
Bab 16
Suara hati Sam
Menjalani hidup bagaikan di neraka. Argh ... aku menatap kedua orang tuaku yang tengah asyik menikmati sarapan pagi itu, tidak ada terbesit sedikit penyesalan atau rasa iba, melihat aku yang terlalu di kekang. Seekor burung saja tidak Sudi dikurung dalam sangkar. Apa lagi aku, dimana katanya ham?
Hak asasi manusia. Sepertinya itu tidak berlaku dengan papa ku, seperti Anak kecil bodoh yang harus mengikuti aturan mereka.
Mungkin hidup seorang pedagang martabak, lebih baik daripada hidupku yang bergelimang harta tapi bagaikan di rantai.
Dimana ada kehidupan seperti ini? Jika mereka rajin bekerja dan memiliki banyak harta, kenapa mereka tidak memiliki anak tiga atau delapan orang sih?
Setidaknya aku masih memiliki saudara untuk menjalankan semuanya, dan aku bisa bebas memilih jalanku.
Ini nih, buat para kalian! Jika kalian merasa hidup berkecukupan, mampu dan memiliki banyak harta. Aku sarankan untuk memiliki anak dua atau tiga deh. Jangan satu! Nanti bisa bernasib seperti aku, malang.
"Kamu kenapa Sam? Tidak suka dengan makananmu?" tanya mami yang rupanya dari tadi melihat aku yang memperhatikan mereka.
"Mi boleh tidak Sam bertanya sesuatu?" tanya Sam terhadap maminya.
"Apa sam? Tanyakanlah," jawab mamaku yang tiba-tiba menghentikan aktivitas makannya, dan menatap aku yang sedang melihatnya.
"Mami, Sam ini anak kandung mami gak sih?" tanya Sam.
Membuat papi Sam sekan batuk dan menghentikan aktivitas makanya.
Ukh ukh ….
"Ini, minum dulu Papi,"
Mami memberikan minum ke arah papi, yang sedang tersendat akibat ucapanku di tengah aktivitas makan itu.
__ADS_1
"Kamu gila Sam," ucap sang mami yang membuat aku terdiam.
"Kalau tidak ada yang perlu kamu tanyakan, lebih baik kamu diam Sam," Tambah sang papi ikut memarahiku.
"Papi, jika aku anak kalian, pasti aku tidak dibuat seperti ini Papi. Aku sudah dewasa Papi. Aku berhak menentukan pilihan hidupku, berikan Sam kebebasan Papi, Mami," ujarku pada kedua orang tuaku yang tengah melanjutkan sarapan pagi itu.
"Apa kamu pikir dengan lari dari pernikahan itu kamu sudah dewasa? Kamu membuat malu kami Sam? Syukur saja Ando mau menggantikanmu untuk menikahi Cantika, kalau tidak mungkin di berita utama di seluruh dunia. Pasti akan membicarakan keluarga kita. Apa kamu tidak pernah berpikir bagaimana malunya papi menghadapi semuanya," ucap Papi Sam dengan panjang lebar, menambah sarapan pagiku dengan ocehannya.
"Apa papi tidak tahu? Jika aku bersyukur tidak jadi menikah dengan Cantika gadis yang aku pikir baik rupanya tidak," ucapku pada papi.
"Apa papi pernah memaksamu? Untuk menikahi Cantika waktu itu Sam? Bukannya itu pilihanmu Sam?" masih gumam sang papi yang membuat aku seakan menyesal menaikkan darahnya pagi ini.
"Harusnya tadi aku diam saja. Ah Sam, lihat sekarang papimu akan mengoceh denganmu," batin Sam dalam hatinya itu, berdecak kesal melihat ke arah sang papi yang memarahi Sam.
"Masih ragukah kamu, jika kamu anak kandung kami Sam?" tambah sang mami yang melihatku berdecak kesal.
"Jika dilihat- lihat sih, wajahku sedikit mirip dengan mereka. Ah, aku nya saja yang kelewatan. Sudah jelas-jelas golongan darahku sama dengan papi. Ah. Dasar kamu bodoh Sam," masih batin Sam dalam hati, yang kesal dengan dirinya sendiri.
"Tapi Papi, setidaknya kembalikan kebebasanku Papi. Apa Papi tidak baca buku setiap manusia yang bernyawa berhak mendapatkan HAM (hak asasi manusia) Papi lupa kalau Papi sudah melanggar aturan," ucap Sam seakan yakin akan ucapannya.
"HAM itu berlaku buat manusia yang memiliki akal dan otak, bukan buat kamu yang hanya menggunakan otot mu dalam berpikir," balas sang papi yang membuat wajah Sam seakan memerah.
Lagi-lagi Sam terdiam akan ucapan sang papi, yang mengingat akan kesalahan Sam terus.
" Tapi Papi. Ah, kapan sih omonganku bisa Papi terima, hidupku bagaikan di penjara piiiii …." teriak Sam ke arah sang papi, yang membuat papinya menghentikan aktivitas makannya dan menatap tajam ke arah Sam.
"Lebih dari ini bisa Papi lakukan! Apa kamu mau lihat lebih dari ini? Tetaplah membantah Sam, agar sekalian kamu Papi pasung di rantai di atas ranjangmu Sam," ucap sang papi penuh dengan ancaman.
Klek,
Sam menelan Slavina nya, mendengar ucapan sang papi yang tidak pernah main-main akan ucapannya. "Menjalani hidup seperti ini saja aku tidak sanggup, apa lagi nantinya aku di pasung," batin Rio dalam hati, dia kembali berdecak kesal.
__ADS_1
"Ah Papi, kenapa Papi tidak sekalian membunuhku Papi? Tanggung jika hanya di pasung Pi, bunuh sekalian aku Pi!" balas Sam kesal dan berdiri pergi.
"Aku rasa putra presiden pak Harto atau putra presiden lainnya tidak ada yang seperti ini, papi keturunan apa sih, hidupnya melebihi seorang militer," ocehan Sam seraya berjalan.
"Kamu mau kemana Sam? Kita harus berangkat sekarang kamu harus disiplin waktu Sam," teriak sang papi ke arah Sam yang berjalan ke arah pintu.
"Ini juga mau ke mobil," balas Sam yang masih menggunakan sandal jepit itu.
"Sam apa kamu mau ke kantor pakai sandal jepit? Apa kamu pikir kamu mau kepasar Sam?" teriak sang mami yang melihat Sam, dengan memutarkan kedua bola matanya melihat sang papi.
"Papi, aku rasa anakmu, perlu dibawa ke dokter dulu Papi," tambah sang mami terhadap papi itu.
"Papi rasa juga begitu," balas sang papi dengan menggelengkan kepalanya dan melempar senyum ke arah Sam itu.
"Sam, Sam … pakaikan sepatumu dulu," masih teriak mami, yang membuat Sam kembali ke kamarnya.
"Apa mami, papi tahu? Aku tuh malas ke kantor. Apa lagi harus bertemu dengan Cantika. Apa kalian tidak bisa mengganti sekretarisku dengan Mutiara setidaknya agar aku lebih semangat Pi menjalani hari, boro-boro menjadikan Mutiara sekretaris. Menghubunginya saja aku tidak bisa, kamu kelewatan Papi. Apa tidak ada orang tua di luar sana yang ingin mengadopsi anak, setidaknya adopsi aku kenapa? Suatu keberuntungan atau musibah sih bagiku jadi anak pewaris tunggal perusahaan Antonio pengusaha muda yang sukses. Argh … apa tidak ada solusi sih untukku keluar dari masalah ini," gumam Sam yang masih jengkel, seraya kembali ke dalam mobil yang sudah ada papinya itu.
"Jika wajahmu tetap kamu tekuk begitu! Bagaimana kamu bisa memenangkan tender dan mengembangkan perusahaan ini? Pihak klien akan kabur duluan melihat wajahmu yang ditekuk terus," ucap sang papi yang melirik Sam.
"Aku benci kamu Papi," ujar Sam yang di balas senyuman di pipi papinya itu.
"Kamu bodoh Sam," balas Papinya yang merasa sudah menang dalam mengalahkan Sam.
"Nanti ada pertemuan, kamu harus ikut! Papi ingin kamu belajar lebih gigih, lagi sebelum perusahaan ini benar-benar papi lepas untukmu Sam,"
"Apa perusahaan Rian ikut juga Papi?" tanya Sam dengan bersemangat.
"Sepertinya iya, tapi jangan berpikiran kamu bisa bicara berdua dengannya, karena papi tidak akan mengizinkan itu Sam," tegas sang papi.
"Setidaknya aku ingin menekankan Rian, agar tetap menjaga dan tidak memperlakukan Mutiara seperti istri sungguhannya," batin Sam dalam hatinya, dengan melepas senyum di wajahnya.
__ADS_1