
Bab 4
"Akankah kita bisa bertahan?"
Tanya Sam melihat Mutiara yang sepertinya lelah, wajar jika dia kelelahan aku mengarungi jalan dua hari lamanya. Syukur bisa bertemu seseorang yang baik yang mau menawarkan tempat tinggal, tapi aku tidak mau bergantung atau terlalu percaya terhadap seseorang yang baru di kenal.
Seseorang itu bisa berubah jika dia dikagetkan dengan duit, apalagi imbalan yang papinya kasih tidak tanggung satu milyar. Jika bisa membawa Sam dan muti kepada papinya.
Sontak perasaan Sam merasa ada sebuah kejanggalan, dia melihat gerak gerik pedagang yang sedikit mencurigakan.
"Bangun Mutiara," ujar Sam yang membangunkan Mutiara yang tengah terlelap itu.
"Ada apa kak?"
Mutiara menatap wajah Sam yang seakan tegang, membangun Mutiara yang tengah terlelap. Mutiara mencoba mengumpulkan kesadarannya menatap arah Sam yang membangunkannya. Duduk menatap Sam yang bergegas hendak pergi.
"Ambil tasmu, kita harus pergi!" pinta Sam yang melihat sang pedagang tengah tertidur sehabis melakukan panggilan terhadap seseorang.
Melihat pedagang itu tengah terlelap, Sam mengikatnya di tempat tidur, dan membawa motor milik pedagang yang terparkir di depan rumahnya. "Ini balasan untuk orang yang membohongiku," ujar Sam yang melihat pria itu seolah meronta meminta dibebaskan.
"Maafkan aku bang, aku salah menilaimu" ucap Sam yang membawa kabur motor pedagang itu, dan meninggalkan mobilnya di situ. Sam tidak ingin membawa mobil itu lagi, akibat sang papi yang sudah mengenali mobil Sam kini. Dengan menggunakan motor kita bisa masuk ke gang kecil, agar bisa menghindari kejaran papi dan anak buahnya. Batin Sam lagi.
"Kak, kenapa Kakak tidak membawa mobilnya Kak?" Mutiara protes melihat Sam memilih membawa motor pedagang daripada mobilnya.
"Papi sudah mengenalnya," jawab Sam singkat, seraya mulai melajukan sepeda motor milik pedagang yang baru saja dia kenal di pasar malam. Di tengah jalan, Sam berselisih dengan mobil anak buah papinya yang hendak masuk menuju tempat Sam, apa yang diduga dan dipikirkan Sam ternyata benar. Jika pedagang itu hanya berpura- pura baik. Dengan maksud tertentu membuat Sam harus lebih hati-hati lagi.
"Apa kamu melihat itu Muti?" Tanya Sam merasa senang jika sang anak buah papi nya tidak mengenalnya, yang sedang berselisih jalan dengan mereka, membuat keduanya tersenyum senang merasa sudah berhasil kelabui anak buah sang papi.
"Iya Kak, kita mau kemana lagi?" tanya Mutiara dengan suara lesu, seolah dia merasa tidak enak badan. kondisi kepala yang sedikit sakit, perut mual.
"Apa kamu sakit Muti?" tanya Sam yang tanpa sengaja menyentuh tangan Mutiara yang sedikit panas, membuat Sam menghentikan laju kendaraannya, meletakkan tangannya ke kening Mutia.
"Kamu ini demam Muti," sedikit perasaan gelisah tergambar di wajah Sam yang mulai cemas melihat kondisi Mutia.
__ADS_1
"Tidak Kak, Muti hanya butuh istirahat! Muti lelah Kak," jawab Mutia yang tidak ingin Sam risau akan keadaannya.
"Maafkan Kakak Mutiara! Kakak harus melindungimu, sepertinya sekarang papi lebih tertarik mengincarmu dari pada Kakak," ucap Sam seraya mengarahkan motornya ke sebuah warung di pinggir jalan.
"Pak Paracetamolnya satu pak dengan air mineralnya," pinta Sam terhadap pedagang.
"Ini, dua puluh ribu semuanya!" Jawab sang pedagang memberikan obat dan air mineral yang diminta Sam, sehingga Sam berjalan kembali ke arah Mutia.
"Kamu harus minum obat segera Mutiara aku tidak ingin kamu menambah bebanku," ujar Sam menyodorkan obat yang telah dia buka dan memberikan nya pada Mutiara.
hari ini malam pernikahanku Muti! Pasti Cantika sedang menangis, karena aku telah mengecewakannya! maafkan aku cantika!" ujar Sam seraya menghidupkan kembali seluler yang sempat dinonaktifkan.
Membaca beberapa pesan masuk di layar hp nya.
"Kamu jahat Sam, lagi-lagi kamu menyakitiku, mana janjimu dulu! Akan selalu menyayangiku," pesan singkat yang cantika kirim untuk Sam.
"Kamu memang anak durhaka Sam, kamu tega melakukan ini terhadap mami, mami kecewa denganmu nak" pesan singkat dari mami Sam
"Bro, maafkan aku! Aku mencoba menghubungimu beberapa kali, tapi tidak bisa! Kamu kenapa Sam, tapi makasih kamu sudah meninggalkan Cantika, untukku! Aku tahu kamu akan marah denganku menggantikan posisimu di sebelah Cantika. Aku di kasih hadiah mobil sportmu. Kamu tahu aku sangat menyukai itu? Papimu tidak ingin membatalkan pernikahannya hingga dia menyuruhku untuk menikahi Cantika. maaf Sam aku terpaksa! Tapi ini sebuah hadiah," ucap Ando sahabat Sam lewat pesan singkat yang mampir ke ponselnya.
Sam yang masih menatap marah ke arah ponsel. Mencoba melakukan panggilan terhadap Ando, sosok sahabat yang akan menggantikan posisinya menikahi Cantika gadis yang pernah mengisi hatinya tiga tahun lamanya.
"Hallo Ando! Kamu, ahh … " ucap Sam seakan kesal ke arah seberang teleponnya hingga terdengar suara pria menjawab panggilannya itu.
"Maafkan aku Sam, siapa yang bisa menolak Cantika. Apalagi dia masih fresh makasih sudah menjaganya untukku" balas Ando tanpa bersalah ke arah Sam.
"Ando …. " Teriak Sam marah melalui sambungan teleponnya itu.
"Bisa saja aku membatalkannya! Asal kamu datang kesini dan menggantikanku besok, sebelum semua terlambat Sam. Aku tahu kamu sangat mencintai Cantika," sahut Ando terhadap sahabatnya itu.
"Aku tidak bisa Ando, aku harus menjaga dan menjadi ayah untuk anaknya Muti," ucap Sam dengan rasa bersedih, mengingat Cantika sosok yang paling dia cintai.
"Aku harap kamu jangan menyesali keputusanmu ini Sam, apalagi harus membenciku! Aku harus menyelamatkan nama baik keluargamu Sam, tapi ngomong-ngomong terima kasih," ucap Ando sangat senang.
__ADS_1
"Kamu jangan menyakitinya apalagi menyelingkuhinya, playboy cap garpu! Jika itu terjadi maka aku akan mematahkan kakimu. Jangan sesekali kamu membuatnya menangis, sampaikan maafku dengannya," ucap Sam merasa sedih dari balik sambungan teleponnya.
"Baik Sam jika kamu butuh sesuatu kamu hubungi aku, aku akan siap membantumu kapanpun itu! Papimu tidak perlu tahu aku tidak ingin mencari masalah dengannya, jaga dirimu baik-baik Sam," ujar Ando dengan mengakhiri panggilan itu.
"Argh … maafkan aku Cantika, aku telah menyakitimu," Pekik Sam yang menyandarkan badannya sejenak di sebuah kursi yang ada di dekat warung tempat dia membeli obat untuk Muti.
"Kak ... maaf," ujar Mutiara yang semakin merasa bersalah terhadap Sam, memihat Sam yang menyandarkan dirinya dengan perasaan sedih. Mutiara seolah meneteskan air mata, melihat pengorbanan Sam yang ingin melindunginya. Sam bisa saja kabur dan meninggalkan Mutiara, tapi Sam seolah sangat menyayangi Mutiara.
"Telat Mutiara!" Balas Sam seakan lesu menatap ke arah depan, tanpa menoleh Mutia yang tengah merasa bersalah itu, Sam hanya berdecak kesal mengenang semuanya. Andai waktu itu dia lebih ketat menjaga Mutiara, semua tidak akan seperti ini. Pikir Sam menyalahkan dirinya.
"Sudah sekarang bukan waktunya menyesalinya, kita harus mampu bertahan! Aku merasa tempat yang nyaman untuk kita tinggal dan hidup adalah desa. Apa kamu pernah mendengar sebuah desa Mutiara?" tanya Sam seolah telah menemukan ide brilian di benaknya," ayo Mutia kita lanjutkan perjalanan kita," dengan semangat Sam mengarungi jalanan bersama Mutiara.
Setelah beberapa menit menghabiskan waktu di jalanan, Mutia seolah memeluk Sam dengan begitu erat, membuat Sam seakan merasakan kehangatan tubuh Mutia yang seakan tengah menggigil. Hati Sam seolah berdetak, saat Mutiara menyandarkan kepalanya di pundak Sam. Membuat Sam membulatkan matanya menghadap ke depan.
"Kak Mutiara kedinginan," ujar Mutiara yang membuat Sam menghentikan kendaraannya dan memakaikan jaketnya kepada Mutiara.
"Tapi Kak, Kakak …. " balas Mutia yang sedang dipasangi Sam jaket di tubuh Mutia, membuat Mutiara menatap erat wajah yang menjadi saudara angkatnya selama ini.
Sam tidak menjawab pertanyaan Mutia yang sedang dipasangi jaket oleh Sam, hingga akhirnya Sam mengibas perlahan rambut Mutiara, menunjukan rasa sayangnya terhadap sosok yang selalu dia jaga dan sayangi seperti sosok adik bagi hidupnya.
"Kita menginap dulu semalam Mutiara." ujar Sam yang melihat sebuah hotel di pinggir jalan, membuat terlintas di pikirannya mengajak Mutiara untuk rehat sejenak, mengingat malam yang semakin larut dan kondisi Mutia yang seakan letih.
"Ini kamarnya," sahut sang pelayan hotel terhadap Sam seraya menunjukkan kamar untuk mereka.
"Tidak masalahkan Mutia, jika kita tidur sekamar malam ini," tanya Sam yang membawa tasnya dan tas Mutiara masuk kedalam kamar hotel itu.
Dimana dalam kamar cuman memiliki satu tempat tidur berukuran kecil, hanya muat untuk dua orang saja. Seakan ragu dan terlintas pikiran aneh di benak Mutiara, bagaimana bisa mereka akan sekamar sekarang. Mutiaranya menatap arah kasur lalu membuang tatapannya ke arah Sam.
"Istirahat lah dulu Muti," ujar Sam yang memilih membersihkan badan dan masuk kedalam kamar mandi.
"Apa kak Sam serius untuk menikahiku, ah aku merasa bersalah denganmu kak!" batin mutiara dalam hatinya itu. Sehingga Mutiara mulai memiringkan badannya di kasur, tidak berapa lama Sam keluar dengan handuk yang melingkar di dadanya. Memperlihatkan bentuk badan yang putih Langsat, berotot. termasuk kategori cowok perfek. Dengan penampilan yang tampan rupawan.
"kamu belum tidur Mutia?" tanya Sam yang melihat Mutia menutup matanya dengan satu tangannya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan dengan menutup matamu malu! Bukannya kamu sudah pernah melihat dan merasakannya, dari pacarmu yang brengsek itu! Ah, aku korban Mutia! Bahkan aku belum pernah sama sekali melepas masa lajang! Aku lima tahun berpacaran dengan Cantika, tapi aku tidak kepikiran sekalipun merusak masa depannya, melakukan hal bodoh yang seperti kau lakukan!" ujar Sam yang membuat Mutia, seakan malu dan terdiam akan apa yang diucapkan Sam.
"Tidur lah, aku tidak akan mengganggumu atau melakukan hal bodoh, seperti yang kamu lakukan! Sebelum kita sah menikah!" ucap Sam yang mulai memiringkan badannya di sebelah Mutiara.