Cinta Demi Balas Budi

Cinta Demi Balas Budi
Demi duit nyawa pun akan di korban


__ADS_3

bab 9


Rian yang masih berdecak kesal, akibat keteledoran Sam yang menghidupkan hpnya tadi. Menggelengkan kepalanya ke arah Sam yang masih berada disamping Mutiara.


"Apa sesuatu akan terjadi? Bukannya kamu bilang kamu seseorang yang hebat, tidak akan ada satu orang pun yang berani datang ke tempatmu ini, bahkan seekor tikus pun tidak akan berani masuk! Bukankah seperti itu yang aku dengar kemarin,"


Sam membalas tatapan Rian, seolah rasa kuatir mulai timbul, suasana seakan hening diantara mereka bertiga.


Pandangan Sam tidak lepas terhadap Muti, kewaspadaan pun meningkat. "Seseorang akan datang! Tamu yang tidak diundang akan mulai masuk satu persatu, lindungi Mutiara, jangan lengah! Sasaran mereka kini tertuju ke Mutiara, sebagai pemancing agar kamu pulang," ujar Rian dengan Santai tanpa ada ekspresi.


Baru saja dibicarakan, seseorang tengah melakukan pertarungan di luar, antara sang anak buahnya dan tamu yang tidak diundang. Sam menggerakkan dirinya lebih dekat ke sebelah Mutiara, memegang tangan Mutiara yang mulai ketakutan akibat mendengar suara pertempuran diluar.


Tidak ada ekspresi hendak melawan atau waspada, Rian tetap Santai seolah sedang tidak terjadi sesuatu, dan tidak mendengar sesuatu. Dia tetap fokus pada layar telepon selulernya.


Walau dentuman keras berbunyi, di tambah jeritan dari sang lawan, dan sang algojo Rian yang menghadang para penjahat yang hendak menerobos masuk kedalam.


Hal ini tentu sudah biasa bagi Rian dalam bisnisnya, hingga dia tidak merasa sesuatu ketakutan. Atau bahaya yang datang mendekat padanya.


Seorang yang mengenakan masker, melihat ketiganya duduk, berlari ke arah Muti dan hendak menghujam Mutiara pakai pedagang yang sedang di pegang sang musuh.


Rian memandang orang yang hendak menyerang Muti, saat seseorang itu sudah dekat dengan meja tempat mereka duduk.


dorr ….


Rian mendorong meja itu hingga mengenai paha sang penjahat, lalu Rian lantas berdiri mematikan pukulan sang lawan.


Dia mengenai tiap engsel lengan- lengan otot si penjahat, hingga terdengar rintih sakit dan bunyi dari tulang-tulang musuh, sang penjahat tidak berani melawan menatap Rian yang begitu pintar akan hal bela diri.


Sam mulai berdiri, melakukan penyerangan terhadap beberapa orang penjahat, yang ikut dalam lomba misi penangkapan Sam dan Mutiara.


Pertarungan pun dimulai, Mutiara menundukkan kepalanya, meletakkan kedua tangannya di atas pundak. Dengan raut wajah yang ketakutan dan jerit teriakan melihat sang musuh jatuh tepat di hadapannya.


Entah dosa apa yang tengah diperbuat, sehingga hidupnya Selalu melihat hal- hal yang mengerikan.


Seseorang sedang mengintai Muti yang tengah ketakutan, dengan cepat Sam melempar sebuah pot bunga yang ada di meja. Tepat mengenai sasaran kepala penjahat yang mulai mengeluarkan cairan merah pekat berbau amis dari arah kening bekas lemparan pot bunga itu.


Sam berlari ke arah Mutiara, memeluk Mutiara dan seolah sedang terjadi tari samba, Sam dengan posisi memeluk Mutiara tetap memainkan kakinya memukul sang lawan.

__ADS_1


"Kak aku tengah hamil," lirih Muti yang membuat Sam, melepaskan pelukannya, dan memilih melakukan penyerangan tanpa melibatkan Muti lagi.


Suasana pertarungan pun terjadi hampir satu jam, hingga akhirnya pasukan papi Rian datang dan mengusir semua para penjahat.


Suasana rumah mulai aman, mama Rian datang dan berlari ke arah Muti, memeluk Muti dengan begitu erat. " Mami rindu denganmu Nak, Mami sudah tau kabar tentang keluargamu! Sekarang kamu akan aman bersama Mami nak," ucap mami Rian yang berkali-kali mengecup kening Mutiara seolah dia menemukan putri kecilnya yang hilang. Kebahagiaan tergambar jelas di wajah mami Rian yang bertemu dengan Mutiara, anak dari almarhum sahabatnya.


Masih dalam dekapan mami Rian yang memeluk Mutiara dengan penuh kasih, hingga Mutia meneteskan air mata kebahagiaannya. Aku merasakan kehangatan dari seorang ibu. Hingga sesuatu terlontar dari mulut Mutiara itu.


"Aku sudah lama tidak merasakan kehangatan seorang Ibu, terimakasih mami,"


"Bersihkan semua ini," titah papi Rian terhadap para bawahannya, yang melihat beberapa sosok tubuh yang terluka. Akibat perkelahian itu.


Rian menoleh ke arah sang papi yang datang bersama mamanya itu. "Papi, kapan Papi datang," hati Rian begitu bahagia melihat perhatian papinya terhadapnya, yang sangat mengkhawatirkan Rian.


"Kenapa mereka bisa masuk ke wilayahku, siapa mereka?" ucap papi Rian dengan marah, melihat anaknya itu tengah diserang, beberapa orang yang tidak dikenal. "Mereka pesuruh pak Antonio, ini Sam, anak dari pak Antonio Pi," jawab Rian yang melihat sang papi seolah marah, setelah mengetahui kawasannya didatangi sang musuh.


"Oh jadi kamu anaknya" ucap papi Rian dengan memandangi Sam sebagai seorang musuh, perasaan tidak senang terhadap anak pesaing bisnis keluarga Rian.


"Iya, om," ucap Sam dengan menyalami punggung tangan papi Rian.


"Jika kamu mau, om bisa membantumu lepas dari masalah ini, kamu kembali ke papimu, biar Muti om yg jaga," ucap papi Rian yang membuat Sam seolah marah, dengan menampakkan sorotan mata yang tajam.


…." Belum sempat melanjutkan omongan Rian menarik tangan Sam sedikit menjauh.


"Jangan bilang ke papi jika kamu mau menikahi Mutiara, sekali ini saja Sam bantu aku! Biarkan aku yang menikahi Muti, aku butuh semua warisannya, untuk menghancurkan adik tiriku itu! Dia bagaikan musuh dalam selimut".


" Itu urusanmu, bukan urusanku, aku akan tetap bilang kalau aku akan menikahi Muti, jika kamu tidak mau membantuku mencarikan penghulu aku tidak perduli, aku akan membawa Mutiara keluar dari sini,"


"Kamu tidak akan bisa lari dariku Sam!! Aku bisa saja menghabiskan kapanpun kamu mau, kamu tidak perlu mempertaruhkan nyawa mu untuk Muti, masa depanmu bagus. Lebih baik kamu pulang dan hidup seperti dulu," ancam Rian terhadap Sam.


"Oh ya, maaf aku tidak takut ancamanmu," balas Sam seakan marah, dan berjalan ke arah Mutiara.


"Maaf om aku dan Muti ingin bicara," ucap Sam yang masih menghargai papi mami nya itu.


Sam pun menarik tangan Muti menuju kamarnya. "Kita harus pergi, aku tidak bisa membiarkanmu dinikahi oleh Rian. Tujuan awal kita bukan Muti, aku yang akan bertanggung jawab atas bayi yang ada di dalam perutmu! Aku tidak bisa percaya lagi kepada siapapun, aku tidak mau mengambil resiko melepaskanmu dengan orang," ucap Sam yang duduk di sofa kamar.


"Apa kakak mencintai Muti?" Tanya Muti yang membuat bola mata Sam seakan keluar.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Apa masih perlu cinta dengan kondisimu yang kini," balas Sam seakan malu mengungkapkan isi hatinya.


"Aku juga Kak, aku juga mencintai Kakak, maaf Kak" bisik Mutiara seraya memeluk Sam.


Sam terdiam mendengar penuturan Mutiara. "Kenapa dia nekat sekali mengutarakan isi hatinya? apa dia serius dengan ucapannya? Aku juga Muti" ujar Sam yang masih membiarkan Mutiara memeluknya,dan meletakkan tangan Sam di rambut mutiara.


Dret


"Apa gerangan yang terjadi?" tanya Rian yang tiba-tiba saja datang membuat Mutiara dan Sam melepaskan pelukannya masing-masing.


"Kamu tidak bisa membawa Mutiara dari sini, aku tidak akan membiarkan itu, setidaknya, biarkan aku menikahi Mutiara Hanya sebatas di kertas," ucap Rian yang membuat Sam seakan tidak mengerti.


"Aku tidak mau menikah denganmu Rian!!" Jawab Muti yang membuat Rian seakan kecewa walau dia tetap tidak menyerah.


"Aku tahu kamu tidak menyukaiku, anggap saja kamu membalas budi karena sudah aku selamatkan, kita menikah sebatas surat nikah saja, setelah anakmu lahir kamu bebas pergi kemanapun. Tapi dengan syarat anakmu menjadi anakku hak asuh anak akan menjadi hakku, " ucap Rian yang membuat Sam hendak berdiri dan Protes.


"Kamu tidak ada pilihan Sam, di luar kacung papimu berkeliaran, dan jika kamu nekat membawa Mutiara hidupmu juga terancam olehku! Aku tidak akan membiarkan kamu bisa lepas. Apalagi jika adik tiriku tahu jika aku sudah mendapat Mutiara, hidup Muti juga akan terancam olehnya! Salah satunya cara dengan menjadikan Muti istriku, agar dia tetap aman dan kamu juga bisa menyusun rencana untuk melakukan perlawanan ke papimu! Agar papimu berhenti menerormu. Setelah itu aku akan menikah kan kalian berdua aku akan menjadi wali kelak untuk Mutiara, bukan nya itu hal mudah Sam? Kita saling bantu!!"


"Ah, kenapa kami mesti terjebak dalam situasi begini? Kamu datang setelah pernikahanku dengan Cantika gagal. Kenapa kamu tidak datang dari awal dari saat Mutiara kena usir oleh mami tirinya? dan saat aku tidak meninggalkan semua, sekarang setelah perjuangan panjang yang aku lalui sampai aku merasa bisa nyaman dengan adik sahabatku sendiri, kamu datang untuk mengambilnya,"


"Aku tidak mengambilnya Sam, aku akan mengembalikannya, kita akan buat perjanjian pernikahan dua tahun kontrak, dan selama dua tahun itu aku tidak akan menyentuh Mutiara. Sama sekali tidak! Aku hanya butuh statusku yang sudah menjadikan Mutiara sebagai istriku, karena itu amanah maminya Muti dulu, ingin Muti aku nikahi.


"Walau pun kelak aku tidak ada! atau diantara kita salah satu sudah pergi, aku menitipkan Muti jadikan dia sebagai menantu mu kelak," pesan mami Muti terhadap mamaku Sam, sehingga papi mengira jika Muti tidak akan ditemukan dia memberikan aku syarat yang tidak masuk akal. Mungkin ini jalannya Muti aku temukan! Aku tidak mungkin akan melepaskannya,"


Masih dalam negosiasi antara Sam dan Rian, membuat Mutia sebagai penonton diantara mereka berdiam. "Aku tidak bisa Percaya omonganmu," balas Sam terhadap Rian.


"Kamu harus mempercayaiku Sam! Dua tahun, aku tidak akan menuntut apapun, aku janji Sam," Muti apa kamu mau menolongku?" tanya Rian sepertinya serius akan ucapannya.


"Semua tergantung kak Sam" ucap Muti yang merangkul tangan Sam dengan erat seolah tidak rela jika dia harus memilih bersama Rian. " Aku tidak mau menyakitimu Kak, aku tahu kamu juga mencintaiku Kak" batin Mutiara di dalam hatinya.


"Baik, dua tahun tanpa boleh menyentuh Mutiara," ucap Sam mengulang perkataan Rian.


" Makasih Sam, aku akan menyuruh mami untuk mengurus segala sesuatunya, dan kamu jika mau, pakai lah perusahaanku untuk membalas papimu, dan di saat itu kamu akan tahu siapa sebenarnya papimu, aku harap kamu jangan kecewa jika tahu akan keadaan sebenarnya," ucap Rian seraya pergi.


" Kak, apa,?"


" Udah Muti, Kakak akan menjagamu, jika dia menyentuh dan membentak, bilang dengan Kakak, jangan lakukan seperti apa yang kamu lakukan kemarin Muti, kesalahan sekali masih Kakak maafkan tapi jika terulang dua kali kamu di sentuh pria lain, jangan harap Muti aku akan menerimamu kembali! Ingat itu!! Apa pun yang terjadi lindungi dirimu sendiri," ucap Sam dengan tegas.

__ADS_1


" Baik kak"


__ADS_2