Cinta Demi Balas Budi

Cinta Demi Balas Budi
Ancaman terhadap Sam


__ADS_3

Bab 55


Ancaman terhadap Sam


"Turun turun!"


Tok tok tok ….


Seseorang itu menggedor kaca mobil Sam semakin kencang membuat Sam memilih keluar dari mobilnya.


"Siapa kalian? Kalian mau apa?" tanya Sam terhadap beberapa preman yang ingin memalak Sam.


Tanpa rasa takut Sam meninggikan suaranya menantang para preman-preman itu, sehingga preman itu terlihat gusar akan keberanian Sam yang menantang mereka.


"Serahkan semua harta bendamu!" ujar salah satu preman yang menggunakan benda tajam ke arah Sam.


Sam tidak gentar dengan ancaman para preman itu, hingga terjadi perlawanan pemberontak Sam yang menyelamatkan harta bendanya.


Jumlah mereka terlalu banyak hingga Sam tidak sanggup mengalahkan mereka. "Stop apa yang sedang kalian lakukan!" Pekik suara yang melerai dan menyelamatkan Sam.


Pria itu tiada lain Rian dengan para pengawalnya, melihat seseorang yang datang dengan jumlah yang cukup banyak membuat para preman itu memilih pergi.


"Kamu tidak apa-apa, Sam?"


"Aku baik-baik saja Rian terima kasih."


"Hmmm, kamu kenapa bisa disini larut malam begini?"


"Aku kuatir tentang keberadaan Mutiara, kenapa kamu sampai membiarkan dia pergi, Rian?"


"Maafkan aku Sam, aku menyesal! Aku akan menemukannya secepatnya," balas Rian yang terlihat dengan mimik wajah yang sedih.


"Argh ah, aku tidak akan memaafkan diriku jika terjadi sesuatu terhadapnya, Rian! Dia sangat berarti bagi hidupku."


"Aku pasti bisa menemukannya!"


"Tapi kemana? Dia tidak memiliki tempat lain selain menemuiku, kemana dia?" ujar Sam yang bertanya pada dirinya sendiri.


Sam tengah memutar pikirannya mengingat tempat yang berkemungkinan dilalui Mutiara. "Apa ini ada hubungannya dengan Deni?" Masih ujar Sam yang sesaat teringat akan Deni.


"Argh ah, itu tidak mungkin Sam! Mutiara tidak akan mungkin menemui Deni."


"Ini bukan masalah menemui, Rian! Tepatnya di culik atau apa?"


"Kamu jangan mengada-ada Sam!"


"Firasatku semua ini ada hubungannya dengan Deni, aku akan mencari tahunya sendiri!"


"Tapi setidaknya, biarkan mentari itu muncul dulu Sam! Apa kamu ingin mengendap-endap ke rumah orang?"


"Itu ide bagus, Rian! Terima kasih," balas Sam yang memilih masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Sementara Rian tampak bengong melihat cara pikir Sam yang tidak masuk di akalnya, bagaimana bisa Sam menjadi penyelundup ke rumah Deni pada jam 1 malam, di saat pemilik rumah tengah terlelap. Apa yang akan dilakukan Sam.


Rian menggelengkan kepalanya ke arah Sam yang terbilang nekat, tapi Rian tidak ingin Sam menemui Mutiara terlebih dahulu. Membuat Rian memilih mengikuti Sam dari belakang mobilnya.


Sam mulai menyusun strategi untuk bisa masuk ke dalam, mengingat semua pintu tengah terkunci dan Sam tidak memiliki pengalaman tentang penyelundupan. Membuatnya sedikit memutar otak, bagaimana caranya agar dia bisa masuk ke dalam rumah tanpa sepengetahuan pemiliknya?


"Apa kamu tidak tahu cara masuknya, Sam?"


"Kamu mengikutiku?"


"Aku tidak ingin istriku terlebih dahulu menemuimu, dan tidak melihat suami tercintanya!"


"Argh ah Rian! Jika dia seorang wanita yang berharga di hatimu, kamu tidak akan mungkin membiarkannya keluar dari rumahmu!"


"Jangan bahas itu, aku sudah bilang aku menyesal."


"Tapi penyesalanmu membuatku kehilangan adikku, Rian!'


"Aku pasti akan bisa menemukannya!"


"Jika kamu merasa yakin bisa menemukannya, aku ingin kamu masuk ke dalam dan pastikan keberadaannya!"


"Kenapa harus aku?"


"Karena kamu suaminya!"


"Argh ah, buat apa aku membawa mereka semua! Hei kamu, masuk dan cek ke dalam. Kabari aku jika mengetahui keberadaannya!" titah Rian pada salah satu anak buahnya yang diperintahkan untuk menyelundup masuk kedalam.


Sam mulai mengikuti Rian masuk ke dalam mobilnya, mengawasi para anak buahnya dari kejauhan.


"Argh ah Rian, aku ngantuk! Apa aku boleh menumpang tidur di mobilmu? Jika ada tanda atau apapun tentang Mutiara, beritahu aku!"


"Kamu bisa tidur dan baring-baring di dalam mobilmu, Sam!"


"Argh ah Rian, aku ngantuk! Tolong jangan ganggu aku lagi."


"Sam, ini mobilku!" pekik Rian yang tidak Sam pedulikan, Sam memilih memejamkan matanya di dalam mobil Rian itu, dia tidak mempedulikan Rian yang sedikit kesal ke arah Sam.


Sementara beberapa anak buah Rian tengah bekerja, melakukan penyelundupan ke rumah Deni. Seseorang yang di curigai Sam dalam hal hilangnya Mutiara.


Hampir dua jam mereka di dalam, tapi tanda-tanda keberadaan Mutiara tidak mereka temukan, Rian hanya mendengar sebuah perkelahian yang terjadi di dalam rumah Deni itu.


"Sam Sam bangunlah!"


"Ada apa Rian? Apa Mutiaranya sudah ditemukan? Dimana dia?"


"Bukan itu Sam, mereka sepertinya ketahuan, Sam!"


"Argh ah, aku harus masuk ke dalam! Aku sangat yakin jika Mutiara ada di dalam," ujar Sam yang memilih turun dan berjalan ke arah rumah Deni.


"Tapi Sam, itu sangat berbahaya!"

__ADS_1


"Jika kamu takut Rian, kamu boleh pulang dan tarik selimutmu dirumah!"


"Sam!" Pekik Rian yg merasa marah akan ucapan Sam.


Rian akhirnya memilih mengikuti Sam masuk ke dalam rumah itu, di saat para anak buahnya yang tengah melayani beberapa pasukan dari Deni.


Deni yang terbangun menghidupkan semua lampunya, dan Deni sangat terkejut melihat kedatangan dua pria yang selama ini menjaga Mutiara.


"Sam," panggil Deni yang masih berada di anak jenjang itu.


"Kasih tau aku dimana kamu sembunyikan Mutiara?"


"Ha, apa kamu pikir aku takut denganmu, Sam? Ini hal yang sudah lama aku tunggu! Kamu harus mati di tanganku. Sam!" ujar Deni yang berlari ke arah Sam.


Deni mulai melakukan penyerangan terhadap keduanya, dua lawan satu! Amarah Deni sedang menggebu, menatap benci ke arah Sam yang telah menyebabkan sang kakak mengalami gangguan jiwa.


"Deni, stop! Bukan aku yang telah memperkosa kakakmu. Kamu sudah salah membenciku!" balas Sam yang tidak ingin melakukan penyerangan itu.


Sam bukannya takut, hanya saja dia menghargai Tika sebagai sahabatnya dan Deni seseorang yang disayangi Tika.


"Apa kamu takut Sam? Bawa dia keluar!" titah Deni yang membuat seseorang membawa Mutiara keluar dari kamar sang kakak.


"Berhenti semua, jika tidak dia akan aku bunuh!" ancam Deni yang meletakkan sebuah pisau di leher Mutiara.


"Argh ah, aku tidak tahu urusan kalian apa? Aku ingin kamu membebaskan istriku!" Pekik Rian yang berjalan ke arah Deni yang tengah meletakkan pisau itu di leher Mutiara.


"Apa kamu pikir aku main-main?" ujar Deni yang menggoreskan pisau itu sedikit ke tangan Mutiara.


"Argh ah auw, sakit Deni! Jangan," pekik Mutiara yang melihat tangannya keluar cairan pekat berwarna merah berbau amis itu.


Mutiara meneteskan air matanya yang melihat tangannya terluka. "Argh ah, Deni!" Pekik keduanya tidak terima jika mereka menyakiti wanita yang mereka sayangi.


"Sam, Sam Sam! Apa itu kamu Sam," Tika yang mendengar suara pekikan Sam membuatnya berjalan ke arah mereka.


Sontak mata mereka tertuju ke arah Tika yang terlihat sangat kurus, tanpa memiliki ekspresi wajah bahagia sedikitpun. "Sam, Sam apa kamu datang ingin membawaku?" Masih ujar Tika yang berjalan ke arah Sam yang terlihat mematung dan membisu.


"Bawa kakak ke dalam!" Titah Deni lagi.


Tika memberontak dan mencoba menahan tangan Sam. "Aku tidak mau pergi Sam, bawa aku bersamamu ha ha ha ha ha …." Balas Tika dengan tawanya masih memegang erat tangan Sam.


"Kak Sam," panggil Mutiara membuat hati Sam sedikit tersentuh.


Sam melingkarkan tangannya ke pinggang Tika memberikannya sedikit kecupan manis di kening Tika itu.


"Maafkan aku Tika," ujar Sam yang tidak sadar meneteskan air matanya.


"Bawa kakak ku ke dalam!" Masih pekik Deni yang terharu melihat pertemuan sang kakak dengan pria yang sangat dicintainya itu.


"Deni, mari kita bicarakan baik-baik! Tolong lepaskan Mutiara."


"Argh ah, dia ibu dari anakku!"

__ADS_1


"Apa maksudmu ha? Kamu ingin mati di tanganku!" Ancam Rian yang terlihat sangat marah terhadap Deni itu.


"Apa kamu tidak bilang dengannya sayang? Jika aku ini ayah dari anak yang sudah tumbuh besar bersamamu!"


__ADS_2