Cinta Demi Balas Budi

Cinta Demi Balas Budi
Privasi


__ADS_3

Bab 31


"Maafkan aku Mutiara, aku ingin sekali berada disebelahmu. Memelukmu dan menemanimu, tapi itu tidak mungkin karena kamu akan sangat marah denganku," lirih Sam menatap Mutiara dari jendela ruang kamar inap itu.


Sam melihat Mutiara yang masih murung dan bola mata yang masih memerah, membuat hati Sam terkikis pedih.


"Kak Rian, apa ada kabar tentang rumah almarhum papa, apa kak Sam benar-benar ingin menghancurkan rumah itu Kak?" tanya Mutiara terhadap Rian yang sedang duduk di sebelahnya.


"Tidak Mutiara, rumah itu tidak jadi dihancurkan. Aku janji akan berusaha untuk mendapatkan kembali rumah itu," balas Rian yang menenangkan Mutiara yang masih meneteskan air mata.


"Kenapa kak Sam sangat marah dan membenciku Kak? Apa salahku?"


Rian hanya menggelengkan kepalanya ke arah Mutiara, lalu mendekap Mutiara di pelukannya. "Apa kamu ingin tinggal di kota ini Mutiara? Aku akan mencari rumah yang baru di sekitar rumah lamamu, agar kamu tetap bisa memandang rumah lama mu itu?"


"Apa kamu serius Kak Rian?"


Rian pun menganggukkan kepalanya ke arah Mutiara, disertai dengan senyumnya. "Ya kenapa tidak, karena aku juga memiliki perusahaan yang harus aku kelola di sini," balas Rian yang membuat Mutiara melingkarkan tangannya, ke pinggang Rian yang sedang berdiri di sampingnya itu.


"Apa kamu bahagia Mutiara?"


"Uhmm … setidaknya aku masih bisa melihat kenanganku di dalam rumah itu."


Tiba-tiba Mutiara menangis terisak.


"Kamu kenapa Mutiara, apa yang membuatmu sedih?" tanya Rian yang melihat Mutiara yang menangis itu.


"Aku kini hidup sebatang kara, dan aku tidak memiliki apapun lagi. Semua peninggalan mama dan papa telah di ambil mama tiriku, semua sudah habis! Jerih payah perjuangan kedua orang tuaku tidak ada lagi yang tersisa. Jika kamu juga meninggalkanku. Aku harus bagaimana? Dimana ku akan tinggal?"


"Kenapa kamu bertanya seperti Mutiara? Apa kamu ragu akan aku?"


Sesaat Mutiara terdiam, dia tengah bingung dengan perasaannya kini. Harus bagaimana mengatakannya pada Rian, menatap Rian yang bisa saja meninggalkannya kapanpun. Dan kak Sam yang sudah menikah.


"Mutiara, apa yang sedang kamu pikirkan?" Lagi-lagi Rian bertanya ke arah Mutiara yang masih diam.


"Kamu bisa saja meninggalkanku Rian, kapanpun itu! Dan aku tidak memiliki keahlian apapun yang bisa ku andalkan untuk bertahan hidup, seperti yang dikatakan kak Sam."


"Dia berkata apa? Apa kamu masih mengharapkannya Mutiara?"


Mutiara bingung untuk menjawab pertanyaan Rian, yang bertanya akan hatinya. Tentu saja dia masih mencintai Sam. Seseorang yang dia sayangi sedari dulu melebihi seorang kakak angkat.


"Mutiara, apa kamu masih mengharapkan Sam, apa kamu masih mencintainya?" tanyanya ulang terhadapku.

__ADS_1


"Jangan tanyakan itu denganku Kak Rian, kamu pasti tahu akan jawabanku," balasku terhadapnya yang membuatnya hendak berjalan pergi.


"Kak," panggilku yang melihatnya sedih dan merasa terpukul. "Maafkan aku," balasku terhadapnya yang tidak menolehku.


Dia pergi menuju arah ke luar, dan meninggalkanku sendiri di dalam ruangan itu. "Aku sayang kamu kak Sam, sangat sayang denganmu. Kenapa kamu membenciku," pekikku di dalam ruangan itu, membuat perasaan ini lega, setelah aku bersorak mengungkapkan perasaan yang aku pendam.


***


Disisi lain, Sam yang masih menguping dan melihat Mutiara dari jendela itu. Meneteskan air mata tanpa sadar setelah mendengar jerit ungkapan hati Mutiara tentang perasaannya.


"Maafkan aku Mutiara," lirih Sam yang menatap Rian seakan kecewa dengan ungkapan hati Mutiara.


Rian berjalan ke arah Sam yang masih bersedih itu. "Sam" ujar Rian yang meletakkan tangannya di punggung Sam.


Sam menepis tangan Rian dari punggungnya itu, lalu memilih pergi dari depan ruangan kamar inap yang sedang ditempati Mutiara itu.


"Sam," masih panggil Rian yang tidak digubris oleh Sam.


"Kak Sam," lirih Mutiara yang mendengar Rian memanggil Sam.


Mutiara melepas infus yang sedang menancap di tangannya, lalu berlari ke arah suara Rian yang memanggil Sam.


"Kak Sam, Kak Sam!!!!" Jerit Mutiara yang melihat punggung badan Sam yang sudah berjalan jauh.


"Maafkan aku Rian, tapi …." ujar Mutiara yang menggantungkan ucapannya itu.


Rian kembali melotot ke arah Mutiara, membuat Mutiara menundukkan wajahnya di hadapan Rian yang seolah marah terhadap Mutiara itu.


"Aku minta kamu melupakannya Mutiara! Bukankah kamu bilang kamu kini hidup sebatang kara? Apa kamu ingin aku meninggalkanmu juga," ancam Rian yang membuat Mutiara menatap kasar ke arah Rian.


"Aku akan mempertimbangkan ucapanku Mutiara, asalkan kamu mau menerimaku sepenuh hati," tambah Rian lagi.


Mutiara semakin bingung, ada rasa penyesalan yang terlalu jujur terhadap Rian, membuat Rian menjadikannya sebagai ancamannya.


"Berikan aku waktu Kak Rian," jawabku yang juga bingung. Andai Rian benar-benar meninggalkanku, aku harus hidup di mana? Pikiranku melayang hingga aku semakin sedih menerima semua yang terjadi padaku.


"Ha ha ha …." Rian melempar tawanya ke arahku yang tengah bingung dan sedih.


"Apa yang lucu kak Rian?"


"Kamu yang lucu, wajahmu sepertinya sedang ketakutan aku tinggalkan," ujarnya menertawakanku.

__ADS_1


Cuppp


Rian menempelkan bibirnya di kening ini. "Aku sayang denganmu Mutiara, aku tidak mungkin meninggalkanmu," balasnya membuatku bisa bernafas lega.


"Apa kak Sam sedari tadi berdiri di situ Kak Rian?"


"Mutiara," pekiknya yang marah karena aku masih berbicara tentang kak Sam.


"Maafkan aku Rian," ujarku lagi.


"Mutiara," pekiknya lagi.


"Maaf Kak Rian," lirihku yang membuatnya tersenyum lagi.


Apa ini nasib hidup sebatang kara, harus menerima ancamannya. Ya aku sadar aku memang tidak tahu arah tujuan hidupku kini, dan aku tidak memiliki siapapun di dunia ini terkecuali keluarga kak Rian dan kak Sam.


Pov Sam


"Semua peralatan yang terletak di rumah ini jangan di ganggu, biarkan saja seperti itu! Cukup bersihkan dan rapikan," titah Sam terhadap beberapa pekerja yang di pintanya untuk membersihkan rumah Mutiara.


Hari ini Sam memutuskan untuk tinggal di rumah lama Mutiara, setelah mendapat persetujuan dari kedua orang tua Sam. Walau Cantika sedikit protes atas keputusan Sam yang memilih rumah Mutiara.


"Aku tidak setuju Sam, kenapa mesti di rumah Mutiara, Apa kamu masih mengharapkan dan memikirkannya?" ujar Cantika yang sangat marah atas keputusan Sam itu.


"Jika kamu tidak setuju, ya sudah aku tidak peduli aku tetap akan tinggal di sini," balas Sam yang sedang menatap kamar Mutiara.


Sam melihat kamar yang dulu ditempati Mutiara, dengan gantungan kamar yang bertulis nama Mutiara. Sam ingat betul souvenir itu pemberian Sam saat dia dan Mutiara tengah berjalan-jalan.


Sesaat binar mata Sam berubah memerah, mengingat kenangan yang pernah dia lalui dengan Mutiara begitu banyak dan berarti bagi Sam.


"Jangan tarik Cantika!" Pekik Sam yang melihat Cantika yang hendak menarik souvenir gantungan di pintu kamar Mutiara itu.


Sam sangat marah ke arah Cantika itu. "Sam, aku istrimu dan kamu tidak boleh memikirkan wanita lain selain aku," balas Cantika yang kesal atas perlakuan Sam itu.


"Bagi siapapun itu, aku tidak memberi izin masuk bahkan mengganggu kamar Mutiara ini!!" Tegas Sam ke arah semuanya.


Cantika menampakkan wajah kesal ke arah Sam, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Mengingat Sam sangat mudah emosian.


"Sam, kamu tidak boleh seperti itu Nak, Cantika istrimu," ujar sang mami Sam yang melihat kemarahan Sam.


"Tidak Mama, Sam kali ini serius! Bagi siapapun tidak boleh ada yang mengganggu dan masuk ke dalam kamar Mutiara ini Mama," balas Sam dengan nada yang lantang.

__ADS_1


"Kamu sabar Nak," lirih mami Sam yang berjalan ke arah Cantika. Mami Sam menenangkan Cantika yang tengah sedih itu.


"Sam, kamu harus menyayangi Cantika, jika tidak,"


__ADS_2