
Bab 37
Seakan tidak saling kenal
"Apakah ini?" Sam melihat sebuah foto Sam yang terletak di laci kerja Cantika, sebuah foto masa kenangannya dulu dengan Cantika. Tapi dari foto itu terlihat seperti foto yang ditunjukkan Cantika waktu itu kepada orang tuanya. "Apakah ini benar di-edit? Andai itu benar. Kamu kelewatan Cantika, kamu memanfaatkanku untuk menjadi ayah yang ada dalam perutmu itu! Tapi itu anak siapa? Arghh aku pasti bisa membongkar kebohongan Cantika.
Sam yang kesal itu menunggu kedatangan Cantika yang tidak kunjung datang, hingga semua penghuni kantor sudah pulang. Hanya tinggal Sam di ruang kerjanya.
Sam melakukan panggilan terhadap Cantika berkali-kali, tapi tidak sekalipun panggilan itu dijawab oleh Cantika. Terlebih Sam mengingat akan Rian yang mengundangnya di cara jamuan makan malam di rumah Mutiara. Membuatnya memilih pulang dan menghadiri undangan Rian itu.
Sam semakin kesal setelah mendapati Cantika juga tidak ada dirumahnya, wajahnya menunjukkan rasa marah yang akan menggebu menunggu kedatangan Cantika.
"Kamu kemana Cantika?" lirih Sam seperti setrikaan bolak balik mencari jawaban. Sam melihat ke arah jam tangannya yang menunjukkan jam 8 malam, tidak mungkin untuk tidak menghadiri undangan Rian. Mengingat Sam juga yang ingin melihat wajah Mutiara.
Walau rasa kesal di hati, tidak melunturkan niat Sam yang menghadiri undangan yang Rian berikan.
"Apa Rian tidak salah? Bukankah dia berkata ada jamuan makan malam, yang diadakannya dirumahnya, tapi dimana? Apa aku yang salah?" Lagi-lagi hati Sam dipenuhi seribu pertanyaan menatap rumah Mutiara seperti sedang tidak mengadakan acara apapun. Hingga Sam berniat untuk pulang, tapi Mutiara yang mendengar suara mobil itu keluar.
"Kak Sam," panggil Mutiara yang melihat Sam hendak masuk ke dalam mobilnya lagi.
"Eh Mutiara, a-aku pulang dulu," ujar Sam yang hendak menghindar.
"Eh Sam, kamu baru datang, kenapa kamu sudah mau pergi? Sini masuk," panggil Rian dari ambang pintu itu.
"Bukannya kamu bilang sebuah acara Rian? Kenapa rumahmu tampak sepi, apa kamu membohongiku?"
"Masuk dulu Sam," pinta Rian yang berjalan ke arah Sam.
"Aku harus pergi, kamu sudah membohongiku," balas Sam kesal, hingga Sam melihat beberapa mobil berjejer datang dari belakang mobil Sam.
"Kamu yang kecepatan datangnya sob! Ayo silahkan masuk," ujar Rian yang membuat Sam tidak bisa mengelak lagi.
__ADS_1
Sam dan beberapa undangan lain mulai menikmati acara yang disuguhkan Rian, di pinggir kolam yang dihiasi dengan taman-taman.
Rian terlihat bahagia, bahkan dia tidak melepaskan tangannya dari Mutiara, membuat Sam seakan terbakar api cemburu. Sesekali Mutiara mencuri pandang ke arah Sam. Hingga keduanya sesekali saling bertatapan tanpa sepengetahuan Rian itu.
"Dimana Cantika Sam, kenapa dia tidak ikut?" tanya Rian
"Ooh, dia sedang tidak enak badan," balas Sam lesu.
"Oh iya, dia menemuiku di perusahaanku tadi, dan dia terlihat segar."
"Apa Rian? Dia menemuimu? Apa bisa kita bicara sebentar?"
"Hmmm, tunggu sebentar yah sayang cup," Rian menempelkan kecupannya di pipi Mutiara, sebelum dia mengikuti Sam. Membuat Sam melotot ke arah Rian yang terang-terangan ingin membuatnya cemburu.
"Apa kamu sengaja Rian?"
"Apanya Sam?"
"Argh, lupakanlah! Katakan denganku, apa tujuan Cantika menemuimu. Apa kamu ayah dari anak yang didalam perut Cantika?"
Plakkk
"Argh, kenapa kamu begitu marah, jika itu tidak benar? Kamu bisa berkata dengan baik-baik. Aku jadi ragu terhadapmu."
Rian melempar senyum ke arah Sam. "Apa kamu senang menuduh orang tanpa bukti Sam? Apa kamu ingin aku menghajar mu lagi?"
"Lupakanlah, salam dengan Mutiara. Bilang kepadanya jika aku masih sangat mencintainya," ujar Sam yang membuat wajah Rian menjadi memerah, dan melihat Sam yang keluar membawa senyum cemoohan ke arah Rian.
"Sam!!" Pekik Rian yang membuat beberapa tamu menatap ke arah Rian itu.
"Kamu kemana Cantika?" Sam sangat marah melihat Cantika yang kini berada di dalam kamarnya, tengah mengotak Atik tombol ponselnya itu.
__ADS_1
Cantika melanjutkan aktivitasnya memainkan salah satu aplikasi di layar seluler itu, tanpa memperdulikan Sam yang tengah marah ke arahnya.
Sam yang kesal itu menarik paksa telepon genggam yang sedang Cantika pegang.
Brukk
Sam melempar keras telepon genggam itu ke lantai. "Apa yang kamu lakukan Sam?" Bentak Cantika yang marah ke arah Sam.
"Sudah syukur ponselmu yang aku hancurkan, bukan wajahmu yang ku tampar! Kamu dari mana, kenapa kamu tidak mengangkat panggilanku?"
"Apa aku perlu menjawabnya Sam? Saat aku memanggilmu, adakah kamu menjawab perkataanku Sam? Bahkan jika aku memekik memanggilmu, adakah kau hiraukan? Dan kini saat aku melakukan hal yang sama terhadapmu, kenapa kamu marah Sam? Kamu mengutarakan perasaanmu mencintai wanita lain dihadapanku Sam! Apa kamu memiliki perasaan bagaimana rasa sakitnya hati ini Sam? Aku tidak pernah lari dari kamu Sam, kamu yang meninggalkanku Sam!"
"Kamu benar Cantika, kamu memang tidak pernah lari dariku! Tapi kamu mengkhianatiku Cantika!! Aku mungkin belum menemukan bukti jika anak yang di dalam kandunganmu itu bukan anakku!! Tapi anakmu dan selingkuhanmu.".
Plakkk
"Cantika!" Pekik Sam yang marah karena Cantika menampar keras pipi Sam. "Argh," Sam melempar senyum sinisnya ke arah Cantika. "Ah, aku pasti akan meninggalkanmu untuk kedua kalinya, CANTIKA!!!" ujar Sam yang memilih membiarkan Cantika sendiri di kamar itu.
Sam lebih merasa nyaman tidur di kamar Mutiara, yang membuatnya teringat dan seolah terbayang akan Mutiara yang berada di sebelahnya. Sam lagi-lagi membaca buku catatan Mutiara.
"Aku sayang kamu kak Sam. Terima kasih sudah menjagaku selama ini! Walau karena perhatianmu itu membuatku jatuh cinta denganmu kak! Tapi kakak tidak usah takut Mutiara tidak akan meminta lebih, cukup kakak menjadi kakak angkatku dan menjagaku selalu. I love u."
Sam tersenyum membaca catatan Mutiara itu. "I love u juga Mutiara," balas Sam yang menempelkan bibirnya di buku catatan Mutiara itu.
Kenapa aku tidak menjadikanmu sebagai pacarku dulu yah. "kamu jangan melihat adikku seperti itu terus Sam! Dia harus sekolah, dan jangan berpikiran jika aku akan merestui hubunganmu dengan adikku. Aku tidak mau papamu yang galak itu menerkam adikku, cukup jadikan dia sebagai adikmu," ujar Andre yang hadir dalam mimpi Sam.
"Aarrgghh!!! Iya Andre," pekik Sam yang terbangun dari mimpinya. Entah beberapa hari ini Andre seolah masuk dalam ingatan Sam. Mengingat akan kenangannya dulu bersama Andre yang melarangnya mendekati Mutiara.
"Kamu harus menjaga dan melindungi adikku selalu Sam, jangan biarkan dia disakiti siapapun."
Mata Sam seolah mencari seseorang, yang seakan itu suara Andre yang berbisik di telinganya. "Haaaa haaa …." Sam tanpa sadar meneteskan air matanya, mengingat akan kematian Andre di pangkuannya itu.
__ADS_1
"Aku berjanji Andre, aku akan menjaga Mutiara sebaik mungkin, aku janji Andre! Kamu yang tenang di sana. Aku akan selalu ada bersama Mutiara! Aku tidak akan membiarkan dia menangis lagi. Seperti janjiku dulu padamu," lirih Sam berbicara sendiri yang terbangun tengah malam itu.
Sam berjalan ke arah foto kenangannya bersama Andre, lalu mendekap erat foto itu. "Aku akan menjaga adikmu sebaik mungkin Andre," masih ujar Sam seraya dia melelapkan matanya.