
Bab 20
"Dimana Sam?" Suara lantang pria paruh baya itu, tengah memarahi sekretarisnya Sam. "Apa kamu tidak memberitahunya jika hari ini akan ada meeting?" pekiknya lagi, yang membuat binar rasa takut tergambar dari wajah cantik Cantika.
"Sudah Pak, tapi Sam sepertinya tidak enak badan," Balas Cantika sesuai dengan permintaan Sam, yang ingin dirinya berbohong demi Sam. Awalnya Cantika menolak, karena tahu akan sifat bos nya itu terkenal dengan wataknya yang pemarah.
"Apa dia yang menyuruhmu berbohong? Dimana dia? Apa dia ada di dalam?" tambah sang papi seakan kesal, dan paham akan anaknya itu. Yang ingin mengelak dari Rian.
Sementara karyawan lain seakan melirik ke arah papi Sam, yang tengah meluapkan emosinya itu.
"Iya pak," jawab Cantika menundukkan kepalanya. "Maafkan aku Sam," batin Cantika dalam hatinya merasa gagal tidak bisa memenuhi keinginan Sam itu.
"Apa kamu berusaha menghindari Rian Sam?" tanya sang papi seketika melihat Sam meletakkan kepalanya di atas meja kantornya.
Sam tidak menggubris seolah bergaya sedang sakit, papi Sam berjalan ke meja yang dekat sofa, mengambil minuman botol yang terletak di meja lalu melemparkannya ke arah Sam.
Plukk
"Auw, Papi sakit," pekik Sam dengan wajahnya yang kesakitan, akibat lemparan botol minuman kaleng itu cukup keras, dan sam menggosok-gosokkan kepalanya bekas kena lemparan itu. "Sakit Papi," masih ujar Sam memegang kepalanya.
"Apa kamu mau lagi sam?" tanya sang papi yang sedang memegang botol minuman.
"Ah, Papi! Papi ini, Papi Sam atau tidak sih? Kenapa tidak ada rasa sayang sedikit sih untuk Sam. Apa Sam ini anak adopsi Papi ya?" tanya Sam lagi terhadap papinya, dengan dijawab sang papi menggunakan lemparan botol minuman lagi, namun kali ini botol minuman itu berhasil Sam tangkap.
"Terima kasih Papii," ucap Sam yang sedang memegang botol minuman dari lemparan sang papi.
Sam menunjukkan minuman itu ke arah sang papi, membuka lalu menekuknya, membuat wajah papinya memerah. Menatap marah ke arah Sam.
"Papi, sekali ini saja! Sam tidak usah ikut ya Pi," pinta Sam dengan memainkan kedua tangannya itu.
"Papi malah ingin kamu yang memimpin meeting! Jangan mengecewakan Papi Sam. Apa kamu sudah mempelajari materi meetingnya kan Sam?" sahut sang papi.
"Argh," Sam berdecak kesal ke arah sang papi, menampakkan raut wajah yang kecewa. "Terima kasih Papi" ujarnya lagi. Tidak pernah sekalipun omonganku di iyakan oleh sang papi, yang hanya ingin aku melakukan apa yang dia perintahkan.
Minuman tadi yang aku pegang, seketika aku meremasnya dihadapan sang papi. Menampakkan wajah protes, walau itu tiada berarti. Papi memang terlalu egois memaksakan apa yang dia mau.
__ADS_1
"Bersiaplah sekarang! Karena mereka sebentar lagi akan datang," titah sang papi.
Sam mulai berjalan mengikuti langkah sang papi, sesaat Cantika berdiri setelah menatap bos dan anak bosnya keluar. Cantika melihat ke arah Sam yang seakan lesu. "Terimakasih bantuannya Cantika," sindir Sam melihat Cantika menatap kearah Sam dan papinya.
"Papi, Sam Belum sanggup Pi!! untuk menjadi pemimpin meetingnya Pi, jangan Sam ya Papi," pinta Sam masih mencoba kompromi, sementara para anggota meeting pun sudah hadir di pertemuan itu.
Sam menatap ke arah pintu masuk ruangan meeting, dia melihat Rian yang hendak masuk ke dalam, seakan menatap rasa malu atau benci. Pikiran Sam beradu seakan dia ingin menghindari Rian itu.
"Selamat siang semuanya," sapa MC pembawa acara meeting tersebut, yang memulai acara pembahasan materi yang telah disusun dengan rapi.
"Siang Pak," balas pada hadirin peserta undangan rapat yang hadir di ruangan itu.
Rian menatap rasa jengkel ke arah Sam karena sudah berhasil mempermalukan nya kemarin. Namun ada rasa kemenangan, karena dia telah berhasil membuat Sam marah dan cemburu dengan apa yang dia lakukan terhadap Mutiara itu.
"Ahh …."Sam menghela nafas panjang melihat ke arah Rian. "Ingin rasanya aku menghajar dan menghabisimu, karena telah melanggar perjanjian itu," gumam Sam dalam hatinya, melempar tatapannya ke arah Rian.
Bagaimana bisa perjanjian yang telah disepakati Rian dan Sam, dia langgar begitu saja. Membuat rasa penyesalan timbul di hati Sam yang telah mau menyepakati perjanjian itu.
"Ayo Sam mulai," ucap sang papi yang membuat Sam melotot ke arah papinya, sementara Rian seakan melempar senyum seolah menyindir Sam yang tidak akan bisa memimpin rapat itu.
Sam pun mulai membuka meeting dengan sangat baik, jelas dan padat sehingga para anggota yang ikut dalam meeting itu merasa bangga terhadap Sam, apalagi sang papi merasa sangat bangga akan Sam. Mereka melempar tepuk tangan kebanggaan terhadap Sam.
"Kamu hebat Sam," ucap sang papi dengan bangga, sementara Rian seakan kecewa melihat potensi yang dimiliki Sam sangat bagus, dalam menjalankan dan memimpin perusahaan itu.
Acara meeting pun berakhir, para pemimpin itu pun banyak melemparkan Pujian terhadap Sam, dengan memberi jabat tangan di antara para sang pemimpi-pemimpin hebat itu.
"Selamat ya Sam," ucap Rian memberikan uluran tangannya.
"Uhm, aku ingin bicara berdua dengan mu, boleh kan Papi" sahut Sam terhadap Rian dengan diakhiri bertanya pada sang papi.
"Pergi lah nak," balas sang papi.
Sam pun membawa Rian menuju ke ruangannya. "Ada apa Sam?" tanya Rian seolah pura-pura tidak paham.
Rian menatap mimik wajah Sam yang ekspresi marah, memilih duduk dan menatap tajam ke arah Rian, yang terlihat santai daripada Sam.
__ADS_1
"Ah ah ah …." Lirih nafas Sam. "Boleh aku memukulmu Rian?" tanya sam yang sangat jengkel terhadap Rian, Sam sudah berusaha menenangkan pikirannya dan perasaannya. Tapi lagi-lagi dia gagal melakukannya, rasa benci dan cemburunya terhadap Rian begitu besar. Membuat dia tidak bisa mereda marahnya itu.
Mendengar perkataan Sam. Rian berjalan ke arah sofa, tanpa dipersilahkan duduk oleh pemilik ruangan. Masih dengan senyum cemooh terhadap Sam, yang berhasil memupuk marah itu keluar.
"Rian," pekik Sam kesal yang dibalas dengan lemparan senyum Rian lagi.
"Aku rasa kamu sudah tahu jawabanku Sam! Lagian aku melihatmu sangat cocok dan berpotensi untuk menjadi budak papimu, jadi aku rasa kamu tidak membutuhkan Mutiara lagi," ucap Rian seraya memilih berdiri.
Hiyaaat
Sam yang ingin melayangkan pukulannya, namun ditangkis oleh Rian. "Jangan pernah mencoba untuk melawanku Sam!! Kamu akan kalah, jika aku mau, dengan sekejap aku bisa menghancurkan bisnis papimu ini! Karena apa? Karena aku memegang kartu mati papimu," ancam Rian yang membuat Sam seakan tidak mengerti.
"Apa maksudmu Rian?" tanya Sam dengan tidak senang terhadap Rian. "Kartu mati apa? Apa yang dia maksud?" Pikiran Sam melayang mencari jawaban akan perkataan Rian itu. "Apa yang papi sembunyikan dari ku dan apa yang tidak aku ketahui?" Masih lirih Sam dalam hatinya yang menatap tajam ke arah Rian itu.
"Aku akan melupakan semuanya, jika Mutiara tetap jadi istriku untuk selamanya," ujar Rian yang membuat Sam seakan emosi.
"Ambil, ambil untukmu!! Aku tidak butuh dia, toh kamu sudah menyentuhnya. Cih, ogah gua make punyamu," ucap Sam yang sebenarnya bertentangan dengan hatinya.
DIa sedih saat berkata begitu, apalagi dia melihat tatapan wajah Mutiara seakan meminta tolong, lagiankan ini kesalahan Sam. Dua kali Mutiara jadi korban akibat ulah sam yang mereka balas melalui Mutiara.
" Maafkan aku Andra," gumam Sam dalam hatinya.
"Tidak ada lagi kan yang ingin kamu katakan, aku ingin pulang! Istri tercintaku sudah menunggu," ucap Rian memanas-manasi Sam, yang sedari tadi memang sudah panas emosinya seolah terbakar.
"Baiklah aku pergi dulu," ujar Rian yang melihat Sam tidak menjawab pertanyaannya. Sam seolah bingung akan perasaannya kini, yang sangat menginginkan Mutiara.
" Rian," panggil Sam Yang membuat Rian menoleh ke belakang melihat Sam.
" Umh," jawab Rian.
"Tolong jaga dan sayangi Mutiara selamanya, jangan pernah membuatnya menangis," lirih Sam dengan mata berbinar, berbicara terhadap Rian yang sedang diambang pintu.
"Baik Sam," balas Rian dengan bersemangat, dan memilih meninggalkan ruangan Sam itu.
"Ahhh ah ahhhh …." teriak Sam di dalam ruangan nya yang masih didengar oleh Rian, walau Rian tidak menoreh namun Rian melempar senyum mendengar teriakan Sam.
__ADS_1
"Ahhh, maafkan aku Andra aku bukan sahabat yang baik, aku tidak bisa menjaga adikmu Andra," ujar Sam seraya menangis itu.