Cinta Demi Balas Budi

Cinta Demi Balas Budi
Jangan Menyentuhnya, pernikahan kontrak


__ADS_3

Bab 1 1


Di dalam kamar yang telah dihiasi dekorasi pengantin, semua serba ala putih dengan disirami taburan bunga di atas ranjang.


Mutiara menatap tiap sudut kamar yang ditata sebaik mungkin, membuat suasana malam sang pengantin begitu indah. Namun rasa canggung sejenak timbul di hati Mutiara, untuk pertama kalinya dia satu kamar dengan sosok sahabat kecilnya yang kini menjadi suaminya.


Menatap ke arah Rian yang masuk kedalam kamar mandi, membawa baju ganti. Mutiara seolah takut akan malam hening antara dia dan Rian. Walau Rian telah berjanji terhadap Sam jika pernikahan keduanya, hanya sebatas di atas kertas. Namun siapa yang menjamin kini sepasang pengantin baru sedang berada dalam kamar yang sama.


"Argh ah …." Lirih nafas panjang Mutiara menatap Rian yang sudah keluar dari kamar mandi.


"Kamu kenapa menatapku seperti itu," Rian melihat canggung di wajah Mutiara, membuat Rian bertanya. Namun tidak ada jawaban dari Mutiara selain menundukkan kepalanya. "Aku akan memegang janjiku Mutiara!!" Tegas Rian terhadap Mutiara yang masih mengenakan gaun pengantin itu. "Sana ke kamar mandi, ganti pakaianmu," titah Rian lagi yang melihat Mutiara seolah masih membisu.


Mutiara berdiri setelah melihat Rian yang sudah rapi dalam berpakaiannya, membuat Mutiara berjalan ke arah kamar mandi membersihkan dirinya.


Pernikahannya hari ini cukup melelahkan, hingga membuat jenuh rasa di hati, bukan dengan Rian pernikahan yang diinginkan oleh Mutiara. Melainkan dengan Sam sosok pria yang selalu ada untuknya.


Setelah menghabiskan waktu beberapa menit dalam kamar mandi, Mutiara keluar dengan baju piyama malamnya. Yang sedikit tertutup, tentu Mutiara menghindarkan hal yang belum pantas terjadi.


****


"Apa dia berbuat sesuatu denganmu Mutiara?" tanya Sam yang melihat Mutiara baru keluar dari kamar Rian.


"Apa maksudmu ha?" balik tanya Rian seakan tidak senang, yang kini berada di belakang badan Mutiara yang masih di ambang pintu itu.


"Aku harus memastikan jika calon istriku ini, tidak kamu sentuh sedikitpun," ujar Sam menarik Mutiara dari Rian.


" Apa yang kamu lakukan Sam? Apa kamu lupa kita dimana kini? Kita sedang berada di rumah papiku! Jadi bersifatlah seolah kamu bukan siapa-siapa Mutiara, kamu jangan membuat rencanaku gagal Sam!!" balas Rian dengan penuh artian menatap ketidaksenangan terhadap Sam.


Sam tidak bisa mengontrol dirinya, yang menarik Mutiara dari tangan suami Mutiara kini. Melihat ke arah Rian yang berdecak kesal akibat sifat Sam yang kekanak-kanakan.


"Aku tidak ingin ...," ucap Sam yang belum sempat mengucapkan perkataannya, tiba-tiba Arsel datang. Adik tiri dari Rian. Menatap perdebatan antara Rian dan Sam.


"Apa sebuah perdebatan sedang terjadi? Atau kakak iparku yang cantik ini, tengah diperebutkan oleh dua cowok? Ha ha ha ha …." Arsel melempar tawanya ke arah keduanya yang sedang berdebat, membuat Sam dan Rian memandang kasar ke arah Arsel. Hingga Rian seolah marah terhadap sang adik tiri. "Apaan sih kamu ikut menyambar, bagai petir yang tidak di minta kedatangannya," ujar Rian seraya menarik tangan Mutiara dan menggenggamnya dengan erat, berjalan ke arah ruang makan.


Sehingga kedua bola mata sam melotot, melihat kearah Mutiara yang digandeng dengan Rian. "Argh ah …." Lirih nafas Sam kesal menatap ke arah Rian yang memegang tangan Mutiara.


Klekkk


Sam menelan Slavinanya melihat apa yang barusan dia lihat.


"Kenapa, apa Mutiara itu kekasihmu Kak?" tanya Arsel yang menatap rasa marah di wajah Sam, yang masih melihat kepergian Rian dan Mutiara.


"Sepertinya Rian salah! Kamu bukan seperti petir yang menyambar, tapi seperti gemuruh yang memekik," balas Sam terhadap Arsel yang memergoki Sam tengah fokus memperhatikan sepasang suami istri itu. Sam benar-benar kesal akibat ulah Rian yang berhasil membuat Sam cemburu.


Sementara Arsel membalas tatapan Sam, dengan lirih nafas panjangnya. "Argh ah …." Arsel berdecak kesal dalam hatinya menatap Sam yang sama seperti Rian, melempar cemoohan ke arah Arsel.


" Ahh … apa yang aku rasakan? Apa aku tengah cemburu melihat Mutiara begitu dekat dengan Rian? Apa aku akan sanggup menjalankan semua nya selama dua tahun? Oh, argh ah ... jika iya kuat kan hatiku," seribu pertanyaan timbul di hati Sam, yang tiada berhenti memandangi keduanya. Seperti sepasang kekasih yang sedang memadu cinta.


Mutiara terlihat sangat akrab dengan keluarga Rian, membuat Rian merasa bahagia. Seakan dia kembali ke momen kecilnya dulu, bercanda gurau dengan Mutiara.


Mereka sangat menyayangi dan memperhatikan Mutiara, bagai gadis kecil yang butuh dimanja, tentu hati Mutiara sangat bahagia. Karena hal ini tidak dia dapatkan semenjak maminya pergi.


" Sam, terima kasih sudah menyelamatkan Mutiara. Rian bercerita banyak tentangmu! Dan aku rasa kamu bisa bekerja menjadi pemimpin di perusahaan kami, kebetulan perusahaan cabang sedang membutuhkan pemimpin, dan papi rasa kamu pantas mendapatkannya, " ucap papi Rian terhadap Sam itu.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Arsel Pi? tanya Rian yang takut Arsel tidak setuju atas keputusan sang papi.


"Aku tidak mau bekerja di perusahaan itu! Aku akan bekerja di bagian bisnis papi yang lain," Arsel menyambar ucapan Rian dengan sang papi. Sehingga semua mata tertuju terhadap Arsel yang datang, menghampiri mereka yang sedang berbincang.


"Dasar petir kerjaanmu menyambar ucapan orang," ujar Sam yang membuat Rian dan Mutiara seolah tersenyum, dengan diiringi kedua orang tua papi Rian.


Mereka tampak bahagia.


"Keluarga Rian tidak seburuk yang kubayangkan, mereka penuh kehangatan, saling lempar canda dan tawa, walau Rian dan Arsel hanya sebatas saudara tiri, bukan berarti Arsel seorang adik tiri yang jahat," batin Sam lagi dalam hatinya yang melihat keakraban antara Mutiara dan keluarga Rian.


Hingga makan pagi pun usai, papi dan mami Rian pun pamit pergi bekerja, atau sebatas liburan. Mereka seolah masih sepasang kekasih yang selalu bersama-sama.


"Apa yang kamu lihat Arsel, kenapa kamu tidak mengikuti papi atau kamu tidak ingin pergi kemana gitu?" tanya Rian yang menginginkan sang adik tirinya pergi, Rian takut jika kelak adiknya merencanakan suatu hal yang tidak bagus mengingat sifat Arsel yang rela melakukan apapun itu. Yang terlintas di benaknya tanpa berpikir panjang.


"Aku merasa sesuatu yang tidak beres antara kalian bertiga!! Mutiara kamu tidak sungguh mencintai kakakku ini kan? Aku harap jangan! Karena dia hanya akan memperalatmu untuk mendapatkan warisan dari papi," ucap Arsel, yang membuat Rian melempar tatapan rasa marah ke arah arsel. Lagi-lagi Arsel mencoba menaikkan amarah Rian.


"Bagaimana denganmu Arsel? Apa kamu mulai menyerah karena akhirnya aku mendapatkan bagian harta papi yang lebih banyak," pungkas Rian menantang dan mencemooh sang adik, Rian merasa jika kini dia yang terhebat dari sang adik.


"Kamu boleh tertawa kini Rian! Sebelum aku cukup bukti! Jika Mutiara dan Sam memiliki ikatan," ancam Arsel membalas tatapan sang kakak. Arsel melempar senyum menantang ke arah Rian sebelum dia pergi meninggalkan ketiganya di ruang makan itu.


"Argh … dia akan berbuat gila nantinya Sam!! Kamu harus berhati-hati dengannya, dia tidak seasik yang kamu bayangkan. Dia sangat pintar bersandiwara di depan papi mami, seolah aku Kakak yang jahat untuknya" ucap Rian terhadap Sam, yang menatap ketidak akuran antara kakak beradik itu.


"Kapan aku mulai bekerja?" tanya Sam lagi terhadap Rian.


"Jika kamu mau sekarang aku bisa mengantarmu," balas Rian.


"Bagaimana dengan Mutiara?"tanya Sam terhadap Rian itu.


"Aku ragu untuk meninggalkannya di sini, jadi biarkan dia ikut bersama kita," balas Rian yang mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam mobil yang di ikuti Sam dan Mutiara.


"Setidaknya aku bisa memberi keamanan untukmu Sam Walau itu tidak lama, karena aku yakin dengan royalti yang papimu tawarkan. Akan membuat mereka yang memiliki kekuatan di luar sana! Akan mempertaruhkan nyawanya untuk mendapat mu," ucap Rian yang mengenali betul akan papi Sam itu.


"Ini perusahaannya Sam, semua apa yang kamu butuhkan. Kamu bisa bertanya langsung, pada sekretaris bu Ana," ucap Rian dengan menunjukkan ruangan kerja Sam.


Sam pun berjalan melihat tiap sudut ruangan kerjanya. "Lumayan aku suka" ucap Sam seketika terlontar dari mulutnya.


"Kamu bisa memilih kapanpun kamu ingin memulai kerja" ujar Rian lagi terhadap Sam.


"Baik, aku akan memulainya besok," ucap Sam lagi," tapi bagaimana dengan Mutiara? Apa kita akan tetap tinggal disitu? Argh … aku tidak bisa melihatnya jika kalian tetap tidur dalam sekamar, sesuatu bisa saja akan terjadi!!" ujar Sam terhadap Rian yang takut jika Rian mengingkari janjinya.


"Aku bisa menjaga diriku Kak" jawab Mutiara menyambar omongan keduanya, yang tengah membicarakannya.


"Apa sih maksud kalian berdua, seolah aku seorang serigala yang tidak bisa menahan mangsanya"


Sam dan Mutiara pun seolah tersenyum melihat Rian yang mulai jengkel, dia berdecak kesal menatap ke arah Sam dan Rian.


**


"Aku akan membuatmu menderita malam ini Rian! Aku merasa jika kamu dan Mutiara sedang bersandiwara, aku ingin kamu membuktikan sesuatu jika diantara kalian ada hubungan," batin Rian dalam hatinya yang memasukkan sesuatu obat kedalam minuman Rian dan Mutiara.


"Apa dia sudah gila," ujar Sam yang melihat Rian memasukkan sesuatu ke minuman yang tengah diaduk oleh Arsel, Sam tidak sadar jika minum itu ditujukan untuk Mutiara dan Rian.


Sam tetap fokus pada layar hp nya melihat perkembangan kasusnya kini, saat Sam hendak masuk ke dalam kamarnya. Sam melihat Arsel sedang berdiri di depan pintu kamar Mutiara.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan di depan pintu ini?" bisik Sam berbicara terhadap Arsel, yang sedang mengintip ke dalam kamar sang kakak.


"Aku sedang memberi pelajaran terhadap Rian dan Mutiara, aku tidak yakin akan hubungan mereka," balas arsel tanpa melihat arah orang yang sedang bertanya dengannya.


"Oh iya, kamu melakukan apa?" bisik Sam lagi bertanya terhadap Arsel, yang masih menatap ke arah Arsel yang fokus terhadap sang kakaknya.


"Aku memasukkan obat perangsang di minuman mereka berdua," balas Arsel di barengi dengan tawanya.


Sementara Sam seakan panas mendengar perkataan Arsel, lalu dia menjewer telinga Arsel yang usianya jauh dibawah Sam.


"Auw kak, kak! Sakit Kak," teriak Arsel yang membuat Rian keluar dari kamarnya.


"Kamu kenapa Sam? Argh ah … kenapa hari ini panas yah, ahh ah …." ucap Rian yang mulai merasakan reaksinya, dia merasakan suatu rasa kepanasan.


"Apa yang kamu rasakan?" tanya Sam mulai takut menatap ke arah Rian.


"Ini, nih pasti ulahmu kan Arsel? Kamu pasti memasukkan sesuatu ke minuman kami kan! Ayo jawab Arsel," bentak Rian terhadap sang adik.


"Maaf Kak" balas Arsel seraya melepaskan tawanya ke arah Rian, dan menatap Rian yang sudah menunjukkan amarahnya, membuat Arsel memilih berlari. Arsel pergi setelah berhasil mengerjai sang kakak. "Argh ah ah hh … Arsel," pekik Rian yang melihat sang adik berlari dengan melepas tawanya.


"Apa Mutiara meminumnya juga?" tanya Sam yang di Anggukan oleh Rian.


Sam pun memilih masuk kedalam, melihat Mutiara, yang mulai merasakan apa yang dirasakan oleh Rian. "Kak," sapa Mutiara yang melihat Sam berdiri dihadapannya. "Argh ah ah ah hh …." Lirih nafas Mutiara menahan rasa panas dari obat yang dia minum.


Mutiara merasakan kesakitan, hingga suara Mutiara terdengar berat, seolah menahan rasa sakit yang dia rasakan kini


"Sesuatu yang pernah mereka masukkan ke minuman ku dulu, aku rasa kini Kak," ujar Mutiara yang mulai mengeluarkan peluh dari sekujur tubuhnya.


Sementara suara parau dari Rian terdengar seakan berat, menahan rasa yang begitu panas, membuat peluh bertaburan dari badannya.


"Sam biarkan aku melakukannya sekali saja! aku dan Mutiara akan tersiksa menahannya Sam, lagian pernikahanku dengan Mutiara kan sah. Jadi Mutiara halal bagiku Sam," pinta Rian yang hendak menarik Mutiara yang berada di sebelah Sam.


"Enak saja," balas Sam memeluk Mutiara dan membawanya ke kamarnya.


Rian membulatkan matanya ke arah Sam, yang membawa Mutiara keluar dari kamarnya. "Sam apa yang kamu lakukan? Papi akan marah jika mengetahui ini," ujar Rian yang menatap keduanya telah keluar dari kamar Rian itu.


"Dia tidak akan tahu jika kamu tidak memberitahu nya" balas Sam dengan menutup kembali pintu kamarnya.


"Argh … ah ah ah hhh …." teriak Rian kesal, dia harus menahannya sendiri, sehingga Rian dengan keadaan sakit memilih mencari mangsanya di luar. "Aku tidak bisa tenang jika melepaskannya, awas saja kamu Arsel kamu akan mendapatkan balasanku" Rian menggerutu dalam hatinya itu, mengingat apa yang dilakukan Arsel sesuatu yang menyebalkan. Membuat Rian memilih ke tempat langganannya untuk menyediakan penghibur untuk Rian.


Sementara Sam memeluk Mutiara dengan hangat, Mutiara tetap merintih menahan sakit. Membuat Sam merasa belas kasihan terhadap Mutiara yang menahan rasa sakit itu.


"Kamu pasti bisa melewatinya Mutiara," ucap Sam yang melepaskan pelukannya dari Mutiara.


"Tapi Kak! Sakit, Mutiara tidak tahan, lepaskan Kak, biarkan Mutiara merasakannya Kak," pinta Mutiara seolah tidak bisa menahan hasratnya, dia membuka bajunya yang seolah kepanasan.


Klek


Lagi-lagi Sam menelan Slavinanya


"Aku tidak akan melakukan itu Mutiara!! Sebelum kita sah menjadi suami istri," ujar Sam Seraya dia keluar dari kamarnya.


"Kamu harus kuat Muti" pekik Sam mengunci Mutiara di kamarnya sendiri.

__ADS_1


Sam memutuskan keluar setelah melihat Mutiara yang melepaskan pakaiannya.


__ADS_2