya menatap mereka yang begitu akrab, tapi kak Rian memanggilku setelah melihat aku yang memilih pergi itu.
"Mutiara tunggu," mendengar panggilannya membuat aku menghentikan langkahku dan menatap ke arahnya.
"Ada apa Kak?" Tanyaku yang mencoba menyembunyikan kesedihan ini.
"Ayo," ajak kak Rian yang menggandeng tangan ini masuk ke dalam kamar dan kak Rian mengangkat wajahku dengan kedua tangannya. "Kamu kenapa Mutiara? Kamu cemburu?" tanya kak Rian lagi yang membuat mata ini memerah.
Bagaimana aku tidak cemburu yang melihat kemesraan kak Rian dengan Cantika? Apa mereka ada hubungan? Pikiran ini mulai melayang tidak karuan, melihat reaksi kak Cantika yang menginginkan kak Rian.
"Maafkan aku yah Mutiara," lirih kak Rian yang mendekatkan kepalaku di dadanya.
Hanya air mata yang bisa mewakilkan perasaanku yang tengah sedih, hati ini terpukul melihat apa yang terjadi tadi.
"Maafkan Mutiara Kak, tidak seharusnya Mutiara bersikap seperti tadi Kak! Maaf Kak."
"Iya tidak apa-apa sayang, itu tandanya kamu tuh cinta dan sayang dengan Kakak!"
Aku mengangkat wajahku yang bersandar
di dadanya, lalu menatapnya dan melempar senyum ke arahnya. Hingga kak Rian menempelkan kecupan kecil di keningku. "Tidak seharusnya aku berpikir buruk tentangmu Kak, maafkan aku," masih batinku dalam hati menatap kak Rian yang mencurahkan kasih sayangnya. Dan aku merasa bersalah karena telah menaruh pikiran buruk padanya itu.
*******
"Ayo sayang," ajak kak Rian terhadapku yang masih ingin bermanja di sebelahnya. Hingga aku mengikuti seruannya yang mengajakku keluar hendak makan malam.
Aku melihat tatapan tidak senang dari kak Cantika ke arahku, yang memegang erat tangan kak Rian itu.
"Sini sayang," ujar kak Rian yang menarik kursi itu padaku hingga aku duduk di kursi itu.
"Kamu mau makan apa Rian, sini piringmu," ujar kak Cantika menarik piring yang hendak aku ambil.
__ADS_1
Aku menatap kak Rian yang menerima makanan yang diambilkan oleh Cantika itu, serasa hati ini kembali panas. Aku hendak bersuara tapi kak Rian memegang pahaku seolah memberi tanda jika aku harus menjaga sikapku.
"Terima kasih Cantika," ujar kak Rian yang membuat kak Cantika tersenyum. "Sayang, ambilkan minum."
"Baik Kak," balasku yang ingin meraih gelas itu. Tapi lagi-lagi kak Cantika mengambil gelas itu dari tanganku memberikannya pada kak Rian.
Melihat sifat kak Cantika yang seperti itu membuatku tidak tahan dan aku memilih berdiri.
"Duduk Cantika," titah Kak Rian yang menarik tangan ini.
Aku pun mengikuti keinginan kak Rian memilih duduk kembali.
"Kamu sepertinya tidak senang dengan aku Mutiara! Apa salahku Mutiara?" tanya kak Cantika yang memasang ekspresi wajah sedihnya.
"Maafkan Mutiara yah Cantika," ujar kak Rian dengan mengambil tangan kak Cantika.
"Aku kenyang Kak, aku mau kekamar," ucapku yang benar-benar jenuh melihat sifat kak Cantika itu.
"Duduk Mutiara! Duduk," kak Rian meninggikan suaranya ke arahku, membuatku kembali duduk.
Aku menikmati santapan sarapan malamku yang tidak begitu terasa, mengingat hati ini yang terbakar api cemburu.
Aku kembali berdiri. "Kamu mau kemana Mutiara?" tanya kak Rian ulang.
Aku berjalan ke arah dapur dan tidak lama kemudian kak Cantika datang menyusul ku yang mencuci piring kotor ku sendiri.
"Auh sakit Kak," lirihku berusaha melepaskan tangan kak Cantika yang menarik rambutku dari belakang.
"Apa maksudmu tadi ha?"
"Maksud apa Kak? Mutiara gak paham Kak?"
"Kamu jangan pura-pura bodoh, kamu sengaja kan buat Rian memperhatikanmu?"
"Auh Kak, dia suami Mutiara Kak! Lepas Kak," masih pekikku yang merasa kesakitan itu.
"Mutiara," panggil kal Rian yang berjalan ke arah kami.
Kak Cantika melepaskan tangannya yang menarik rambutku. "Awas kamu, jika kamu mengatakan ini dengan Rian, maka kamu akan celaka di tanganku Mutiara!" ancam kak Cantika ke arahku.
Aku menatap kak Cantika yang membulatkan matanya ke arahku, hingga kak Cantika.
__ADS_1
"Auh sakit," gumam kak Cantika yang ber- akting seolah dia terjatuh.
"Apa yang terjadi Cantika?" Kak Rian dengan wajah cemas berlari ke arah kak Cantika yang memasang wajah sedihnya.
"Mutiara kenapa kamu mendorongnya?" tanya kak Rian yang membuat hati ini marah, bagaimana bisa kak Rian menuduh aku yang telah mendorong kak Cantika.
Aku menatap tatapan nanar marah ke arah kak Rian yang hendak membantu kak Cantika berdiri. "Kamu tidak apa-apa kan Cantika?"
"Tidak apa-apa Rian! Mutiara apa salahku denganmu Mutiara? Kenapa kamu mendorongku?"
"Ha," balasku dengan melempar senyum sinis ke arahnya.
"Mutiara kamu bukannya minta maaf malah tersenyum! Kamu kenapa sih sangat membenci Cantika?"
"Kak, Kakak percaya jika Mutiara yang mendorong kak Cantika? Argh, Mutiara gak habis pikir denganmu Kak, yang lebih mempercayai kak Cantika daripada Mutiara Kak!"
"Mutiara jaga ucapanmu!" Pekik kak Rian ke arahku yang mulai sedih.
"Kak Cantika, kenapa harus tinggal di rumah sih? Kenapa tinggal dengan kak Sam?" ucapku yang begitu marah ke arah kak Cantika yang sedang berakting itu.
"Mutiara! Kenapa kamu mulai tidak sopan sih? Kamu lupa ini rumah siapa?" ujar kak Rian yang membuat hatiku sangat terpukul.
Tanpa sadar aku meneteskan air mata di hadapan kak Rian. "Maafkan aku Mutiara," ujar kak Rian yang melihat aku menangis.
Aku memilih pergi dari hadapan kak Rian yang masih memegang erat kak Cantika.
"Mutiara tunggu," panggil kak Rian yang tidak kuhiraukan. "Lepaskan tanganku Cantika!"
Perasaan ini sangat sakit mendengar penuturan kak Rian membuatku tersinggung. Aku berlari ke dalam kamar dan mengemas pakaian ku ke dalam tas.
"Kamu mau kemana Mutiara, maafkan aku Mutiara aku salah," ujar kak Rian yang menarik tas itu dari tanganku.
"Berikan tasnya dengan Mutiara Kak, Mutiara ingin pergi Kak! Ini bukan Mutiara dan Mutiara hanya menumpang Kak. Biarkan Mutiara pergi," ujarku yang meraih paksa tas itu dari tangan kak Rian.
"Mutiara! Ok, jika kamu mau pergi silahkan! Mau hidup dimana kamu? Di jalanan? Kamu kini hanya sebatang kara Mutiara, jadi gak usah berniat untuk pergi deh."
"Oh iya," balasku dengan butiran air mata menatap ke arah kak Rian. Kenapa dia berubah menjadi kasar seperti ini? Aku memang tidak ada tujuan hidup, tapi aku tidak mungkin bertahan di rumah ini.
Setelah mengambil beberapa perlengkapanku, aku mulai berjalan ke arah kamar Darul yang sedang tertidur.
"Kamu boleh pergi dari sini, tapi jangan pernah membawa Darul," ucap kak Rian yang menarikku dari kamar Darul.
__ADS_1
"Dia anakku Kak!"