Cinta Demi Balas Budi

Cinta Demi Balas Budi
Tamu tak diundang


__ADS_3

Bab 7


Aku melihat ke arah kak Sam sepertinya kak Sam sangat lelah, hingga dia tertidur lelap. "Maafkan aku kak, aku membuatmu masuk dalam masalahku! Seharusnya kamu kini berada di sebelah kak Cantika, kamu pasti sangat sedih. Karena Mutia tahu kakak sangat mencintai kak Cantika," batin Mutiara dalam hati, yang memandang wajah Sam dari dekat, hingga dia memberanikan diri meletak dan mengusap wajah Sam yang tengah terlelap itu.


Suatu gerakan tangan Sam menarik tangan Mutiara yang duduk di samping Sam. "Kak" ucap Mutiara yang melihat Sam menarik tangannya. Sehingga badan Mutiara terbaring di sebelah Sam. dan Sam melingkari tangannya ke badan Mutiara yang ikut berbaring di sebelah Sam. Dengan posisi mata masih terpejam.


Sam memeluk Mutiara dengan hangat untuk pertama kalinya. "Siapa yang menyuruh kamu menggangguku Muti," ucap Sam yang masih melingkarkan tangannya di pinggang Mutiara, dan mengecup punggung Mutiara yang membelakangi Sam.


" Kak," ucap Muti seakan takut seolah Sam tengah membangkitkan gairah Mutiara.


" Tidak usah kuatir Mutiara, aku tidak akan berjalan terlalu jauh. Aku hanya ingin memeluk dan mendekapmu saja. Kenapa aku merasa nyaman berada disampingmu Mutiara, aku merasa bisa tenang seolah tidak ada penyesalan di hatiku. Yang sudah meninggalkan semuanya" ucap Sam dengan mata yang masih tertutup.


Sementara Mutiara merasa suatu getaran di hatinya. "Apa aku juga sudah menyukaimu kak? kamu selalu ada untukku. Sedari dulu hingga kini, kamu memanjakanku. Mungkin apa yang dikatakan sahabatku indah benar, jika perhatian kak Sam denganku bukan sebatas perhatian kakak adik. Tapi perhatikan cowok terhadap gadis yang dia sukai. Apa selama ini kakak merasakan jika kakak menyukaiku, hanya saja kakak tidak ingin mengecewakan kak Andra kan kak. Kak Andra beruntung memiliki sahabat seperti kakak, yang memegang janjinya. Walau kejadian itu sudah cukup lama berlalu. Aku juga sayang denganmu kak" gumam Muti dalam hatinya.


" Mutiara kenapa kamu hanya diam saja? Ah ..., kamu pasti senangkan aku memelukmu! Ah, awas berdiri lah. Kakak mau mandi dulu gerah" ucap Sam yang melepas pelukannya. Membuat Muti seakan malu menatap Sam yang lagi-lagi berhasil membuat perasaan Mutiara kacau.


"Apa yang barusan aku pikirkan? Ah kenapa aku tergoda dan hendak melakukan itu terhadap Muti. Ah, bodohnya aku, bisa-bisanya aku ngebayangin hal buruk. Ingat Sam Mutiara itu adik Andra. Dan kamu sudah berjanji dengan Andra untuk menjaga Mutiara selamanya, nikahi dulu dia. Baru kamu bisa melakukan itu. Ah, otakmu sudah mulai ngeres Sam," batin dalam hatinya.


Sam berdecak kesal terhadap dirinya apalagi dia melihat bagian bawahnya, yang sudah mulai berdiri dan hendak melakukan perlawanan, "Ah kenapa kamu begitu menggoda Mutiara, sampai membangunkannya yang lagi tidur. Ah aku harus menahannya sendiri, aku harus cepat men sahkan mu jadi istriku. Agar aku tidak menahannya lagi saat aku menginginkannya," tambah Sam lagi yang sudah membiarkan badannya basah di bawah pancuran shower.


****


Tok tok tok …


Sahut seseorang dari balik pintu menggedor pintu kamar Mutiara.


"Siapa?" Tanya Mutiara seakan tidak berani membuka pintu karena Sam tengah di kamar mandi itu.


"Bukalah! Ini aku Rian pacar kecilmu," ucap Rian menggoda Muti hingga pintu kamar pun Mutiara.


"Oh kamu! Ada apa?" tanya Mutiara judes terhadap pemilik rumah, menatap Rian yang kini berada di hadapannya.


Rian melempar senyum ke arah Mutiara, yang seolah sayu menatap Rian.


"Ini rumahku, kok kamu cuek seperti itu aku tanya! yok ikut aku!! Aku ingin bicara denganmu," ujar Rian yang menarik tangan Mutiara ke luar, Mutiara menatap ke arah kamar mandi, seolah tahu untuk melangkah.


"Tapi kak Sam," sahut Muti yang menunjuk ke arah kamar mandi itu. Rian menarik tangan Mutiara hingga keluar mengikuti Rian.


"Sudahlah biarkan dia! Nanti juga dia akan menyusul dan mencarimu," ujar Rian yang masih menarik tangan Mutiara, mengikuti arahnya. Mutiara seolah ragu dan takut melihat ke arah Rian yang begitu memaksa. "Apa dia akan melakukan sesuatu," batin Mutiara yang masih menatap Rian yang begitu serius. Membawa Mutiara ke ruang Santa, Rian menatap Mutiara yang memilih berdiri dan diam.


"Duduklah, apa yang kamu takutkan?" tanya Rian yang membuat Mutiara mengikuti kemauan Rian.


****

__ADS_1


"Muti … Mutiara ambilkan bajuku dulu Muti," teriak Sam yang baru keluar dari kamar mandi, dan tengah mengusap-usap rambutnya yang masih basah.


"Mutiara," panggil Sam yang melihat pintu kamarnya terbuka. "Apa seseorang sedang membawa Muti?" tanya Sam seakan gelisah dan mulai mengenakan pakaiannya, hingga dia bergegas mencoba mencari Mutiara. "Ah ini pasti ulah si Rian," batin Sam dalam hatinya yang masih mengenakan celananya. Tidak akan ada yang berani membawa Mutiara selain Rian. Sam berdecak kesal pada dirinya sendiri yang tidak mendapati Mutiara di dalam kamarnya.


****


"Ada apa kamu menarik dan membawaku kesini Rian? Nanti kak Sam mencariku," ucap Mutiara yang duduk berhadapan di depan Rian.


"Aku dapat kabar jika kamu sedang …." ucap Rian yang tidak sanggup melanjutkan omongannya, takut Mutiara merasa tersinggung akan perkataannya.


Rian masih memandang Mutiara yang kini duduk di hadapannya. Seolah ingin bertanya tapi ragu, Rian berada dalam ke bimbingannya.


"Iya! Aku tengah hamil dua bulan" jawab Mutiara, yang membuat bola mata Rian seolah terbuka terang seakan tidak Percaya, akan apa yang dikatakan Mutiara. " Kenapa kamu kecewa dan ingin mengusirku dari sini?" tanya Mutiara seakan menantang Rian. Mutiara memberanikan dirinya menatap Rian yang terdiam akan perkataan Mutiara. Seolah raut wajah Rian menggambar kekecewaan terhadap Mutiara.


"Apa Sam, pelakunya?" tanya Rian seakan tidak percaya. Rian mengenal betul sosok Mutiara, wanita yang baik. Tapi bagaimana bisa Mutiara salah jalan. Pikiran Rian melayang, seolah tidak mengerti akan apa yang terjadi terhadap Mutiara.


"Bukan, kak Sam cowok yang baik. Dia tidak akan mungkin melakukannya," ucap Mutiara sedih.


"Tapi jika bukan dia siapa? Siapa bajingan yang sudah merusak kehormatan gadis kecilku dulu?" ujar Rian seolah murka.


"Kak Sam sudah melarangku untuk berpacaran, dan kak Sam menjagaku dengan baik. Tapi ada satu pria kampus yang terkenal dengan ketampanannya. Sehingga seluruh wanita di kampus itu tertarik dengannya. Apa lagi aku seorang wanita. Dia mendekatiku karena mendengar aku adik kak Sam. Awalnya aku tidak mau! Beberapa kali aku menolaknya, cuman sahabatku menjebakku. Mereka mengadakan pesta di sebuah villa. Dan ada seseorang yang meletakkan obat di minumanku! Sehingga aku tidak sadar dan saat aku bangun. Tidak ada sehelai benang pun yang melekat di badanku! Aku melihat bercak warna merah pekat berbau amis di atas spreiku. Aku menangis saat tahu keperawananku telah dirampas.


Aku takut dan sedih! Sehingga sahabatku bilang. Aku payah sudah semester lima masih saja perawan, merekapun melakukannya tanpa rasa malu. Deni yang sudah merebut keperawananku itu mengancamku.


Jika aku tidak Melayaninya kapan pun dia minta, maka videoku dan dia akan dia sebar. Aku takut jadi aku menjalin hubungan dengannya dan membantah kak Sam. Semenjak itu kak Sam putus asa dan tidak lagi terlalu memperdulikanku. Hingga akhirnya aku tahu jika aku hamil.


"Apa Mutiara?" teriak Sam yang sudah terlanjur mendengar semuanya. Sam berjalan pelan ke arah Mutiara. "Aku sudah dengar semua Muti! Kenapa kamu tidak pernah bercerita denganku! Jika Deni. Ah Muti!! Maafkan aku, karena aku kamu jadi begini," ucap Sam menangis seolah terpukul dan memukul dinding yang ada di dekatnya sampai tangannya mengeluarkan cairan merah pekat berbau amis.


"Tapi Mutiara, ini semua bukan salahku! Bukan aku yang merusak kakaknya Deni. Tapi itu dion sahabatku! memang waktu itu kakaknya Deni sangat menyukaiku. Tapi aku tidak mau menerimanya karena aku sudah memiliki Cantika. Aku menjadikannya sebagai sahabatku, hingga akhirnya Dion menjebak Tika kakaknya Deni ke sebuah kos-kosan, Deni bilang aku ada di situ. Memang Waktu itu aku sempat di situ jadi Dion memfoto kami yang tengah ngumpul bersama kakakmu juga Andra," aku tanya untuk apa itu dion, Dion bilang hanya untuk kenang-kenangan saja.


Hingga akhirnya aku tahu jika Dion mengirim foto itu keTika kakaknya Deni,


aku marah Begitu juga dengan Andra yang merasa terganggu. Jika Tika datang suasana tidak akan seenak ni! Jadi aku dan kakakmu memutuskan untuk pergi sebelum Tika datang.


Dan di saat itu dion tengah mabuk berat, dia menarik Tika masuk kedalam, lalu merebut kesucian Tika.


Tika histeris marah besar, papi dan maminya datang ke rumah. Meminta pertanggungjawaban yang sama sekali tidak aku buat! Aku tidak mau dan aku meminta Ando untuk bertanggung jawab atas perbuatannya itu.


Namun Tika menolak. Dia tetap ingin aku yang menikahinya, hingga akhirnya hidup Tika berakhir di rumah sakit jiwa hingga kini.


Papinya marah besar melihat anaknya yang sudah hilang kesadaran, menyuruh seseorang untuk membunuhku. waktu itu aku, Ando dan kakakmu tengah nongkrong di warung tempat kami biasa ngumpul. Sekelompok preman datang menyerang dengan membawa senjata di tangannya. kami melakukan perlawanan dengan dibantu penduduk lain. saat aku tengah melawan salah satu di antara mereka. Seseorang hendak datang menikam dari belakang.


"Sammm …." teriak Andra yang membuatku seketika membalikkan badan, namun apa yang aku lihat. Andra menyelamatkanku dan mengambil tikaman pisau yang sebenarnya ditujukan untukku. Andra terbujur dengan pisau yang masih menancap di badannya. Aku marah besar melihat Andra menghembuskan nafas terakhirnya setelah dia berpesan untukku menjagamu Mutiara sebaik mungkin," ucap Sam yang kini menangis mengenang sahabatnya Andra ditambah tangannya yang sedari tadi mengeluarkan cairan merah pekat itu.

__ADS_1


"Kak," ucap Muti menghapus air mata Sam.


"Maafkan aku Muti, harusnya aku mau menerima pernikahan itu. Agar aku tidak kehilangan Andra! Dan kamu juga tidak akan seperti ini, maafkan aku Muti karena aku kalian dua jadi korban. maaf," ucap Sam yang semakin sedih.


"Aku akan membalas dendam mu Sam, jika kamu mau," ucap Rian menawarkan bantuannya.


"Tidak Rian! Jangan lakukan itu, aku tidak ingin menjadi orang yang kejam. Seperti yang mereka lakukan. Kelak dia juga akan mendapat balasannya sendiri," ucap Mutiara yang membuat Sam dan Rian terdiam.


"Tapi Muti," ucap Sam mencoba membantah.


"Aku ikhlas Kak, dengan apa yang terjadi denganku? Itu semua mungkin karena kehendaknya, biarkanlah Kak. Aku masih punya Kakak," ucap Muti yang meletakkan tangan Sam di bibir Mutiara.


"Aku akan selalu menjagamu Muti" ucap Sam dengan memeluk kembali Muti.


"Ah, apa ini sebuah sinetron? Atau drama sedih. Kenapa aku kalian jadikan sebagai penonton, ah sungguh menyebalkan menonton perjalanan hidup kalian," ucap Rian seakan cemburu.


Sam dan Mutiara melihat ke arah Rian dengan wajah yang memerah, seolah sedang kesal melihat kedekatan keduanya. Membuat Sam seolah melempar senyum kecil ke arah rian yang sudah berhasil membuat Rian cemburu.


"Ambilkan obat" teriak Rian terhadap pelayannya, hingga seseorang dengan cepat datang dan memberikan kotak P3k


"Ini, apa kamu mau aku yang mengobatinya Sam?" tanya Rian dengan memberikan obat itu terhadap Sam.


Rian menampakkan kekecewaannya terhadap keduanya, hingga dia seolah berdecak kesal. Menatap ke arah Mutia dan Sam.


"Biar aku saja Rian," sahut Mutiara dan mulai melakukan pengobatan terhadap tangan Sam, akibat dia mengadu kekuatannya dengan tembok yang tidak bersalah itu.


"Oh ya! Aku mendengar kalian tidur sekamar, tolong jangan berbuat sesuatu di dalam villaku ini sebelum kalian resmi menikah. Dan jika kamu tidak keberatan Mutiara aku mau juga jadi ayah untuk anak yang ada di dalam perutmu itu," ucap Rian seketika yang membuat wajah Sam seakan kepanasan, mulai memerah dan melempar Rian dengan obat yang sedang Sam pegang.


"Apa yang kamu katakan Rian?" tanya Sam dengan perasaan tidak senang, menatap Rian yang seakan lancang berbicara seperti itu dihadapannya.


"Jika Mutiara berkenan, aku tidak memaksa kok! Lagian sebelum janur kuning melengkung, Mutiara masih memiliki kesempatan untuk memilih dengan siapa yang iya mau! Iyakan Mutiara?" tanya Rian tanpa bersalah terhadap Sam.


"Sudah Kak, jangan marah. Rian hanya bergurau dia tidak akan serius mau menikahi cewek hamil sepertiku" ucap Mutiara yang mengira jika Rian tengah mengolok-oloknya saja.


Rian menatap serius ke arah Mutiara, meyakinkan Mutiara dengan apa yang dia katakan.


"Aku serius Mutiara?" Jawab Rian yang membuat Mutiara kaget dan terdiam.


"Jaga sikapmu Rian, jangan mentang-mentang ini villa! Seenaknya saja kamu terhadap kami, jika kamu mau aku dan Muti bisa pergi sekarang" ucap Sam menantang ke arah Rian, setelah melihat wajah Muti yang berubah.


"Tidak Sam jangan pergi, aku tidak akan memberikannya lagi, tapi jujur Mutiara. Aku sudah lama mencari dan menunggumu. Karena dalam surat warisan yang papiku buat. Jika aku berhasil menikahimu maka sepenuhnya warisannya bisa jatuh ke tanganku.


Tapi jika aku menikah dengan orang lain maka setengah warisanku jatuh ke anak tirinya, saat aku mengetahui kamu lari dengan Sam ke daerah ini, aku senang aku merasa kamu dikirim untukku. Dan sekitar seharian penuh aku mencarimu! Tanpa sengaja aku melihatmu di ganggu dengan preman. Apa itu bukan suatu keberuntungan?" ujar Rian

__ADS_1


"Maaf Rian, aku tidak tertarik denganmu apalagi bicara tentang harta! Aku trauma memiliki harta, hingga akhirnya seseorang merebut semua. Dan lihat apa yang terjadi denganku? lebih baik aku hidup pas-pasan daripada hidupku terancam akibat hartaku," ucap Muti yang membuat Sam senang.


Sam melukis senyum indah di pipinya membuat setiap wanita akan tergoda jika melihat ketampanan sam. "Aku sayang denganmu Mutiara," ucap Sam seraya memberikan kecupan di pipi Muti dihadapan Rian, tentu ini sebuah serangan hati yang menusuk jantung rian, akibat sifat Sam yang ingin membuat Rian cemburu.


__ADS_2