Cinta Demi Balas Budi

Cinta Demi Balas Budi
Mulai terungkap kebohongan Cantika


__ADS_3

Bab 39


Mulai terungkap kebohongan Cantika


"Kamu dari mana terus Cantika, kamu beberapa hari ini pulang larut malam? Apa kamu tidak bisa menghargai aku sebagai suamimu Cantika?"


"Apa kamu menghargaiku sebagai istrimu Sam? Apa kamu masih memikirkannya? Jika kamu tidak lagi mencintainya, di saat itu aku akan belajar menghargaimu Sam!"


"Cantika!!" Bentak Sam kesal melihat Cantika yang menutup pintu kamarnya itu, bahkan Cantika mengunci pintu kamar itu untuk Sam.


Tok tok tok ….


"Buka Cantika, buka!" Pekik Sam dari balik pintu kamar itu.


Cantika mengacuhkan Sam, dan memilih tidak berbicara pada Sam itu. "Argh, ah," Sam yang kesal memilih meninggalkan rumah dan mencari ketenangannya di luar.


Sam menatap ke arah rumah Mutiara, dia melihat jika Rian juga baru sampai. "Kamu dari mana Rian, apa kita bisa bicara?" tanya Sam yang melihat Rian hendak masuk kedalam rumahnya itu.


"Argh," Rian yang melihat Sam itu membuatnya melempar senyum simpul, sebelum iya memilih masuk kedalam rumahnya itu.


"Rian aku ingin bicara!" Masih ujar Sam menahan Rian menutup pintu itu.


"Apa kamu tidak bisa melihat jam berapa sekarang? Aku capek, aku mau istirahat," balas Rian yang memilih masuk dan meninggalkan Sam. "Pak, tutup pintunya," pinta Rian terhadap sang satpam.


"Baik Den!" balas sang satpam yang mengusir halus Sam dari rumah Rian itu.


"Argh, Rian aku akan menemuimu besok!" Pekik Sam dari luar rumah itu.


Kamu dari mana saja Rian? Kenapa kedatanganmu tidak jauh beda dari kedatangan Cantika? Aku harus mencari tahu semua ini! Aku harap kamu tidak menghianati Mutiara Rian, karena aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Mutiara itu. Lirih Sam yang memilih pergi itu.


POV Mutiara

__ADS_1


"Kak Rian, apa pekerjaan Kakak selalu banyak tiap malam yah? Pasti Kakak sangat letih kan! Biar Mutiara siapkan air panas Kak, duduklah dulu," ujar Mutiara yang menyambut kedatangan Rian itu, Mutiara melakukan pekerjaannya sebagai seorang istri dengan baik. Dia melayani Rian bagaikan seorang raja, bahkan Mutiara tidak membiarkan Rian membuka kaos kaki Rian sendiri. Semua dilakukan Mutiara untuk menyenangkan hati Rian.


"Terima kasih ya sayang, tapi aku letih sekali! Aku mandinya besok pagi saja sayang. Apa kamu bisa mengusut punggung dan kakiku dikit? Aku sangat lelah, aku harus mengerjakan semua pekerjaan kantor sendiri."


"Tentu saja Kak, telungkup lah, aku akan memijatmu Kak! Oh iya Kak, aku merasa kesepian tanpa anakku Kak! Apa aku boleh minta mama untuk mengantarkan Darul kesini Kak?"


"Tentu saja sayang, apalagi kamu harus menungguku seharian dirumah, pasti sangat membosankan. Besok aku akan menghubungi mama. Agar mama membawanya ke sini."


"Terima kasih Kak," balas Mutiara yang menempelkan kecakapannya di pipi Mutiara.


Mutiara merasa aneh akan sifat Rian, tidak biasanya Rian mengacuhkan Mutiara. Walau Mutiara berusaha membuat helai tangannya yang lembut di punggung dan di leher Rian. Tetap saja tidak ada reaksi dari Rian.


Hampir satu bulan lamanya Rian tidak pernah meminta jatahnya, apa yang terjadi? Apa ada yang salah dengan diriku? Seharusnya aku senang, jika dia tidak memintaku untuk melayaninya. Tapi kenapa? Bukankah yang aku lakukan ini sudah seperti menggodanya.


Aku menatap wajah Rian yang sudah terlelap, atau ini karena dia benar-benar letih, aku rasa seperti itu. Tapi argh, kenapa bagian "V" seakan mengeluarkan lendir. Apa aku sedang merindukan kehangatannya? Argh, aku kenapa jadi nakal seperti ini? Aku mencoba menutup mata dan menahan rasa hasrat yang seakan sedang meminta dan membutuhkan pelampiasan. Argh, aku bodoh. Tidak seharusnya pikiran seperti itu singgah di benak ini. Kenapa kamu tertidur begitu cepat kak Rian? Sebelum membiarkanku merasakannya dulu.


Aku menahan rasa itu sendiri dan tidak membiarkannya untuk lepas, karena aku sadar jika wanita. Tidak baik meminta kehangatan seorang pria, dan wanita harus siap kapanpun prianya membutuhkannya. Tidak peduli disaat mata yang sudah terlelap. Atau keadaan diri yang tidak ingin diganggu. Kenapa tetap saja wanita yang dikatakan gatal atau penggoda. Bukankah wanita makhluk lemah dan pemalu? Disaat hasrat yang sedang menggebu dan ingin melepaskannya. Wanita hanya bisa pasrah, beda halnya dengan seorang pria kapanpun iya inginkan, dalam kondisi apapun itu. Wanita itu harus siap! Jika tidak mereka akan berkata. Berdosa hukumnya menolak keinginan suami yang ingin bercinta atau pria itu akan mengancam. Apa kamu ingin aku mencari pelampiasanku diluar? Jika seperti itu, apakah seorang istri selalu salah. Dimana sering terjadi, saat seorang istri sudah tertidur lelap seperti ini. Tidak peduli akan apapun. Sang suami akan meninggalkannya sendiri dan melakukannya tanpa persetujuan, dan bagaimana dengan rasa yang sedang aku rasa. Entah kenapa dia tidak pernah menjamahku Satu bulan lamanya. Apa ada sesuatu yang dia sembunyikan? Bagaimanapun aku tidak mau berpikiran buruk tentang apapun yang sedang terjadi di dalam rumah tanggaku. Lirih Clara dalam hatinya.


*****


"Apa kamu tidak tahu Ando, sedikit tentang Cantika? Bukankah dia mantan istrimu, apa kamu yakin tidak menyembunyikan sesuatu dariku Ando?"


"Maafkan aku Sam, tapi Cantika sangat pintar dalam menyembunyikan sesuatu, aku tidak tahu Sam. Aku meninggalkannya karena dia yang tidak menghargaiku sebagai suaminya! Dia sering pulang malam. Dan aku tidak mengenal siapa pria itu, aku pernah memergokinya sekali saat mereka habis keluar dari kamar hotel Sam," ujar Ando yang sedang berbincang dengan Sam di kafe Abi.


"Kalian sedang membicarakan apa sih? Oh iya Sam, ekormu mana?" ujar Abi yang menghampiri keduanya.


"Ekor, maksudmu apa Abi?" tanya Sam.


"Itu, para pesuruh papimu! Yang selalu mengekori mu kemanapun kamu pergi!"


"Argh, bisa aja kamu Abi! Oh ya soal yang dulu, yang hpmu dibanting papi! Maaf yah."

__ADS_1


"Tidak usah kuatir Sam, aku sudah dapat ganti yang baru dari papimu! Ngomong-ngomong kalian sedang membicarakan apa sih?"


"Tentang Cantika, Abi," balas Ando.


"Ooh, mantan istri mu yang dinikahi sahabatmu ini."


"Jangan mulai deh Abi, aku di jebak kali."


"Aku gak heran Sam," balas Abi santai.


"Apa kamu mengetahui sesuatu tentang Cantika Abi? Beritahu aku apa yang kamu ketahui?" tanya Sam.


"Argh, aku gak mau merusak rumah tangga orang, suatu saat akan kamu tahu sendiri Sam!" Balas Abi.


"Apa kamu tidak kasihan dengan sahabatmu ini, Abi?"


"Maafkan aku Sam, kamu kan tahu aku sedari dulu tidak ingin mengikut campuri masalah orang. Apalagi itu bersangkut paut dengan rumah tangga sahabatku sendiri! Maafkan aku Sam."


"Tapi Abi?"


"Maafkan aku Sam, tapi itu sudah menjadi keputusanku! Karena jika kita menutupi aib seseorang, maka Allah juga akan menjaga rahasia kita," ujar Abi yang melempar senyum ke arah Sam yang terlihat kesal itu.


"Iya, terima kasih Abi!" ujar Sam sementara Ando tersenyum melihat keduanya.


"Argh, harus bagaimana lagi caraku untuk membongkar kenakalan Cantika terhadap papi? Aku tidak mungkin hidup dengan wanita seperti itu seumur hidupku," lirih Sam yang membuat Ando dan Abi melepas tawanya.


"Kamu harus sabar Sam," Abi memberikan semangat terhadap Sam yang tengah sedih itu. "Minum dulu," tambah Ando.


Wajah Sam tampak kusut pikirannya tengah melayang, mengingat akan apa yang terjadi pada kehidupannya. Sejenak bayangan ucapan Mutiara menggema di benaknya. "Kakak lah yang telah menyakitiku, aku sayang denganmu Kak," ucapan Mutiara yang singgah di pikiran Sam.


"Aku juga mencintaimu Mutiara!!!"

__ADS_1


__ADS_2