
Bab 19
Pagiku seakan hampa, Nafasku seakan sesak, aku tidak percaya apa yang terjadi dengan Mutiara? Aku mengaduk- aduk nasi yang ada di piringku. Bukan karena makanannya yang tidak lezat. Tapi karena mulutku yang sulit terbuka.
Masih terbayang di ingatanku, saat Rian menarik paksa baju Mutiara dan mulai melepaskannya.
Tatapan Mutiara seolah ingin meminta tolong, tapi aku tidak mampu menyelamatkannya.
Aku seakan tidak berdaya saat Rian mulai melakukannya terhadap Muti, ini salahku! Ini salahku. Andai aku bisa menjaga mulutku dan mempercayai Rian, tanpa menaruh curiga sedikitpun ini tidak akan terjadi.
Hubungan pernikahan mereka sebenarnya tinggal lima bulan, andai aku sabar sedikit. Aku pasti bisa memiliki Mutiara. Maafkan aku Mutiara. "Kamu kenapa sih sam? Dari tadi makananmu hanya kamu aduk-aduk," ujar mami Sam yang membangunkan Sam dari khayalnya.
Sementara papiku membuang senyuman ke arahku, senyum yang sedari kemarin selalu mengejekku. Argh aku rasa aku harus memikirkan sesuatu agar aku bisa mengalahkan papiku.
Tapi … tidak akan ada lagi harapanku bersama Mutiara, dia bukan jodohku lagi. Jadi aku rasa dengan menjadi boneka sang papi itu akan lebih baik, sebelum bonekanya ini pandai berjalan dan mencari jalannya sendiri.
"Aku tidak lapar Mami," sahut Sam seraya memilih berdiri dan pergi menuju mobil.
"Semangat sekali Sam," ujar sang papi yang melihat jam masih menunjukkan jam 6 : 05 wib.
"Apa kamu datang cepat, ingin membersihkan kantor Sam? Tidak perlu lah. Papi sudah membayar orang untuk membersihkan kantor setiap hari," ucap papi melempar canda dan seakan mengejekku lagi.
"Argh, mau Papi apa sih! Aku semangat Papi salah. Aku malas Papi marah," ujar sam yang sebenarnya ini salahnya, karena semalam dia tidak bisa tidur, hingga pagi datang. sehingga dia memilih untuk berangkat kerja. "Dari pada aku tidur nanti Papi marah jika aku ketiduran, sehingga aku memilih lebih baik berangkat awal," batin Sam dalam hatinya itu.
"Ayolah Pi" pinta Sam
" Enggak ah Sam, berangkat lah dulu! Tapi ingat, kamu jangan merencanakan sesuatu. Karena di badanmu ada alat penyadap Papi. Jangan mencoba mencari celah untuk kabur," ancam sang papi lagi.
"Terserah Pi," jawab Sam yang memilih jalan terlebih dahulu, setidaknya di kantor nanti aku bisa tidur sekejap," batin Sam dalam hatinya itu.
"Ayo, berangkat Pak,"
__ADS_1
Seperti biasa, Sam selalu diikuti dua lima pengawal yang ditugaskan sang papi untuk menjaga Sam, sudah menjadi rutinitas pagi Sam yang dijaga ketat sang papi.
"Papi, terlalu banyak membuang duit untuk membayar mereka mengawalku. Apa duit gaji mereka tidak lebih baik diberikan untukku Pi? Agar aku bisa berlibur," ucap Sam berdecak kesal menatap ke arah belakang, mereka membuntuti mobil yang kini ditumpangi Sam. "Hidupku bagaikan seorang tahanan yang harus selalu dikawal, kalau tidak penjahat sepertiku bisa kabur," gurau Sam terhadap dirinya itu.
"Akhirnya aku sampai juga di kantor," Sam membuka pintu mobilnya dia melihat baru office boy yang datang membersihkan sekeliling kantor.
"Selamat pagi Pak" sapa sang office boy .
" Tumben! Ah apa yang terjadi ya dengan pak Sam?" ujar sang office boy berbicara dengan office boy lain.
"Aku mendengar kalian, bekerja lah dengan baik," teriak Sam membuat mereka berhenti membicarakan Sam dari belakang.
Sam pun mulai membuka pintu kantornya, hal yang paling utama dia lakukan adalah tidur. Aku ingin tidur, ucap Sam yang melihat kearah sofa kantor, pas untuk menyandarkan badanku. Aku lelah, apa aku bisa tidur? Ah kenapa bayangan wajah Mutiara seakan menghantuiku, tatapan wajah ingin meminta tolong saat Rian mulai menghimpit badannya Mutiara itu.
****
" Apa kamu tertidur sam?" tanya Cantika menggerakkan tangannya ke arah mata Sam, melihat pria yang lama menjalin kasihnya tengah tertidur lelap. Cantika mengambil kesempatan untuk mengelus pipi dan bibir Sam. Seolah dia merindukan sosok pria yang kini menjadi bosnya. "Ini semua karena kamu Mutiara," lirih Cantika yang berusaha membangunkan Sam itu.
"Ah, kamu Cantika," ucap Sam mulai membuka matanya.
"Sudah jam 8 pagi Sam, jam 10 kamu ada meeting," sahut Cantika lagi.
"Apa nantinya perusahaan Rian ikut juga?" tanya sam, mengingat perusahaannya dan perusahaan Rian sejalan dalam bisnis yang sama.
"Rian pengusaha, yang hebat itu! Apa kamu mengenalnya Sam, aku sangat kagum dengannya. Dia masih muda sudah berbakat, orangnya bertanggung jawab dan sangat disiplin," ucap Cantika panjang lebar, yang membuat dua bola mata Sam dari yang ngantuk berubah melotot terang, mendengarnya seakan tidak senang jika Cantika juga mengaguminya.
"Sam kamu kenapa?" tanya Cantika yang melihat Sam, memperhatikan cara bicara Cantika.
"Apa Sam mulai menyukaiku lagi?" gumam Cantika dalam hatinya.
"Apa dia ikut juga rapat?" tanya Sam lagi.
__ADS_1
"Ah apa tadi Sam," tanya Cantika kaget, aku pikir dia mulai mencintaiku lagi," batin Cantika seakan kecewa.
"Apa perusahaan Rian ikut juga Cantika?" ujar Sam dengan nada yang meninggi.
Setelah Cantika seolah acuh akan perkataan Sam.
"Iya sepertinya ikut, dia akan datang nanti ke kantor ini! Karena pertemuannya akan berlangsung di sini. Apa aku boleh ikut?" tanya Cantika.
"Aku mendengar Rian, menikah dengan seseorang hanya sebatas kawin kontrak," ujar Cantika yang membuat Sam seakan merasa bersalah.
"Sudah lupakan lah, dan bilang dengan papi jika aku tidak ikut nantinya meeting, tolong bilang dengan papi! Aku demam. Atau apapun itu. Yang jelas bantu aku sekali ini aku tidak mau bertemu dengannya, " sahut Sam.
"Tapi Sam, papimu akan marah jika mengetahui kamu berbohong, beliau paling benci jika seseorang membohonginya, " sahut Cantika.
"Ah aku tidak peduli, kamu harus membantuku kali ini.! Aku mohon," ucap Sam seraya mengambil tangan Cantika.
"Aku mohon Cantika," dengan memainkan kedua tangannya, mengemis ke arah Cantika agar kali ini Cantika bersedia menolongnya itu.
"Please ya cantika, sekali ini berbohong untukku," tambah Sam merengek bagaikan anak kecil, dIa lupa jika dia sedang membenci mantannya ini, yang seakan baperan akibat ulah sam yang masih memegang tangannya.
" Iya Sam, aku akan membantumu," balas Cantika sangat senang.
"Terimakasih Cantika, kamu memang sahabatku yang baik," ujar sam yang membuat senyum di bibir Cantika hilang seketika, dibawa angin dan sifat baperannya seakan di pekik gemuruh.
"Aku benci denganmu Sam," batin Cantika kesal dalam hatinya seraya memilih berdiri dan hendak keluar.
"Cantika," panggil Sam lagi yang melihat Cantika sudah di ambang pintu itu.
"Ada apa Sam?" balas Cantika dengan senyum terpaksa.
"Carikan aku sarapan, aku lapar," ucap Sam seketika membuat murung di wajah Cantika itu.
__ADS_1
"Baik Sam," balas Cantika dengan melempar ocehan yang tidak didengar oleh Sam karena Cantika menggerutu dalam hatinya sendiri.