Cinta Demi Balas Budi

Cinta Demi Balas Budi
Kedapatan selingkuh


__ADS_3

Bab 40


Kedapatan selingkuh


"Kakak terlihat lelah semalam Kak, sampai, saat Mutiara memijat badan Kakak itu Kakak sudah terlelap. Apa tidak sebaiknya hari ini Kakak libur dulu? Aku ingin mengajak Kakak ke makam kedua orang tua Mutiara Kak! Kan sudah lama kita tidak kesana? Apa Kakak ada waktu hari ini?"


"Maafkan aku Mutiara, tapi hari aku ada janji dengan klien. Aku rasa malam ini aku akan pulang larut malam lagi! Jadi kamu tidak perlu menungguku! Aku tidak ingin kamu kedinginan di luar jika terus menunggu kedatanganku."


"Tapi Kak!"


"Aku pergi dulu Mutiara! Cup cup …." Rian memilih pergi setelah meninggalkan beberapa kecupan kecil di pipi Mutiara.


"Bukankah hari ini tanggal merah, sejak kapan perusahaan kak Rian beroperasi di saat tanggal merah? Apa kak Rian menyembunyikan sesuatu? Argh!! Mutiara kamu jangan mulai lagi deh, berpikiran yang macam-macam tentang suamimu! Mungkin kak Rian memang ada meeting mendadak kali yah, argh. Akunya saja kali yang ketakutan," ujar Mutiara pada dirinya sendiri.


Dia seperti orang bodoh yang mengajak pikirannya berbicara, hati Mutiara yang tampak gelisah. Tapi dia berusaha untuk tetap berpikir positif. " Apa aku pergi ke saja ke rumah Amira, aku sudah lama tidak melihatnya? Aku rasa kak Rian tidak akan marah," batin Mutiara yang memilih berjalan ke rumah Amira yang jaraknya sekitar tiga rumah dari rumahnya. Tepatnya rumah Amira berada di depan rumah kediaman lamanya, rumah yang sedang ditempati Sam kini.


"Bibik, aku pergi ke rumah Amira yah! Jangan mencariku," pekik Mutiara yang mulai berjalan itu.


Mata Mutiara tertuju ke arah depan, dia melihat mobil Rian yang sedang dinaiki seorang wanita berbaju seksi dan bertubuh langsing. "Siapa dia?" tanya Mutiara pada dirinya sendiri, melihat wanita itu dari belakang punggungnya. Mutiara tidak melihat wajah wanita itu dengan jelas. "Argh, mungkin itu hanya sekretaris atau sahabat kak Rian! Kak Rian tidak mungkin mengkhianatiku," lirih Mutiara yang melanjutkan perjalanan ke arah rumah Amira itu.


"Amira Amira," panggil Mutiara dari luar pintu gerbang rumah Amira. "Kenapa rumahnya sepi yah! Apa Amiranya gak ada?" Mutiara mencoba masuk ke dalam dan mencari pemilik rumah. "Kosong, aku sudah lama tidak kesini! Hingga aku tidak tahu Amira kemana? Hanya dia saja sahabat yang ku punya," lirih Mutiara yang mulai keluar dari pintu gerbang itu.


"Mutiara, sedang apa kamu kesitu?" tanya Sam yang melihat Mutiara keluar dari pintu gerbang itu.


Mutiara tidak menjawab perkataan Sam, bahkan dia terkesan tidak ingin menoleh ke arah Sam. "Eh Mutiara, Tante dengar kamu sudah tinggal di rumah ujung yah! Kenapa kamu tidak membeli rumah peninggalan almarhum papa mu itu Mutiara?" Tanya Tante Yona tetangga lama Mutiara.


"Eh Tante Yona, apa kabar Tante? Iya, Mutiara tinggal di kompleks ini lagi! Oh iya Tante itu Amira kemana yah? Mutiara panggil kok sepertinya rumahnya kosong."


"Oh Amira, dia sudah lama tidak tinggal di sini lagi, semenjak kamu pergi!"


"Oh gitu yah Tante, Mutiara pergi dulu!"

__ADS_1


"Tunggu sebentar Mutiara, buru-buru amat! Apa kamu tidak menemui kakak angkat mu dulu? Aku rasa dia sedari tadi menatap kita yang sedang berbicara."


Mutiara melirik ke arah Sam yang tidak melepaskan pandangannya ke arah Mutiara sedari tadi. "Dia bukan kakak angkatku lagi," balas Mutiara yang sengaja meninggikan volume suaranya, hingga Sam terlihat kesal dan berdecak kesal.


Sam ingin menghampiri Mutiara yang sedang berbincang itu. "Tante, Mutiara duluan yah!" ujar Mutiara yang hendak pergi itu.


"Kamu mau kemana adik ku yang manis?" tanya Sam yang menahan tangan Mutiara yang hendak melangkah pergi.


"Lepaskan aku Kak!" Mutiara mencoba menepis tangan Sam dari tangannya itu. "Ikut aku, kita jalan-jalan seperti dulu! Kami duluan yah Tante," ujar Sam terhadap wanita yang tersenyum melihat keduanya. "Kalian berdua sangat cocok," balas wanita itu yang membuat keduanya terdiam, dan Sam melepaskan tangan Mutiara.


Wajah keduanya sontak memerah mendengar penuturan sang wanita. Hal itu yang diinginkan Mutiara dan Sam dalam hidup mereka, tapi takdir masih berkata yang lain. Seolah keduanya akan sulit untuk bersatu.


"Aku harus pulang Kak," Mutiara mencoba menghindari Sam.


"Ikut aku sebentar Mutiara!!" Titah Sam berjalan terlebih dahulu dari Mutiara yang terlihat masih bimbang.


Mutiara seakan ragu untuk mengikuti Sam, walau hatinya meminta agar Mutiara mengikuti Sam. "Cepat Mutiara!!!" Masih titah Sam yang sudah menunggu Mutiara di depan gerbang rumahnya itu.


"Dia sedang pergi, kamu tidak usah takut terhadapnya Mutiara! Dia tidak akan menyakitimu lagi."


"Tapi Kak."


Sam menarik tangan Mutiara masuk ke dalam rumahnya. "Sudah Mutiara, apa kamu tidak rindu dengan Kakak?"


"Tidak! Aku benci dengan Kakak!!! Kakak menikahkanku dengan orang yang tidak aku cintai, dan sekarang Kakak datang di hadapan Mutiara dan telah … arghh!!! Aku benci denganmu Kak, bahkan Kakak beberapa hari ini marah terhadap Mutiara. Apa salahku Kak?"


"Lupakan soal itu Mutiara, apa kamu ingin ikut Kakak, ke makam kedua orang tuamu dan makam Andre?"


"Apa Kak?"


"Iya Mutiara, apa kamu mau ikut?" ajak Sam yang melihat seketika mata Mutiara memerah. "Apa yang salah lagi Mutiara? Maafkan Kakak yang tidak bisa menjadi Kakak yang baik untukmu!"

__ADS_1


"Bukan itu Kak, Mutiara sedih! Karena tadi Mutiara mengajak kak Rian pergi ke makam kedua orang tua Mutiara, tapi kak Rian tidak mau. Dan Mutiara melihatnya pergi dengan seorang wanita. Apa perusahaan kak Rian bekerja di saat hari libur juga yah Kak?"


"Apa maksudmu Mutiara, Rian mengkhianatimu?"


"Bukan Kak, Mutiara hanya melihat seorang wanita yang masuk kedalam mobil kak Rian tadi Kak!"


"Itu namanya selingkuh Mutiara!"


"Haa," ujar Mutiara seolah tidak percaya akan apa yang dikatakan Sam. "Ah, kak Rian tidak mungkin selingkuh Kak! Kak Rian orang yang baik Kak."


"Mutiara aku serius!!"


"Haaaaa haaaa … kak Rian!!!!" Pekik Mutiara menangis yang mendengar pernyataan Sam itu.


Mutiara membalikkan badannya dari hadapan Sam. "Kamu mau kemana Mutiara?"


"Aku mau cari Kak Rian," balas Mutiara tanpa menoleh Sam. Mutiara berjalan hendak keluar dari dalam rumah Sam dengan kondisi menangis.


Sam menarik tangan Mutiara lalu mendekapnya begitu erat.


"Mutiara tidak percaya Kak, jika kak Rian selingkuh dibelakang Mutiara!!"


"Kalau namanya selingkuh, ya di belakang Mutiara! Kalau di depan itu bukan selingkuh namanya, kalau di depan itu pacaran," ujar Sam yang membuat Mutiara tersenyum.


"Seperti ini dong, Kakak senang melihatmu jika tersenyum," masih ucap Sam.


Sam menghapus air mata yang di pipi Mutiara dengan penuh rasa sayang, hingga Sam terbawa perasaan. Sam memegang bibir manis Mutiara dengan lembut dan keduanya saling melempar tatapan cinta yang terpendam.


Tanpa sadar Sam mendaratkan bibirnya di bibir Mutiara itu, dan Mutiara seolah tidak bergeming dan membalas kecupan manis Sam. Mereka memadukan dua perpaduan bibir dengan penuh rasa cinta yang lama dipendam.


Tidak ada kata yang keluar dari mulut keduanya, Sam mencoba membawa Mutiara ke dalam kamar miliknya itu.

__ADS_1


Gerakkan Sam semakin lincah, dia tidak hanya bermain di bibir manis Mutiara, Melainkan tangan dan mulutnya mulai menjarah ke sisi tubuh yang menaikkan hasrat.


__ADS_2