
Bab 27
Kenapa harus kamu sih
"Apa kamu sudah bangun sayang? Bergegaslah mandi, ini sudah siang Sam nanti papi marah jika kita telat ke kantor. Aku duluan ke bawah," ujar Cantika yang meninggalkan Sam di dalam kamarnya itu.
Pagi ini Sam memang kesiangan bangun, mengingat malam tadi dia keluar menemui penjual rumah Mutiara. Sam sudah berhasil melakukan transaksi pembayaran rumah Mutiara. Membuat dia bisa tersenyum puas. "Jika tiba waktunya, aku akan memberikannya kepadaku Mutiara, menepati janji yang pernah aku bilang denganmu. Mengembalikan rumah itu di tanganmu," lirih Sam yang berbicara sendiri di hadapan cermin itu.
Sam merasa senang setelah berhasil mendapatkan sertifikat rumah Mutiara.
"Sam, Sam!!" Pekik papi yang memanggilku dari luar kamarku.
Aku berjalan ke arah papi setelah mendengar pekiknya yang begitu kuat. "Ada apa Papi?" Tanyaku ke arah papi yang melihatnya dengan wajah yang memerah.
"Apa yang kamu lakukan, Sam! Kamu membeli rumah Mutiara tanpa sepengetahuan Papi! Untuk apa rumah itu untukmu Sam? Bukan rumah kita jauh lebih luas dari rumah lama Mutiara? Kenapa kamu tidak bertanya dulu Sam? Sebelum memakai duit perusahaan yang begitu besar?" Pekik papi bertanya tanpa nada spasi.
Papi sangat marah, setelah aku menghabiskan dua miliar kas perusahaan untuk membayar rumah Mutiara.
"Potong saja gajiku Papi!! Jika Papi merasa dirugikan," balasku yang tidak percaya jika papi akan marah, setelah aku membeli rumah Mutiara tanpa seizin papi. Aku memang tidak memikirkannya sampai situ.
"Sam, Papi hanya bertanya untuk apa rumah itu untukmu? Bukankah Papi sudah membelikanmu beberapa apartemen sesuai yang kamu minta, untuk apa lagi kamu membeli rumah lama dengan model yang kuno Sam?" tanya papi lagi ke arahku.
"Untuk mengembalikannya ke Mutiara besok Papi! Itu peninggalan keluarganya satu-satunya yang dia miliki, Sam tidak ingin Mutiara terlantar Papi," balas Sam dengan lirih ketakutan.
Plakkk
Sebuah tamparan untuk sarapan pagi Sam, diberikan oleh papi Sam ke arah pipi Sam.
"Papi!" Bentak Sam tidak terima akan perlakuan sang papi.
"Berikan kepada Papi sertifikat itu Sam! Sepeser pun Papi tidak ikhlas mengeluarkan duit ke arah wanita, yang hampir membuat Papi malu Sam! Sekarang kamu ingin memberikannya padanya Sam?"
"Papi! Aku tidak pernah meminta apapun dengan Papi lagi! Tapi Sam minta untuk kali ini, biarkan Sam memberikan rumah itu terhadap Mutiara Papi! Apa yang Sam berikan terhadap Mutiara tidak akan setimpal Papi, dengan apa yang sudah di korbankan Andre untuk keselamatan Sam!! Apa Papi lupa? Jika bukan karena Andre. Sam sudah mati Papi!!" ujar Sam dengan nad yang emosi.
"Apapun alasannya Sam! Papi tidak terima, berikan sertifikat itu terhadap Papi! Jika tidak …." ujar papi yang mencoba memberi ancaman terhadap Sam.
Mendengar ancaman sang papi, membuat Sam diam dan memilih pergi dengan mengacuhkan papinya yang belum sudah berbicara.
"Sam, Sam!!" Pekik papinya yang melihat Sam berjalan ke arah ruang makan itu.
"Apa kamu sudah selesai sarapan Cantika? Mari kita pergi sekarang," ujar Sam terhadap Cantika yang baru selesai menyelesaikan aktivitas sarapan paginya.
"Apa kamu tidak sarapan dulu, Sam?" tanya Cantika yang melihat Sam dengan wajah yang kesal.
"Aku akan sarapan di luar," balas Sam yang berjalan terlebih dahulu ke arah mobilnya.
Bukannya tadi aku begitu bahagia? Mengingat aku yang sudah berhasil mendapatkan rumah Mutiara, tapi mengapa papi begitu membencinya. Seribu pertanyaan menyapa pikiran Sam yang tengah kesal ke arah sang papi.
Hari ini hari pertama Sam dan Cantika masuk kerja, menjadi sepasang suami istri. Walau pernikahan itu akibat jebakan Cantika yang sangat menginginkan Sam.
Kembali seperti keadaan biasa, Sam yang menjadi bos di perusahaannya sementara Cantika menjadi sekretarisnya.
__ADS_1
"Bersikap profesional," ujar Sam yang melihat Cantika sedikit bermalas-malasan di hari pertamanya.
"Sam, aku istrimu kini," balas Cantika yang mencoba merayu Sam di ruangannya itu.
"Ada waktunya Cantika, kita bisa melakukan itu lagi di rumah nantinya"
Cantika tidak menggubris omongan Sam, dia masih tetap menjalankan tangannya di paha Sam yang tertutup celana itu.
Membuat Sam merasa geli sendiri. Sam memandang Cantika yang seakan centil di hadapannya itu. Menggaruk kening Sam yang tidak gatal lalu menggelengkan kepalanya ke arah Cantika.
Sam bukannya senang akan perlakuan Cantika, sebaliknya Sam merasa ilfeel ke arah Cantika.
"Stop Cantika!" Lirih Sam terhadap Cantika yang sedikit nakal. "Perhatikan tempatnya dimana Cantika! Bukannya masih ada waktu nanti Cantika?" ujar Sam yang semakin kesal.
"Argh, ah …." balas Cantika kesal ke arah Sam.
"Apa aku kurang menggoda di hadapanmu Sam?" tanya Cantika yang sedang berdecak kesal itu.
"Aku minta kamu keluar sekarang! Aku tengah bekerja, dan siapkan berkas yang harus aku tandatangani," titah Sam dengan tegas terhadap Cantika itu.
"Kamu tidak asyik Sam," lirih Cantika yang kesal terhadap Sam.
Cantika yang hendak berjalan ke arah pintu.
"Apa aku mengganggu?" tanya Rian yang datang bersamaan dengan Mutiara ke ruangan Sam.
"Rian, Mutiara," panggil Sam seolah tidak percaya, akan tamu yang datang siang ini kehadapan Sam.
" Tidak, silahkan duduk?"
Rian dan Mutiara duduk di sofa ruangan Sam, sementara Cantika kembali berjalan dan memilih duduk di sebelah Sam.
Cantika mengambil tangan Sam tetapi Sam menepisnya, membuat raut wajah di wajah Cantika yang cantik.
"Oh iya Mutiara, apa kamu tidak ingin mengucapkan kata selamat terhadap kami berdua?" ujar Cantika yang membuat Mutiara tampak bingung.
Mutiara terdiam tanpa tahu ucapan selamat apa yang dimaksud dengan Cantika? Apa ini ucapan selamat karena perusahaan kak Sam berhasil membeli rumah peninggalan papa? Lirih Mutiara di dalam hatinya.
"Ada apa Rian, menemuiku?" tanya Sam mengalihkan pembicaraan.
"Oh iya, aku sempat lupa! Tapi ucapan selamat apa yah Sam?" tanya balik Rian yang penasaran.
"Sudah lupakan soal itu! Kenapa kamu menemui ku?" tanya Sam ulang ke arah Rian. "Oh iya Cantika, bisakah kamu keluar dulu," pinta Sam yang merasa risih melihat Cantika yang selalu berusaha menunjukkan kemesraannya dengan Sam.
"Tapi aku harus menemani suamiku, sayang," balas Cantika yang tidak ingin beranjak dari Sam.
"Suami ….?" tanya Mutiara seolah tidak percaya.
"Apa aku tidak salah dengar Sam? Kalian sudah menikah? Tapi mengapa tidak mengundang kami Sam," ujar Rian yang melihat wajah kesal Sam.
"Argh, apa tidak sebaiknya kamu umumkan satu kantor ini Cantika? Agar kamu puas," lirih Sam berdecak kesal, kembali menggaruk keningnya yang tidak gatal.
__ADS_1
Sementara Cantika melempar senyum ke arah Mutiara yang tengah cemburu.
"Apa itu benar Kak?" tanya Mutiara yang menunjukkan wajah kekecewaan.
"Mengapa kalian datang menemuiku? Katakanlah, jika tidak ada aku ingin kembali bekerja," ujar Sam yang mengalihkan pembicaraannya.
Sam tidak ingin membahas pernikahan yang sebenarnya tidak diharapkan. Dan Rian paham, mengapa Sam seperti itu. Rian memandang wajah Mutiara dengan mata yang mulai berbinar tadi.
"Aku ingin kamu kembalikan rumah Mutiara, yang sudah berhasil kamu beli! Dan aku akan membayar itu dua kali lipat Sam! Asal kamu bersedia menjualnya kembali denganku Sam."
"Oh iya, tapi maaf! Aku tidak akan menjualnya."
"Sam, apa rumah itu akan kamu berikan untukku Sam?" ujar Cantika menyambar omongan keduanya.
"Kak Sam," lirih Mutiara yang tidak terima jika rumah almarhum papanya diberikan terhadap Cantika.
Sam lagi-lagi tidak menjawab perkataan Mutiara, membuat Mutiara semakin sedih.
"Aku akan menunggumu di luar Rian!" ujar Mutiara yang mulai meneteskan air mata kekecewaan yang jatuh di pipinya. Rian paham akan apa yang dirasakan Mutiara.
Mutiara yang hendak berdiri, seketika Rian menahan tangan Mutiara itu. "Duduk Mutiara," titah Rian yang memberikan tisu ke arah Mutiara.
Sam sama sekali tidak menoleh ke arah Mutiara yang tengah sedih itu. "Sam, aku ingin bicara berdua! Apa boleh?" Pinta Rian.
"Uhmm, ikut aku," titah Sam yang membawa Rian ke ruang pribadinya, sementara Mutiara tinggal bersama Cantika di ruangan itu.
"Aku harap kamu, jangan pernah menampakkan wajahmu di hadapan Sam lagi, Mutiara!" ancam Cantika ke arah Mutiara yang masih bersedih itu.
Mutiara hanya diam tanpa menjawab ancaman Cantika. Bukankah dari dulu Cantika selalu memberikan ancaman seperti itu terhadap Mutiara, tapi Mutiara selalu memilih diam. Tanpa berani membalas atau menatap Cantika yang pernah memukulnya tanpa sepengetahuan Sam.
"Mutiara!" pekik Cantika yang menarik tangan Mutiara.
Cantika memutar tangan Mutiara. "Jangan Kak, sakit," lirih Mutiara yang merasa kesakitan akibat perlakuan kasar Cantika.
"Apa kamu tidak mendengar ku? Mutiara?" Tanya Cantika lagi.
"iya Kak, Mutiara tidak akan mendekati Kak Sam," balas Mutiara yang membuat Cantika melepaskan tangannya itu.
" Kak, apa Kakak benar-benar sudah menikah dengan kak Sam?" tanya Mutiara lagi, karena Sam tidak menjawab pertanyaan Mutiara.
"Apa kamu tidak lihat ini?" ujar Cantika yang menunjukkan foto pengantinnya dengan Sam.
Sam dan Cantika terlihat bahagia di dalam foto itu, dan melihat ke arah foto itu membuat dada Mutiara semakin sakit.
"Apa kamu sudah yakin sekarang? Jika aku dan Sam resmi menjadi sepasang suami istri," ujar Cantika dengan senyum mekar di wajahnya.
"Haa haaaa ...." Tangis Mutiara pecah setelah mengetahui status baru Sam, ingin rasanya Mutiara menyimpan kesedihannya itu, tapi dada Mutiara sesak sehingga air mata yang berusaha di bendung itu jatuh sendiri.
"Apa yang terjadi?" tanya Rian yang melihat Mutiara menangis.
Sejenak Mutiara menatap Rian dan Sam yang baru keluar dari ruangan itu, lalu kembali berjalan ke arah ke luar.
__ADS_1
"Mutiara!" panggil Rian yang tidak dihiraukan Mutiara.