
Bab 32
Hari pertama di rumah lama Mutiara
"Jika tidak apa Mami?"
"Jika tidak Mami akan bilang ke papi, agar tidak memberikanmu izin tinggal di sini Sam," balas sang mami yang kesal dengan kelakuan Sam itu.
"Argh, Mami itu tidak adil," Sam berdecak kesal melihat arah Cantika, lagi-lagi dia berhasil mengambil hati mami Sam.
"Terserah Mami," tambah Sam lagi yang berjalan mengitari, setiap sudut ruangan rumah lama Mutiara. Dan memandang para pekerja yang masih sibuk merapikan rumah yang sudah lama ditinggalkan itu.
"Aku ingin tidur di kamar almarhum Andre, tolong itu dirapikan segera Bik," pinta Sam
"Baik Den," balas sang Bibik.
"Apa tidak sebaiknya, kamu tinggal bersama Mami saja Sam? Mami kesepian di rumah sendiri Nak."
"Tidak Mami, Sam ingin tinggal di sini! Lagian kan Mami bisa mengunjungi Sam kapanpun Mami mau," balas Sam
"Baiklah kalau seperti itu Sam, Mami pulang dulu. Ingat pesan Mami, itu Cantika jangan di marahin terus, kamu harus sayang dengannya Sam," pinta mami Sam.
"Iya Mami," lirih Sam menjawab dengan nada lesu.
"Sam," ujar Cantika yang mengambil tangan Sam.
"Maafkan aku Cantika," balas Sam yang mengacak-acak rambut Cantika.
Sam memutuskan untuk tidur di kamar sahabatnya itu Andre, menatap tiap sudut ruangan dan fotonya bersama Andre. "Maafkan aku Andre, aku gagal menjadi kakak yang baik untuk Mutiara. Tapi aku janji akan menyerahkan kembali rumah ini terhadap Mutiara," batin Sam yang sedang memeluk foto kenangannya antara dia dan Andre.
"Kamu cantik Mutiara, tapi aku tidak bisa memilikimu. Maafkan aku Mutiara karena aku kamu seperti ini," lirih Sam lagi yang berjalan ke arah foto Mutiara.
Sam memandang foto Mutiara dengan penuh rasa cinta, membuat Cantika yang memergoki Sam itu marah dan berjalan ke arah Sam.
"Sam, aku tidak suka caramu yang seperti ini, kamu masih memikirkannya. Apa kamu tidak bisa menghargai perasaanku Sam? Sebagai istrimu," ujar Cantika yang membuat Sam lagi-lagi terdiam.
Sam menarik tangan Cantika ke arah kamar Andre yang kini menjadi kamarnya. "Apa yang kamu takutkan Cantika? Bukankah kita sekarang sudah menikah, Mutiara hanya sebagai adik bagiku. Tidak lebih dari sekedar adik, aku masih Sam mu yang dulu Cantika," ujar Sam yang sedang memangku Cantika itu.
Sam tidak ingin jika Cantika marah terhadapnya lagi, sudah cukup beban ini aku tidak ingin menambahkannya lagi. Lirih Sam yang memeluk manja Cantika.
"Kamu juga dulu berkata seperti itu denganku Sam! Tapi apa, kamu meninggalkanku untuk Mutiara. Orang bodoh saja paham Sam, jika perhatianmu dan tatapanmu itu terhadap Mutiara itu didasarkan dengan cinta Sam?"
"Sudah jangan bahas dia! Mutiara bahagia dengan suaminya," balas Sam yang memilih mengalihkan nya dengan bermain bersama Cantika.
Sam memberikan kecupan di leher Cantika, membuat Cantika yang tengah marah itu meluapkan emosinya. Dan terbawa pada suasana percintaan yang ditawarkan Sam.
__ADS_1
"Sam," panggil Cantika yang melihat Sam mulai melepaskan semua benang yang tersusun rapi di badannya.
"Aku ingin kamu selalu mencintaiku," ujar Cantika ke arah Sam yang mulai menaiki tubuh Cantika yang sudah polos itu.
Sam tidak menjawab dan mulai melakukan permainannya itu, hingga Cantika tidak bisa lagi berkata apapun, selain menikmati setiap hentakan yang diberikan Sam.
Selesai melakukan aktivitas bercintanya dengan Cantika, alih-alih ingin memejamkan mata, mengingat hari ini yang begitu melelahkan, tapi pikirannya masih melayang ke arah Mutiara yang menangis di ruang rumah sakit itu. Jerit dan lirih tangisan Mutiara terngiang di pikiran Sam. Sehingga sulit baginya menikmati malam.
POV Mutiara
"Terima kasih Kak Rian," ujar Mutiara terhadap Rian, senyum di wajah Mutiara tidak hilang sedari tadi. Saat Rian membawa Mutiara ke rumah yang baru Rian beli untuk Mutiara.
Rian menepati janjinya untuk tinggal di sekitar rumah lama Mutiara, jaraknya kisaran dua rumah dari rumah lamanya.
"Apa kamu senang Mutiara? Dan rumah ini untukmu, anggap saja ini hadiah pernikahan kita," balas Rian yang masih memandang Mutiara yang melihat isi rumah itu.
"Tidak jauh beda dari rumah peninggalan papa, aku senang! Terima kasih Kak," ujar Mutiara lagi yang melingkarkan tangannya di pinggangnya Rian itu.
Rian menempelkan kecupannya di kening dan pipi Mutiara itu. "Aku bahagia, terima kasih," balas Mutiara lagi yang membalas kecupan untuk Rian itu.
"Aku senang kamu bahagia Mutiara, aku ingin kamu seperti ini terus."
Mutiara melempar senyum termanisnya lagi terhadap Rian itu. "Kapan kita tinggal di sini Kak?"
"Humm … kapan yah," Rian meletakkan jarinya di bibirnya.
"Iya sayang, secepatnya," balas Rian yang bermanja-manja dengan Mutiara.dan sekarang giliran Rian yang melingkarkan tangannya ke pinggang Mutiara dan memberikan kecupan di kepala Mutiara. "Aku sayang kaku Mutiara," ujar Rian yang merasa bahagia akan hari ini.
Rian berhasil mengusir sedih yang menyelimuti hati Mutiara, kini senyum bahagia yang terpancar di raut wajah Mutiara itu.
"Apa mama tidak akan marah Kak, jika kita memutuskan tinggal disini?"
"Tentu tidak sayang, karena aku memiliki perusahaan yang harus aku jaga disini. Dan aku harap kamu jangan mencuri kesempatan untuk bertemu dengan Sam, karena kita sudah tinggal di sini."
"Kak Rian," pekik Mutiara tidak terima akan perkataan Rian. "Aku tidak akan mengkhianatimu Kak," ujar Mutiara lagi.
"Aku harap seperti itu Mutiara, karena aku tidak akan pernah mau melepaskanmu," ujar Rian yang membuat Mutiara terhadap dan meneteskan air mata.
"Kenapa?"
"Aku ingin kamu menjaga ucapanmu kak Rian, karena kamu pria yang sempurna. Kamu tampan, baik dan memiliki segala-galanya, aku takut jika seseorang datang mengambilmu dariku."
"Syukur, jika kamu sudah menyadari itu Mutiara," balas Rian yang membuat Mutiara mencubit pinggang Rian. "Auh Mutiara, itu tidak akan terjadi! Selagi kamu menjaga cintamu untukku."
Mutiara melempar senyum ke arah Rian, menyetujui permintaan Rian itu. "Toh, kak Sam juga sudah menikah, dan aku hanya memiliki Rian yang harus aku jaga dengan baik." Batin Mutiara yang menatap Rian itu.
__ADS_1
"Apa kita pulang sekarang Mutiara, apa kamu masih ingin disini?"
"Tidak, tapi aku ingin makan," pinta Mutiara.
"Baiklah kita akan makan dulu," balas Rian yang membawa Mutiara menikmati makan malam yang romantis, dengan ditemani nuansa musik.
"Kamu mau makan apa Mutiara?"
"Samakan denganmu saja Kak," balas Mutiara yang tidak henti memandang wajah Rian.
"Kamu kenapa?"
Mutiara seolah salah tingkah melihat Rian, yang memergokinya tengah memandangnya itu. "Aku ke- kebelakang dulu," ujar Mutiara yang berdiri dan.
Brukk
Mutiara menabrak pelayan yang sedang datang membawa makanan ke arah mereka.
"Kamu tidak apa Mutiara?"
Sontak semua mata menatap ke arah Rian dan Mutiara. "Aku tidak apa-apa Kak, maaf ya Mbak."
"Aku yang salah maafkan aku yah Mbak," ujar sang pelayan yang melihat Rian hendak marah.
"Kamu lihat ini akibat …." Pekik Rian yang kesal, dan Mutiara menutup mulut Rian hingga Rian berhenti berbicara.
"Ini salahku Rian," ujar Mutiara memotong ucapan Rian yang tengah marah itu.
"Mutiara, Rian … kalian," ujar Sam yang yang melihat ke arahku dan kak Rian.
"Sam, kamu disini juga," balas kak Rian yang menyahut omongan kak Sam, sementara aku memilih pergi dari mereka berdua yang tengah berbincang.
Entah kenapa hati ini terasa pilu melihat wajah kak Sam. "Kamu mau kemana Mutiara? Bukannya tadi kamu bilang, kamu mau makan," panggil kak Rian yang aku acuhkan. Aku memilih tetap berjalan ke arah ke luar tanpa memperdulikan kak Rian yang berusaha mengejarku.
"Mutiara," panggilnya masih ke arahku yang berdiri di samping pintu mobilnya itu.
"Aku ingin kita pulang Kak."
"Bukannya kamu sedang lapar Mutiara?"
Sebenarnya iya aku sedang lapar, tapi setelah melihat wajah kak Sam membuat selera makanku jadi hilang. "Aku tidak lapar," balasku yang masih kesal ke arah kak Sam itu.
Sementara perut ini berbunyi di hadapan kak Rian, aku lupa jika aku belum ada makan sedari tadi. Rian menatapku yang seolah malu karena bunyi perut ini.
"Ayo Mutiara," Rian menarik tangan ini untuk masuk ke dalam lagi.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mau."