Cinta Demi Balas Budi

Cinta Demi Balas Budi
pura-pura bahagia


__ADS_3

Bab 47


Pura-pura bahagia


Aku menyembunyikan perasaan ini yang tengah sedih dari mama kak Rian yang datang membawa Darul, anakku dari Deni yang meninggalkanku. Dengan perasaan haru aku masuk menghampiri mama yang sedang berbincang dengan kak Rian.


"Mama," ujar ku yang mengalami punggung tangan mama. "Dimana Papa, Ma?" tanyaku lagi ke arah mama yang hanya berbincang dengan kak Rian.


"Ada, bersama Darul disamping! Kamu dari mana saja Mutiara?"


"Aku, aku tadi menyusul kak Rian, Mama! Ke perusahaannya," balasku terhadap mama dan menatap wajah kak Rian yang seolah cemas.


"Oh iya, tapi Rian …."


"Iya, Mutiara selisih jalan dengan kak Rian Ma," balasku lagi yang memotong pembicaraan mama itu.


"Bagaimana sayang, apa kamu betah tinggal disini? Mama kesepian sayang, apalagi kamu meminta Darul akan tinggal bersamamu."


"Iya Mama, maafkan Mutiara ya Mama! Tapi Mutiara butuh Darul buat Nemani Mutiara disini Ma," masih balasku yang menatap mama memasang wajah sedihnya. Aku ingin Darul tinggal dengan mama, tapi aku kesepian di rumah ini sendiri. "Maafkan aku Mama."


"Sudah Mama! Mama kan masih ada Arsel yang menemani Mama di rumah, sementara Mutiara di rumah kesepian Mama," balas Rian terhadap mama.


"Iya," lirih mama dengan lesu menjawab perkataan kak Rian itu.


Walaupun Darul bukan cucu kandung mama kak Rian, tapi mama menganggap dan memperlakukan Darul layaknya cucu mereka sendiri. Bahkan Darul lebih manja terhadap sang nenek dan kakek, daripada aku ibu yang telah melahirkannya.


"Mama," panggil Darul yang berlari ke arahku. Aku memeluk erat Darul dalam dekapan ini. "Mama sangat merindukanmu Nak," ujarku yang meninggalkan beberapa kecupan kecil di wajahnya itu.


"Darul juga Mama."


"Bagaimana kabarmu sayang, apa kamu masih manja dengan nenek kakek Nak?"

__ADS_1


"Tidak Mama, Darul kini sudah pintar! Sudah tidur sendiri dan tidak ngompol lagi," balasnya yang membuat hati ini sangat senang.


"Sini sayang," panggil kak Rian yang menggendong Darul di pangkuannya.


"Apa kamu tidak rindu dengan Papa juga?"


"Rindu Papa," balas Darul yang membuat semuanya tersenyum.


Darul tumbuh menjadi anak yang pintar dan gagah, sama halnya dengan Deni. Yang terkenal sebagai raja kampus, dia memiliki wajah tampan yang membuat banyak wanita yang mengaguminya. Tapi sayang, ketampanan yang dia punya disalah gunakan oleh Deni.


Deni terkenal sebagai pria yang bad boy, dan ada yang bilang jika Deni kecewa dan marah terhadap pria yang telah menghamili kakaknya. Membuat dia membalaskan dendamnya dan merusak wanita yang dekat dengannya.


Apa Deni akan menyakiti kak Sam? Argh melihat wajah Darul membuatku teringat akan Deni yang mengancamku waktu itu.


"Nak, Mama sama Papa sepertinya harus pulang," ujar mama


"Tapi kenapa Ma? Tidak bisakah Mama dan Papa menginap di sini semalam saja Ma, Pa?" tanyaku ke arah mama dan papa itu.


"Tidak bisa sayang, Papamu banyak pekerjaan yang harus dikerjakan! Apalagi Rian sudah mengelola usaha yang disini, jadinya yang di sana papa deh yang lanjutkan."


"Sudah sayang, kita bisa berbicara lewat sambungan telepon lagi kan? Argh Nenek sama kakek pulang dulu sayang, kamu yang baik yah. Harus nurut apa yang dikatakan Mama," ujar mama terhadap Darul itu.


"Baik Nenek, Kakek! Hati-hati," balas Darul yang mendekap sang nenek.


Perpisahan cucu dan neneknya cukup membuatku haru, aku seolah merasa bersalah telah memisahkan mereka dengan cucunya. Tapi aku membutuhkan Darul untuk menemaniku disini.


"Sudah sayang, kapan-kapan kita akan mengunjungi Nenek lagi," ujar kak Rian yang mengambil Darul yang masih bersedih melihat kepergian sang nenek.


Da da da da …. Ujar ketiganya kompak mengayunkan lima jari itu ke arah orang tua kak Rian yang mulai pergi berlalu.


"Ayo kita masuk sayang," ajak kak Rian.

__ADS_1


"Kak, Mutiara ingin bicara!"


"Baik, kasih Darul ke bibi dulu," titah kak Rian yang berjalan ke ruang kerjanya itu.


"Darul dengan Bibi dulu yah sayang," pintaku yang melihat Darul menganggukkan kepalanya ke arahku.


Aku mulai berjalan ke arah ruangan kak Rian yang sudah menungguku.


Tok tok tok ….


"Masuklah Mutiara," ujarnya padaku yang masih berdiri di balik pintu itu, aku mulai melangkahkan kaki ini lebih dekat ke arah kak Rian itu.


"Kak, tadi …." ujarku yang terpotong oleh ucapan kak Rian.


"Maafkan aku Mutiara, aku salah! Tidak seharusnya aku berbohong padamu Mutiara! Maafkan aku."


"Tapi kenapa Kakak membohongiku? Kemana Kakak? Kakak tidak tidur di kantor kan?"


"Iya Mutiara, Kakak menginap di hotel, maafkan Kakak."


"Tapi kenapa mesti di hotel Kak? Kenapa tidak di rumah Kak?"


"Karena Kakak lagi ingin sendiri Mutiara? Ada sedikit masalah di pekerjaan Kakak, membuat pikiran ini suntuk Mutiara! Hingga aku butuh waktu menyendiri Mutiara!"


"Tapi kenapa Kak, apa aku tidak cukup untuk membuatmu melupakan semuanya Kak?"


"Iya Mutiara, aku sadar! Tidak seharusnya aku memilih menyendiri di saat kamu ada Mutiara, maafkan aku Mutiara," ujar kak Rian yang berlutut di hadapanku.


Kak Rian mengambil tangan ini, dan dia terlihat benar-benar sedih, mungkin kak Rian sadar dengan apa yang dia buat. Tidak seharusnya aku egois.


"Baiklah Kak, berdiri Kak! Mutiara sudah memaafkan Kak Rian."

__ADS_1


"Apa benar Mutiara?"


Aku menganggukkan kepala ini ke arah kak Rian. "Iya Kak," balasku lagi yang membuat kak Rian memelukku begitu erat.


__ADS_2