
Bab 8
Setelah menyelesaikan aktivitas makan malam, Sam dan Mutiara pun pamit terhadap Rian hendak kembali ke kamarnya lagi, Muti yang berjalan terlebih dahulu dari Sam. "Kamu mau kemana?" tanya Sam terhadap Rian yang melihat Rian mengikutinya dari belakang.
"Bukannya kamar mu ada di bawah?" Tambah Sam lagi yang menghentikan langkahnya tepat di hadapan Rian itu.
"Hanya sekedar jaga-jaga saja takut jikalau sesuatu terjadi," ujar Rian yang terlebih dahulu masuk ke kamar Mutiara dan Sam.
"Maksudmu apa?" tanya Sam heran dan hendak mengusir Rian dari kamar itu.
"Rian kamu mau apa?" tanya Mutiara yang melihat Rian ada dalam kamarnya, Mutiara melihat Rian yang berbaring di ranjang itu.
"Aku mau numpang tidur disini, kamarku yang di bawah tengah di bersihkan, Mutiara," ucap Rian seakan berbohong terhadap Mutiara dan Sam.
Sam memandang Rian yang bertingkah aneh, seolah dia ingin melindungi Mutiara. "Apa dia berpikir aku pria otak mesum," batin Sam dalam hatinya menatap ke arah Rian.
"Bagaimana aku bisa nyaman tidur jika kalian dua ada disini?" sahut Mutiara menatap rasa ketidaksenangan terhadap Sam dan Rian.
Dua pria tengah ada dalam kamar yang sama, membuat rasa canggung di hati Mutiara.
"Aku hanya akan tidur di sofa dan tidak akan mengganggumu," ucap Rian yang mulai berjalan ke arah sofa, yang tidak jauh dari rancang Mutia.
"Tapi Rian!!" ucap Mutiara seakan memandang Sam. "Itu tempat kak Sam," ujar Mutiara lagi yang membuat Sam seakan kesal, masih menatap ke arah Rian yang membaringkan badan di atas sofa. Mengacuhkan Mutiara yang menatap ke arahnya.
"Apa sebenarnya Rian juga menyukai Muti," lirih Sam dalam hatinya menatap Rian yang seolah menginginkan Mutiara.
"Jika iya ini tidak boleh terjadi,aku tidak akan membiarkan Rian mendekati Muti" tambah Sam berdecak kesal dalam hatinya itu.
"Ayo Muti biarkan dia tidur di sofa! Aku bisa tidur di sebelahmu," ucap Sam dengan menarik tangan Muti naik ke arah ranjang itu. "Akan ku buat hatimu memanas terbakar api cemburu, Rian," batin Sam lagi dalam hatinya, seraya memeluk Mutiara yang tengah terbaring itu.
"Kak," protes Mutiara yang melihat badannya kini tengah di peluk oleh Sam.
"Kamu diam Mutiara," bisik Sam
__ADS_1
Rian melihat Sam memeluk Mutiara membuat hati Rian seolah terbakar, sehingga Rian seolah berjalan ke arah tempat tidur Mutiara dan Sam, lalu memilih membaringkan badannya di sebelah Sam. Membuat Sam melempar senyum kecil, seakan dia telah berhasil membuat Rian cemburu.
"Kamu apaan sih," ucap Sam melihat Rian, yang sepertinya sengaja mengawasi Sam agar tidak berbuat aneh terhadap Mutiara itu.
"Aku hanya ingin tidur Sam," ucap Rian seolah merentangkan kedua tangannya, serta membuat gerakan seolah dia tengah menguap. Kaki Rian pun mulai ia letak ke atas pinggang Sam.
"Apakah dia sengaja," batin Sam dalam hatinya.
"Muti bawa selimutnya, malam ini kamu tidur di sofa," titah Sam terhadap Mutiara, yang membuat Mutiara berjalan ke arah sofa.
"Apa kamu berpikiran aku sebejat itu Rian? Jika aku mau! Aku bisa saja melakukannya kapanpun aku mau, atau melakukannya dengan para wanita di luar sana. Tapi sayang aku bukan lelaki bejat yang meninggal kan benih di setiap lobang itu," ujar Sam terhadap Rian yang membuat Rian seolah terdiam akan apa yang dikatakan Sam.
****
Pagi ini mentari seakan bersinar indah, menyapa penghuni bumi yang selalu sibuk dengan para aktivitasnya.
Aku terbangun lebih awal, suatu pagi yang indah, setidaknya aku bisa merasakan kenyamanan saat tidur. Tidak perlu lagi berlari dan dikejar oleh para pengawal papi kak Sam. Yang masih mengincarku seperti sosok benalu di hidup kak Sam yang harus di basmi. Ah bagaimana papi kak Sam membenciku? Hanya karena masalah bisnis papinya yang di tipu oleh papiku.
Hidupku seperti di neraka, saat mama dan kak Andra mulai meninggalkanku. Aku tidak menemukan kenyamanan lagi saat di rumah.
Beruntung Kak Andra menitipkanku dengan kak Sam, yang sepertinya sangat peduli dan sayang denganku.
"Pagi kak Sam," sapa Mutiara dengan senyum termanisnya, yang dia lempar terhadap pria yang selalu melindunginya.
"Kamu kenapa Mutiara?" tanya Sam seolah melihat Mutiara yang dulu yang periang.
"Apa rencana kakak hari ini Kak? Akankah kita tetap tinggal di sini?" tanya Mutiara yang masih berdiri di hadapan Sam itu.
"Rencana … rencana iya Mutiara?" tanya Sam ulang terhadap Mutiara.
"Iya kak," balas Mutiara dengan serius menatap pria yang baru bangun dalam tidurnya. Seorang pria yang mampu membuatnya bahagia.
"Aku mau mandi dulu! Itu rencananya, turunlah dulu, nanti Kakak akan menyusulmu! Apa si bajingan itu sudah bangun sedari tadi? Apa kamu melihatnya Mutiara?" tanya Sam terhadap Mutiara yang tidak melihat Rian dalam kamarnya itu.
__ADS_1
"Tidak Kak, Mutiara tadi pas bangun, Rian sudah tidak ada! Muti duluan ke bawah Kak" ujar Muti yang mulai berjalan dan menutup pintunya kembali.
****
"Hallo Mi, Mami pasti senang mendengar kabar dariku jika aku sudah menemukannya Mi," sahut Rian lewat panggilan seluler berbicara dengan Mamanya dari seberang telepon itu.
"Oh, iya! Mami akan segera kesana" balas Maminya dengan senang, dan mengakhiri sambungan teleponnya.
"Aku tahu Mi, Mami pasti sangat senang jika tahu aku berhasil menemukannya dan membawanya ke villaku Mi," ujar Rian yang berbicara sendiri, seraya mulai menikmati televisi melihat berita hari ini menemani aktivitasnya, seraya menyantap minuman panas peneman pagi hari.
"Kenapa semua berita berbicara tentang keluarga Sam sih? Apa pelarian dirinya sudah bocor ke seluruh negeri ini? Ah, Papinya memasang taruhan untuk bagi siapa saja yang bisa menemukan Sam, akan di imingi hadiah sampai dua miliar, apa dia tidak berlebihan? Seolah hanya dia yang memiliki duit banyak, hingga melakukan sayembara kuno seperti ini, tapi ini bisa membahayakan Sam dan Mutiara sih" umpat Rian kesal melihat isi berita yang dia tonton.
"Apa itu berita tentang kak Sam Rian?" tanya Mutiara seraya duduk di kursi yang kosong, ikut menonton berita yang sudah tersaji.
" Apa tidak sebaiknya kamu meninggalkan Sam Mutiara, jika kamu tetap di dekatnya akan membahayakanmu Muti!!" Ujar Rian terhadap Mutiara itu.
"Ehm ehm …." Sam berdehem setelah mendengar Rian berkata seperti itu. Seolah tidak senang akan perkataan Rian yang meminta Mutiara meninggalkan Sam.
"Apa aku berbahaya bagimu Mutiara?" tanya Sam seraya memilih duduk di sebelah Mutiara, yang ikut terdiam setelah melihat Sam yang tidak sengaja mendengar perkataan Rian itu.
"Tentu tidak Kak! Aku percaya dengan Kakak jika Kakak akan selalu menjagaku Kak, Terima kasih Kak," balas Mutiara yang melempar senyum ke arah Sam, seolah Mutiara senang melihat kedatangan Sam.
"Sam jangan hidupkan henponmu! Setidaknya matikan dulu letak lokasi kamu, seseorang bisa saja melacak lokasi mu melalui henponmu itu! Papimu semakin gila, dia menawarkan dua miliar bagi orang yang bisa menemukanmu, dan memberitahu akan keberadaanmu Sam!!" ucap Rian yang membuat Sam mematikan hpnya.
"Apa kamu sudah menghidupkannya dari tadi?" tanya Rian terhadap Sam yang sedang memegang handphone itu.
"Aku menghidupkannya dari malam tadi Rian," ucap Sam.
"Kita akan mulai kedatangan tamu! Apa kamu pintar dalam hal bela diri Sam?" tanya Rian dengan penuh arti, dan mencoba menghubungi maminya lagi agar menunda kedatangannya ke villanya Rian itu.
"Tapi Nak, Mami rindu dengannya!"
"Ayolah Mi! Ini untuk keselamatan mami juga, Rian akan mempertemukan Mami dengannya segera," ucap Rian dengan mengakhiri panggilannya.
__ADS_1