
Bab 36
Menyimpan rasa cinta lebih pedih daripada putus cinta.
Sam sangat sedih dan mengurung dirinya di dalam kamar Mutiara, dengan memeluk buku catatan yang sedang Mutiara cari tadi. "Maafkan aku Mutiara, aku berbohong padamu? Aku tidak ingin kamu mengingat kenangan kita dulu, kenapa aku tidak tahu jika kamu sangat mencintaiku Mutiara."
Sesaat Sam membaca kembali catatan harian Mutiara itu itu, bagaimana Mutiara melukiskan perasaan nya yang sangat mencintai Sam dulu.
"Hari ini kak Sam, memilih meninggalkanku yang ingin ditemani olehnya. Aku ingin kak Sam selalu ada di hati ini, tapi kak Sam sangat mencintai kak Cantika. Walau aku tahu kebenarannya jika kak Cantika tidak sebaik yang dikatakan kak Sam. Tapi aku tidak ingin kak Sam sedih, aku akan menyimpan rahasia ini. Untuk Kak Sam."
"Kak Sam, kamu harus menolongku! Dia … dia telah merebutnya Kak. Mutiara sangat takut Kak haaa haaa haa …."
"Kak Sam, Mutiara cemburu melihat kakak yang berjalan dengan kak Cantika. Mutiara sayang dengan kakak."
"Arrgggghhhh … Mutiara!!!" Pekik Sam yang memeluk erat buku catatan harian Mutiara.
"Kenapa kamu tidak bilang Mutiara, jika kamu sangat mencintaiku," masih ujar Sam yang sangat sedih setelah membaca buku catatan milik Mutiara itu.
POV Kikan.
Rian yang melihat Mutiara sedari tadi hanya diam, tidak seceria tadi. Saat Mutiara minta Rian untuk menuju ke rumah lamanya.
"Kamu kenapa Mutiara? Apa kamu masih memikirkannya?"
"Tidak Kak, apa kakak haus? Akan Mutiara ambilkan minuman untuk Kakak," balas Mutiara yang menyembunyikan kesedihannya.
Rian menarik tangan Mutiara itu. "Tidak perlu sayang! Aku hanya ingin ditemani olehmu saja," Rian melingkarkan tangannya ke pinggang Mutiara, dan menghapus air mata yang sempat jatuh di pipi Mutiara itu.
"Kak, aku harap Kakak jangan membenci Kak Cantika yang sudah …."
"Iya Mutiara! Hatimu sangat bersih Mutiara sesuai dengan namamu," tambah Rian yang mencubit mesra pipi Mutiara itu.
"Apa Kakak mau membantuku merapikan semua barang-barangku ini Kak?"
"Tentu saja sayang," balas Rian yang sangat bersemangat.
Mutiara mencoba melawan kesedihannya, dengan menyibukkan diri di rumah dan bersama sang anak. "Aku harus bisa melupakanmu Kak," batin Mutiara menyemangati dirinya sendiri, dan melihat ke arah Rian yang selalu memberikan perhatian lebih untuknya.
"Aku pergi dulu sayang! Cup cup …." Rian mengibaskan lima jarinya ke arah Mutiara dan sang anak.
Sekilas perasaan Mutiara berdetak kencang, menatap Sam dan Cantika lewat dari depan rumahnya. Sam yang sedang menoleh ke arah Mutiara, mendadak memalingkan wajahnya itu. Begitu juga dengan Mutiara bersikap seolah tidak saling mengenal. Membuat perasaan Mutiara semakin sakit. "Dimana janjimu Kak, yang akan mengganti posisi kak Andre di hati ini? Bahkan menatap dan menegurku saja kamu tidak mau! Dimana letak kesalahanku? Haruskah aku ingatkan lagi, jika pernikahan ini karena kamu yang telah menyepakatinya dengan Rian kak. Walau Rian sosok yang baik tapi entah kenapa sulit rasanya hati ini untuk menerima Rian. Dan sakit rasanya hati ini yang melihatmu bersanding dengan kak Cantika Kak.
__ADS_1
****
"Apa kamu sudah siap Sam? Ingat Papi ingin kamu mengalahkan perusahaan Rian lagi! Papi tidak ingin kamu kalah lagi Sam! Oh iya Cantika kamu ikut Papi."
"Baik Papi," balas Cantika yang mengikuti papi Sam yang berjalan ke arah ruangannya. "Ada apa Papi?"
"Papi mendengar jika Mutiara telah pindah, Papi harap kamu harus lebih menjaga dan mengawasi Sam lagi! Jangan sampai Sam bertemu dengan Mutiara?"
"Baik Papi."
"Satu lagi Mutiara, apa kamu bisa menyuruh seseorang untuk … Rian, Papi ingin menghancurkan dia."
"Baik Papi, Cantika paham," balas Cantika yang memilih keluar dari dalam ruangan sang papi, dan kembali menemui Sam yang sedang menunggunya di dalam mobil itu.
"Apa yang Papi katakan Cantika?" tanya Sam yang melihat kedatangan Cantika disebelahnya itu.
Seperti biasa Cantika hanya akan memilih diam jika ditanya Sam, hal itu ia lakukan karena rasa kesalnya terhadap Sam yang tidak menghargainya sebagai istri.
"Cantika, kenapa akhir-akhir ini kamu sangat budeg, tidak mendengar jika aku berbicara! Apa aku perlu membawamu ke dokter THT? aku rasa telingamu perlu melakukan pemeriksaan."
"Oh iya, itu ide yang bagus! Tapi sebelum itu aku ingin mengecek kejiwaan mu, yang tidak bisa move on dari adik angkat mu sendiri! Bukannya kamu bilang denganku dulu, jika Mutiara tidak lain hanya sebagai adikmu sendiri? Apa kamu lupa atau aku Sam? Bahkan kamu berteriak di hadapanku dan berkata jika kamu sangat mencintai Mutiara! Dimana perasaanmu Sam. Andai aku mengungkapkan perasaanku terhadap pria lain dihadapanmu Sam? Apa kamu tahu rasa sakit hati ini Sam? Aku rasa tidak, jika tidak kamu tidak akan melakukan itu."
"Maafkan aku Cantika, seharusnya kamu juga jangan menjebakku! Hanya karena ingin hidup nyaman dan menikah denganku yang seorang pewaris tahta."
"Aku rasa kamu tahu maksudku? Dan aku tidak akan membuka rahasia mu, asalkan kamu tidak menyakiti Mutiara dan mencampuri perasaanku," ancam Sam yang membuat Cantika merasa kesal.
"Argh, kamu kelewatan Sam! Kamu akan menyesal Sam," ujar Cantika dalam hatinya.
"Kita sudah sampai Pak," ujar sang supir yang membukakan pintu mobil itu untuk bosnya, dan diikuti beberapa pengikut Sam yang selalu setia menemaninya.
Sam menatap Rian yang masuk ke pintu itu, mengingatkannya kembali tentang bagaimana Rian dibuat malu oleh Sam di ruangan itu. Hingga Mutiara mendapatkan hukuman akibat ulah Sam sendiri. "Argh," lirih nafas Sam yang memilih duduk di seberang Rian.
Keduanya bersaing secara per hingga Rian lagi-lagi memenangkan tender itu.
"Arrgh," Rian melempar senyum ke arah Sam yang terlihat kecewa akan kekalahannya itu.
Sementara para pemimpin perusahaan lain, memberikan ucapan selamatnya ke arah Rian itu. "Terima kasih," balas Rian yang menerima ucapan selamat itu.
"Sam," panggil Rian yang melihat Sam begitu kecewa.
"Hmmm ada apa? Oh … selamat Rian," balas Sam dengan ketus dan hendak memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Bukan itu Sam! Aku mengadakan jamuan di rumahku nanti malam, anggap saja ini seperti syukuran rumah baru. Jika kamu berkenan kamu bisa datang nanti malam kerumah," ujar Rian yang memilih pergi terlebih dahulu, dan melihat Sam masih mematung itu.
"Ah, tentu aku akan datang," lirih Sam masih dengan senyum sinisnya, menatap ke arah Rian yang sudah masuk kedalam mobil itu.
"Aku akan menemuimu nanti Sam," Cantika yang melihat kepergian Rian itu memilih berlari dan mengikuti Rian.
"Kamu mau kemana Cantika?" panggil Sam yang melihat Cantika sudah berada di dalam taksi itu.
Sam ingin mengejar Cantika, tapi sang papi menghubungi Sam dengan nada marah Lewat sambungan telepon itu.
"Maafkan Sam Papi, Rian terlalu kuat untuk dikalahkan," ujar Sam yang menjawab panggilan sang papi.
"Sam ingin mengejar Cantika dulu Papi, tadi Cantika pergi! Sepertinya dia ingin mengikuti Rian, Sam tidak ingin Cantika …." ujar Sam yang tidak sampai karena papi Sam memotong pembicaraan Sam.
"Biarkan Cantika, kamu kembali ke kantor."
"Tapi Papi!"
"Apa kamu tidak mendengar Papi Sam?"
"Baik Papi, Sam akan datang sekarang," balas Sam lagi yang mengakhiri panggilan telepon itu.
Sam menaruh rasa curiga terhadap Cantika, hingga dia mencoba berulang-ulang menghubungi Cantika. Tapi tak sekalipun Cantika mengangkat panggilan Sam itu.
"Kamu pergi kemana sih Cantika? Apa tidak puas hanya menjebakku saja Cantika?" Sekilas Sam teringat kembali akan perkataan Ando yang ditemuinya kemarin siang.
"Kamu harus berhati-hati terhadap Cantika Sam! Karena dia wanita yang sangat pintar dan licik, dia akan melakukan apapun itu asal keinginannya tercapai Sam."
"Jadi bagaimana dengan anak yang ada di dalam perutnya itu, apa itu anakmu Ando?"
"Tentu saja tidak Sam! Aku sudah lama berpisah dengannya Sam, hubungan kami tidak begitu mulus. Dan terakhir aku bersamanya saat kita bertemu di kafe Adi."
"Terus itu anak siapa Ando?"
Andi menaikkan kedua kuduknya dan tangannya yang menggambarkan jika dia tidak tahu. "Argh, Cantika!" pekik Sam yang kembali ke alam sadarnya.
Sam mengingat goresan tinta Mutiara yang berkata jika Cantika tidak sebaik yang Sam kenal, dan Ando yang berkata hal buruk tentang Cantika. Yang terakhir Sam mengingat akan foto dirinya dan Cantika yang terlihat begitu asli. "Apa dia masih menyimpannya? Aku harus melihat keaslian foto itu," lirih Sam yang berusaha mencari keberadaan foto itu.
"Aku tidak ingin menghabiskan masa tuaku dengan wanita ular, dan wanita yang hanya mencintai kekayaanku. Akan aku buktikan ke papi, jika Cantika wanita yang tidak baik. Lebih baik aku memilih hidup sendiri daripada menyiksa hati ini bersama Cantika," ujar Sam yang berbicara sendiri, dimana tangannya tengah sibuk membolak-balik berkas dan semua tempat penyimpanannya itu.
Sam sangat berharap agar bisa mendapatkan foto itu lagi.
__ADS_1
"Apakah ini?"