
Bab 13
Sam dengan kondisi tidak sadar, kini terbaring diatas ranjangnya. Di dalam kamar yang luas, kamar yang dulu pernah ditinggal. Perlahan Sam membuka mata melihat di sekeliling kamar dan mengumpulkan ingatannya. "Dimana ini? Ini!" Seolah tidak percaya akan keberadaannya kini, Sam mulai mengingat akan apa yang terjadi dengannya tadi. "Apa ini? Papi? Argh … papi iii …." Jerit Sam dari dalam kamarnya, setelah mengingat akan pertemuannya dengan paginya. "Kamu memang jahat papi!!' Sam berdecak kesal pada dirinya sendiri. "Kenapa aku aku sangat bodoh, hingga aku bisa dibawa papi kesini! Argh … Bagaimana dengan keadaan Mutiara? Apa kamu baik-baik saja Mutiara?" Lagi-lagi ingatan Sam tertuju pada Mutiara, seseorang yang harus dia jaga.
" Dimana henponku? Argh … apa papi sengaja mengambilnya? Papii!!! Buka pintunya," pekik Sam dari dalam kamarnya.
Pak Antonio atau papi Sam, sedang mengurung Sam dalam kamar miliknya. Sang papi senang karena berhasil membawa Sam pulang. Anak semata wayang yang meninggalkan pernikahannya demi adik almarhum sahabatnya.
Tanpa memikirkan malunya sang papi, akibat ulah Sam yang lari sebelum hari pernikahan.
Klek,
Seseorang membuka pintu kamar Sam, membuat si pemilik kamar menoleh ke arah pintu.
" Apa kamu sudah sadar Sam?" tanya sang papi yang masuk kedalam kamar Sam, setelah mendengar pekik suara keras Sam dari dalam kamarnya.
Sam menatap sang papi penuh dengan rasa amarah, yang berjalan menuju arah Sam yang duduk di pinggir ranjang miliknya.
" Papi, kenapa papi membawaku pulang?
Argh, Papi! Bagaimana dengan Mutiara Papii!! Aku harus menjaganya," dengan nada agak lantang meluapkan amarah yang sedari dia tahan, sementara sang papi membalas tatapan Sam seakan menantang.
" Kenapa kamu masih memikirkannya? Bukannya dia sudah menikah dengan Rian?" balas pak Antonio dengan nada yang sama, sehingga kedua ayah anak itu tengah berdebat.
" Argh, dimana henponku Papi? Kembalikan" ujar Sam bagai anak kecil meminta kepada sang papi.
" Nanti papi belikan! Henpon yang lama sudah papi buang," balas papi tanpa ada rasa bersalah sedikitpun terhadap Sam, membuat Sam berdecak kesal ke arah sang papi, yang telah membuang telepon seluler yang baru dibeli empat bulan kemarin. Dengan model dan tipe yang baru dan lebih canggih.
" Tapi Papi …." ujar sang seolah percuma protes ke arah sang papi, yang tidak akan pernah mau mendengarku. Hanya perkataan Papi saja yang benar dan aku harus menjadi bonekanya. Duduk manis didepan meja yang berisi berkas dokumen dan laptop sesuatu yang membosankan, bahkan aku tidak boleh mengambil jurusan fotografi sesuai keinginanku.
" Mulai hari ini kamu tidak boleh lagi menghubungi Mutiara! Bahkan mencarinya, jika hal itu kamu lakukan papi akan mengurungmu dalam kamar ini,"
Papi mengancam ku, sehingga aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku tahu betul bagaimana kerasnya watak papi yang tidak bisa di bantah. Walau aku tetap membantah.
"Argh, Papi!! Sam sudah besar!! Sam berhak memutuskan apapun yang akan Sam lakukan dalam hidupku Papi!! Papi tidak berhak mengikut campuri hidupku," ujarku pada papi yang tidak papi hiraukan, papi berjalan ke arah keluar dan menutup kembali kamarku, mengurungku dalam kamar ini.
"Argh, papi!!" Jeritku melihat papi, mengunci pintu kamar ini. Aku hanya bisa berdecak kesal dengan sesekali mengingat Mutiara.
"Apa kamu baik-baik saja Mutiara? Maafkan aku!! Aku akan mencari cara agar bisa menemukanmu, aku tidak akan meninggalkanmu sendiri di sana!" ujar Sam pada dirinya sendiri.
Aku seperti orang bodoh yang dikurung di dalam kamar selama sebulan ini, papi benar-benar menggangguku!! Dia memantau semua aktivitasku. Seperti seorang penjahat, aku di jaga dengan sepuluh pengawal sekaligus.
Aku tidak bisa melakukan pemberontakan, karena mereka akan berbuat kasar denganku, jika aku berusaha melawan mereka. Dan melihat ke arah mereka yang memiliki tubuh berotot, tidak akan mungkin aku sanggup melawannya. Hanya kata pasrah dan menjalani hari-hari bagai burung yang dikurung dalam sangkar. Aku hanya bisa melihat siaran televisi dari dalam kamarku. Bahkan papi tidak memberikan aku izin memiliki telepon seluler.
"Mi, Sam mohon biarkan Sam melihat dan mengetahui keadaan Mutiara! Ini sudah lebih sebulan Mi! Sam kuatir akan keadaannya setidaknya berikan Sam henpon,Sam yang lama, agar Sam bisa menghubunginya Mami," pinta Sam pada maminya yang tengah duduk santai menikmati siaran televisi.
"Sudah Sam!! Kamu jangan mencari perkara lagi dengan papimu, nanti papamu malah lebih kasar! Apa kamu mau di ikat dan di rantai dalam kamarmu," ujar mami Sam.
Mendengar perkataan mami yang masih menghadap televisi tanpa menolehku, membuatku berdiri di depan televisi itu. Aku menghalangi mami yang sedang menikmati siaran televisi kesukaannya.
"Tapi Mami," ucapku pada mami yang menatap marah ke arahku, karena aku masih berdiri di hadapan televisi itu.
"Sam," panggil sang mami yang ingin aku menjauh dari layar televisi yang aku tutup dengan tubuhku. " Setidaknya izinkan Sam keluar Mi! Sam Bosan di rumah. Sam ingin kumpul dengan para sahabat Sam,"
"Baik tapi mereka semua harus ikut agar kamu jangan kabur."
Mami memberikan syarat yang sulit untukku, membuatku berpikir panjang. "Tapi Mami, argh … baik lah Mam,"
Setidaknya aku bisa menemui seseorang untuk mencari kabar tentang keadaan Mutiara, dengan terpaksa aku menerima syarat yang mami berikan. Tapi sebelum aku melangkah, Sam mematikan televisi yang sedang di tonton mami. "Sam …." Pekik mami kesal terhadapku, karena telah mematikan siaran televisi itu.
__ADS_1
Sam pun berjalan ke sebuah kafe milik sahabatnya, sebuah kafe tempatku menghabiskan waktu.
"Hai Sam, sudah lama tidak bertemu apa kabar mu?"
Namanya Abi, sahabat semasa kuliah dengannya, dia sahabat karibku dan aku selalu iri terhadapnya. Dia bisa menjalankan usaha dan mengambil jurusan sesuai dengan apa yang dia inginkan. Dia merupakan anak pengusaha kaya raya dan sang papinya tidak pernah mengekang lain halnya denganku.
"Aku baik Abi," Melihat dia yang sedang duduk di meja kasir, memperhatikan beberapa pengunjung yang datang.
"Aku mendengar banyak kisahmu! Bagaimana dengan keadaan Mutiara? Apa dia sudah melahirkan?" tanyanya yang membuat binar mata ini, aku kembali mengingat Mutiara.
"Aku tidak tahu Abi, papi menahan henponku dan aku belum diizinkan memegang henpon. Apa kamu bisa membantuku?"
"Membantu apa dulu nih," jawab Abi menatap serius ke arahku.
"Kamu cari tahu tentang keberadaan Mutiara, Aku rindu dengannya Abi dan aku takut dia mengkuatirkanku,"
"Apa kamu tahu alamatnya?" Balik tanya Abi membuat rasa senang di hati ini. Sehingga Aku Pun memberikan alamat tinggal Mutiara dan Rian. "Pasti Mutiara sangat mengkhawatirkanku," ujarku yang memberikan alamat rumah Mutiara.
Beruntung aku memiliki sahabat yang bisa aku andalkan, sehingga aku bisa sedikit lega tanpa selalu memikirkan Mutiara.
"Aku akan menolongmu demi Andra!! Bagaimana juga Andra sahabatku dan Mutiara seperti adikku, aku akan mencarikannya untukmu Sam," ujarnya lagi yang membuat mekar senyum di wajah ini.
Aku hampir lupa, jika kami semua para sahabat Andra menganggap Mutiara sebagai adik kami, sehingga kami selalu berusaha untuk melindungi Mutiara. "Terima kasih," ujarku pada Abi yang masih memiliki rasa solidaritas persahabatan, sehingga kami dua saling bercengkrama. Abi menjentik tanganku dan memainkan sedikit gerakkan mulutnya.
"Apa sih?" tanyaku yang melihat Abi, seolah menampakkan mimik wajah berubah
"Sam lihat di belakangmu Cantika dan Ando datang," ujar Abi.
" Apa mereka melihatku?" ujarku pada Abi, aku belum siap bertemu dengan Cantika dan Ando sekarang, tapi mereka berdua berjalan ke arahku. Membuat rasa lesu dihati ini. "Argh, ah …." Lirih nafas ini memandang mereka semakin dekat, aku meletakkan kepalaku di atas meja. Berharap mereka tidak mengenalku dan melihatku.
"Hai Sam," sapa Ando yang meletakkan tangannya di punggung Sam.
"Hai Ando, Cantika," ujarku dengan terpaksa menyapa mereka, seorang kekasih yang aku tinggalkan dan menikah dengan sahabatku.
Aku mengulurkan tangan ke arah mereka berdua, sepasang suami istri yang baru berapa bulan menikah.
Sehingga mereka menyambut uluran tanganku. "Selamat iya, atas pernikahan kalian," lirihku dengan sayu, mengingat orang yang seharusnya berdiri disebelah Cantika adalah aku. Orang yang menjadi kekasihnya selama lima tahun.
Aku menatap nanar di bola mata Cantika, seolah ada rasa benci, marah, kesal terhadapku yang telah meninggalkannya.
Plakkk ….
Sebuah tamparan keras yang aku dapat dari Cantika, sehingga aku mengelus pipiku yang memerah akibat kerasnya tamparannya.
"Argh Cantika," pekikku menatap kemarahan di matanya.
"Ah, kamu kurang ajar Sam!! Kamu meninggalkan aku di hari menjelang pernikahan kita," pekiknya dengan keras, membuat beberapa pengunjung menatap ke arah aku, yang tengah mendapat cacian Cantika.
"Maafkan aku Cantika," ujarku mencoba berdiri dan hendak pergi.
Cantika menarik tanganku setelah melihat aku hendak melangkah. "Lepaskan," ujarku menatap marah padanya.
"Argh, kamu masih bisa mau pergi?" tanyanya yang membuatku menatap ke arahnya.
"Ahh," lirih nafas panjangku yang melihat tanganku masih dipegang Cantika. "Maafkan aku Cantika," masih ujarku mencoba melepas genggaman tangannya.
"Tapi kamu sudah membuat aku malu Sam!!" Pekiknya lebih keras lagi ke arahku.
"Argh, ah … kamu sudah ada Ando! Lepaskan aku," pintaku padanya, yang membuat Ando menarik badan Cantika.
__ADS_1
"Kamu jahat Sam," pekik Cantika lebih marah, hingga aku berhasil menjadi topik pembicaraan bagi pengunjung itu.
Aku menatap Cantika yang sedang di pegang oleh Ando. "Sudah Cantika," ujar Ando menenangkan Cantika yang tengah meluapkan kemarahannya.
"Mari kita berbicara dengan baik, jangan sampai persahabatan Sam dan Ando rusak Cantika," Abi memberikan usulannya.
Aku terpaksa mengikuti usulan Abi, karena bagiku ini harus diselesaikan, aku tidak ingin ada rasa benci dihati Cantika untukku. Seseorang yang sudah cukup lama mengisi hati ini. Tidak akan mudah menghapus ingatan tentang dia. Walau pada kenyataannya dia seolah senang menikah dengan Ando. Aku masih ingat lirih ******* dan suara Cantika yang begitu bahagia di sebelah Ando. Tapi kenapa dia masih marah denganku.
Aku menatap Abi, Ando dan Cantika yang duduk di meja yang sama, dan amarah Cantika seolah sedikit reda. Walau dia masih menatap nanar ke arahku.
"Maafkan aku Cantika," ucapku memulai pembicaraan.
"Aku benci kamu Sam," balas Cantika.
"Maaf," masih ujarku.
"Sudah lupakan Cantika, bukankah kita sudah menikah? Apa kamu menyesal menikah denganku?" tanya Ando yang membuat Cantika terdiam.
Sehingga Ando mengalihkan pembicaraannya. "Aku tahu jika kamu sudah lebih satu bulan, di kurung papimu di rumah Sam," ujar Ando mengalihkan topik pembicaraan.
"Uhmm .., kamu benar … apa aku boleh ke kamar mandi sebentar?"
Aku merasa gerah dengan keadaan ini, dimana Cantika tiada henti memandangiku, sehingga aku memutuskan untuk menghindar sementara. Aku berjalan ke arah kamar mandi, meninggalkan ketiganya yang sedang berbincang.
"Argh, aku tidak ingin bertemu denganmu, kenapa mereka bisa datang ke sini? Aku merasa tidak nyaman melihat Cantika," batin Sam berdecak kesal, menatap ke arah cermin yang ada dalam kamar mandi itu. " Aku tidak boleh terlihat lemah dihadapan Cantika dan Ando, dan aku tidak perlu memikirkan mereka, yang harus aku pikirkan kini bagaimana caranya? Agar aku bisa lepas dari papi. Aku ingin kabur," ucap Sam pada dirinya sendiri.
Setelah puas berbicara pada diriku sendiri, aku keluar dari kamar mandi itu, namun mataku membulat setelah melihat Cantika berdiri di hadapanku. "Argh, kamu mau apa lagi," lirihku seakan malas menatanya yang sedang menghalangi jalanku. "Pergilah, aku rasa kamu sudah bahagia dengan suamimu?" ujarku lagi padanya.
" Sam, aku tidak begitu mencintainya Sam!! Aku masih mencintaimu Sam, apa kamu masih mencintaiku Sam?" tanya Cantika terhadapku yang hendak pergi itu.
"Tidak," balasku yang hendak berjalan, menepis dia dari hadapanku.
"Sam," pekik Cantika marah terhadapku, membuatku menghentikan langkahku dan menghadap ke arahnya.
" Apa yang kamu lakukan disini? Pergilah dengan suamimu itu, sepertinya kamu sangat bahagia dengannya," ujarku menyinggung ke arah Cantika.
Sontak wajah Cantika berubah memerah, mendengar perkataanku yang seolah tahu akan kebohongan tentang perasaannya.
" Aku tidak mencintainya dan aku terpaksa menikah dengannya! Itu karena kamu Sam pergi meninggalkanku," ujarnya mengulangi perkataan itu-itu lagi, membuat aku jenuh mendengar ucapannya.
Bukankah dia tahu, jika aku sangat menyayangi Mutiara sebagai adikku, dan aku harus melindungi Mutiara. Walau aku tahu aku salah melepaskan Cantika begitu saja.
" Oh ya, bukannya kamu senang saat aku tinggalkan! Aku Kan hanya laki-laki kuno yang tidak tahu cara memberikan kehangatan untukmu" ucap Sam teringat akan apa yang dia dengar dari Cantika dan Ando.
" Apa maksudmu Sam?" Cantika menunjukkan rasa amarahnya, atas ucapanku. Hingga dia meninggikan suaranya ke arahku yang masih berdiri dihadapannya.
" Aku sudah dengar semuanya dari mulutmu sendiri! Kamu hanya menjadikan aku sebagai simpananmu saja, dimana selama ini kamu menjalin hubungan dengan Ando? Aku tidak habis pikir Cantika kamu mempermainkanku, dan aku bersyukur tidak jadi menikahimu. Karena sekali kamu melakukan kesalahan maka kamu akan mengulanginya lagi,"
"Sam, apa maksudmu Sam?" tanya Cantika seolah marah.
Aku tidak menggubris Cantika yang tengah marah terhadapku, aku memilih berjalan dan kembali ke arah Ando dan Abi yang sedang berbincang.
"Aku pulang dulu Ando, Abi," ujarku pada mereka, yang ingin menghindari kedatangan Cantika.
"Kenapa begitu cepat Sam?" tanya Ando.
"Ah, aku harus pergi! Aku tidak ingin papi marah dan tidak memberikan aku izin untuk keluar lagi,"
"Kamu yang kuat Sam," balas Abi dan Ando yang melempar rasanya ke arahku, yang menjadi anak rumahan dan hidup di penjara oleh papiku sendiri. Ingin aku memberontak tapi aku tidak sanggup melawan papi yang akan nekat terhadapku.
__ADS_1