
Bab 52
Mutiara menghilang.
"Dia anakku Kak! Kenapa aku tidak boleh membawanya Kak?"
"Dia memang bukan darah dagingku, tapi sesuai perjanjian kita dulu. Jika kelak anak itu lahir akan menjadi milikku, dan dia anakku. Dia tidak pantas menjadi gembel di luar bersamamu," balas kak Rian yang membuat hati ini semakin pilu.
Aku meneteskan air mata di hadapannya, bahkan dia tidak menghiraukanku yang berjalan ke arah pintu. Aku harus kemana? Aku tidak mungkin menemui kak Sam, dia akan marah dan membenci kak Rian andai dia tahu apa yang sedang terjadi denganku.
Aku berjalan di bawah malam, hingga aku mendengar suara gemuruh dan pekik petir dan bintang-bintang yang tampak kabur, malam semakin dingin dengan deru angin yang semakin memekik. Kemana aku akan pergi, jika aku tidak memiliki tujuan hidup. Bahkan aku tidak memiliki siapapun.
"Ada motel," ujarku berbicara pada diriku sendiri, malam ini aku akan menginap di sini saja, menjelang pagi datang aku akan mencari pekerjaan dan bertahan hidup tanpa kak Rian dan kak Sam.
"Ini kamarnya Non," ujar sang pelayan yang membuatku masuk kedalam.
Hujan semakin deras dan aku sangat takut akan pekik gemuruh yang kian menghantam. Kucoba pejamkan mata dan melupakan apa yang terjadi tadi. Sudah cukup air mata ini jatuh, takkan kubiarkan air mata ini menetes lagi.
Pov Rian dan Cantika.
"Sudahlah sayang, kamu jangan memikirkannya lagi, aku ada untukmu sayang," ujar Cantika yang sedang berbaring di ranjang yang seharusnya di tempati Mutiara. "Kamu tidak salah sayang, apa yang kamu katakan itu benar," ujar Cantika lagi yang sedang memanasi hati Rian.
"Tapi Mutiara takut dengan hujan, aku harus mencarinya," balas Rian yang hendak berdiri dari sebelah Cantika.
"Kamu jangan pergi sayang, mari kita lakukan," ajak Cantika yang meletakkan tangan Rian di dadanya itu.
"Ayolah sayang, hari ini begitu dingin aku butuh kehangatanmu. Begitu juga dengan anak kita," tambah Cantika yang membuat Rian menanggalkan pakaian yang tengah dikenakan.
Rian mulai memainkan bibirnya ke bibir Cantika, hingga keduanya larut dalam malam panas, di atas ranjang yang biasa Rian pakai dengan sang istri.
"Aku sayang dengan kamu Rian," bisik Cantika yang mendapat balasan senyum manis dari wajah Rian.
*******
Pagi datang menyapa dan hujan tampak reda, Mutiara mulai keluar dengan membawa tasnya dari motel tempat dia menginap semalam.
Tujuan Mutiara kali ini mencari pekerjaan, menjadi buruh tak apa jua yang penting aku diberikan tempat untuk tinggal.
Mutiara mulai menyisiri kompleks yang sedikit jauh dari tempat tinggalnya dulu, dia melihat sebuah rumah yang yang bertulisan sedang mencari orang yang siap bekerja. Sesuai dengan apa yang dia inginkan.
Melempar senyum membaca sebuah tulisan yang tergantung di pagar, membuat Mutiara tanpa membuang waktu menemui sang satpam.
"Maaf Pak, apa benar pemilik rumah ini sedang membutuhkan pekerja?" tanya Mutiara terhadap sang satpam.
"Benar Non, ayo silahkan masuk Non," ujar sang satpam yang membawa Mutiara menemui sang majikan.
"Maaf Buk, ini ada Non! Siapa namanya Non?"
"Mutiara," balas Mutiara ke arah sang satpam.
"Non Mutiara Buk," ujar sang satpam lagi.
"Oh iya, apa kamu yakin ingin bekerja? Melihat dari penampilanmu kamu bukan orang susah!"
"Maaf Buk, saya memang benar-benar membutuhkan pekerjaan ini," tambah Mutiara meyakininya.
"Baiklah saya terima kamu! Pak tolong di bantu tunjukan kamarnya dan apa yang perlu dikerjakan oleh …."
__ADS_1
"Mutiara Buk," sambung Mutiara lagi.
"Oh iya Mutiara, kamu hanya mengurusi bagian perlengkapan apa yang diperlukan anakku. Sebentar yah aku panggil dulu," ujar sang majikan yang bersorak memanggil anaknya.
"Dek, Adek ini yang kamu cari buat membantu kamu sudah datang Dek," teriak sang majikan.
Aku mendengar langkah kaki yang berjalan ke arah kami, aku tidak menoleh dan lebih memilih menundukkan kepala ini, seperti halnya yang sering bibi lakukan dirumah.
"Ada apa Ma?"
"Ini loh, kamu bilang kamu butuh seseorang kan untuk bekerja di apartemenmu."
"Iya Ma," balasnya yang menatap ke arahku.
"Mutiara," panggilannya yang membuatku menoleh ke arah suara.
Klek
Aku terdiam menatap seseorang yang berdiri di hadapanku kini.
"Kamu Mutiara?" masih ujarnya yang membuat hati ini berdetak kencang.
"Apa kalian saling mengenal?"
"Iya Ma, dia mantan pacarku!" Balasnya yang membuatku hendak pergi.
"Maaf Buk, aku tidak jadi bekerja," ujarku yang berjalan keluar.
"Tunggu Mutiara!" Panggilannya yang berjalan ke arahku.
"Tidak Mutiara, kamu tidak boleh pergi! Sebelum kamu beritahu dimana anakku?"
"Anak?"
"Iya Ma, dia adik Sam!" tambahnya lagi yang membuat sang mama berdiri dan berjalan ke arahku yang ketakutan.
"Ini suatu kebetulan ini sayang, kurung dia ke kamar! Karena Sam kita kehilangan kakakmu," ujar mamanya yang begitu marah ke arahku.
"Maafkan aku, lepaskan aku Buk! Abi lepaskan aku haaaa aku mohon Abi," pintaku yang mencoba menepis tangannya yang menarik paksa tangan ini.
"Aku sudah cukup menderita Abi, atas balas dendammu terhadap kak Sam! Aku mohon lepaskan aku," masih ujarku yang melihatnya membuka pintu kamar itu.
Abi mendorong kasar badanku ke atas ranjang, hingga kepalaku terbentur di sudut ranjang itu.
"Auh, Abi! Kamu mau apa?" Kini aku sangat takut menoleh ke arahnya yang menatap sangar ke aku.
"Aku sudah bilang denganmu, aku belum puas membuat Sam menderita! Dan aku akan membuat Sam lebih menyesal lagi," ujarnya yang membungkukkan badannya ke badan ini.
Melihatnya yang seperti itu, membuatku menendang keras bagian selangkangannya itu, hingga dia merintih kesakitan di hadapanku.
"Argh ahh, Mutiara!" Pekiknya yang sedang kesakitan dan memegangi bagian selangkangannya itu.
Melihat dia yang merintih sakit, membuatku mengambil kesempatan berlari meninggalkan kamar itu.
"Kamu mau kemana Mutiara? Jangan lari!" pekiknya seraya mencoba berjalan mengejarku.
Aku sangat takut dan semakin takut hingga aku memilih bersembunyi di sebuah kamar.
__ADS_1
Klekk
Aku melihat wanita cantik yang kehilangan kesadarannya.
"Sam, apa itu kamu Sam?" ujarnya menangis di atas ranjang dengan posisi tangan yang diikat.
Aku berjalan ke arah wanita itu, dia sungguh cantik dan sangat cantik. Hanya saja wajahnya sangat pucat mungkin karena tidak mendapat cahaya matahari.
Apa dia ini wanita yang kak Sam ceritakan? Mendengar dia yang memanggil nama kak Sam.
"Sam, jangan tinggalkan aku," lirihnya yang tiada lagi meneteskan air mata. Dua hanya melempar senyum dan mimik wajah yang sedih.
Aku duduk di sebelahnya. "Kak, maafkan Kak Sam," bisikku di telinganya hingga aku melihat reaksi matanya yang tadi kosong menjadi sebuah tatapan yang menaruh harapan.
Dia mencoba menggenggam tangan ini
"Aku ingin bertemu dengan Sam, bawa aku bersamanya," pintanya yang menatap ke arahku dan berteriak.
Aku memeluknya dengan begitu erat. "Kamu pasti bisa sembuh Kak," bisikku di telinganya, hingga aku mendengar suara pintu terbuka.
Klekk
"Kakak," panggil Abi yang melihat kakaknya kembali menangis dan tidak mau melepaskan pelukannya dari aku.
"Kak lepaskan Mutiara, Mutiara janji akan membantu Kakak bisa bersama Kak Sam," bisikku yang membuatnya melepaskanku.
Dia menatap wajah ini dengan penuh senyuman dan harapan. "Kamu janji," ujarnya dengan tersenyum.
Aku mengangkat tanganku dan menghapus air mata yang jatuh di pipinya. "Iya Kak, Mutiara janji," balasku yang kembali memeluknya dan menempelkan kecupan kecil di pipinya.
"Terima kasih," ujarnya begitu haru
"Kak Tika," panggil Deni yang berjalan ke arah kami berdua.
Melihat Deni yang mendekatiku membuatku takut, aku menggenggam tangan kak Tika, dan menundukkan kepalaku ke arah Deni.
"Deni," panggil kak Tika
"Apa Kak? Katakan sekali lagi Kak," ujar Deni dengan begitu bahagia.
"Deni, adikku," panggil kak Tika yang membuat Deni menangis.
"Kak," ujar Deni yang tidak bisa berkata apa-apa. Deni memeluk kak Tika dengan begitu erat dan aku menjadi terharu menatap mereka.
"Deni, Tika," panggil sang mama yang ikut menangis melihat apa yang sedang terjadi.
"Mama," panggil Tika
"Tika," ujar sang mama yang berjalan dan memeluk erat Tika. "Mama senang Nak, kamu sudah mengingat Mama," masih ujar sang mama yang memeluk Tika itu.
Aku berdiri dan hendak membalikkan badan ini. "Kamu mau kemana Mutiara? Kamu tidak boleh pergi," ujar Deni membuatku sangat takut.
"Kamu harus merawat dan menjaga Kakakku sebaik mungkin, jika dia kenapa-napa maka kamu akan menanggung resikonya," ancam nya yang membuatku meneteskan air mata.
Aku tidak menduga kepergianku meninggalkan anak dan suamiku, akan membawaku dalam suatu masalah besar.
Kini aku hanya pasrah menjadi budak dari Deni, pria yang pernah menghamiliku dan meninggalkanku tanpa tanggung jawab.
__ADS_1