
Bab 49
Bersembunyi dibalik selimut
Mataku masih menatap tajam ke arah suara itu, rasa keinginan tahu ku semakin tinggi. Perasaan ini tidak akan tenang sebelum aku melihatnya sendiri.
Klekkk
Aku membuka pintu yang tidak ditutup terlalu rapat, hingga aku berjalan masuk ke arah suara yang semakin jelas terdengar. Kamu sungguh kelewatan Cantika, jika itu benar-benar kamu maka akan aku pastikan malam ini juga kamu akan aku ceraikan.
Klekk
Aku mendorong pintu kamar itu hingga terbuka.
"Cantika!" Pekikku dengan nada tinggi, menunjukkan aku tengah emosi, amarahku tidak terkendali mendengar dan membayangkan apa yang sedang mereka lakukan di dalam kamar itu.
Wk wk wk
Aku malu bukan kepalang melihat sepasang kekasih yang sedang melakukan aktivitas percintaannya di atas ranjang itu, mereka berdua menoleh ke arahku yang sedang berada di ambang pintu itu.
Sang wanita terlihat cemas dan mendorong tubuh sang pria dari atas badannya, hingga wanita itu menutupi tubuhnya dengan selimut yang sedang berada di atas ranjang itu.
"Argh kamu siapa? Apa dia selingkuhanmu?" tanya sang pria itu sangat marah ke arah sang kekasih.
Pria itu dengan sigap memasang celana yang tadi dia lepas.
"Maaf aku salah, ka- kamar," lirihku yang hendak membalikkan badanku.
"Kamu mau kemana, tunggu?"
Pria itu berjalan ke arahku, lalu dia membalikkan badan ini.
"Apa hubunganmu dengan dia?"
Wk wk wk
Mendengar perkataannya aku terdiam, bagaimana aku memiliki hubungan dengannya, sementara aku tidak mengenali wanita itu.
"Apa kamu selingkuhannya?"
"Yang, sayang! Aku tidak mengenalnya!" Pekik sang wanita mencoba melakukan pembelaan. Tapi sang pria yang tengah terbakar emosi, atau karena aku mengganggu kesenangannya. Membuat dia terlihat sangat sangar.
Tanpa sengaja aku melihat ke arah selangkangannya, dan aku melihat benda tumpul itu masih berdiri kokoh, mungkin pancaran air pertama belum sempat keluar. Argh, ah aku sudah membuat dia kesakitan.
Aku tersenyum ke arahnya yang mendengar suaranya seakan berat, dan melihat wajahnya yang memerah, sepertinya dia tengah menahan sakit akibat aku yang membuat dia batal mendapatkan kenikmatan itu.
"Kenapa kamu tersenyum? Siapa kamu? Kenapa kamu masuk ke rumahnya? Apa kalian sudah janjian?"
"Yang, aku tidak mengenalnya!!" Pekik wanita itu yang marah.
"Apa yang dikatakan pacarmu benar? Aku tidak mengenalnya! Maafkan aku yang sudah mengganggu kesenanganmu," ujarku yang membalikkan badan ini.
Saat aku hendak melangkahkan kaki ini, dia menarik bajuku dari belakang badanku. Membuatku menatap tajam ke arahnya yang hanya menggunakan ****** *****.
__ADS_1
"Lepaskan!" Pintaku yang tiada dihiraukannya.
"Jangan pikir kamu bisa lari dari sini! Kamu siapa? Kenapa kamu kesini? Jawab dulu pertanyaanku jika kamu ingin aku lepaskan."
Aku seperti orang bodoh yang ketakutan ke arahnya, badannya begitu kekar dan penuhi tato. Argh bisa dibilang dia merupakan penjahat. Kepalanya botak dipenuhi dengan kumis tajam, menambah bentuk wajah yang sangar. Kenapa tidak aku tidak takut.
"Maafkan aku, aku pikir rumah ini rumah istriku, Cantika," ucapku yang membuat dia melepaskan tangannya.
"Cantika?" tanyanya dengan tatapan penuh tanya. "Apa Buk Cantika, Putri Cantika?"
"Iya, apa kamu mengenalnya?" Walaupun perasaan ini tengah merasakan ketakutan tapi wibawa ku sebagai seorang CEO tidak boleh jatuh di hadapannya.
"Iyah, aku pernah bekerja dengannya! Dan rumah ini, hadiah pemberiannya!"
"Hadiah, maksudmu apa?"
"Itu bukan urusanmu, aku harap kamu pergi dari rumah ini sebelum aku melemparmu keluar," ancamnya yang membuat mimik wajahku seakan pucat.
Suaranya begitu lantang, dan dia tengah membulatkan tangannya berbentuk tinju ke arahku. Argh aku belum sanggup jika harus melawannya saat ini.
Terlebih aku masih menyayangi diriku, aku tidak ingin tubuh yang aku jaga dengan baik tersentuh oleh preman seperti dia.
"Ok, sebelum aku pergi, apa aku boleh bertanya kemana Cantika pergi?"
"Bukankah kamu suaminya?"
"Hmmm,"jawabku yang menganggukkan kepalaku ke arahnya.
"Aku pergi dulu, terima kasih!" Ujar ku yang membalikkan badan ini. Tapi sesaat aku kembali mundur dan melihat dia yang masih memperhatikanku.
"Ada apa lagi?" tanyanya dengan nada lantang ke arahku yang menolehnya.
"Apa kamu tidak malu memakai ****** ***** pacarmu? Ha ha," ujarku yang tidak bisa menahan tawaku lagi.
Aku ingin berkata padanya sedari tadi jika dia salah menggunakan ****** *****, tapi aku pikir itu biasa. Karena rasa paniknya yang melihat kedatanganku yang menonton aktivitas bercintanya.
Aku semakin tertawa melihat dia yang menutup selangkangannya dengan kedua tangannya.
"Kamu pergi!!" Pekiknya yang semakin marah.
"Ha ha ha ha …." ujarku yang tertawa lepas hingga aku masuk ke dalam mobilku.
Apa yang terjadi denganku hari ini sungguh memalukan, aku mengganggu sepasang kekasih yang sedang melakukan percintaan. Ekspresi wajah mereka membuatku tiada henti tersenyum sendiri seperti orang bodoh.
"Tapi kenapa Cantika memberikan rumahnya dengan pria itu? Ini pasti ada sesuatu, aku harus mencari tahunya." ujarku masih pada diriku sendiri seraya aku mulai menyalakan mesin mobil ini lagi.
Aku memutuskan untuk mencari keberadaan Cantika besok saja.
Pov Mutiara
"Kak, apa Mutiara boleh bertanya?"
"Hmmm, apa sayang?" balas kak Rian yang memelukku di dalam dekapannya.
__ADS_1
"Kak, apa Kakak menyembunyikan sesuatu dari Mutiara Kak?"
"Maksudmu apa Mutiara?"
"Tentang … Apa boleh tahu kenapa Kakak tidak masuk kantor Kak? Dan dimana Kakak tidur Kak?"
Klekk
Kak Rian melepaskanku dari pelukannya, dan dia menunjukkan sikap yang menyimpan sesuatu.
"Kak," panggilku yang melihatnya merebahkan badannya.
"Apa kamu tidak bisa mempercayaiku Mutiara? Aku hanya mencintaimu saja, jadi aku harap kamu membuang pikiran yang mengganjal di benakmu Mutiara! Sini," ujar kak Rian yang ingin aku menjadikan tangannya sebagai bantal.
Aku merebahkan badan ini menghadap wajahnya, apa aku yang berlebihan terhadap kal Rian? Tidak seharusnya aku bersifat seperti itu.
"Maafkan aku Kak Rian," lirihku yang membuat kak Rian memelukku dan memberikan kecupannya di kening ini.
Tok tok tok …
"Siapa Kak, yang menggedor-gedor pintu ini Kak?"
"Entah," balas kak Rian.
Aku dan kak Rian mulai berjalan ke arah pintu dan melihat siapa gerangan yang sedang menggedor-gedor pintu kamar kami.
Klekk
"Cantika," ujarku serentak bersama kak Rian. "Apa yang terjadi Cantika?"
Cantika datang dengan kondisi yang tengah menangis membuat hati ini merasa iba menatap iya ya sedang berdiri di depan kamarku.
"Ayo Cantika, ikut aku," lirih kak Rian yang terlihat begitu mencemaskan Cantika.
Aku terdiam lagi melihat kak Rian yang menggenggam tangan Cantika menuju ke ruang tengah, kak Rian sama sekali tidak memikirkan perasaanku.
Hatiku yang cemburu melihat dia menggenggam Cantika dengan rasa penuh kekuatiran. Apa aku yang berlebihan? Sudah sewajarnya kak Rian peduli terhadap Cantika yang datang dengan kondisi menangis.
Ki tegarkan hati ini yang berjalan menemui arah mereka berdua. "Minum dulu Cantika, ceritakan denganku apa yang membuatmu menangis?" Masih tanya kak Rian yang mengulurkan minuman ke arah Cantika.
Masih konteks yang wajar, aku tidak boleh berlebihan hanya akan membuat hati ini sakit, aku memegang tangan kak Rian. Tapi kak Rian seolah menepisnya. Matanya lebih tertuju ke arah Cantika.
Aku harus sabar, mungkin karena kak Rian seorang pria dan tidak akan tega jika melihat wanita menangis.
"Rian, Sam," ujar Cantika yang kembali menangis.
Kak Rian memilih berdiri dari sampingku dan di pindah ke sebelah Cantika yang sedang menangis.
"Apa yang terjadi Cantika, ceritakan padaku?" tanya kak Rian yang membiarkan Cantika bersandar di dada nya.
Klekkk
Ha, apa benar dengan yang kulihat kini.
__ADS_1