
Bab 22
Sam dan Cantika tiba di rumah Rian, mereka bergandengan tangan bak sepasang kekasih yang sedang di madu asmara. Tidak ada tampak wajah ragu atau binar sedih diantara keduanya. Cantika yang tampil memukau dan seksi sontak menjadi sorotan para tamu, dan Sam yang hadir dengan kemeja yang dilapisi jas, menunjukkan potret wajah tampannya.
"Selamat datang Pak," Sam disambut dengan ramah oleh keluarga Rian. Yang dibalas senyum termanis Sam.
Sam yang melihat Rian, dan ingin menghindarinya, tapi Cantika sebaliknya. Melihat pesona Rian membuat Cantika ingin mendekatinya.
"Hai Sam, akhirnya kamu datang juga," sapa Rian dengan dilanjutkan berjabat tangan, sementara Cantika menunggu giliran agar Sam memperkenalkannya dengannya.
Tapi Sam seolah lupa, jika dia sedang berada disamping Cantika, matanya terlalu fokus ke arah Mutiara.
"Ehm," Cantika berdehem, memberinya sinyal ke arah Sam.
"Perkenalkan Rian, ini Cantika," ujar Sam terhadap Rian.
"Hai, aku Cantika," Cantika mengulurkan tangannya ke arah Rian, yang disambut oleh Rian.
"Jadi kamu, ooh … perkenalkan aku Rian, suami sah Mutiara," lirih Rian hendak menyinggung Sam.
"Argh," lirih nafas Sam seolah paham maksud dari Rian. "Siapa yang menikah Rian?" Sam mengalihkan pembicaraannya dan tetap saja, pandangannya tidak bisa lepas pada sosok wanita cantik yang ada di sebelah Rian.
Rian memegang erat tangan Mutiara, walau Mutiara terlihat risih dan ingin melepaskan genggaman tangan Rian.
"Apa Rian sengaja memanas-manasiku? d
Dengan menggandeng tangan Mutiara dengan begitu erat," ah lirih sam menarik nafas panjang, hingga Sam memberanikan diri menyapa Mutiara.
"Apa kamu baik-baik saja Mutiara?" sahut Sam yang memandangi Mutiara, yang sedari tadi menundukkan kepalanya seakan takut dan malu menatap Sam.
"Iya Kak" jawab Mutiara yang masih menundukkan kepalanya itu.
Mutiara sama sekali tidak berani menatap pria yang menjadi wali untuknya di hari pernikahannya, rasa sedih bercampur malu. Menatap Sam yang kini sedang digandeng dengan Cantika. "Mereka memang pasangan serasi," batin Mutiara dalam hati melirik sesekali ke arah Sam.
"Hai Mutiara, apa kabarmu? Aku rasa kamu bahagia, walau akhirnya kamu dan Sam juga tidak dapat bersatu," sindir Cantika yang mengulurkan tangan ke arah Mutiara.
"Aku baik-baik saja Kak," balas Mutiara yang menjawab uluran tangan Cantika, tapi Cantika seolah menggores telapak tangan Mutiara dengan kukunya, seraya melempar senyum walau Mutiara tengah kesakitan.
" Rian apa aku boleh berbicara berdua dengan Mutiara Rian?" tanya sam yang membuat Rian seakan berat membiarkan sam berbicara berdua itu.
Tapi Rian tidak ingin jika Sam melakukan hal bodoh, seperti yang dia lakukan pada waktu itu. Mempermalukan Rian disaat acara penting itu.
"Aku kedalam dulu Kak," Belum sempat Rian mengiyakan permintaan Sam. Mutiara memilih menghindar dari Sam. Melihat ke arah Mutiara yang hendak pergi, membuat Sam menarik tangan Mutiara yang ingin menghindar.
"Apa yang kamu lakukan Sam? Jangan membuatku malu untuk kedua kalinya, apalagi di pesta adikku ini Sam! Nanti Papi dan mamiku melihat ini Sam! Lepaskan tangan Mutiara itu," bisik Rian di telinga Sam yang masih menarik tangan Mutiara.
Sam tidak menggubris omongan Rian, sementara Cantika Hanya menatap rasa kesal terhadap keduanya.
Cantika memilih menjauh dari Sam yang masih terus-terusan mengejar Mutiara.
"Sam lepaskan! Jika tidak aku akan membuat Mutiara menerima kemarahanku ini," bisik Rian lagi yang membuat sam melepaskan tangannya.
__ADS_1
"Aku hanya ingin bicara sebentar, ikut lah denganku," ucap sam seraya berjalan terlebih dahulu.
Rian menatap sam yang berjalan keluar, hingga terbesit di hatinya untuk mengikuti Sam dengan membawa Mutiara.
"Lepaskan Kak," pinta Mutiara yang melihat Rian sedikit kasar dalam menariknya.
"Aku tidak akan membiarkan kalian bicara berdua," balas Rian.
Mutiara hanya terdiam menatap kedua pria yang seolah menginginkannya, walau hatinya hanya tertuju pada Sam. Sosok kakak angkat yang selalu menjaganya. Dan rela mengorbankan kebahagiaannya itu.
Mutiara menatap Sam yang berdiri di pinggir kolam renang milik Rian, sedikit jauh dari keramaian. Tapi Rian belum melepas genggamannya dari tangan Mutiara.
"Bicaralah, aku akan pura-pura tidak mendengarnya! Aku tidak ingin semua orang disini menatap kalian sedang bicara berdua," lirih Rian yang dipandang tatapan kekesalan dari Sam.
"Lepaskan setidaknya tanganku Kak," ujar Mutiara yang merasa tidak nyaman akan sifat Rian yang berlebihan.
"Argh," lirih nafas Sam. "Oh, tidak ada yang perlu aku katakan lagi! Aku lupa. Kamu membuatku kesal Rian!!" Pekik Sam yang mulai berjalan dari sebelah Mutiara.
Seketika Sam berhenti menatap Mutiara yang masih menundukkan kepalanya, entah apa yang membuat Mutiara tidak bisa menatap Sam.
"Angkat kepalamu Mutiara, ini bukan salahmu Mutiara," ucap Sam menaikkan dagu Mutiara ke atas.
Sam mengangkat wajah Mutiara, hingga Mutiara menatap ke arah Sam, lalu perlahan tangan Sam mengelus lembut pipi Mutiara, yang tengah dibasahi butiran air mata.
"Kamu jangan menangis Mutiara, aku masih kakak mu yang dulu," lirih Sam
"Lepaskan tanganmu Sam," bentak Rian terhadap Sam.
"Argh, kamu jangan pernah menangis Mutiara! Aku merasa bersalah jika melihatmu menangis," tambah Sam seraya pergi meninggalkan Mutiara dan Rian.
"Kak Sam," panggil Mutiara yang masih terdengar oleh Sam itu.
Seketika Sam berhenti ada perasaan ingin memutar badan dan melihat serta memeluk Mutiara. Namun ah, air mataku terlebih dahulu jatuh. Aku tidak ingin kamu melihatku juga sedih Mutiara meninggalkanmu dengan pria lain, dan akulah yang jadi wali untukmu. Aku lah yang menikahkanmu! Menikahkan seseorang yang aku sayangi, harus kemarin jangan aku lakukan. Ujar Sam dalam hatinya berdecak kesal pada dirinya sendiri, dan lebih memilih melanjutkan jalannya.
"Kak, kak Sam," panggil Mutiara sedih, Sam tidak mau menoleh ke arah Mutiara yang memanggilnya.
Mutiara memandangi sosok tubuh Sam dari belakang badannya, hingga rintihan air mata jatuh membasahi pipi cantik Mutiara.
"Jangan membuatku malu Mutiara, hapus air matamu! Dan kembalilah ke kamarmu, aku akan menemuimu nanti," titah Rian kesal menatap Mutiara yang masih sangat menginginkan Sam itu, walau Rian sudah mengancam Mutiara agar melupakan Sam.
"Kamu tidak akan pernah bisa lagi dengan sam, karena aku tidak akan pernah menceraikanmu," kata-kata Rian yang selalu teringat di ingatan Mutiara.
"Apa kamu baik-baik saja Sam?" Cantika melihat bola mata Sam yang memerah.
"Uhmm, apa kita bisa pulang sekarang?" tanya Sam balik ke arah Cantika.
Cantika seolah puas, jika akhirnya Sam dan Mutiara tidak bersatu, namun hal itu harus Cantika sembunyikan. Hingga Cantika mulai memainkan gaya seakan kasihan terhadap Sam.
"Setidaknya kita harus memberi ucapan selamat kepada mereka Sam," sahut cantika yang kembali menggandeng tangan Sam itu. "Jangan perlihatkan wajah sedihmu Sam!" Tambah Cantika lagi.
Kedua orang tua Rian, merasa senang akan kedatangan Sam.
__ADS_1
"Eh Sam, kamu datang juga," ujar Arsel dan orang tua Rian menyambut Sam dengan penuh bahagia.
"Iya selamat iya arsel," balas Sam mengulurkan tangannya yang disambut oleh Arsel dan yang diikuti oleh Cantika.
"Apa ini dia Sam ...," Dengan memainkan gaya tangan Arsel menunjuk ke arah Cantika.
Arsel menggoda Sam, hingga Sam melempar senyum terpaksa ke Arsel
"Hai perkenalkan namaku Cantika, Putri Cantika," sahut Cantika memperkenalkan dirinya ke arah Arsel.
"Cantik seperti namanya," jawab mami Rian yang di balas dengan senyum Papi Rian itu.
"Apa kamu tidak ingin melihat anak Mutiara Sam? Mumpung kamu sudah datang Sam, pergi lah temui ponakanmu dulu," ucap sang mami Rian, membuat dada Sam seakan sakit mendengar kata ponakanmu. Argh, aku ingin menjadikan anak itu sebagai anakku, bukan sebagai ponakanku," gumam Sam dalam hatinya yang masih melemparkan senyum ke arah keluarga Rian itu.
"Baik Mi, Cantika gak apakan kamu aku tinggal dulu," seolah tidak senang Cantika memaksakan senyumnya ke arah Sam yang memilih berjalan ke arah kamar Mutiara.
"Iya " balas Cantika seperti tidak ikhlas. Dengan berat, Sam pun mulai melangkahkan kakinya menuju kamar Mutiara.
"Kamu membuatku kesal Mutiara, untuk apa kamu masih menangis lag! Ha, lupakan dia! Aku sudah berkali-kali bilang denganmu lupakan dia, karena aku tidak akan pernah melepaskanmu untuknya! Ingat itu Muti," ancam Rian dengan marah dan menaikkan wajah Mutiara, lalu menyatukan bibirnya ke bibir Mutiara. "Aku mencintaimu Mutiara," ujar Rian yang masih memadukan bibirnya itu, ke bibir Mutiara yang membuat Mutiara seakan pasrah mendapat perlakuan Rian.
Klek
Sam membuka pintu kamar Mutiara, dengan tujuan ingin melihat anak Mutiara
Sesaat kaki Sam terhenti, dia menatap Rian dan Mutiara yang tengah menyatukan dua bibir menjadi satu. Membuat hati Sam kian sakit. Dan melihat Mutiara menutup matanya, seakan dia menikmati kecupan mesra yang dibuat oleh Rian.
Sam berniat menutup pintu itu kembali, melihat pemilik kamarnya yang sibuk melakukan percintaan itu.
Klek
Suara pintu yang hendak Sam tutup membuat kaget Rian dan Mutiara.
Rian kaget dan melihat ke arah pintu, begitu juga dengan Mutiara menatap ke arah pintu, tengah ada Sam berdiri dengan tatapan hancur.
"Kak," panggil Mutiara seakan tidak percaya, dia melihat Sam yang tengah sedih menatap ke arah Mutiara.
"Sepertinya aku salah Mutiara! Maaf, aku mengganggu kalian, aku hanya ingin melihat anakmu Muti, " ucap Sam dengan meneteskan air mata di pipinya itu.
"Kak," panggil Mutiara yang hendak memeluk Sam, namun Sam menepisnya.
"Aku pergi dulu," sahut Sam dengan perasaan hancur.
Sam membalikkan badannya, hendak berjalan pergi.
"Tidak kak," pekik Mutiara berlari dan memeluk sam dari belakang badannya.
"Lepaskan Muti, kamu sepertinya bahagia dengannya, aku tidak akan memintamu lagi dengannya," ucap Sam melepaskan pegangan tangan Mutiara di pinggang Sam itu.
"Tapi Kak, Mutiara sayang Kakak! Muti tidak sayang dengannya Kak," masih lirih Mutiara yang yang diacuhkan oleh Sam.
Mutiara Hendak mengejar Sam lagi, namun Rian menarik tangan Mutiara, membawanya kembali ke kamarnya.
__ADS_1
"Rian lepaskan aku," ucap Mutiara menangis di dalam kamar itu. Sementara Rian mengunci Mutiara dari luar kamarnya.