
Bab 1 5
Akhirnya jam kerja kantor usai juga, aku berada diantara kerumunan mereka yang berjalan hendak pulang. Sebenarnya sedari tadi aku hendak meninggalkan kantor, tapi papi menempatkan pengawalnya dimana-mana. Membuatku tidak bisa bergerak.
" Aku ingin mampir dulu ke cafe Abi!" titah Sam terhadap supirnya, beruntung papi hari ini tidak ikut pulang bersamaku, sehingga aku memiliki kesempatan menemui Abi.
" Tapi Den, papi tadi menyuruhku untuk membawa Den pulang langsung," bantah sang supir, membuat Sam menatap tajam ke arah sang sopir.
"Aku bilang kita singgah dulu, iya singgah!! Kamu mau aku cekik lehermu? Karena membantah omonganku! Ha?" pekik Sam dengan nada yang lantang terhadap sang sopir, membuat sopir Sam mengangguk ke arah Sam. "Baik den," balas sang supir terpaksa.
Sementara Lima bodyguard pilihan yang didatangkan papinya langsung dari luar negeri, bersiap menunggu Sam di depan pintu cafe. Mereka tidak memberikan celah untuk Sam, tatapan tajam mereka menatap gerak gerik Sam. Seakan penjahat yang selalu di kawal.
"Ah, kalian merusak pemandanganku saja!!" ujar Sam kesal melihat ke arah pengawalnya, yang sedang berdiri di depan pintu cafe Toni.
Sam berdecak kesal masuk kedalam cafe milik Toni, tidak ada pilihan. Walau aku gerah melihat ke arah mereka itu.
"Hai, Sam. Apa itu semuanya pesuruh papimu?" Abi yang melihat kedatangan Sam, dan menatap para pengawal Sam seolah membuat para pengunjung enggan untuk masuk ke dalam.
"Sepertinya iya! Papi takut aku kabur," umpat Sam kesal, dan berdecak kesal pada dirinya sendiri.
"Apa kamu mau minum Sam? Tapi aku harap kamu jangan berlama-lama disini! Bisa kabur pelangganku melihat anak buah papimu yang sangar, maaf iya Sam. Aku tidak nyaman dengan keberadaan mereka," ucap Abi Yang melihat pengunjung cafenya tidak jadi masuk, dan memilih pergi.
"Maafkan aku ya Abi, dengan ketidaksenangan ini," lirih Sam sedih berbicara dengan nada sayu. "Oh iya, bagaimana kabar Mutiara? Apa ada perkembangannya?" tanya Sam lagi terhadap Abi.
"Iya, aku sudah menemuinya! Dia baik-baik saja, dan dia sudah melahirkan seorang anak laki-laki," ucap Abi dengan senang.
"Apa? Aku senang mendengarnya, apa kamu bisa menolongku lagi," pinta Sam lagi.
" Apa Sam, katakan lah," balas Abi.
"Bisakah kamu memberikan henponmu untukku semalam saja? Karena aku tidak berani menerima telepon dari papi, dia membuat aku seorang penjahat sampai henpon sekalipun dia pasang alat penyadap," ucap Sam dengan melempar senyum tipis, dia meratapi nasibnya yang tidak sebaik nasib sahabatnya.
"Kamu harus sabar Sam," gurau Abi sambil memberikan telepon selulernya ke arah Sam. "ini, ambillah. Tapi jika seseorang menghubungi ku, berikan no henpon ku yang satunya lagi. oh dan satu lagi jangan sampai papamu menyita handphone ku. Sam," balas Abi terhadap Sam.
Aku yang kini memegang telepon seluler Abi, merasa sangat senang. "Terima kasih Abi" ujarku sangat bahagia menerima teleponnya. Aku seperti seseorang yang tidak bisa membeli telepon seluler. Padahal duit yang aku punya kini bisa membeli satu toko telepon seluler, tapi. Lagi-lagi papi tidak akan memberikan aku ruang untuk memiliki telepon. Apalagi dia menempatkan mata-matanya kemanapun aku pergi, membuatku seakan gerah. "Maaf Sam, bisakah kamu bawa para pengawalmu pergi dari sini! Argh, aku gerah melihat mereka yang menatap kita berdua sedari tadi berbincang," ujar Abi Yang mulai tidak nyaman.
"Baik Abi," aku pun meninggalkan cafe Abi, setelah menyimpan telepon seluler itu. Aku tidak ingin para mata-mata papi mengatakan ini kepada papi.
"Mungkin dengan ini aku bisa menghubungimu Mutiara, aku harap kamu akan selalu baik-baik saja! Dan masih memegang janjimu untukku," batin Sam dalam hatinya itu.
***
"Kamu dari mana saja Sam?"
Papi yang melihat kedatanganku terlambat sampai rumah, dan mulai menunjukkan kemarahannya ke arahku. Membuat mulai berbohong ke arah papi. Tadi ban mobilnya pecah ban Pi, jadi Sam harus menunggunya" lirihku seraya berjalan ke arah kamarku, meninggalkan papi yang masih menatap kepergian ku. Aku mencoba mengulas dari papi, yang hanya akan membuatku mendengarkan kemarahan dan ocehan papi.
__ADS_1
"Untung tadi si supir sudah aku ancam duluan," umpa Sam dalam hatinya.
Setelah berhasil lolos dari papi, hal yang pertama yang aku lakukan adalah menghubungi Rian, pria yang berjanji untuk menjaga Mutiara.
Aku mulai mengutak-atik kotak mencari nama Rian. "Angkat Rian, angkat! telepon," seolah tidak sabar menunggu yang dipanggil menjawab panggilanku. Hingga aku yang berdiri dan masih menunggu panggilan itu diangkat.
"Hallo, ini siapa?" Sahut Rian dari seberang telepon Sam, membuatku seolah senang.
"Rian ini aku Sam," lirihku pelan, aku takut jika para mata-mata itu mendengarku sedang menghubungi seseorang. Hingga aku berbisik berbicara pada Rian.
"Kamu sam, apa kamu baik-baik saja Sam?" tanya Rian dari seberang telepon itu.
"Aku ingin bicara dengan Mutiara dimana dia?" tanyaku pada Rian, yang sangat merindukan Mutiara.
"Dia, sepertinya dia tengah mandi," balas Rian masih dari seberang telepon seluler itu.
"Argh, apa kamu melakukan sesuatu dengan Mutiara? Kamu sudah berjanji denganku, untuk tidak menyentuhnya, jangan sampai kamu melakukan hal bodoh terhadapnya," ancam Sam kesal terhadap Rian.
"Sam Mutiara istriku! Pernikahan kami sah dimata hukum dan agama, Mutiara akan berdosa jika menolak ku Sam," jawab Rian yang membuat Sam kesal.
"Riann …." Pekik Sam yang lupa akan keberadaan pengawal yang selalu mengawasinya.
"Apa itu kak Sam Rian?" tanya Mutiara yang tidak sengaja mendengar percakapan Rian dan sam.
"Ini bukan siapa-siapa?" umpat Rian.
"Mutiara ini aku Sam," teriak Sam dari seberang teleponnya, Sam seolah marah dan memikik di kamarnya itu.
"Berikan aku Rian," ucap Mutiara yang masih mencoba meraihnya dari tangan Rian itu. Rian mengangkat tangannya ke arah atas, agar Mutiara tidak bisa menjangkaunya. Tapi Mutiara yang berdiri di depan Rian menginjak kaki Rian, menjatah telepon yang di pegang Rian. Namun Rian yang mundur ke arah belakang, sementara kaki Mutiara tersandung. "Argh ah … auw uh …." Membuat tubuh Mutiara jatuh tepat di atas badan Rian, dengan bibir yang saling menempel. Dan bola mata yang membulat. Mereka saling bertatapan.
Rian yang kini berada dibawah badan Mutiara, menatap wajah cantik yang menemani tidur malamnya, walau pernikahan itu hanya sebatas perjanjian antara Sam dan Rian.
Membuat Rian tidak pernah bermain ke arah situ, Rian terbawa perasaan menatap wajah cantik Mutiara yang sedang memandangnya. Hingga Rian mulai memajukan bibirnya ke arah bibir Mutiara, yang masih mematung di atas tubuh sang suami dalam kontrak pernikahan.
"Oek oek,ek …."
Jerit tangis anak Mutiara yang dia beri nama Darul, membuat Mutiara berdiri dari tubuh Rian yang sedang terbawa perasaan terhadap Mutiara itu.
"Ah, berikan denganku," ucap Mutiara menarik paksa henpon milik Rian, dan berjalan ke arah sang anak.
Sementara Rian masih terlentang di lantai, seperti ada rasa kecewa karena dia Gagal melakukan perpaduan bibir itu.
"Argh, apa aku benar-benar mencintai mu Mutiara?" umpat Rian dalam hatinya yang sedang mengayun sang anak dalam ayunan itu.
"Hallo kak Sam," ucap Mutiara yang berhasil mengambil telepon seluler itu dari Rian.
__ADS_1
"Apa terjadi sesuatu Mutiara?" bentak Sam terhadap Mutiara dari panggilan seluler itu, setelah mendengar suara jatuh Mutiara keatas badan Rian dan suara hening mereka sejenak.
"Tidak Kak, aku senang Kakak menghubungiku! Apa kakak baik-baik saja? Mutiara rindu Kak," balas Mutiara mulai meneteskan air mata, Mutiara sedih berpisah dari Sam itu.
"Apa Rian melakukan sesuatu denganmu Mutiara? Apa kamu masih memegang janjimu Mutiara?" tanya Sam yang mulai mendengar rintih tangisan Mutiara, yang sedang merindukannya.
Sam mendengar Isak tangis Mutiara yang berbicara sayu terhadap Sam, sementara Sam merasakan rasa kuatir ke arah Mutiara. Yang kini jauh darinya.
"Iya Kak, Mutiara masih memegang janji Mutiara ke Kakak, jangan kuatir ya Kak! Mutiara akan menunggu Kakak. Sampai Kakak datang menjemput Mutiara oh iya Kak, anak Mutiara sudah lahir," ucap Mutiara senang.
"Iya Kakak tahu itu, setidaknya di saat Kakak tidak ada! Kamu ada kawan Mutiara," balas Sam
"Oh ya Mutiara jika Rian melakukan sesuatu untukmu, kamu harus bilang dengan Kakak! Karena itu tidak ada dalam surat perjanjian, setelah masa kontraknya dua tahun habis. Kakak akan segera datang dan menjemputmu! Kakak akan menikahimu lalu kita akan hidup bahagia Mutiara," sahut Sam dengan matanya yang mulai berbinar.
Tok, tok k ….
"Buka pintunya Sam!!" suara papi Sam dari balik pintu, menggedor pintu yang tadi Sam kunci.
Sam mulai menunjukkan rasa takut, jika sang papi mengetahui jika dia menghubungi Mutiara. Dengan tergesa-gesa Sam mengakhiri panggilan itu. "Sudah dulu ya Mutiara, nanti Kakak hubungi kamu lagi!!" lirih Sam seraya mengakhiri panggilannya.
"Apa kamu tahu juga papi? Jika aku menghubungi Mutiara?" tanyaku dalam hati yang mulai menampakkan wajah ketakutan, aku menyimpan telepon milik Abi sebelum papi ketemukan. Lima menit lamanya sebelum pintu kamar itu aku buka, dan bergaya seolah-olah aku sedang baru bangun tidur.
Klek
"Apa Pi," ujarku yang seolah sedang menguap, dengan wajah yang mulai lesu, kumainkan aktingku dihadapan papi. Walau aku tidak jago dalam hal berbohong. Setidaknya papi jangan sampai menemukan telepon seluler milik Abi itu, perasaanku mulai tidak karuan. Papi menatapku dengan tajam.
"Periksa kamarnya," titah papi menyuruh anak buahnya menggeledah kamarku.
"Argh, ah … apaan sih Pi,"
Jantungku mulai berdetak kencang tidak berirama, tingkat kekuatiranku meningkat. Melihat mereka semua menggeledah isi kamarku. Aku sangat takut menatap mereka yang masih mencari keberadaan telepon itu. "Argh ah …." Aku menghela nafas panjang, berharap mereka tidak menemukannya.
"Papi, sudah bilang jangan pernah menghubunginya lagi! Semua gerak gerik dan aktivitasmu papi pantau, dimana kamu menyembunyikannya? henponnya. Ha? Berikan dengan papi, sebelum papi menemukannya dan membuat papi semakin marah Sam," bentak papi ke arahku yang menunjukkan rasa takutku, melihat amarah papi yang seakan serius dengan ancamannya.
"Tapi Pi," ucapku mencoba membantah papi yang sedang marah.
"Berikan Sam! Sebelum kamarmu hancur papi berantakin!!!" ancam sang papi terhadapku yang menaikkan volume suaranya, dan mata yang membulat wajah yang memerah. Seperti gunung merapi yang siap meletus, papi memang seseorang yang sangat mudah marah dan tidak bisa menahan emosinya.
"Tapi ini Papi!? Henpon milik Abi Pi, biar Sam pulangkan dengannya Pi," lirihku dengan sayu memberikan telepon seluler itu ke arah papi. Seakan berat mengulurkan tangan ini ke arah papi. Dan mataku yang mulai berbinar menahan kemarahan atas sifat papi yang berlebihan. "Aku takut jika … argh Papi,"
Papi merampas telepon milik Abi itu dari tanganku. "Argh," Lagi -lagi aku menghela nafas melihat papi yang kini memegang telepon seluler itu.
Dor dor dor
Papi membanting handphone milik Abi itu ke atas lantai kamarku dengan begitu keras, sehingga partikel-partikel yang terkandung di dalamnya bertaburan, menjadi elemen-elemen yang tidak berguna. Semua hancur dan retak. Dengan perasaan sedih aku pandangi telepon seluler yang tidak bersalah itu, kini menjadi puing-puing yang tidak berguna. "Apa yang kamu lakukan Papi," lirihku dengan sedih dan berdecak kesal ke arah papi, yang membuat telepon seluler itu jadi korban kemarahan papi. Bagaimana dengan Abi, dia sudah begitu baik meminjamkannya denganku. Dan bagaimana jika dalam telepon itu ada data-data yang diperlukan oleh Toni. Pikiranku mulai tidak karuan.
__ADS_1
"Berikan dia sejumlah uang, sebagai gantinya," sahut papi Sam menyuruh anak buahnya mengganti henpon milik Abi. Tanpa memperdulikanku sedikit pun. "Dan kamu Sam, ini peringatan terakhir papi untuk mu," ancam papi yang mulai meninggalkan kamarku.
"Argh ah … papi …." Pekik ku memecah ke arah papi yang keluar. "Kamu jahat Papi!! Sam bukan anak kecil lagi papi!!" Aku protes ke arah papi, dan hendak berjalan ke arah papi lagi. Tapi badanku di dorong oleh pengawal papi masuk kedalam, lalu mengunciku lagi dari luar kamar itu. Lagi-lagi aku di penjara di kamarku sendiri.