Cinta Demi Balas Budi

Cinta Demi Balas Budi
Gertakan Deni


__ADS_3

Bab 48


Gertakan Deni


Sekarang aku tidak akan merasakan kesepian lagi, aku merasa terhibur atas kedatangan buah hatiku. Kami tengah bermain di taman rumah bersama kak Rian, karena hari ini kak Rian memutuskan untuk menghabiskan waktu di rumah bersama kami.


"Sini lempar Papa, kasih ke Darul."


"Baik Nak, tangkap."


Mereka bermain cukup gembira membuatku tertawa ke arah mereka. "Ayok Mama, sini," pekik Darul yang menarikku bermain bersama mereka. Aku menikmati permainan lempar bola bersama kak Rian dan Darul itu.


"Ayo Ma, giliran Mama lempar bolanya ke Darul, Mama!"


"Baiklah sayang tangkap," aku melempar bola itu ke arah Darul, tapi kak Rian berhasil meraihnya.


"Hore Papa menang!" Dengan senyum mekar kak Rian terlihat sangat gembira.


"Ayo Mama, giliran Mama!"


"Ha ha ha ha … Mama capek sayang! Istirahat dulu deh."


"Tapi Mama, Darul masih mau main."


"Sudah dengan Papa sini," ujar kak Rian yang membawa Darul bermain. "Apa tidak sebaiknya kita berenang saja sayang?"


"Itu ide bagus Papa!"


"Tunggu sebentar." ujar kak Rian yang mengedipkan matanya ke arah Darul, kak Rian berjalan ke arahku. "Ada apa Kak? Kenapa Kakak senyum-senyum," perasaan ini mulai tidak karuan menatap kak Rian yang tersenyum ke arahku.


"Ahh ah lepas Kak!" Kak Rian menggendong tubuh ini berjalan ke arah kolam renang itu. "Apa yang ingin kamu lakukan Kak?"


"Satu, dua, ti-tiga!"


Byurr


Kak Rian melempar tubuh ini kedalam kolam renang itu, yang diikuti olehnya yang menyemburkan diri masuk ke dalam kolam renang itu.


"Ayo sini sayang," ujar kak Rian terhadap Darul yang masih berdiri di pinggir kolam renang itu.


Aku mengibaskan air kolam renang itu ke arah kak Rian yang telah jahil terhadapku, ha ha ha ha … kami semua seakan bahagia akan kebersamaan ini.


Aku menatap wajah kak Rian dan sang anak, aku berharap jika kebahagiaan ini jangan usai, kebahagiaan seperti ini yang aku nantikan.

__ADS_1


Seharian penuh kami bermain bersama, kak Rian menjadi seorang suami yang selalu aku dambakan.


"Kak terima kasih Kak," lirihku padanya yang hendak membaringkan badannya itu.


Kak Rian menjulurkan kedua tangannya ke arahku, dan memintaku untuk mendekatinya. Aku berjalan ke arah kak Rian yang sedang menyandarkan tubuhnya di sudut ranjang itu.


"Apa kamu bahagia akan hari ini sayang?"


"Tentu Kak, kamu memberikan aku kebahagiaan yang tidak bisa aku lupakan Kak! Terima kasih Kak, aku sayang kamu Kak," masih lirihku yang menyandarkan badan ini di dadanya.


"Baik sayang," dia memutar arah badannya ke arahku, lalu menatapku dengan begitu tajam. "Masih ada yang kurang sayang," lirihnya yang mulai mengunci mulut ini dengan mulutnya.


Sesuatu yang seharusnya terjadi antara pasangan suami-istri pun terjadi, sesuatu yang biasa disebut dengan istilah surga dunia.


Pov Sam


"Apa kamu membuat ulah lagi Sam?"


"Apa maksud Papi? Kenapa Papa datang-datang bertanya seperti itu Pa?"


"Apa kamu lupa Sam, jika kamu masih dalam tahap pengawasan Papi?"


"Apaan sih Pi?"


"Kenapa kamu diam Sam! Apa kamu sudah tahu kesalahanmu, apa?"


"Papi, Cantika yang pergi sendiri Papa! Sam tidak pernah mengusir atau membuat marah dia Pa!"


"Apa? Cantika tidak ada di rumah?"


Klekk


Apa aku salah bicara? Apa yang aku lakukan, dan apa maksud dari pembicaraan papa itu? Sesaat wajahku yang mulai berubah, melihat papa yang seolah kaget akan penuturanku itu. "Bukankah Papa ingin membahas tentang Cantika, Papi?"


"Ah, apa yang kamu lakukan Sam? Kenapa istrimu meninggalkanmu, apa inu ada hubungannya dengan wanita itu Sam?"


"Tidak Papi! Bukannya Papa Tahu jika Cantika tidak di rumah selama satu Minggu ini?"


"Ha," papi melempar senyum sinis ke arah ku, hingga aku merasa jika aku sudah membuat masalah untuk diriku sendiri.


"Kenapa kamu membawa wanita itu masuk ke dalam mobilmu? Dan tidak jadi menemui Rian! Bukannya kamu Papi utus untuk menemui Rian, bukan wanita itu! Sam," papi meninggikan suaranya ke arahku yang telah salah bicara. "Kenapa Cantika meninggalkanmu Sam?"


"Maafkan Sam Papi! Cantika yang meninggalkan Sam, dan ini tidak ada sangkut pautnya dengan Mutiara! Sam akan menemui Rian sekarang juga Papi!"

__ADS_1


"Tidak perlu, Papi sudah mengutus seseorang."


"Tapi Papi, kenapa tidak Sam saja Papi?"


"Untuk apa, agar kamu bisa menemui wanita itu lagi Sam?" balas papi dengan nada lantang ke arahku yang terdiam menatap Papi.


Aku tidak menyangka jika mulut ini lagi-lagi melakukan kesalahan, kenapa aku tidak membiarkan papi dulu untuk bicara? Argh mulut ini selalu saja lepas.


"Papi ingin kamu menemui Cantika dan minta dia kembali pulang ke rumah, Sam!"


"Tapi kenapa Papi?" Argh bukankah lebih baik jika Cantika tidak ada di rumah ini. Kenapa papi tidak menyuruhku untuk menceraikannya saja papi.


"Papi tidak ingin Cantika menangis atau sedih, kamu jangan menyia-nyiakan wanita sebaik dan secantik dia Sam! Nanti kamu menyesal," ujar papi ke arahku yang memilih menundukkan kepala ini. Bagaimana bisa papi mengira jika Cantika wanita yang baik? Argh tapi percuma aku katakan. Toh papi hanya akan mempercayai dan mendengarkannya saja. Aku tidak begitu berarti di hati papi. Kenapa sih Papi?


"Sam, apa kamu mendengar Papi!"


"Iya Papi, Sam akan menjemput wanita yang cantik dan baik itu pulang Papi, agar Papi senang!"


"Sam!!" Pekik papi yang sangat marah.


"Maaf Papi, tapi kenapa Papi tidak memberikan Sam waktu untuk membuktikan jika Cantika itu wanita yang tidak baik Papi?"


"Lupakanlah Sam, Papi tidak akan mempercayaimu Sam," balas papi yang membuat darah ini seolah naik, seberapa pentingnya dia untukmu papi. Aku hanya bisa berdecak kesal ke arah papi yang lebih menyayangi Cantika.


"Terserah Papi, aku bukan anak kandungmu Papi!"


"Argghh Sam!"


"Sam mau pergi dulu Papi," ujarku yang lebih memilih menghindar dari papi, aku tidak ingin papi menambah sakit hati ini lagi, yang lebih membela dan mempercayai Cantika itu.


ku masih menatap papi yang seolah kesal ke arahku yang meninggalkan papi sendiri di kediaman ku itu.


Walau terasa berat mengambil keputusan ini, aku harus tetap menemui Cantika agar papi berhenti untuk menggangguku dan memaksaku.


Aku mengarahkan mobil yang aku bawa ke arah kediaman lama Cantika, dan melihat seseorang yang sedang datang bertamu ke rumah Cantika itu. Membuat hati ini bertanya siapa gerangan tamu itu.


Aku sengaja meletakkan mobil ini sedikit lebih jauh dari rumahnya, agar aku bisa melihat dan mencari bukti akan kenakalan Cantika.


Berjalan dengan mengendap seperti seseorang maling yang hendak menjalankan aksinya, aku perlambat langkah kakiku yang hendak mengarah ke arah pintu yang tidak ditutup begitu rapat.


Terdengar suara ******* sepasang kekasih yang sedang melakukan percintaan, kali ini kamu tidak bisa lari dariku lagi Cantika. Lirihku yang mulai mendobrak pintu itu.


Klekkkk.

__ADS_1


Mata ini terpaku akan pemandangan aneh yang aku lihat.


__ADS_2