
Bab 21
Bersahabat dengan keadaan mungkin itu yang terbaik, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima kenyataan jika Mutiara sudah menjadi milik Rian. "Argh" lirih nafas Sam dalam hatinya seraya mulai melakukan aktivitas pagi yang cukup melelahkan baginya, tidak ada kata penyemangat, hanya ikhlas dalam menjalani.
"Pagi Papi, Pagi Mami," sapa Rio menghampiri mami dan papinya di ruang meja makan itu.
"Apa Mami tidak salah lihat nih Sam, kamu sepertinya sudah membaik," ucap sang mami seraya mengejek.
Sam hanya melempar senyum ke arah maminya itu, seraya mulai menyantap hidangan sarapan yang sudah tersedia di meja makan.
Walau sang papi menatap Sam dengan tatapan heran mencurigakan, "Apa kamu merencanakan sesuatu Sam?" sahut sang papi yang melihat Sam sedang menikmati sarapannya, yang di balas senyum oleh Sam seraya mengangkat kedua alis mata dan kuduknya.
" Papi harap kamu tidak berniat melakukan sesuatu Sam," sahut sang papi Sam yang menaruh curiga terhadap Sam.
****
"Aku masuk duluan Papi," sahut Sam yang mulai berjalan menuju ruangannya.
"Pagi Pak Sam," sapa Cantika yang berdiri melihat kedatangan Sam. Cantika sangat senang melihat wajah Sam yang seakan ceria tidak seperti biasanya.
"Pagi Cantika," balas Sam dengan senyum yang mengembang di pipinya. "Aku masuk dulu Cantika," ujar Sam lagi.
"Ini kan yang papi mau! Menuruti keinginan papi. Argh, ini bertentangan dengan hatiku papi, tapi. Muti, argh," Sam berdecak kesal pada dirinya sendiri, mengingat kesempatannya untuk mendapatkan Mutiara tidak ada lagi.
Aku bisa bilang jika aku baik-baik saja, tapi pada kenyataannya hatiku sakit Mutiara! Aku tidak bisa melupakan bayangan wajahmu dari ingatanku, bagaimanapun aku mencobanya.
Sam yang membolak-balik berkas yang sudah terletak di atas meja itu, dengan mata berbinar. Entah kenapa jerit tangis Mutiara menggema di pikiran Sam.
"Apa kamu baik-baik saja Sam?" tanya Cantika dengan membawa secangkir minuman, awal mulai membuka pembicaraan.
Cantika memilih duduk di seberang meja Sam, menatap murung wajah yang tadi datang dengan penuh gairah.
__ADS_1
"Ini ambil dan minumlah," ujar Cantika menyodorkan minuman terhadap Sam itu.
"Terima Kasih Cantika," balas Sam dengan meraih minuman yang diberikan Cantika.
"Kamu bisa curhat dan cerita apa saja denganku Sam! Jika kamu mau, setidaknya kita masih bisa bersahabatkan Sam? Aku rindu ngobrol santai Lepas seperti ini denganmu, apa kamu punya waktu nanti? Aku ingin mengajakmu makan siang," ujar Cantika yang mencoba merayu sam.
Sam menatap Cantika, membuatnya berpikir akankah tawaran Cantika diterima. Toh Sam butuh seseorang untuk menghiburnya, siapa tahu dengan ini bayangan Mutiara bisa hilang dari wajah Sam.
"Baik," balas Sam, sehingga melukis senyum di bibir Cantika gadis cantik yang pernah mengisi hatiku selama lima tahun, dia masih sama seperti dulu seperti awal aku mulai menyukainya, Sam tanpa dia sadari. Dia melempar senyum ke arah Cantika, yang membuat Cantika seakan senang.
Dring, dring ...
Bunyi suara telepon milik sam berdering, melihat si penelpon tiada lain adalah papinya sendiri, membuat Sam dengan sigap menjawab telepon sang papi.
"Ya hallo Papi, ada apa?" tanya Sam dari balik sambungan telepon itu.
"Nanti malam kita akan ada jamuan pesta dengan keluarga Rian, pulang lah lebih awal. Papi ingin kamu yang menghadirinya, bawa Cantika ikut bersamamu! Papi akan segera menghubunginya," sahut papi Sam lewat panggilan telepon itu, hingga sang papi mengakhiri panggilan teleponnya.
"Pasti nanti ada Mutiara kan? Arghhh Pi aku belum siap bertemu dengan Mutiara Papi! Bisa tidak sekali saja tanya aku dulu Papi, dengar aku dulu papi," pekik Sam dari dalam ruangannya itu.
"Sam papi mu tadi …." ucap Cantika yang ditatap dengan tatapan ketidak senangan oleh sam, hingga Cantika menggantungkan pembicaraannya.
"Ya aku tahu, pulanglah dulu nanti aku akan menjemputmu dan minta izin ke suamimu, Ando," lirih Sam lesu menatap ke Cantika yang kini berada tepat di depan meja kerjanya itu.
"Argh, Pii ... bisa tidak agar Sam tidak usah pergi," ujar Sam mengejar sang papi yang baru saja lewat dari ruangan Sam itu.
Sam berdiri di hadapan papinya, membuat papinya menghentikan langkahnya. Menatap Sam yang masih bersifat seperti bocah, tidak memperdulikan wibawanya yang kini menjadi CEO di perusahaan milik sang papi.
"Jaga sikapmu Sam, kamu ini seorang pemimpin! Tidak seharusnya kamu bersikap seperti itu," balas sang papi yang berjalan ke mobilnya yang diikuti oleh Sam.
"Terserah Papi lah, Sam memang bukan anak Papi," pekik Sam dengan rasa ketidaksenangan.
__ADS_1
Baru tadi pagi seakan dunia ini indah menyapa, mencoba untuk tidak mengingat semua. Ah, namun papi lagi-lagi membuatku untuk sulit melupakan Mutiara. Mengutusku ke acara keluarga Rian.
"Apa kamu tidak senang Sam?"tambah sang papi yang dibalas dengan kecuekan Sam.
Sam memilih berjalan kedalam rumah, dan hendak kembali ke kamarnya itu, dengan perasaan dan emosi yang ditahan di hatinya terhadap sang papi.
Ah, percuma aku membantah, toh apa yang aku bilang papi tidak mau dengar? Semua karena maunya! Tanpa sekalipun bertanya denganku. Setidaknya biarkan aku memilih siapa yang hendak aku bawa papi. Bukan langsung memutuskan jalan dengan Cantika. Aku tidak ingin Ando cemburu atau marah denganku! Tapi bagaimana lagi? Ini semua karenamu Papi.
"Sam, apa kamu sudah selesai? Cepat jemput Cantika! Jangan sampai kamu telat menghadiri acaranya Sam," pekik papi dari ruangan tengah, membuat Sam berdecak kesal mendengar suara sang papi.
"Iya Papi! Sebentar lagi Sam turun," dengan berat hati, aku berjalan lagi menuju mobil. Tujuanku kali ini, pergi menuju rumah Cantika. Apakah Ando akan marah dan salah paham lagi denganku. Ah, maafkan aku! Kenapa hidup ini selalu saja mencari masalah dan terlibat dalam masalah lagi?
Hingga mobil yang aku bawa kini pun terparkir di depan rumah Cantika. Aku tidak melihat ada Ando. "Dimana dia Cantika?" tanya sam.
"Aku dan Ando sedang ada masalah Sam, dia pergi meninggalkanku," balas Cantika seketika. Apa ini ada kaitannya denganku, ah, aku akan merasa bersalah denganmu Ando.
"Cantika, jika kamu tidak bisa ikut denganku tidak apalah! Aku bisa pergi sendiri, aku tidak ingin Ando marah dan salah paham jika melihat kita berjalan berdua. Setidaknya hubungi dia dulu Cantika," titah Sam.
"Gak perlu Sam, kamu kayak tidak mengenali Ando saja! Paling tidak dia bermain dengan cewek- cewek di luar sana," ujar Cantika.
"Ah, iya juga! Ando kan playboy cap garpu," batin Sam dalam hatinya, dengan membuka pintu mobil untuk Cantika yang terlihat sangat cantik, dengan gaun warna biru muda yang dia pakai dan sedikit leher terbuka membuat auranya keluar.
"Kamu harus kuat Sam," batin Sam yang melihat sedikit belahan dada Cantika yang terbuka itu.
"Apa dia sengaja memancingku, bagaimanapun, aku ini pria dewasa dan normal. Walau aku belum pernah mencobanya setidaknya aku sudah pernah melihatnya membuat aku ingin merasakannya. "Argh sam Sadar lah," lirih Sam menahan hasrat yang menatap Cantika malam ini tampil dengan sangat seksi.
"Apa kamu tidak memiliki baju yang sedikit sopan Cantika?" ujar Sam akhirnya tidak tahan melihat kemolekan tubuh cantika yang sedari tadi menggodanya.
"Apa kamu tidak suka penampilanku Sam?" tanya Cantika yang menatap Sam seolah mengeluarkan keringat dingin itu.
"Lupakan lah," balas Sam yang sepertinya mulai merasakan getaran yang pernah dia rasakan dulu.
__ADS_1
"Apakah aku boleh mencobanya?"